
"Jadi itu alasan mu masih level 1. Aku tidak pernah melihat kasus ini sebelumnya." ujar Yeri.
"Entahlah, aku juga tidak tahu sampai kapan masa ban ini berlaku..."
"Tapi, kamu bilang hanya kamu saja yang mengetahui hal ini, lalu kenapa kamu bisa tidak masuk dungeon? Bukankah setiap player akan tercatat, dan harus wajib masuk ke dungeon. Apa pemerintah juga tahu?" Taewoon menggeleng.
"Tidak, hanya aku saja yang tahu.. dan sekarang Hunter Yeri juga. Aku tidak tahu kenapa menceritakan hal ini pada anda, padahal sebelumnya aku tidak pernah menceritakannya pada orang lain. Jadi kumohon jangan beri tahu siapa pun ya."
"Wah.... Berarti aku sepesial dong? Aduh senangnya... Tenang saja, tenang. Rahasia mu aman." Yeri mengangkat ke dua jempolnya.
"Sepertinya saya menyesal menceritakan hal ini pada anda." ucapnya datar.
"Ih... Kamu dingin banget..."
"Omong-omong, apa Hunter Yeri menginginkan reward 5 tahun yang lalu? Bagaimana pun, yang telah membuat monster itu sekarat adalah anda. Jadi jika anda memang ingin, saya akan berikan. Tapi saya tidak tahu kapan masa bannya berakhir." Yeri tersenyum mendengarnya.
"Aku tidak memerlukan itu. Jika masa ban mu berakhir, gunakan semua reward yang kau dapatkan untuk bertambah kuat. Jangan mau di injak-injak oleh orang lagi..." Gadis itu kembali mengelus kepala Taewoon.
"B-baiklah, terimakasih..." Taewoon merasakan telinganya memanas. Dia sedikit kesal karena di perlakukan seperti anak kecil.
"Oke, sekarang kakak pergi dulu ya. Maaf dik, padahal aku masih ingin mengobrol dengan mu, tapi aku punya urusan. Kau pulang lah langsung. Tidak perlu datang ke sekolah lagi. Dan ini, jika kau memerlukan bantuan ku. Hubungi saja nomor itu." Yeri menyerahkan kartu namanya.
"Ah, b-baik terimakasih untuk hari ini." Yeri mengelus kepala Taewoon lagi, lalu ia langsung pergi menggunakan skill telportasi.
"Kenapa dia selalu mengelus kepala ku?" gumam Taewoon.
Keesokan harinya Taewoon ingin pergi ke sekolah seperti biasanya, sebelum pergi ke sekolah ia berpas-pasan dengan Caeyeon.
"Tae," panggil Caeyeon.
"I-iya, Ada apa kak," Caeyeon memandangi Taewoon yang hanya menunduk melihat ke bawah.
"Tidak ada, tidak jadi. Kamu berhati-hatilah saat sekolah," Caeyeon pergi setelah mengatakan hal itu.
Caeyeon berdiri dari jendela kamarnya melihat Taewoon yang berangkat mengunakan mobil.
"Ha... Dia masih saja takut dengan ku rupanya," Caeyeon melihat dirinya sendiri dari kaca di depannya.
Dia sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang memiliki rambut hitam panjang dengan satu mata kiri yang di tutupi oleh sebuah penutup mata bermotif indah berwarna putih.
__ADS_1
Caeyeon memegang mata kirinya. "Ini bukanlah salah mu..." gumamnya lirih.
Di sekolah Taewoon hanya duduk dan memandangi lapangan dari dalam kelasnya. Ia sedang berfikir tentang apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti saat bertemu dengan black rose.
"Haa... Aku selamat kemarin... tapi sepertinya hari ini aku akan beneran mampus." Taewoon membaringkan wajahnya di meja.
Di guild Jurim, Kwon Yeri sedang marah-marah tidak jelas karena kesal melihat direktur Dosang.
"Kau tega sekali pak... Kau menipuku...."
"Siapa yang menipu mu bocah! Kan aku sudah bilang, kalau itu hanya kecurigaan! Dan kau sendiri, apa yang kau lakukan? Kau membuat masalah dengan guild JY kan!" Semprot Dosang merasa kesal melihat Yeri yang membuat masalah semalam.
"Kenapa jadi kau yang marah? Aku yang di tipu! Seharusnya aku yang marah dan minta uang ganti rugi dari hari libur ku! Kali ini aku akan memanfaatkan mu pak tua, karena kau mengirim ku ke sana. Aku bisa ketemu dengan si tampan ku...."
"Bocah ini!" bentak Dosang.
Yeri hanya mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kau mengganggu anaknya si Yunkang itu?"
"Iss, aku kan sudah bilang, aku menyelamatkan pria kecil tampan ku..."
"Aku tidak berpacaran dengannya, ehmm.. belum deng!" ucapnya tersenyum.
Dosang memijat pelipisnya. "Apa kau memang segitu inginnya melihat ayahmu ini mati Kwon Yeri?"
"Kenapa ayah berbicara begitu... Mana ada anak yang ingin orang tuanya mati! Ayah ini, kejam sekali kalau bicara...."
"Jadi ku tanya kenapa kau buat masalah lagi...!" Dosang merasa frustrasi menghadapi anaknya yang tidak diketahui oleh publik tersebut.
Publik hanya mengetahui bahwa Kwon Yeri adalah sekertaris Dosang.
"Aku hanya menyelamatkan anak itu untuk membalas budi..."
"Balas Budi?" Yeri mengangguk.
"Ayah tahu, kejadian yang menimpaku saat bekerja di toserba 5 tahun lalu?"
"Hm, tentu saja aku tahu. Kan hal itu yang membuat otak anak ku bergeser." Mendengarnya membuat Yeri semakin kesal.
__ADS_1
"Terus apa."
"Ha... Anak itu yang aku ceritakan dulu, dia yang pernah menyelamatkan ku dari bos Goblin."
"Benarkah?" Dosang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Hm, aku sangat mengingat wajahnya yang menggunakan kacamata itu."
"Begitu kah..." Dosang berfikir mendengar itu.
"Ha... baiklah, karena anak itu telah menolong mu, aku tidak akan mempersalahkan apa yang kau lakukan kemarin. Dan, aku juga jadi ingin bertemu dengannya,"
"Apa ayah akan menjadikannya calon mantu mu?" ujar Yeri girang.
"Kwon Yeri.... Jangan berulah lagi ya..." bisik ayahnya seraya melemparkan tatapan membunuh.
Yeri merinding melihat tatapan ayahnya, dia seperti ingin mengeluarkan ku dari KK, batin Yeri meneguk ludah kasar.
"Yak, Park Taewoon!" Taewoon terbangun dari tidurnya karena Joori menendang bangkunya hingga jatuh.
"Ughh," erang Taewoon masih dalam keadaan setengah sadar.
"Hei, sepertinya kau semalam tidur dengan pulas ya!" Joori menginjak kepala Taewoon yang hendak berdiri.
"Argh," erang Taewoon karena Joori menekan kepalanya.
"Cupu sia**n, kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau berkencan dengan Yeri? Huh!" Kali ini Yunyang yang berbicara.
"Ma-maaf,"
"Maaf? Untuk apa huh!"
Taewoon hanya diam saja, ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Hei jawab sia**n!" Taewoon menampar-nampar wajah Taewoon yang masih dalam keadaan di injak oleh Joori.
"Baiklah, karena kau semalam tidak menerima hukuman, maka hari ini kau harus di hukum lebih banyak, kan Taewoon?"
"Ti-tidak, aku-" tiba-tiba Taewoon pingsan di buat Yungyang.
__ADS_1
"Bawa dia!" mendengar perintah dari yunyang, Yunte segera mengangkat Taewoon yang pingsan.