
Sonia berjalan masuk keruangan dengan setumpuk dokumen di atas telapak tangannya. Wajah datar Sonia membuktikan betapa membosankannya pekerjaan dia selama ini.
Untuk beberapa alasan, berbicara dengan para petualang terkadang membuatnya bosan. Walaupun begitu pekerjaan tetaplah pekerjaan.
Resepsionis Guild yang anggun dan selalu tersenyum di hadapan petualang, itu semua hanyalah kepura-puraan semata, tapi tetap saja akan ada perasaan jenuh di beberapa titik.
Meski pekerjaannya sekarang hanyalah sampul buku tanpa judul. Tapi Sonia memiliki misi sejak awal. Jika berbicara soal bayaran sebagai Resepsionis dengan bayaran pekerjaan dia sesunguhnya, maka itu akan seperti satu Koin dari sekantung penuh Koin.
Misi dimana dia harus memperhatikan dan mencatat segala hal yang harus dia catat. Itu adalah misi sederhana dari Organisasi.
Sonia mengambil nafas pelan, sambil mempersiapkan keberaniannya hanya untuk menyapa atasannya tepat di depan mata.
"Selamat pagi, Bu."
Seorang Wanita dewasa duduk di kursi dengan satu kaki di atas lutut. Wanita itu memiliki wajah cantik dan berambut putih, dia adalah seorang wanita yang memiliki suasana kedewasaan begitu melakat dari segala arah.
Dia memakai seragam hitam dengan kemeja dan dasi hitam, serta mengenakan topi di atas kepalanya. Tidak ada seorangpun di kekaisaran yang mengenal jenis seragam ini, bahkan tidak pernah di imajinasikan oleh siapapun yang belum pernah melihatnya secara langsung.
Suara nafas ketika mulutnya terbuka, begitu kontras dengan suaranya yang merdu. Melipat kertas kemudian menyapa.
"—Oh...Ajudan ku."
Aroma harum bunga mawar dapat tercium ketika Sonia mengambil nafas. Bahkan jika seseorang memiliki hari buruk dari pagi hari sampai malam, semua akan hilang saat aroma harum mencapai indra penciuman. Itu adalah harum yang menenangkan hati.
Sonia mendekati wanita itu, lalu meletakan setumpuk dokumen laporan di atas meja.
"Kerja bagus seperti biasanya."
"Terima kasih."
Atasan Sonia tampak memberinya apresiasi. Kemudian wanita itu meletakan topi ke atas meja membuat rambut putih panjangnya jatuh secara perlahan.
Mata indah menatap ke arah Sonia.
"Tidak seperti kenalanku dari Departemen layanan pusat, petugas lapangan seperti kita benar-benar disibukan oleh misi Spionase."
Wanita itu terlihat mengeluh karna suatu hal. Oleh karnanya sebagai bawahan yang baik, Sonia menanyakan sesuatu.
"Ada apa, bu? Apakah sesuatu mengangu pikiran anda?"
__ADS_1
"Ya, terutama mengenai para penjilat. Biasanya mereka bersedia menjilat sepatuku ketika aku menyuruhnya, tapi siapa sangka mereka akan berani melakukan itu juga ke para Eksekutif Organisasi."
"Penjilat sepatu ya? —hm.. Alangkah lebih baik bila kita mengasumsikan mereka sebagai orang bodoh yang putus asa. Mengigat betapa beraninya mereka, itu patut kita hargai."
Atasan Sonia melatakan tangan di dagunya mencoba untuk bersantai, lalu berkata.
"—Aah, ya. Kau benar. Untuk keadaan organisasi sekarang, sumber daya manusia tidak bisa kita buang percuma, sekalipun sejatinya mereka di bawah setandar minimum tapi lebih baik dari pada tidak ada sama sekali. "
Sejauh yang Sonia tahu, Organisasi memiliki banyak sekali anggota. Itu semua tersebar ke berbagai negara di benua, yang berjalan di kegelapan malam sambil mengawasi dengan mata lebar. Organisasi seharusnya masih memiliki anggota cukup banyak untuk di gerakan kapan saja.
Tapi mengapa atasannya kini mempersoalkan kekurangan personel.
(Apa yang sebenarnya terjadi ketika aku sedang bertugas?)
Pertanyaan-pertanyaan atas dasar ketidak tahuan, memenuhi isi kepala Sonia. Walaupun Sonia sudah bergabung dengan Organisasi cukup lama dan bahkan di tempatkan pada unit yang seharusnya memiliki banyak sekali informasi, tapi dia benar-benar tidak tahu kekuatan sesuguhnya atau tujuan sebenarnya Organisasi.
