The Next Hero

The Next Hero
Chapter 16 : Hanya ingin menjadi kuat


__ADS_3

"Hei Taewoon! Apa kamu memiliki seorang guru?" tanya Taeri pada Taewoon yang lagi beristirahat.


Sudah sekitar 1 jam mereka memburu monster Class F. Saat ini mereka sudah selesai dalam memburu monster, dan mereka sedang beristirahat di luar dungeon sebelum kembali ke guild Jurim.


"G-guru?" Taeri mengangguk. "Tentu sja aku punya,"


"Wah... Hebat! Guru mu level berapa?" Taewoon bingung dengan pertanyaan itu.


"Ha? Level?"


"Iya! Guru mu pasti orang yang hebat, karena kamu baru level 1, tapi kamu sudah seperti seorang yang level 10 saja." Sekarang Taewoon mengerti, gadis ini bertanya tentang guru Hunter, bukan guru sekolah.


"Ah, m-maaf, tapi guru yang saya maksud guru sekolah... Kalau yang Hunter Taeri maksud seorang guru yang mengajarkan saya bertarung. Saya tidak punya! Kecuali guru Taekwondo saya, itupun dia hanya mengajarkan bela diri Taekwondo saja. Dia juga seorang Hunter sih.. tapi saya tidak pernah berlatih dengannya."


"Eh? J-jadi kamu tidak punya guru?" Taewoon mengangguk.


"Lalu kenapa kamu bisa sangat hebat sekali begitu? Apa kamu seorang jenius?" Taeri tercengang dengan kemampuan Taewoon.


"Hehehe ti-tidak kok,"


Dari jauh Jewon memperhatikan Taeri dan Taewoon yang sedang berbincang. Dia tampak tidak senang dengan keakraban kedua orang itu.


Di sebuah kafe di pusat kota, Yeri dan Caeyeon tampak sedang duduk menikmati kopi dan makanan mereka.


Mereka sering bertemu paling tidak dua kali dalam satu pekan. Walaupun mereka memiliki kepribadian yang sangat berbeda, namun persahabatan mereka benar-benar sangat erat.


Sebenarnya dulu Caeyeon juga memiliki kepribadian hiperaktif seperti Yeri. Namun kepribadiannya berubah setelah kejadian 7 tahun lalu.


Dia menjadi orang yang lebih dingin, dan tidak hangat lagi. Dan alasan Caeyeon dan Yeri bisa berteman, itu karena saat pertama kali masuk SMA Yeri lah yang selalu memaksa Caeyeon untuk berteman dengannya.


Yeri pasti selalu menguntit Caeyeon kemana saja. Awalnya Caeyeon sangat kesal karena hal itu, namun seiring berjalannya waktu, Yeri menjadi teman dekatnya.


Kalau Yeri, alasan dia sangat penasaran dengan Caeyeon. Itu karena bagi Yeri seorang gadis dingin yang memiliki mata yang buta sebelah menurutnya tampak seperti gadis yang malang.


Yeri berfikir seperti itu karena dia tidak tahu kalau Caeyeon anaknya dari direktur Park Jiwoo.

__ADS_1


Caeyeon bukan seperti Taewoon yang tidak pernah muncul ke publik. Dia pernah muncul, namun karena penampilannya berbeda setelah mata kirinya mengalami kebutaan, banyak orang hanya berfikir Caeyeon mirip dengan anak kedua Park Jiwoo. Terlebih lagi sifat anak kedua Jiwoo yang di kenal publik adalah orang yang ramah dan mudah senyum.


Oleh karena itu teman-teman sekolahnya menganggap ia hanya sekedar mirip dengan anak konglomerat Korea itu. Padahal dia memang anak kedua Park Jiwoo. Tapi di tidak pernah memberi tahu hal tersebut, dia hanya membiarkan saja orang-orang bergosip tentang dirinya.


Dan karena itu pula Yeri semakin kasian dengan Caeyeon yang tidak punya teman.


"Pfft," Caeyeon tersenyum sendiri, mengingat 7 tahun lalu saat Yeri sangat menggangu dirinya.


"Ada apa dengan mu? Tidak biasanya kamu tersenyum seperti orang gila.."


"Tidak ada, aku hanya mengingat masa lalu."


"Btw, makasih Yeri." Yeri mengangkat alisnya.


"Kamu sudah membantu adik ku," jawab Caeyeon.


"Apa adik mu masih takut dengan mu?"


"Hm..., dia masih sangat canggung jika bertemu dengan ku, tapi kali ini dia mulai berani menyapaku."


"Jika kau tidak ingin mengatakannya, tidak usah katakan. Aku penasaran sih... Tapi aku sangat menghormati privasi calon kakak ipar ku." Caeyeon langsung menatap tajam Yeri.


"Aku benar-benar akan membunuhmu, jika kau bicara seperti itu lagi..." Caeyeon tersenyum menyeramkan.


"Wah gawat ini.... Kasian sekali Taewoon punya kakak seperti mu, aku takut adikmu akan jadi lajang tua..." Caeyeon semakin jengkel mendengarnya.


"Ha... Aku hanya takut dengan mental Taewoon," Yeri melirik sahabat yang memasang wajah muram.


"Kau tadi bertanya kan, kenapa Taewoon takut dengan ku?"


"Jangan memaksakan untuk menceritakannya, aku hanya bercanda..." Yeri kemungkinan bisa menduga, bahwa kejadian itu adalah trauma buat kedua kakak beradik tersebut.


Jadi dia tidak ingin mendorong sahabatnya untuk menggali luka lama yang kemungkinan sangat menyakitkan.


Rombongan Taewoon kini sudah sampai ke guild Jurim, mereka sedang menjual hasil farming yang mereka dapatkan.

__ADS_1


"Wah... Kali ini kita dapat lumayan ya," seru Yuri.


"Taewoon... Ini uang untuk mu," ucap Taeri sambil menyodorkan uang. "Kamu sudah berkerja keras tadi..."


"Ah, saya tidak perlu. Uang itu untuk kalian saja."


"Hei bocah! Jangan sombong!" Jewon mengeram melihat Taewoon menolak uang tersebut.


"Bu-bukan beg-"


"Aku sudah melihatmu, kau memang cukup bagus untuk orang-orang level 1. Namun jangan berlagak hanya karena kau bisa membunuh beberapa monster Class F." Taewoon merasa tertekan dengan tatapan tajam Jewon.


Dia sangat sering melihat tatapan itu, dan kini dia jadi merasa bersalah dan tidak enak.


"Hei tenang lah Jewon. Kenapa kau dari tadi marah-marah sih..." ujar Taeri, "dia pasti punya alasan menolak uang ini."


"Dik, kenapa kamu menolak uang? Bukankah kita bekerja sebagai Hunter untuk mendapatkan uang...?" tanya Jinte.


"M-maaf, s-saya masuk dungeon bukan karena uang, saya hanya ingin menaikkan level saja..." Taewoon merasa gugup. Dia benar-benar tidak terbiasa dengan situasi seperti ini.


Jinte dan Taeri saling memandang, mereka tidak menduga bahwa Taewoon masuk ke dungeon hanya untuk naik level. Karena biasanya Hunter itu masuk dungeon untuk mendapatkan uang.


"Apa kamu benar-benar tidak membutuhkan uang ini?"


"T-tidak masalah, tujuan saya hanya ingin menjadi kuat..." seru Taewoon memandang Taeri.


"Jadi kuat ya..." Taeri tersenyum. “Baiklah, jika kamu tidak masalah, uang ini untuk kami saja." Taeri mengusap kepala Taewoon.


Taewoon sudah pergi pulang ke rumahnya, katanya dia ingin beristirahat karena sudah sangat lelah.


"Hei Jewon. Kau jangan terlalu keras dengan bocah itu..." tegur Taeri. "Aku tahu apa masalah mu, kau tidak ingin kita mati karena melindungi seorang beban kan? Tapi kau tadi lihat kan, dia bukan anak yang lemah. Dan yang terpenting kita semua sudah keluar dari dungeon dengan selamat."


Jewon pergi begitu saja setelah mendengar nasehat dari Taeri. Wajahnya terlihat sangat kesal.


“Apa sebenarnya masalah bocah gila itu?” Taeri menatap kesal Jewon

__ADS_1


__ADS_2