THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)

THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)
Chapter 5 - Catatan Masa Lalu


__ADS_3

Academy Fire Dragon Lord. Adalah Academy yang terletak di bagian selatan benua, jauh di luar wilayah kekaisaran, disana terdapat bagunan megah menjulang tinggi kelangit yang terhubung satu sama lain. Dekat dengan wilayah pegunungan di sisi barat dan samudra di sisi timur.


Tempat dimana para pengikut Fire Dragon Lord di latih. Sebagai seorang yatim piatu seperti Bearwood bersaudara, yaitu Kai dan Liona, hidup di Academy saat mereka masih kecil tidak terlalu berbeda dengan tempat lainya, tidak, itu sebenarnya jauh lebih baik.


Meskipun terletak di tempat dimana akses jalan kurang. Academy raksasa para pengikut cukup terawat tanpa masalah Economy, karna angin timur membawa awan membuat curah hujan disana cukup tinggi, di tambah lagi dengan adanya tanah subur bekas abu vulkanik membuat masalah pertanian teratasi.


Bukanlah suatu masalah bagi para pengurus untuk merawat beberapa anak korban perang, korban perampokan, atau anak yang kehilangan desa dan keluarganya. Sakalipun para bangsawan umumnya memandang para anak tanpa keluarga tidak lebih dari sekedar masalah untuk keuangan mereka, tapi bagi para Profesor Academy, ini adalah kesempatan bagus untuk menambah pengikut.


Tidak ada pilihan kedua untuk Kai selain bergantung pada kebaikan yang di tawarkan Academy.


Tahun pertama. Adalah ketika Kai dan Liona berumur empat tahun, makan dan bermain lalu mulai tumbuh setiap tahun, mereka menjalani kehidupan selayaknya anak normal, pengurus mereka ialah seorang profesor yang mengajarkan betapa pentingnya belajar untuk kelangsungan hidup.


Tahun-tahun berlalu sangat cepat, sampai ketika Kai mulai masuk ke sekolah dasar dimana dia bisa merasakan duduk di atas kursi sambil menciup bau buku setiap pagi hari. Sekalipun teman-teman sekelasnya sudah dia kenal sejak masih di panti asuhan, satu-satunya perbedaan hanyala ketika kai memandang kamar peribadi dari asrama Academy sambil tertawa kecil saat Liona melakukan hal bodoh.


Belajar bukanlah masalah dari awal, bahkan sebelum mereka mulai sekolah, anak-anak sebenarnya sudah sangat ahli dalam membaca. Jika saja umur tidak terlalu di perhitungkan, mungkin meraka bisa mendapat perkerjaan administrasi di mansion bangsawan, tentu saja dengan fakta bahwa sebagian besar masyarakat pada setiap negara tidak di ajarkan membaca atau menulis menjadi faktor utama di perlukannya orang-orang terpelajar. Belajar di Academy ialah suatu kemewahan untuk orang biasa.


Di sini Kai dan Liona di ajarkan dasar-dasar menjadi seorang pengikut sejati. Sama seperti ketika kebiasaan masyarakat bila dilakukan terus menerus pada akhirnya akan menjadi budaya, kebiasaan yang di lakukan seseorang dari kecil pada akhirnya akan menjadi keperibadian mereka. Sesuatu yang bila di lihat dari sudut pandang umum akan di anggap Irasional, maka akan menjadi Rasional di mata mereka.


Doktrin yang begitu kuat, telah mengakar cukup dalam.


Kai sejak kecil suka sekali berlatih pedang, dan untungnya ada profesor yang mau mengajarkan. Walau bagaimanapun juga keahlian bertahan hidup sangat penting untuk seorang pengikut, entah karna bakat atau hal lainya membuat kemampuan berpedang Kai meningkat dengan sangat pesat.


Kai pada awalnya berfikir bahwa dirinya memang sangat cocok untuk menjadi seorang kesatria.


Sampai dimana ujian akhir di adakan. Itu adalah ujian dimana para profesor menarik kesimpulan berdasarkan apa yang mereka tabur dan amati dalam waktu lama, tanpa di sadari oleh para murid, jika para profesor menyatakan secara langsung pada akhirnya akan menjadi kegagalan sejak awal.


Tujuannya sudah jelas. Untuk mencari para murid potensial yang mampu berfikir terstruktur, sistematis, dan logis, serta berfikir berdasarkan hukum sebab akibat. kemampuan bernalar yang mampu memprediksi secara akurat sambil menyiapkan rencana pencegahan dalam waktu relatif singkat.


Bukan Cuma kemampuan sihir maupun pedang, tapi juga kekuatan penalaran yang mampu mengambungkanya menjadi satu kesempurnaan.


Suatu senjata manusia dari para pengikut yang menjamin keberlangsungan mereka di masa depan, senjata yang mampu mengejar dan memusnahkan targetnya dengan efesiensi mengerikan.


Dan Kai salah satu dari beberapa anak yang cocok ketika para profesor mengetahui potensi kemampuan sihirnya, meski tidak sebesar Liona, tapi Kai memiliki kemampuan untuk menjadi seorang penyihir.


Orang seperti Kai sangat cocok menjadi Magic Swordman. Tidak seperti penyihir atau Swordman murni yang bisa melengkapi kekurangan dengan kerja sama tim, Magic Swordman mampu melakukannya seorang diri tanpa kerjasama tim. Setidaknya para profesor memandangnya seperti itu.


Di tambah kemampuan berfikir Kai sangat jauh di atas murid seumurannya ketika hasil tes selesai di umumkan membuat banyak mata melirik padanya. Liona memandang Kai sebagai kaka yang mengagumkan, segera setelah itu mereka berpisah. Kai menjadi salah satu murid kelas kusus untuk menjadi seorang pengikut sejati dari mata para profesor.


Metode pembelajaran bagaikan neraka, dimana hal-hal yang membuat kemampuan manusia di dorong sampai ujung batas terakhir, memeras isi kepala mereka agar mendapat solusi dan memanfaatkan apa yang mereka miliki untuk bertahan hidup. Tetesan darah dan pengorbanan rekan hanyalah jalan untuk mendapat kekuatan.


Hampir setiap bulan, rekan-rekan Kai hilang satu persatu, sampai titik dimana Kai memandang rekan yang telah tiada tidak lebih sekumpulan data dari selembar kertas. Seperti bagaiman bongkahan besi di poles untuk dijadikan pedang, Kai tumbuh menjadi orang yang tidak memiliki perasaan yang berfikir rasional tanpa moralitas.

__ADS_1


Bertahun-tahun berlalu dalam pelatihan. Kai sepenuhnya memahami bagaimana lingkungan di sekitarnya bertindak, dan apa yang sebenarnya para profesor inginkan terhadap dia, dengan begitu Kai mendapatkan rencana pada ujian akhir nanti.


Hari ujian di adakan. Tempat itu adalah labirin mengerikan dekat Academy, Kai dan rekannya di tugaskan untuk membasmi Chimera Drakness Dragon Lord.


Jika Kai di hadapkan lawan yang tidak bisa dia kalahkan, hanya ada beberapa pilihan salah satunya ialah mundur dan menyiapkan rencana atau maju untuk bernegosiasi. Tapi masalah sebenarnya ialah fakta bahwa Chimera hanyalah mahluk yang bertindak atas naluri membunuh saja, tidak ada pilihan negosiasi sejak awal, terlebih lagi di kondisi dimana Kai dan rekannya harus melawan Chimera yang sejak awal menutup rute kabur mereka. Maka dari itu Kai harus menjalankan rencananya, rencana dimana Kai menguragi kekuatan musuh dengan mengorbankan rekan yang telah dimanipulasi lalu menusuk kepala Chimera ketika mahluk itu tidak berdaya.


Tepuk tangan para profesor dengan senyum mengerikan penuh kegilaan semakin keras ketika melihat Kai satu-satunya anak yang selamat. Inilah apa yang diinginkan para profesor, Kai menyadarinya sejak awal saat potongan informasi yang di sebar dengan sengaja dia baca secara cermat.


Tidak hanya tenaga, Kemampuan berfikir juga merupakan kekuatan.


Seseorang yang tidak menyadari kekuatan diri mereka dan kekuatan lawan mereka nanti, lalu maju berperang dengan berpegang teguh pada keajaiban dan semangat yang tak berdasar kemudian menang secara ajaib, hanya ada dalam buku dongeng anak kecil. Dimana pada akhirnya buku itu akan di bakar oleh para Profesor karna mengajarkan kebodohan nyata untuk para muridnya.


Berbeda dengan Kai, Liona menikmati sekolah dengan nyaman seperti kebanyakan para pengikut Fire Dragon Lord lainnya. Hari-hari damai seperti biasa, penuh kebahagian dan kerja sama tim.


Kai yang mengagap Liona sebagai satu-satunya keluarga, membuat Kai harus memasang wajah tersenyum layaknya murid normal di belakang naluri kegilaan yang berakar terlalu dalam, semua itu demi saudara perempuannya.


Setelah mereka berdua lulus, pihak Academy memberi dua pilihan, pertama apakah mereka ingin tinggal di sini dan menjalani kehidupan normal atau pergi keluar mencari informasi tentang keadaan untuk di catat kemudian di kirimkan ke Academy.


Liona memilih pilihan kedua.


Waktu berlangsung cukup lama. Meskipun pada awalnya hanyalah kebohongan namun jika terus di lakukan pada akhirnya menjadi kebenaran, Sedikit demi sedikit kemampuan berfikir dan naluri kegilaan Kai semakin menipis, semua itu karna Kai selalu memenuhi permintaan Liona.


Tapi ingatan dan naluri seseorang yang berakar sangat kuat tidak akan pernah mati. Itu seperti menungu di buka kapan saja.


Mulai bangun lalu membuka mata dan memandang kegelapan. Bau-bau busuk darah tercium dari segala sisi.


"Dimana Ini?"


Kai mulai bangun kemudian berjalan, tapi rantai yang mengikat lehernya membuat Kai terjatuh kebelakang.


"Ahh.. ini mungkin karna Bir yang aku minum tadi malam"


Setelah kesadarannya mulai pulih, Kai mulai memperhatikan sekitar. Tangannya memegang rantai lalu mencoba melepaskannya.


"Tunggu, dimana ini? "


Kai mulai bertanya-tanya dipikirannya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sampai ketika secercah cahaya dari sudut mulai menyinari kegelapan.


Pemandangan mengerikan seorang manusia tanpa daging, tergeletak tepat di penjara satunya. Orang itu masih bernafas tapi matanya hanya bisa menatap tanpa berkata apa-apa.


Satu-satunya hal di pikirkan Kai ketika melihat itu hanyalah nama seseorang.

__ADS_1


"Dimana Liona?? "


Melihat kekiri dan kekanan, hanya ada dirinya seseorang di dalam jeruji besi. Tidak ada sosok Liona dimanapun dia menoleh, sebagai gantinya pemandangan mengerikan ketika Kai melihat jeruji lainya, masing-masing diisi oleh mayat manusia.


"TIDAK!!..TIDAK!!!....LIONA!!"


Mengerakan tangan ke depan sambil mengucapkan mantra.


"Wahai sang agung Fire Dragon Lord.. Tolong pinjamkan kekuatanmu----"


Lingkaran sihir yang mulai terbentuk, tiba-tiba hancur seketika. Itu semua karna di tengah penjara ada tiang besi yang berisi semacam tulisan mantra terukir disana.


"Tidak mungkin. Anti-sihir? "


Keadaan ini tidak pernah Kai bayangankan selama bersama Liona. Liona itu gadis yang cukup cerdas, Kai tidak perlu memikirkan sesuatu merepotkan selama mereka berdua bersama, itu membuat naluri berfikir Kai tumpul, dan sebagi gantinya dia bisa hidup seperti petualang normal.


"Chkk!!.. "


Kai mendecakan lidahnya kepada dirinya di masa lalu, yang tidak memperkiran kemungkinan Liona tertipu oleh sekutu dari belakang.


Perasaan gelisah memenuhi diri Kai.


Magic Swordman tanpa sihir hanya akan menjadi orang biasa, jika saja Kai seorang Swordman murni mungkin dia bisa mengahancurkan jeruji besi dengan fisik saja.


Seakan mulai putus asa, mantra sihir trus di ucapakan. Dan tiap lingkaran sihir mulai terbentuk itu mulai hancur seketika.


"Wahai Fire Dragon Lord---.. Wahai Fire Dragon Lord---.... Wahai Fire Drago---"


Sedikit demi sedikit Mana sihir Kai mulai terkuras.


"Wahai Fire Dragon Lord---.. Wahai Fire Dra---.... Wahai Fi---"


Tenaga Kai mulai terkuras dan kesadaran mulai kabur. Namun, tiba-tiba cahaya menyilaukan muncul dari dada Kai, sinarnya begitu terang sambil membentuk lingkaran sihir tepat di bawah kaki.


Kai yang melihat itu menyadari sesuatu.


Memegang kalung di dada kemudian melemparkannya.


DUARRR!!


Suara ledakan terdengar sangat keras membuat gema di lorong yang tadinya sunyi. Kabut-kabut mulai menutupi pandangan, dan lubang besar akibat ledakan di atas Kai kini terlihat.

__ADS_1


Rantai yang tadinya mengikat leher Kai, kini hancur di beberapa bagian sehinga Kai bisa melepaskannya.


Kubah api yang melindungi Kai dari ledakan, mulai padam di telan bumi..


__ADS_2