THE PUZZLE GIRL

THE PUZZLE GIRL
Back to Crime Scene


__ADS_3

\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= BACK TO CRIME SCENE \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= Kembali ke TKP \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


. . . . .


. . . . .


. . . . .


“Apa ini Dec??” 


Detective Harrys melemparkan senyuman menyeringai.


“Another Clue!!!”


. . . . .


. . . . .


. . . . .


Eve segera masuk kembali ke rumahnya diikuti oleh Detective Harrys.


Mereka duduk di ruang tamu.


Dengan sigap Eve mulai membuka File di tangannya.


Detective Harrys pun mulai menjelaskan,


“Lihatlah hasil pemeriksaan sidik jari di pisau itu. Begitu banyak sidik jari yang bertumpuk di sana. Cukup sulit mengidentifikasi. Di sana ada sidik jarimu, Joe, dan Dean, dan juga sisa-sisa sidik jari paman Jim dan bibi Jean sebagai pemilik awal pisau itu. Dari semua data itu, akan sulit menentukan tersangka dengan beragam sidik jari di sana.”


“Ya! Kami memang bergantian memegangnya,” jawab Eve.


“Hasil pemeriksaan DNA dari sisa darah yang menempel di sana. Kami menemukan darah milik paman Jim, juga darah Dean.” jelas Detective Harrys. “Hal ini membenarkan bahwa paman Jim terbunuh dengan pisau yang sama Eve,” lanjutnya.


. . .


“Dan DNA dari darah milik Dean menunjukkan benar bahwa ia adalah Wolve,” ucap Eve menyambung perkataan detective Harrys. “Saat kejadian itu ... berbeda dengan tersangka yang lain, Wolve tidak pernah berkata sepatah kata pun. Apa hal itu sengaja dilakukannya agar aku tidak mengenali suaranya? Karena dia adalah orang yang ku kenal ... ‘Dean’.” Mata Eve sayu. Eve coba mengendalikan dirinya. Menahan sakit pada semua kenyataan yang ada. “Aku tak menyangka semua bukti dan kejadian akan benar-benar mengarah padanya.”


“Kau benar Eve. Dan kita telah memiliki bukti-bukti yang kuat untuk menyatakan Dean adalah tersangka dalam hal ini,” ucap detective Harrys. Ia tersenyum lalu memiringkan wajahnya menatap Eve. “Tapi ... kau benar! Kita perlu mengumpulkan semua bukti yang ada. Kalau tidak ... pasti akan ada yang terlewatkan!” 


“Apa maksudmu Dec??” Eve mengernyitkan dahi penasaran.


“Seperti ini ....” Detective Harrys kembali tersenyum, sambil mengambil sebuah foto yang di jepitkan pada file yang ada di tangan Eve. 


“Apa pikiranmu sama denganku Eve?” lanjut detective Harrys sambil menunjuk ke foto itu


. . . . . . 


Eve terkejut melihat foto tersebut. Dengan seketika ia menatap Detective Harrys dengan dahi yang mengerut.


“Ya! Benar Eve! Paman Jim memiliki luka tusukan yang sama di tangan sebelah kanannya.” ucap Detective Harrys menjawab maksud dari tatapan Eve.


“Jadi? ini semua bisa menjadi ambigu? Dean juga memiliki luka yang sama!” ucap Eve.


“Tepat sekali! Dan kami juga menemukan sidik jari paman Jim pada senjata yang kami sita. Namun kau tau satu hal lagi yang mengejutkan? Kami tidak menemukan sama sekali ada sidik jari dari Dean.” lanjut Detective menunjukkan dokumennya dari file tersebut.


“Itu berarti?” Eve kembali menatap Detective Harrys.


“Prediksimu malam itu benar Eve! Kemungkinan besar Dean bukanlah Wolve! Tidak berbicara padamu berarti ia adalah orang kau kenal! Namun bukan berarti harus ‘Dean’.” Detective Harrys melempar tatapannya ke bawah tanpa arti. Ia tersenyum singkat sambil mendesah. “Orang yang menyusun semua ini benar-benar gila. Kita harus meneliti semua barang bukti yang ada dan benar-benar menganalisanya dengan teliti. Atau kesimpulan kita bisa saja salah!” lanjut Detective Harrys.


“Jadi?? Orang yang menyekapku saat itu? dan orang yang aku tusuk dengan pisau, bisa saja adalah ….” Eve menahan perkataannya.


“Paman Jim!” ucap Eve dan Detective Harrys secara bersamaan.


Heeeh.. Eve tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Pantas saja dia memanggilku juga dengan sebutan ‘gadis manis’ sama seperti yang biasa di katakan salah satu tersangka bertopeng. Dan ia begitu mudah menemukanku saat melarikan diri ... Aku tidak menyangka, ternyata dia adalah salah satu dari mereka dan justru mengejarku bersama tersangka yang lainnya.” Eve menegakkan badannya. “oke baiklah.” Eve menarik napas dan menghembuskannya singkat. “Jadi saat ini kita punya dua tersangka lagi ... paman Jim dan Dean!” lanjutnya.


“Tapi menurutmu, apa motif paman Jim melakukan hal ini, Eve?” 


“Hmm... bBiarkan aku berpikir sejenak,” pinta Eve.


Eve menutup matanya mengingat moment kejadian saat dia bersama paman Jim.


Ia menelusup memorynya sendiri. Eve menemukan petunjuk. Ia tiba-tiba teringat dengan perkataan terakhir paman Jim.


“Dec!!!” ucap Eve tiba-tiba dengan suaranyaing. ”Bila Wolve adalah paman Jim, dan bila dia benar-benar ingin menyakitiku, iya pasti akan melakukannya dari awal saat dia mengurungku di ruang bawah itu! Saat menemukannya sedang terluka, dia berkata hanya ingin melindungiku. Bagaimana jika? Bagaimana jika ia melakukan semua ini dengan terpaksa?”


Detective Harrys kembali bersemangat dan berpikir sambil mengernyitkan dahi.


“Tapi ingatlah Eve! Ingat saat mereka memang ingin membiarkanmu hidup? Dan perintah untuk tidak membunuhmu dulu? Tentu ia akan membiarkanmu hidup!”

__ADS_1


Wajah Eve kembali melemah. Opininya di balas dengan baik oleh detective Harrys. Segala kemungkinan memang dapat terjadi. Eve menatap kosong.


“Kau benar Dec ... tapi jika itu benar, kenapa dia ikut terbunuh?” Eve kembali melirik ke arah detective Harrys.


“Apa mungkin … Ada peran yang lain dibalik semua ini! seperti kecurigaan kita selama ini? Dean adalah dalang dibalik semua ini?” ucap Eve. “Dan karena Dean tidak ingin Paman Jim membongkar semua rahasianya, ia membunuh paman Jim?? Ia melakukannya juga agar paman Jim tidak menjadi saksi terhadap apa yang terjadi?!” 


“Kau tepat sekali Eve! dan bagaimana kalau motifnya memang adalah melindungi orang yang dikasihinya? Bisa saja dia mengurungmu memang untuk melindungi kamu dari Dean! Dan juga orang lain yang disayanginya.” lanjut Detective Harrys.


“Maksudmu bibi Jean??” jawab Eve kembali bertanya. “jadi Dean mengancam paman Jim dengan menawan bibi Jean? dan paman Jim terpaksa ikut dalam permainan kotor ini? Demi menyelamatkan bibi Jean.” jelas Eve dengan lugas menjelaskan semua maksud detective Harrys. .


“Tepat sekali Eve! Kau sangat pintar menebak isi pikiranku! Setidaknya kita tau bersama bahwa Wolve dan Dean adalah orang yang berbeda. Kini kita tak perlu lagi mencari sosok Wolve itu. Wolve di sini hanyalah korban, yaitu paman Jim. Dan Dean. Dean adalah dalang dari semua ini.” ucap Detective Harrys melengkapkan kalimatnya.


“Aku sadar sekarang Dec, dari pembicaraanku dengan paman Jim. Ia tidak pernah menyinggung soal kematian bibi Jean. Artinya dia tidak tau soal kondisi bibi Jean. Dan saat itu pula kondisiku benar-benar lema. Aku tak sempat menceritakan bahwa bibi Jean sudah meninggal.” Eve mengerutkan dahi. “Pantas saja dia dapat dengan mudah menyelamatkan Joe dan membawanya padaku. Mengunci kami di sana … Dia benar-benar ingin menyelamatkan kami, Dec!” tatapan Eve berubah nanar. “Aku sangat menyesal dengan kematiannya dan bibi Jean.” kata Eve dengan wajah yang terlihat sendu.


“Pikirkan kemungkinan yang lain Eve. Bisa saja dia mengurungmu untuk menyerahkan kalian pada Dean? Tapi kalian berhasil meloloskan diri,” jawab Detective Harrys mengemukakan semua kemungkinan. “Dean ada di TKP saat itu benarkan??” lanjut Detective Harrys bertanya.


“Iya. Dia berada di situ saat itu Dec ... Tapi mengapa jika Dean tersangkanya, ia malah tidak menyembunyikan pisau itu? malah dengan polosnya menyerahkannya padaku? Bagaimana menurutmu?” tanya Eve.


“Mungkin untuk membuat dirinya terlihat sebagai Wolve! Dengan demikian kalian tidak akan mencurigai paman Jim, yang sebenarnya mengetahui semua rahasianya.”


“Tapi itu sama saja membuat dirinya tertangkap? Apa bedanya Dec? Ia akan tetap di posisi tersangka.”


“Hmmm … Kau ada benarnya juga.” Detective Harrys mengusap dagunya berpikir. “Untuk apa ia melakukan itu?”


“Entahlah Dec ... Aku masih merasa ada yang terlewatkan oleh kita tentang ini semua!” ujar Eve “Jika Paman Jim adalah Wolve ... Kenapa pisau itu bisa ada di tangan Dean?”


“Hal itu mudah saja Eve ... Ia mengambilnya dari awal dan kembali untuk membunuh paman Jim.”


Eve terdiam sejenak menelaah perkataan Detective Harrys. Seketika ia mengernyitkan dahi.


“Tunggu Dec…! Bagaimana dengan tanda di cermin itu? Mengapa ia harus menunjukkan lokasi korban padaku?” Tanya Eve sambil memicingkan matanya.


“Tentu saja untuk obsesinya. Ia ingin kau memecahkannya Eve.” jawab detective Harrys.


Eve termenung sejenak ... Kemudian kembali memeriksakan File itu..


Semua perkataan Detective Harrys masuk akal … Namun,, mengapa aku merasa ada yang kurang? Aku merasa masih ada yang terlewatkan olehku. Apa itu? pikir Eve dalam hatinya.


. . . . . .


“Kalau begitu ... Hal terakhir yang perlu kita lakukan adalah kembali ke TKP!”


“Baiklah jika kau sudah siap,” ucap Detective Harrys.


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


Eve berangkat dengan Detective Harrys disertai dengan pengawalan khusus.


. . . . . .


. . . . . .


. . . . . .


Eve membuka kaca jendela mobil untuk menghirup udara segar di perjalanan itu …


Angin berhembus di wajahnya, namun tak bisa meniup kecemasan dalam yang terukir di raut wajahnya. Ia menikmati perjalanan itu sambil terus berpikir.


. . . . . . .


. . . . . . .


. . . . . . .


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


Sesampainya di kota itu ... Masih di dalam mobil.


“Kau mau ke mana dulu Eve?” tanya Detective Harrys.


“Kita berbagi tugas dengan tim yang ada. Kalian bisa ke rumah bibi Jean, rumah tempat aku dan Joe bersembunyi, saluran dan ruang bawah tanah. Tapi aku hanya ingin pergi ke satu tempat.” ucap Eve.


“Hmm, kami sudah memeriksa semua tempatnya Eve. Mereka pun tak tau harus memeriksa apa. Kali ini kami datang hanya untuk memenuhi permintaanmu untuk penyidikan kembali.” jelas Detective Harrys. Ia menatap lurus ke wajah Eve. “Lalu ... di mana satu tempat yang ingin kau tuju Eve?” 


Eve membalas tatapan detective Harrys dengan serius.


“PERPUSTAKAAN” 


Detective Harrys mengangguk. “Baiklah kalau begitu!” Ia mengambil HT di pinggangnya. Lalu memberikan perintah kepada tim yang ikut dengan mereka. “Kita langsung ke TKP 2. Perpustakaan.” 


. . . . . . .


. . . . . . .


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


Sesampainya di sana.


Eve segera turun dari mobil.


Ia menghela nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


“Bisa aku pinjam kameranya dec?” pinta Eve.


“Oh ya! tentu saja.”


“Claire ?!” instruksi Detective Harrys seraya memberi isyarat pada assistennya.


Claire segera maju dan menyerahkan kamera pada Eve.


Eve mengambil kamera itu dan memegangnya di depan dada. 


Ia menghela napas panjang seolah bersiap untuk memulai sesuatu yang sudah direncanakannya.


Yaitu untuk ...


Mencari …


Petunjuk yang terlewatkan ...


. . . . . . .


. . . . . . .


. . . . . . .


Eve kemudian melangkahkan kakinya dengan yakin. Detective Harrys dan tim mengikutinya dari belakang dan beberapa mendahuluinya, senantiasa sigap berjaga.


. . .


Terlihat garis polisi membentang di area itu.


Eve memotret posisi jalanan yang dilaluinya.


Ia memeriksa dengan teliti setiap sudut ruangan itu.


Ia memotret setiap bagian-bagian dalam ruangan perpustakaan.


Terlihat garis putih posisi mayat bibi Jean yang di tandai oleh tim forensic.


Eve membelalakkan matanya. Tiba-tiba ia menemukan sesuatu.


Ia menurunkan kameranya.


Kembali melihat ke belakang, memotret dan berjalan ke depan..


Eve meminta kantong barang bukti dan pingset.


Ia berjalan ke salah satu sudut ruangan, kemudian memungut sesuatu yang dilihatnya di lantai itu. 


Ia mengambilnya dengan pingset dan menaruhnya dalam kantong plastic barang bukti.


Eve tersenyum menyeringai.


Ia berjalan ke arah detective Harrys. 


Mengulurkan tangannya ke depan seraya menunjukkan pada Detective Harrys apa yang ditemukannya.


Sambil tersenyum Eve berkata padadetective Harrys.


“Aku menemukan bukti, Dec!”


Detective Harrys terkejut dan bingung sambil menatap dengan memiringkan kepalanya.


Alisnya mengerut meminta Eve melanjutkan maksudnya.


“Tenanglah Dec! Semuanya akan kujelaskan padamu!”


. . . . . . . .


. . . . . . . .


. . . . . . . .


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= TO BE CONTINUED \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


JENG—JENG--- JENG--- 


Dear readers,


“Jangan penasaran! Karena penasaran itu berat!!!!”


“Biar detective Harrys aja!!!”


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=

__ADS_1


\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=


__ADS_2