Itu menunjukan bagaimana perbandingan akses informasi antara perwira dan bawahan sekelas Sonia.
Atasan Sonia mengambil beberapa kertas kemudian membacanya.
Suara gesekan kertas ketika sarung tangan kulit membuka lembar dokumen, membuat kesadaran Sonia kembali ke titik awal.
Pupil mata Wanita itu melirik ke arah sonia, seperti menanti jawaban langsung dari bawahnnya itu.
"Tidak masalah. Demi organisasi, akan aku lakukan semua perintah anda, bu."
"Bagus."
Memiliki ajudan cakap seperti Sonia, membuat sang wanita tersenyum manis. Semanis madu ketika itu di minum saat seseorang megalami rasa sakit di perut. Begitu menenangkan dan dapat menyembuhkan.
"Ngomong-ngomong, Aku kesini karna menerima laporan menarik darimu."
"Apa itu soal pengikut Fire Dragon Lord?"
Atasan Sonia mengaguk untuk mengkonfirmasi.
"Tentu, itu yang aku maksud. "
Sonia mengambil dokumen di atas meja, kemudian memilih-memilih dari sekian banyak kertas yang dia lihat. Sampai akhirnya dia menemukan apa yang dia cari.
__ADS_1
Suara selembar kertas menyatu dengan meja dibarengi suara ketukan jari Sonia, membuat atasannya memperhatikan dokumen yang dia serahkan.
Sang wanita mengambil dan mulai membaca, mengangkat lembar pertama lalu pupil matanya mulai mengecil.
"Kai Bearwood? Dari sekte Fire Dragon Lord. Dan dia juga seorang Magic Swordman."
Sonia tidak tahu apa itu pengikut Fire Dragon Lord atau sebernilai apa seorang Magic Swordman dari sana. Yang dia lakukan hanyalah menjalankan tugas.
Tapi melihat reaksi dari atasannya, itu pasti pertanda baik.
"Menurut apa yang aku perhatikan selama ini, Kai memiliki potensi cukup bagus sebagai seorang petualang. Tidak hanya kemampuan bertarung tapi juga kemampuan untuk menilai situasi, di samping semua itu, dia juga bisa membaca. Sangat cocok untuk biro Administrasi."
"Lalu bagaimana dengan adik perempuannya?"
"Dia bahkan lebih menjanjikan dari pada Kai sendiri."
(Di samping kekuatan sihir Liona dan kecepatan rapalan mantra, dia juga memiliki bakat untuk mencapai penyihir kelas atas. Aku bisa menebak letnan Kolonel Rose menginginkan Individu seperti itu. Ini akan menjelaskan mengapa dia memintaku secara pribadi untuk mengawasi mereka. )
Atasan Sonia mengerakan tangan untuk memegang kertas dengan kedua tangan. Dia memperbaiki posisi tubuhnya secara vertikal sambil menatap serius laporan yang dia lihat.
"Lalu, apakah pada akhirnya mereka bersedia mengambil permen?"
"Seperti yang anda perintahkan, mereka benar-benar mengambilnya."
Atasan Sonia yaitu Letnan Kolonel Rose bersender ke kursi dengan cepat lalu menyebabkan semacam getaran di area dada, itu cukup besar untuk dapat terpengaruh akibat guncangan kecil. Kolonel Rose melihat dokumen lagi sambil bergumam dengan suara pelan.
"Memiliki seorang pengikut dari sekte Fire Dragon Lord sebagai kartu di tangan, tidaklah buruk. Terlebih dia juga seorang Magic Swordman. "
(Tunggu, apa maksudnya ini?)
Melihat bagaimana Kolonel Rose lebih tertarik kepada Kai dari pada Liona, memberikan Sonia semacam pertanyaan.
Di lihat dari segi manapun, Liona jauh lebih ungul dari pada Kai. Sonia yang sudah melihat cukup lama, dapat yakin tanpa sedikipun keraguan.
Namun Kolonel sepertinya memiliki pendapat lain.
Maka itu berarti—
"Bu, apakah anda mengetahui sesuatu tentang pengikut Fire Dragon Lord?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak tahu bagaimana para pengikut Fire Dragon Lord di didik. Tapi yang pasti, jika dia seorang Magic Swordman, aku sepertinya tahu persis apa yang dia alami.."