
= = = = = = = = = = = = = = = = = =
FIRST SESSION
= = = = = = = = = = = = = = = = = =
Pagi yang cerah, matahari kembali terbit di ufuk timur, memancarkan sinarnya ke atas permukaan bumi, seakan mengingatkan semua makhluk di dalamnya, kalau mereka di anugerahi lagi satu kesempatan untuk hidup.
= = = = = = =
Kondisi Eve semakin membaik, terdengar percakapan hangat antara ayah dan anak yang saling merindukan itu,
“Ayaaahhh… aku sudah kenyaaang…” ucap Eve sambil menggelengkan kepalanya dan berpaling menolak suapan terakhir dari sarapannya.
“ayolah tinggal satu Sendok lagi Eve, dan ini yang terakhir, kau membutuhkan energi untuk memulai hari ini, sebentar lagi Detective Harrys akan datang...” ucap Ayah Eve membujuknya
“Tapi aku sudah kenyang yah..” Lagi kata Eve menolak suapan bubur dari tangan ayahnya.
“Kamu makan sedikit sekali, pantas saja badanmu jadi kurus begini, apa selama ini Dean tidak mengurusmu dengan benar? Tunggu saja kalau ayah ketemu anak itu..!” ucap dr. Mike menggeram kecil.
Mendengar nama itu Eve tertunduk, raut wajahnya seketika berubah, Eve terlihat muram…
Eve menunduk... Menghela napasnya, dan berbicara perlahan,
“Apa Ayah tahu kalau saat ini Dean yang menjadi tersangka utama atas kasus yang terjadi padaku?” ucap Eve perlahan.
Ayah Eve tersentak kaget.. “Apa yang kau bicarakan, Nak?? Jangan bercanda seperti itu... ini tidak lucu...”
“Aku juga berharap aku hanya bercanda ayah, tapi kita tidak pernah tahu bagaimana kedalaman hati setiap orang, yah.. Semua itu misteri yang tersembunyi, termasuk aku dan ayah.. Tidak mengherankan dan bukan hal yang asing lagi, jika orang yang terlihat Normal justru memiliki kepribadian yang tidak diduga... Sisi gelap dapat muncul kapan saja jika kita tidak dapat mengontrolnya...” ucap Eve menjelaskan dengan tertunduk.
Dr. Mike terdiam sejenak, ia berusaha mencerna setiap perkataan Eve.
Raut wajah Eve terlihat begitu serius.
“Ayah hanya bisa berharap kau segera memecahkan kasus ini.. Seperti dulu.. Ayah percaya padamu, Eve..!” ucap dr. Mike mencoba memberikan Eve semangat, walaupun ia sendiri masih terlihat shock dengan pernyataan Eve.
Eve membuang napasnya lagi, bahunya lesu dan terturun, sorot matanya kosong.
“Aku tidak yakin kali ini, ayah… Dean sahabatku dari kecil.. aku tidak ingin faktor emosi pribadiku justru mengacaukan penyidikan ini... Aku harus tetap bertindak rasional terhadap apa yang terjadi...” Ucap Eve sambil mengepalkan tangannya, ia meremas selimut di samping pahanya hingga gemetar, Eve mengencangkan rahangnya, mencoba menahan emosi yang meluap dari dalam dirinya.
“Lakukanlah apa yang menurutmu benar, Eve... apapun itu, ayah akan selalu mendukungmu..!” ucap Ayah Eve sambil memegang perlahan kepalan tangan Eve yang tegang.
Eve menatap ayahnya, situasi berubah, Eve melepaskan ketegangannya, tangannya melemah, Eve berpaling menatap ayahnya dengan penuh haru.
“Terima Kasih Ayah, Aku bahagia ayah ada di sini...” dengan mata yang berkaca-kaca Eve menyandarkan kepalanya di pundak ayahnya. Eve mulai menangis, bahunya gemetar naik turun.
Dr. Mike mengangkat tangannya, tangan kanannya menepuk lembut punggung Eve, sementara tangan kirinya membelai lembut rambut di kepala Eve, “Kau harus kuat, Ayah yakin kamu bisa lebih dari ini nak.. kau bisa menghadapinya...”
Eve mengangguk dengan tetasan air mata pada hidungnya.
Napas Eve sesenggukan sambil memeluk erat ayahnya.
Eve melepaskan semua emosi yang di tahannya, dr. Mike ikut larut dalam tangisan Eve.
. . .
. . .
Tok.. tok.. tok..
Bunyi ketukan pintu.
Eve segera melepas pelukannya dan menghapus air matanya, dr. Mike tersenyum dan memberikannya Tissue.
“Its ok...” Ucap dr. Mike lalu berjalan ke arah pintu.
Dr. Mike membukakan pintu tersebut, terlihat Detective Harrys dan asistennya berdiri dengan senyuman hangat, menyapa dengan dengan penuh karisma.
“Selamat pagi dr. Mike... Bagaimana keadaan Eve hari ini? Apa ia sudah bisa memulai sesinya?”
Ucap Detective Harrys mengonfirmasi keadaan Eve.
“Yaaa… dia lebih dari siap kurasa...” Jawab dr. Mike sambil mengangguk.
“Baguslah kalau begitu..”
Detective Harrys pun melangkah masuk ke dalam kamar rawat Eve.
“Sebentar Detective!!.. “ cegah dr.Mike, sambil memegang lengan detective Harrys.
Detective Harrys segera memalingkan wajahnya melihat ke arah dr. Mike dengan kerutan di dahinya.
“Berjanjilah padaku..!! siapa pun nantinya yang akan menjadi pelakunya... Aku ingin kau pastikan dia mendapat hukuman yang setimpal!! Aku tidak ingin anakku sampai terluka lagi.. Kau tahu bahwa di dunia ini hanya dia satu-satunya yang aku miliki, aku ingin kau pastikan itu…!!!” ucap Ayah Eve tegas dengan wajah yang serius, tatapannya tajam kepada Detective Harrys.
Detective Harrys membuah singkat napasnya lalu memegang bahu dr. Mike,
“Tenanglah Dr.Mike.. aku dan tim, akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan kasus ini dengan benar…” ucap detective Harrys meyakinkan ayah Eve.
Dr. Mike mengangguk dan melepaskan genggaman tangan pada lengan Detective Harrys.
Mereka pun melangkah masuk, mengambil sebuah kursi dan meletakkannya di depan ranjang Eve, sementara asisten detektif Harrys duduk sedikit di belakang, ia memasang kamera untuk merekam semua percakapan mereka, ia juga selalu siaga dengan catatan di tangannya, mencatat hal-hal yang penting untuk penyelesaian kasus ini.
__ADS_1
“Claire...” Panggil detective Harrys seakan memberikan isyarat untuk memulai sesinya.
“Kamera dan perekam sudah siap, kita sudah bisa mulai Dec...”
Detective Harrys pun mengangguk lalu menatap ke arah Eve, Claire segela menekan timer waktu sesi pertama mereka.
. . .
Sesi pun di mulai, detective Harrys menegakkan punggungnya.
“Selamat pagi Eve, bagaimana kabarmu hari ini ?” ucapnya sambil tersenyum manis.
“Tidak ada yang lebih baik dari hari ini, Dec!!” ucap Eve dengan penuh semangat.
“ha.. ha.. aku senang kau kembali seperti semula... Kau terlihat sangat bersemangat hari ini.. itu bagus untuk mu!” Ucap detective Harrys sambil menunjuk Eve.
“Ok... Tanpa basa basi.. kita langsung saja... Eve, apa kau bisa menceritakan semua yang terjadi dari awal padaku... secara detil...”
Eve menutup mata sejenak, lalu mulai menceritakan apa yang dialaminya..
“Malam itu... Dean datang ke rumahku dan menawarkan sebuah kasus, saat itu aku langsung menempiknya dikarenakan aku ingin fokus pada kuliahku. Kami sudah tertinggal 1 tahun karena sibuk dengan kasus-kasus di luar sana... Aku rasa kau juga tahu itu kan Dec??” ucap Eve menyeringai pada Detective Harrys. Seakan mengingatkan kembali apa yang pernah mereka lalui bersama.
“Ya.. kita mengalami masa-masa yang hebat bersama.. haha” ujar Detective Harrys dengan tawa, seakan bernostalgia dengan Eve dan Dean.
“Lanjutkan Eve..” ucap Detective Harrys kembali dengan wajah yang serius.
Eve melanjutkan ceritanya...
“Ia mengatakan ingin berkunjung ke rumah bibi Jean yang sakit, aku pernah ke sana saat pertama kali aku datang untuk menetap di sini... keesokan harinya saat aku selesai mengumpulkan tugas kuliah Dean, aku mencoba untuk menghubunginya... Tapi aku sama sekali tidak mendapat jawaban darinya..."
“Perlahan aku mulai Khawatir, dan kekhawatiranku memuncak saat muncul satu-satunya chat dari Dean, aku pun segera pergi menyusulnya keesokan harinya...”
“Apa bunyi pesan itu..??” tanya detective Harrys dengan kening yang mengerut.
“HELP!.. that its... Aku mencoba menghubunginya kembali tapi hasilnya nihil. Menerima pesan itu aku segera bersiap ke sana.. oyaa... Saat itu aku sempat di hadang petugas saat melewati jembatan yang patah di jalan menuju kota itu..”
“Claire.. apa kau mencatatnya? Catat jam, waktu kejadian dan laporan cuaca saat itu” Ucap Detective Harrys sambil menunjuk ke arah asistennya tanpa memalingkan wajahnya dari Eve.
“Yes Dec!” ucap Claire mengangguk.
Mendengar perintah detective Harrys, Eve segera menambahkan,
“Apa kau sudah menginvestigasi tempat itu, Dec? Aliran sungai di sana meskipun deras, aku merasa ada yang janggal di situ, tiang yang roboh berada pada sisi keduanya dan bukan sisi pilar yang menerima tekanan yang terberat dari aliran air tersebut..!” Ucap Eve Serius, kembali teringat kejadian saat itu.
“Noted, Sir!” jawab Claire sigap.
“Detective, aliran air di sana cukup deras, aku takut kau hanya sia-sia melakukannya, kemungkinan air sudah menghapus petunjuk yang memungkinkan... tapi aku tetap beharap kita bisa menemukan bukti yang lain di jembatan itu... Jika aku bisa menyarankan, menurutku kenapa kau tidak lebih memfokuskan pada hilir sungai itu? ” ucap Eve menjelaskan dengan serius
“I Got it.. Nice idea, Eve! As Always... Sekarang, lanjutkan ceritamu...”
Eve lanjut bercerita,
“Karena akses yang terbatas, jalanan ke tempat itu menjadi semakin sepi, tidak ada satu pun kendaraan yang lewat di sana selain aku..” lanjut Eve sambil mengingat kembali kejadian itu.
“Namun anehnya, tidak ada Sign atau tanda-tanda peringatan di sekitar kota itu..” lanjut Eve menceritakan dengan ekspresi berpikir, alisnya mengerut tegang.
Seketika Eve mengangkat wajahnya, seakan mendapatkan kembali ide,
“oya Dec! apa kau sudah menyelidiki apa yang terjadi pada kota itu?? Mengapa kota itu kosong tapi tidak ada sign peringatan di sana...” tanya Eve penasaran.
“Ya... Aku mengumpulkan data-datanya, kota itu dievakuasi 4 tahun yang lalu, karna terjadi kebocoran Radiasi Nuklir… Hal yang sama seperti yang terjadi di kota Chernobyl dan Fukhusima..”
“hmmm... Apakah tidak ada penjagaan di sana?” tanya Eve.
“Polisi melakukan jadwal patrol bergilir ke tempat itu, namun dengan kerusakan jembatan, mereka menunda patrol sampai jembatan memungkinkan untuk di lewati kembali saat itu...” ucap Detective menjelaskan.
“hmmm… okey..” ucap Eve sambil mengangguk serius.
“Aku rasa ini ada hubungannya dengan jembatan rusak itu, tapi kita belum tahu pasti sampai mendapatkan bukti yang jelas.. aku ingin kau bisa menyelidiki apakah ada bukti atau tanda-tanda kesengajaan di sana, Dec!” ucap Eve mengingatkan Detective Harrys.
“Yah tentu saja, aku sudah masukan itu pada to do listku..”
“jujur saat itu aku sangat ketakutan, Dec… bagaimana tidak? aku disuguhkan dengan pemandangan yang mengerikan, semua tempat itu kosong dan tak berpenghuni...”
“hmm... Aku mengerti perasaanmu...”
Jawab detective Harrys memandang haru, tiba-tiba ia mengerjap dan kembali bertanya,
“Sebentar Eve... Jika Dean mengirimkan pesan itu padamu, berarti--???” ucap Detective menahan kalimatnya sambil mengangkat alis menatap Eve.
“Benar... Aku rasa dia sengaja memancingku untuk segera ke sana..!” sambung Eve melengkapi kalimat Detective Harrys.
“hmmm… memancingmu?”- Detective Harrys mengangguk, - “Apa saat ini kau mencurigai Dean yang melakukan semua ini?”
__ADS_1
“Pantas saja kau meninggalkan inisial namanya di lantai tempat kamu disekap... Apa yang terjadi Eve? Kenapa kamu mencurigai Dean?” tanya Detective Harrys semakin penasaran.
“Hmmm…. Aku ingin kau merekam setiap detil cerita dari ku Dec..! aku perlu mengingatnya satu persatu dengan detil nanti...”
“tentu saja Eve, lanjutkanlah..!”
Eve kembali menceritakan dengan Detil keadaan di sana, apa yang ia lakukan saat di sana..
“Pagi itu… aku menemukan sebuah petunjuk.. petunjuk di kaca yang hanya bisa terlihat bila dibasahi embun atau uap air... Aku dan Dean sering memainkannya sejak dulu, kita saling mengirim pesan lewat jendela, kami menulis tulisan dengan jari pada kaca, dam akan ada bekas yang menempel, bila kau menghembuskan napas ke kaca itu atau uap ke kaca itu, tanda itu akan muncul sesuai dengan yang kita tulis. Bekas minyak di tangan akan meninggalkan sisa-sisa yang sulit terlapisi embun. Dean menggunakan cara yang sama saat meninggalkan pesan itu padaku. Hanya saja... Dengan tulisan yang terbalik dan mirror. Aku bahkan perlu menggunakan kaca saat membaca pesan itu...”
“hehhhh...”--Eve tersenyum tipis-- “Aku ingat dulu saat bersekolah, aku pernah mengirimkan pesan terbalik pada jendela kamarnya, dan kupikir sampai sekarang ia tak tahu cara membacanya, ia bermohon padaku untuk mengartikannya.. ha ha.. Sampai sekarang aku tak pernah mengatakan caranya, tak kuduga ia akhirnya menemukan caranya untuk membacanya, dan mengaplikasikannya pada ku...” ujar Eve tersenyum mengingat kenangan di antara mereka.
“Apa isi pesan itu? Pesan yang di tinggalkan Dean?”
“Ia menggunakan istilah bersambung.. Aku perlu memecahkannya lagi.. itu sebuah lokasi..”
“hmmm, dan apa kau ke sana??” Tanya detective penasaran.
“”ya.. aku segera ke sana dengan berhati-hati, dan menemukan--”
“bibi Jean??!!” lanjut Detective melengkapi kalimat Eve.
“hmmm...” Eve mengangguk
“Kami menemukan mayatnya di sana, tim Forensik sedang menelitinya, juga darah yang ada di lantai perpustakaan itu..”
Wajah Eve terlihat tertarik dengan pernyataan detective Harrys,
“Benarkah?? Bisa kulihat laporannya??” ucap Eve penasaran.
“Hasilnya akan keluar besok, jasadnya cukup sulit untuk diidentifikasi, karena sudah mulai membusuk. Aku akan memberikannya padamu besok…” ucap Detective Harrys,
“Setidaknya aku ingin Informasi perihal kematiannya..” --ucap Eve dengan tegas—“disana juga awal aku bertemu dengan Joe yang terluka..” lanjutnya.
Eve menghela napasnya lagi,
“Saat itu Joe hampir tidak bisa berdiri dengan luka di kakinya..”
“hmmm… Jika kamu mencurigai Dean? Lalu untuk apa ia mengarahkanmu pada Joe dan Bibi Jean?” tanya detective Harrys.
“Itulah yang ingin ku ketahui, Dec... Apa kau sudah bicara dengan Joe?”
“hmmm… dia masih belum bisa bicara banyak.. aku ingin memberikannya cukup waktu..”
“Aku paham Dec, aku beharap Joe segera pulih... Dia yang menjaga ku sejauh ini... Oya, apa aku sudah bisa menemuinya?” tanya Eve sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Belum sekarang... Tapi kamu bisa menemuinya Besok... Sekarang kita harus menyelesaikan agenda wawancara denganmu... so, lanjutkan ceritamu Eve...”
Eve melanjutkan ceritanya, kembali dengan wajah yang nampak serius.
“ Aku dan Joe melarikan diri dari tempat itu, kami beristirahat di sebuah rumah tua. Tak lama kemudian aku keluar sebentar untuk mencari makanan, dan saat itulah aku bertemu dengan orang-orang bertopeng itu. Saat itu mereka berjumlah 5 orang, termasuk yang hampir aku tabrak, karena menyeberang jalan dengan tiba-tiba... Aku rasa mereka sengaja melakukannya, agar dapat menangkapku...”
“5 orang... Kami baru menangkap 4 di antara mereka.. seperti yang ku katakan sebelumnya padamu dan--”
Kalimat detective Harrys terhenti dengan bunyi Handphone yang ditaruh di sakunya..
“Sebentar Eve...” ucap Detective Harrys sambil menunjuk telpnya.
Eve mengangguk mengonfirmasi.
Detective Harrys segera mengangkat telponnya.
“Hallo…???”
“iyaaa…”
“APA? Kalian menemukan barang bukti? Dan juga petunjuk??”
“Baik.. kerja bagus kawan..”
“Bagaimana dengan Dean??”
“hmmm..”
“Kalau begitu teruskan pencarian..!!”
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
TO BE CONTINUED > > > > > > > > > > > > >
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
· Petunjuk dan bukti apa kira-kira yang ditemukan mereka?
· Di mana Dean berada?
STAY TUNED ON “THE PUZZLE GIRL”
Thankyou for Vote :’)
Reach and Say Hallo to me on IG: @Puzzle_girl_Novel
__ADS_1
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =