
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
= = = = = CAMOUFLAGE = = = = =
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
= = = = = KAMUFLASE = = = = =
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
. . . . .
. . . . .
. . . . .
Menyadari suatu hal, Eve segera bangun dari tidurnya.
Ia segera menelepon Detective Harrys,
. . . . .
“Ya Eve? Ada yang bisa kubantu?” ucap Detective Harrys dari line telepon.
“Dec!!! aku harus ke TKP sekarang!” pinta Eve mendesak Detective Harrys dengan nada suara yang memburu.
“Apa maksudmu??” tanya detective Harrys dengan nada kebingungan.
“Dec, apa kau sudah punya data hasil pemeriksaan mayat paman Jim?”
“Kau sudah melihat semua filenya. Hasil untuk pemeriksaan tubuh paman Jim akan keluar besok beserta pemeriksaan barang bukti. Apa kau menemukan sesuatu yang janggal??” tanya detective Harrys.
Eve terdiam sejenak, mencoba menyusun kata yang ada di benaknya.
“Aku belum yakin ... tapi aku ingin memastikannya ....” ucap Eve dengan volume suara pelan. “Oya Dec, bagaimana dengan hasil pemeriksaan di sekitar jembatan yang rusak??” lanjut Eve.
“Oh ya! Mereka baru saja mengabariku. Timing kejadian tersebut terjadi setelah Dean dan paman Jim lewat di sana. Sepertinya semua telah direncanakan agar akses jalan untuk patrol polisi ditutup. Mereka dengan sengaja memanfaatkan cuaca saat itu. Air memang deras, tapi kerusakannya tidak akan separah itu,” ucap Detective Harrys menjelaskan sekaligus mengutarakan opininya.
“Hmm ... jadi memang sudah direncanakan ya? Lalu bagaimana jembatan itu bisa rusak?”
“Kami menemukan serpihan bahan peledak dan pembungkusnya. Sepertinya mereka memasangnya di dalam air, lalu meledakkannya saat hujan tiba. Pelaku membuatnya seolah-olah bencana alam dan kecurigaanmu waktu itu benar. Plot kejadiannya, timingnya semua seperti sudah diatur oleh Dean saat ia lewat, dan setelah itu Joe. Dean mengetahui kau akan menyusulnya dan lewat dengan menggunakan motor yang dengan sengaja pula ditinggalkannya untukmu. Maka sesuai prediksinya ia hanya meledakkan satu sisi jembatan saja. Ia hanya menyisakan satu bagian yang kokoh. Benar-benar cerdik. Dia bahkan dapat membaca peristiwa selanjutnya. Tidak heran dia selalu bersamamu Eve. Dia mengikuti cara permainanmu.” lanjut Detective Harrys menjelaskan.
Eve terdiam lagi. Merenungkan semua perkataan detective Harrys.
Tak lama setelah beberapa kali mengerutkan dahi. Eve membuka kembali suaranya.
“Baiklah kalau begitu Dec! Semua bukti telah mengarah dan menguat ke Dean. Kita hanya butuh bukti yang lainnya dan aku benar-benar perlu kembali ke TKP!”
Belum mendapat jawaban dari Detective Harrys, Eve menyusul dengan pertanyaan lain.
“Apa kau sudah menerima hasil introgasi Dean??” tanya Eve.
“Dengan kesimpulan kita hari ini. Kami mengalihkan introgasinya kepada ahli psikologi. Sebab masalah utamanya adalah karena obsesi, kami mendesaknya menceritakan kejadian yang dialaminya dan ia hanya diam, Eve. Kami terus mendesaknya, namun ia menceritakan kisah yang berbeda, seolah-olah ia sendiri adalah korban bahkan ia pura-pura terkejut saat mengetahui paman dan bibinya sudah meninggal saat itu. Ia mengatakan kalau ia baru mengetahuinya dari kami. Aku sedikit ragu dengan hal ini, aku rasa dia berbohong. Besok kami akan mencoba mendesaknya melalui penemuan kita hari ini. Ahli psikologi akan mengurusnya besok.” Ujar Detective Harrys menjelaskan.
“Dec ... Aku ingin cerita full dari versi Dean saat ini. Apa kau bisa mengirimkan filenya ke emailku??” pinta Eve.
“Baik aku akan segera mengirimkannya padamu ... tapi dengan satu syarat!” jawab detective Harrys.
“Katakan padaku.”
“Aku sudah berjanji pada ayahmu untuk menjagamu, Eve. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. Kau menjadi tanggung jawabku juga. Dan soal ke TKP, aku akan mengaturnya. Kita akan berangkat besok pagi-pagi sebelum pukul 9.00.”
“Tapi Dec-”
“Dengarkan aku! Aku tau kau ingin pergi. Tapi pikirkanlah baik-baik! Tidak akan efektif jika kita berangkat sekarang. Hari keburu malam dan pencarian jejakmu atau apapun itu yang kau pikirkan tidak akan akurat dan hanya akan berakhir sia-sia. Kamu hanya akan kembali menunggu pagi. Sebaiknya kau gunakan waktu untuk beristirahat. Malam ini akan kukirimkan semua file yang kau minta. Aku juga akan mengumpulkan semua informasi terbaru sebagai bahan investigasi kita, Ok??” pinta detective Harrys.
Nada suara Eve melemah.
“Baiklah Dec ... Kau benar ... Maafkan aku sudah menyusahkanmu.”
“Tidak Eve! Kau malahan sangat membantuku. Aku membutuhkan daya analisamu yang kuat.” tangkas Detective Harrys. “Oya Eve! Lalu apa sebenarnya yang mengusikmu sehingga meneleponku dan meminta semua ini? Kau belum menjawabnya sedari tadi,” tanya Detective Harrys dengan nada penasaran.
“Aku hanya ragu Dec. Apa mungkin orang yang terluka di tangannya masih mampu menyayat paman Jim??” ucap Eve.
__ADS_1
“Hmmmm …,” gumam Detecive Harrys merespon.
“Dan terkait mayat bibi Jean. Jika benar memungkinkan bibi Jean bisa meninggal karena asma. Apakah mungkin ia memang sengaja membuat kita berasumsi bahwa bibi Jean meninggal dengan luka tembakan itu? Ia melakukan kamuflase untuk maksud yang lainnya,” lanjut Eve menjelaskan.
“Menarik! Kalau begitu kita akan tunggu hasil pemeriksaan paru-parunya,” jawab Detective
“Bagaimana bila benar Dean tidak tau bahwa Paman dan bibi Jean meninggal, Dec? Dan bagaimana jika Dean bukanlah pelakunya?” tanya Eve menunggu opini dari detective Harrys.
“Baiklah Eve. Itu masuk akal. Tapi kita belum punya bukti kuat untuk itu. Kita balik lagi, bagaimana jika ini hanya rekayasa tambahannya untuk mengecohmu Eve? Satu hal yang jelas, kita tau motifnya!” ucap Detective membalas pertanyaan Eve.
Eve seakan tertemplak dengan perkataan Detective Harrys. Hal itu sangat memungkinkan. Bagaimana jika ia memang sengaja membawa Eve pada opini ini?
Eve terdiam. Dan menyambung kalimat detective Harrys.
“Dia melakukannya, agar aku tidak dapat memecahkan kasusnya,” ucap Eve perlahan.
“Ya, benar, agar kau tidak dapat memecahkannya ‘meski’ ia sudah tertangkap,” lanjut Detective Harrys. “Ia sudah menyiapkan semua ini Eve, mengantisipasi semua hal yang terjadi. Ia sudah bergaul lama denganmu dan pasti sangat paham dengan caramu memecahkan masalah. Ia menimpa kasus di atas kasus, dan tersangka di atas tersangka.”
Eve memikirkan semua kata-kata Detective Harrys.
Ini semakin rumit dan Detective Harrys ada benarnya, batin Eve.
Eve menarik napasnya.
“Hmmm… Kau benar juga Dec! kita benar-benar perlu mencari Wolve, anggota terakhir itu! Mereka … maksudku ke 4 tersangka yang tertangkap itu benar-benar mengarahkan kita pada Dean! Agar kita cepat menyimpulkan semua ini. Tapi bagaimana jika ‘Wolve’ bukan Dean?”
“Aku setuju denganmu terkait hal itu.”
“Pasti ada yang terlewatkan olehku. Aku butuh semua kelengkapan data dan laporannya Dec.”
“Aku mengerti, aku harap kau dapat menerimanya besok,” ucap detective HArrys.
“Baiklah Dec ... Terima Kasih atas waktumu,” ucap Eve mengakhiri pembicaraan di telepon.
Eve segera membukanya melalui Laptop dan membaca File tersebut.
Ia mempelajari setiap kejadian dari sisi Dean. Dalam file tersebut, Dean menceritakan kisahnya saat tiba di sana. Saat ia terpisah dengan paman Jim. Dalam file itu Dean dengan jelas menyatakan bahwa ia adalah korban dan bukan pelaku.
Ceritanya terlihat sangat nyata.
Berbagai pertanyaan muncul di benak Eve setelah membaca semua informasi tersebut.
Tapi ... apakah ini benar?
Bagaimana Jika bukan Dean pembunuhnya?
Bagaimana jika dalang semua ini adalah justru adalah wolve? Dan Wolve bukanlah Dean?
Tapi, bagaimana jika ini hanya pengalihan?
Bagaimana jika ini sebuah teka-teki lain yang harus dipecahkan?
Pasti ada yang terlewatkan Olehku?
Tapi apa?? Apa yang kulewakan?
Eve bermonolog. Mencoba mendesak otaknya untuk terus berpikir.
“Ayooo! berpikirlah Eve. Berpikir! Berpikir! Pasti ada sesuatu!”
Aaarrgghhh! Teriak Eve putus asa lalu duduk di sudut kasur. Wajahnya menunduk dan mencengkram erat tepian kasur.
__ADS_1
“Aku harap dapat menemukan semuanya di TKP.”
Eve memikirkan semua itu semalaman. Dalam pikirannya sudah ada sebuah kesimpulan yang membutuhkan bukti untuk memvalidkannya. Kini yang benar-benar ia perlukan hanyalah bukti.
Keesokan harinya ...
Eve menunggu dengan cemas kedatangan detective Harrys.
Detik jam terasa begitu lambat ...
Eve menunggu sambil memegang cangkir bersisi teh hijau hangat untuk menenangkan dirinya.
Waktu menunjukkan pukul 9.00 am, dan belum ada tanda-tanda kedatangan Detective Harrys.
Eve menunggu di kursi depannya sambil terus menatap keluar jendela. Ia menunggu, sekaligus memikirkan semuanya.
Memikirkan segala kemungkinan yang ada. Memikirkan kemungkinan untuk keputusan yang tepat.
. . . . .
. . . . .
. . . . .
Tit! Tit! Bunyi klakson mobil dari depan rumahnya.
Akhirnya mobil Detective Harrys tiba, tepat pukul 10.00, diiringi satu mobil polisi yang akan mengawal mereka ke TKP.
Eve segera berlari keluar pintu mendapati detective Harrys.
“Ck! Kau benar-benar terlambat Dec..!” ucap Eve menyambutnya di depan pintu sambil tersenyum miring.
Terlihat Detective Harrys memegang beberapa file di tangannya
Ia membalas senyuman Eve dan berkata,
“Maaf, aku perlu mengumpulkan semua ini dulu.” Detective Harrys mengangkat dokumen tersebut, dan menyerahkannya ke tangan Eve.
“Aku rasa kau sangat, sangat, sangat perlu memeriksanya! Dan tahan dulu langkahmu Eve, sebab kita tidak akan pergi, sebelum membahasnya dengan jelas ... Sekarang!” lanjut detective Harrys dengan penuh antusias.
Eve menerima dokumen-dokumen tersebut, menatap bingung dan bertanya,
“Apa ini Dec??”
Detective Harrys melemparkan senyuman menyeringai.
“Another Clue!!!”
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
= = = = = TO BE CONTINUED = = = = =
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Note: TKP : Tempat Kejadian Perkara
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
*author::
APA YA ANOTHER CLUENYA?
APA BUKTI YANG MENUNJUKAN KEBENARAN TENTANG DEAN SEBAGAI TERSANGKA??
ATAU BUKTI YANG MENUNJUKKAN BAHWA DEAN TIDAK BERSALAH??
BAGAIMANA JIKA ADA TERSANGKA YANG LAIN SELAIN DEAN??
YANG MENJADI TANGAN KANAN HAL INI DAPAT TERJADI?
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Stay tune on THE PUZZLE GIRL
__ADS_1
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =