THE PUZZLE GIRL

THE PUZZLE GIRL
CONCLUSION


__ADS_3

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


= = = = = CONCLUSION = = = = =


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


= = = = = KESIMPULAN = = = = =


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


FINAL LAST CHAPTER: Now, what is they missed?


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =



Eve mengeluarkan semua kekesalan, kesedihan, dan kemarahan di hatinya lewat teriakan dan tangisannya.



Eve sadar, bahwa inilah kenyataan yang harus diterimanya.



Mau tidak mau ia harus menghadapinya. 



Perlahan isak tangis Eve mulai memudar.



Tersisa helaan-helaan napas pendek.



Ia kembali menguatkan dirinya ....



Ia harus menghadapinya ....



Dan besok ... besok adalah harinya ... hari di mana semua akan terungkap.



Hari di mana teka-teki tersulit dalam hidupnya akan terpecahkan,



Teka-teki yang harus melibatkan Sahabat-sahabatnya dan bahkan ayahnya.



Semua orang-orang terdekat dalam hidup Eve.



Everything is connected ...


Semuanya telah terhubung ...



Tidak ada tempat di dunia ini untuk berlari dari kenyataan.



. . . . . . .


. . . . . . .


. . . . . . .



Malam itu berlalu dengan keheningan dan kesedihan..


. . . . . . .


. . . . . . .


. . . . . . .



= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =



Fajar telah menyingsing ....



Hari baru telah dimulai ....



Hari ini, merupakan hari terberat dalam hidup Eve, namun juga merupakan akhir dari semua permainan ini. Permainan teka-teki yang menimbulkan banyak korban.



Ia membulatkan tekat hatinya..



Terlihat mata Eve bengkak akibat tangisannya. Suaranya serak akibat teriakan dan juga tangisannya semalam.



Ia bangun, melangkah dengan pelan ke arah dapur. Membuka kulkas dan membungkus es ke dalam sebuah kain. Eve duduk di kursi dan mengompres matanya perlahan.



Tatapannya kosong tanpa arah. Kepalanya terasa pusing. Eve duduk sejenak di meja makannya, melanjutkan mengompres matanya.



Perlahan ia bangkit dan membuat secangkir teh hijau hangat seraya mengobati serak di tenggorokannya yang terasa kering.



Matanya masih sedikit terlihat merah …



Eve bersiap dan menunggu di ruang tamu.


Tak lama kemudian, terlihat mobil Detective Harrys tiba di depan rumahnya.


Ia bangkit dari tempat duduknya, mengambil tas yang sudah berisi file-file yang sudah ia siapkan, tak lupa ia membawa serta foto Crime Board yang merupakan kesimpulan dari semua benang kusut ini.



Eve melangkah keluar dari rumahnya.



Melihat Eve keluar. Detective Harrys segera keluar dari mobil, menutup pintu dan berjalan ke arah Eve. “Selamat pagi Eve, Apa kau siap untuk hari ini??”



Eve mengangguk dan tersenyum tipis, ia membalikkan badannya untuk mengunci pintu rumahnya. EVe menghela napas saat membelakangi detective Harrys. Ia membuang napas kembali dan memutar badannya, kali ini dia menatap detective Harrys dengan anggukan yakin.



“Ayo Dec,” ucap Eve mantap.




Detective Harrys mengangguk namun menghentikan langkahnya. “Oya bagaimana dengan ayahmu?? Ia menghubungiku dan memberitahu bahwa kemarin kau menyuruhnya datang untuk menjadi saksi? Apa ini ada hubungannya dengan ayahmu?” tanya Detective Harrys penasaran.



“iya Dec, aku menghubunginya,” ucap Eve sendu. ”Ayah sudah mengambil penerbangan hari ini dan begitu tiba, ia akan langsung ke kantormu dari bandara.” lanjut Eve.



Detective Harrys mengangguk sambil menjepit bibirnya. “Hmmm, aku tak sabar mendengar kesimpulan darimu, Eve,” ucap Detective Harrys dengan antusias.



Eve hanya tersenyum simpul. Namun kesedihan masih terukir di wajahnya. 



= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =



Dalam perjalanan Eve hanya terdiam memegang tasnya yang berisi file-file yang sudah ia siapkan.



Tatapannya terlihat hampa dan kosong. Detective Harrys bahkan tidak berani mengajaknya bicara. Ia seakan membiarkan Eve dalam dunianya.



. . . . . . .


. . . . . . .



Sesampainya di kantor Detective Harrys, mereka masuk ke dalam dengan langkah yakin.



“Good morning, Eve,” sapa Claire hangat.



“Good morning Claire, apa semuanya datanya sudah lengkap?” tanya Eve.



“As you wish, mrs,” ucap Claire sambil menyerahkan dokumen hasil test dan beberapa dokumen lain yang diminta Eve.



Eve menyambutnya dengan senyum. “Terima Kasih, Claire! kau memang yang terbaik,” ucap Eve memuji hasil kerja Claire.



“Ya Eve! tak dapat diragukan lagi soal itu … dia memang assissten terbaikku!” tambah Detetive Harrys untuk mencairkan suasana, karena semenjak tadi Eve terlihat sangat tegang.



Eve menatap Detective Harrys lalu melirik ke arah Claire.


“Kalian berdua terlihat cocok..!” Kali ini Eve tersenyum meledek Detective Harrys.



Detective Harrys seketika tergagap mendengar ledekkan Eve. 


“A-a-apa kau bilang? Jangan bercanda seperti itu Eve!” 



Wajah Claire dan Detective Harrys seketika memerah bak kepiting rebus. 



“Kita kembali bekerja?” tanya Eve sambil mengangkat alisnya. Ia mengangkat dokumen yang diberikan Claire tadi, menggoyangkan sedikit seraya mengisyaratkan untuk kembali fokus pada kasus yang harus mereka berikan kesimpulan.



Wajah Eve kembali menegang ...



Ia duduk di sofa ruangan kerja Detective Harrys, lalu mulai membaca File-file yang diberikan Claire dengan serius.



Eve perlahan meletakkan dokumen-dokumen itu di meja, mengambil lembar demi lembar, membaca dengan seksama. Ia meletakkan beberapa lembar dokumen secara berdampingan.



Wajahnya sangat serius, sesekali terlihat ia mengerutkan dahinya, lalu mengernyitkan matanya, mengangguk dan bergumam sambil memegang dagu.



Pemandangan itu benar-benar dinikmati oleh Detective Harrys.


“hmmm, Sekarang kau benar-benar terlihat seperti Seorang Detective, Eve!”



“Apa Dec?” ucap Eve dengan alis terangkat. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia tak begitu memperhatikan perkataan Detective Harrys.



Detective Harrys tersenyum tipis. “Tidak apa-apa ... Lanjutkanlah ....” ucap detective Harrys sambil memberikan keleluasaan pada Eve untuk menganalisa dan menyusun apa yang telah direncanakannya dan yang akan dijelaskannya nanti.



. . . . . . .



Tak lama kemudian, terdengar sapaan dari seorang pria yang melangkah masuk dengan senyuman.



“Ah, Dr. Mike Ritchy, akhirnya kau tiba juga ... senang bertemu lagi denganmu,” ucap Detective Harrys sambil menghampiri pria tersebut dengan senyuman hangat.



Eve menyelesaikan bacaan dan analisanya, ia berpaling menatap ayahnya.



Tanpa sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Eve segera berlari dan memeluk ayahnya tersebut dengan sangat, sangat, dan sangat erat.



Dr. Mike tersentak kaget melihat tingkah laku Eve yang tiba-tiba menyambarnya dengan pelukan.


Ia melepaskan tasnya ke lantai dan membalas pelukan Eve. Ia mengusap rambut di belakang kepala Eve dengan lembut.


__ADS_1


“Heiiii… ada apa, nak?” tanya ayah Eve dengan wajah penasaran.



Detective Harrys dan Claire hanya terdiam menatap haru pemandangan tersebut.



“Ada apa? Ku kira kau sudah memecahkan teka-teki ini?” lanjut ayahnya karena merasa belum mendapat balasan jawaban dari Eve.



Perlahan terdengar suara isak tangis kecil, pundaknya terasa hangat dan basah.



Basah oleh tetesan air mata Eve.



“Maaf kan aku ayah ... hiks hiks hiks ... aku benar-benar minta maaf..!” Bahu Eve bergetar begitu pula dengan suaranya. “Aku sayang padamu, ayah ....”



“Heiii… ayah juga menyayangimu ...,” ucap dokter Mike sambil memegang bahu Eve, melepaskannya dari pelukan dan menatap wajahnya.



Dr.Mike memegang pipi Eve dengan kedua tangannya. “Its gonna be alright ... ok?” ucap dr. Mike seraya menguatkan hati Eve.



Eve mengangguk dan tersenyum. Ia kembali menahan air mata dan membuat mencoba membuat dirinya tegar seperti semula. Eve mengangkat tangan lalu menyeka air mata dengan lengan. Wajahnya terlihat tegar.



Eve menarik napasnya dalam-dalam. Memantapkan dirinya dan berucap dengan penuh ketegasan dan antusias. “Okey.. semuanya sudah terkumpul… ayo kita selesaikan kasus ini!” Eve memandang ke arah detective Harrys dan melanjutkan kalimatnya. “Detective Harrys! yang kita perlukan sekarang adalah bertemu dengan saksi utama.”



Detective Harrys menatap ke arah Eve sambil mengangkat alis. “Maksudmu, Joe??”



Eve mengangguk. “Ya Dec! lets meet Joe! kita akan membutuhkan beberapa keterangan darinya.” ucap Eve dengan senyuman.



. . . . . . .


Mereka pun segera berangkat ke rumah sakit, tempat Joe dirawat.


. . . . . . .


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =



Tok.. tok.. tok… 


Eve mengetuk lalu membuka pintu dan mengintip kecil.



“Hei, sobat! Bagaimana kabarmu?” ucap Eve dengan tersenyum manis.



Wajah Joe terlihat berbinar saat melihat Eve. Ia menyambut Eve dengan senyuman lebar, dan semnagat yang menggebu.



“Eveeeee…. Kau datang!” Joe segera mengangkat kaki dengan bantuan kedua tangannya. Kakinya menggantung di pinggiran tempat tidur. Ia bersiap untuk turun dan berdiri menyambut Eve.



“Eh! Tidak, tidak, tidak! Kau di situ saja Joe! Biar aku yang ke sana. Ok? Aku membawa Detective Harrys dan yang lainnya, kami membutuhkan beberapa keterangan lagi darimu.” Eve kembali tersenyum,



“Keterangan dariku? Aku sudah menceritakan semuanya pada Dectecive Harrys, tapi jika si Puzzle Girl yang ingin menanyakannya lagi, aku sama sekali tidak keberatan. Tapi kau harus ingat! Kau bintangnya dan aku pria tampannya. Ok?” ucap Joe tersenyum mengulang perkataannya seperti saat mereka berada di situasi buruk itu.



“Ya, ya, ya ... kau pria tampannya Joe.” ucap Eve mengangguk sambil membalas senyumannya.



Eve dan Joe saling tersenyum hangat seakan bernostalgia tentang semua hal yang terjadi dan perjuangan mereka lolos dari kota itu.



“Jadi.. apa yang ingin kau tanyakan, Detective Eve?” ucap Joe menggoda Eve.



“Ha ha ha ... Hanya beberapa keterangan untuk menguatkan opiniku terhadap tersangka dan kunci terakhirnya ada padamu.”



“Waw! Oke! Aku siap!” ucap Joe tersenyum sambil mengangguk, membenarkan duduknya lalu menegakkan punggung. “Sebentar ... tapiiiii…,” ucapnya panjang. Joe menghembuskan napasnya, aura wajahnya berubah sedih. 



“Kau tau Eve ... aku masih belum percaya jika Dean yang melakukan semua ini. Kenapa harus Dean? aku berteman dengannya cukup lama ... dan aku merasa aku sudah cukup banyak mengenalnya.” Joe menunduk, matanya sayu dan lesu.



Eve tersenyum lembut lalu memegang pundak Joe.


“Setiap orang punya misteri sendiri Joe. Begitu pula aku, Dean, ayahku dan bahkan semua orang yang ada di sini ... hati kita bagaikan Puzzle, kita butuh keluarga, teman, cinta, perhatian dan kasih sayang untuk menyusun dan melengkapi sebuah puzzle hati yang kokoh. Dan setiap orang pastinya punya missing piece mereka sendiri ... kita perlu melengkapinya ... kita tidak akan pernah tau kedalaman hati semua orang sampai kita menyadari kekuatan perasaan itu ... dapat membuat orang yang kita kenal seakan bukanlah dia. Kekosongan hati itu dapat melakukan hal-hal yang bahkan tak pernah bisa kita bayangkan.”



Joe tersenyum sendu. “kau benar Eve ....”



Eve menarik napasnya. “okey.. kita mulai!”



Eve menegakkan kepalanya dan menatap Joe dengan serius.


“Jadi saat itu, kau sedang ingin berlibur ke sini dan menghubungi Dean?”



“Ya ... kau bisa memeriksa teleponku dan membaca chatnya, saat itu Dean meminta bantuanku.”



“Apa kau tidak melihat gelagat aneh pada dirinya? Apa kau sempat meneleponnya?”



“Ya kami sempat berbincang sejenak. Ia meminta bantuanku untuk pergi ke kota itu, tapi Dean mendahuluiku. Katanya ia akan pergi dengan pamannya terlebih dahulu. Ia akan membutuhkanku bila sesuatu terjadi,” ucap Joe menjelaskan. “Oya! Ia juga sempat share lokasinya. Karena tak mendapat kabarnya lagi. Aku segera menyusulnya ke sana.” 



Joe mengernyitkan dahinya. Mengingat setiap memory yang tersusun di otaknya. Ia melanjutkan kalimatnya. “Dan seperti yang ku katakan sebelumnya padamu Eve. Aku bertemu orang bertopeng di rumah bibi Jean. Mereka menodongku dengan senjata, aku melakukan sedikit perlawanan dan berlari, dan tanpa aku sadari mereka menembakku. Begitulah aku mendapat luka di kakiku.”



Eve dan Claire serta Detective Harrys menyimak kembali dengan penuh perhatian. Claire merekam dan mencatat setiap perbincangan tersebut.




“Aku belum bertemu dengannya. Mereka membawaku ke perpustakaan itu ... aku melihat darah di lantai dan aku melihat bibi itu meninggal.” Joe mengangkat wajahnya menatap Eve. “Apa kau sudah memeriksanya?”



“Ya! Bibi Jean mendapatkan tembakan di dada," ucap Eve.



“Hmm, sepertinya mereka memang sudah membunuhnya dan membawaku ke sana. Jadi ... apa yang membunuh bibi Jean adalah Dean juga Eve?” tanya Joe Polos.



“Tidak Joe ... hasil tes awalnya memang menyimpulkan demikian. Ternyata ia tidak meninggal karena tembakan, melainkan karena sesak napas akibat asma yang dideritanya. Keadaannya mungkin saat itu sangat ketakutan, asmanya kambuh, jantungnya berdetak cepat, ia membutuhkan lebih banyak oksigen. Dia kehabisan napas dan meninggal ….”



“Astaga! Ba-bagaimana itu bisa terjadi? Jadi darah yang kulihat di lantai? dan tembakan yang kau maksud hanya rekayasa untuk membuatnya terlihat seperti pembunuhan?”



“Ya ... kau benar Joe,” ucap Eve sambil tersenyum samar.



“Tapi kenapa mereka harus melakukan itu? Mereka akan tetap menjadi tersangkanya, kan? untuk apa lagi menembak dan membuat seolah-olah dibunuh? ” ucap Joe bertanya heran.



“Untuk ...” Eve menjeda kalimatnya. “menyembunyikan pembunuh yang sebenarnya.” 



Joe tiba-tiba terkejut mendengar ucapan Eve. Matanya membelalak kaget.



“Ya Joe … kau ... Kau melakukannya untuk menyembunyikan dirimu … dan membuat ini seolah-olah dilakukan oleh orang lain.” Suara Eve gemetar. Ia menatap Joe dengan sedih. 



“Ap-apa? Apa maksudmu Eve?” Joe tertawa sambil mengernyitkan dahi. “Aku ... aku tidak mengerti maksudmu! Bukan kah kau bilang dia meninggal karena asma? Lalu saat aku tiba di sana dia sudah meninggal. Bagaimana aku bisa membunuhnya? Aku tidak tau apa-apa Eve.”



Eve terus memandang Joe dengan nanar. “Aku menemukan sebuah inhealer tepat di samping posisimu, saat aku pertama kali menemukanmu di perpustakaan.”



“Jadi ...? Kau menuduhku Eve?” Napas Joe mulai naik turun tidak stabil. “Apa maksudmu dengan menuduhku?”



“Di sana ada sidik jarimu Joe!” jawab Eve dengan lantang menyambut pertanyaan Joe.



Joe terdiam menatap heran.



Eve menarik napasnya, dan membuang dengan terbata-bata.


“Kau melihatnya sesak napas dan bukannya turun untuk membantunya, kau malah mengambil Inhealernya, lalu membiarkan ia mati sampai kehabisan napas.” jelas Eve dengan mata berkaca-kaca.



“Ehm … aku … aku ... aku menemukan in-healer itu saat ia sudah meninggal Eve! Itu sebabnya sidik jariku ada di sana! Aku belum sempat memberitahumu soal itu.”



“Oya Joe? sungguh itu alasanmu? Tidak memberitahuku?” Eve mengangguk sambil mengernyitkan hidung menahan perih yang meluap dari hatinya. “Kalau begitu jelaskan padaku. Jika memang mereka mengurungmu. Kenapa mereka tidak mengunci pintu perpustakaannya, Joe?”



Joe terlihat sangat gugup. Wajahnya memerah. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.



“Itu karena ... karena … karena mereka bisa saja membuatku sebagai umpan untuk menjebakmu! Kau ingat Dean meninggalkan jejak di kaca itu? memancingmu ke sana untuk menangkap kita berdua?” ucap Joe semakin terbata-bata, namun begitu meyakinkan.



“Hmmm ... alasan yang masuk akal Joe ... tapi jika memang itu tujuan mereka, mengapa saat aku berada di sana, dan merupakan saat yang tepat untuk menangkapku denganmu, tak ada satu pun dari mereka yang datang dan mengepung kita?”



Joe terdiam. Jantungnya berdegup begitu kencang. Semua jawaban Eve mematahkan opininya.



“Ja-jadi kau menuduhku yang melakukan semua ini Eve? Setelah apa yang kulakukan padamu? Membantumu kabur beberapa kali dari mereka?” ucap Joe dengan volume suara yang mulai meninggi. “Aku terluka Eve!!! Mereka menembak kakiku!! Apa kau tidak melihat luka di kakiku, hah?? Dan bisa-bisanya kau menuduhku sebagai pelakunya??” ucap Joe menggebu-gebu dengan sedikit berteriak.



Eve mencoba menanggapi dengan tenang. “Itulah sebabnya, kau menyuruh rekanmu yang lain untuk menembak kakimu sendiri dari belakang. Agar kau terlihat sebagai korban, sayangnya kalian melewatkan sesuatu Joe … Tidak ada bercak darah di luar ruangan itu, juga tidak ada bercak darah di sepanjang koridor sekolah yang dapat menggambarkan bahwa mereka menembak dan membawamu ke perpustakaan salam keadaan terluka. Bercak darah hanya ada di sekitar lantai perpustakaan itu. Kau tidak perlu menyangkalnya lagi Joe ... Semua sudah terungkap.” ucap Eve dengan mata yang semakin berkaca-kaca namun Eve mencoba menahannya dengan tegar. 



Eve kembali melanjutkan penjelasannya. “Kau menyuruh mereka menembak bibi Jean saat ia sudah meninggal. Menyeretnya sedikit untuk membuat seolah-olah itu adalah pembunuhan, darahnya terlihat seperti kalian menyeretnya di area perpustakaan itu. dan anehnya, ada darah tetesan juga di sana dengan pola yang berbeda dengan bekas seretan mayat tadi. Kami memeriksanya dan teridentifikasi, itu adalah darahmu Joe.



“Kau menyuruh mereka menembak kakimu dari arah belakang. Kau sama sekali tidak memegang senjata itu, sehingga pada senjata-senjata yang disita polisi tidak ada sidik jarimu, dan pikirmu ... kau dapat lolos dari semua ini??” tanya Eve sambil mengerutkan keningnya dan sedikit memiringkan wajahnya. 



Mendengar perkataan Eve, napas Joe menjadi semakin cepat. Emosinya tersulut dan memuncak.



“APA YANG KAU KATAKAN EVE?? BAGAIMANA KAU AKAN MENJELASKAN LUKA DI TANGAN DEAN?? DAN MENGAPA PISAU ITU ADA DI TANGAN DEAN?? KAU JUGA MELIHATNYAAAAA!!! JANGAN BOHONG PADAKU EVE!! KAU JUGA MELIHATNYA!!!” teriak Joe membentak Eve.



Eve mengerjap menerima teriakan itu. Para polisi yang mendampingi detective Harrys segera melakukan posisi siaga. Mereka mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya pada Joe, bersiap jika Joe melakukan hal gila lainnya yang dapat mencelakai Eve dan orang-orang yang berada di sana.



Melihat keadaan tersebut Joe menenangkan dirinya kembali. Namun napasnya masih menggebu-gebu. Wajahnya semakin memerah karena marah.



Eve kembali menatap Joe. “Aku akui kau sangat hebat merencanakan ini semua. Kau mengurung Dean di tempat yang berbeda, dan kau terus memainkan peranmu sebagai korban. Herannya aku selalu merasa aneh, aku meninggalkanmu di tempat itu dan kau tidak apa-apa.” jelas Eve dengan mata yang mulai tajam menatap Joe. “kau memainkan peranmu dengan sangat baik, sehingga aku begitu terkecoh. memposisikan dirimu sebagai korban ... dan selalu berada di TKP bersamaku. Saat itu aku berada dalam ketakutan dan tidak dapat berpikir jernih. Kau memanfaatkan semua keadaan itu. Kau juga menjebak paman Jim. Sebelumnya kau telah menahan bibi Jean di perpustakaan itu dan mengancam akan membunuh bibi Jean jika paman Jim tidak ikut dalam permainanmu! Paman Jim yang sangat mencintai bibi Jean, yang merupakan keluarga satu-satunya yang dimilikinya, dengan terpaksa harus menggunakan kain hitam untuk menutup wajah agar aku tidak mengenalinya nanti. Kalian menandainya dengan nama Wolve!”



Detective Harrys kaget dan lainnya nampak kaget dengan penjelasan Eve. Mereka kembali mendengarkan dengan seksama.



“Orang yang aku tusuk saat itu adalah paman Jim. Mengetahui hal tersebut, kau menyuruh orang-orangmu itu untuk mengejarku, termasuk paman Jim… kamu takut rahasia ini akan segera terbongkar. Kau membawa pisau yang kugunakan saat menusuk wolve dan menyuruh tersangka lainnya untuk menusuk Dean di posisi yang sama, di tangannya. Kalian melakukannya agar terlihat Dean adalah Wolve dan pelaku sebenarnya hanyalah 5 orang bertopeng itu.” lanjut Eve menjelaskan dengan semakin menggebu-gebu.



Napas Joe semakin tidak karuan, urat matanya mulai memerah, tangannya mengepal kencang dan gemetar. Eve terus melanjutkan penjelasannya.



“Paman Jim membawaku ke ruang bawa tanah untuk melindungiku. Ia pun tidak tau kau adalah dalang dibalik semua ini. Kau memerintahkan tersangka lain sebagai pion-pionmu untuk mengancam paman Jim! Paman Jim yang selama itu mengira istrinya masih hidup, tak menceritakan apa yang kalian perbuat karena takut terjadi sesuatu kepadanya. Dia menyembunyikanku agar kalian tidak menemukanku, melindungiku dan mengatakan seolah aku melarikan diri. Sayangnya saat itu kalian melihat kami dan mengikuti kami ke tempat persembunyian itu. Kalian mengancam paman Jim, mengambil kuncinya dan kau menyayatnya menggunakan pisau yang sama, kamu dan orang-orangmu yang b3jat itu! Kalian membiarkan seolah-olah paman Jim terbunuh, dan kembali memainkan peranmu sekali lagi ... meminta tersangka yang lainnya seolah menjadi paman Jim yang memaksamu masuk ke dalam ruang bawah tanah itu dan mengunci kita kembali....

__ADS_1



“Pantas saja saat itu aku tak sempat melihat wajah paman Jim. Kau mendorong dirimu ke arahku dan orangmu segera mengunci pintunya ... kau hanya menunggu ... menunggu reaksiku selanjutnya, atau menunggu Dean yang akan menyelamatkan kita dari ruang bawa tanah itu! ya!! orang-orangmu kemudian menyekap Dean di area dekat pembunuhan paman Jim. Kalian membuat seolah-olah bersikap lalai menjatuhkan pisau itu, dan memanfaatkan moment itu agar Dean mengambil pisau itu, lalu melepaskan diri dari ikatannya. Kalian sengaja membiarkannya kabur menyusul aku dan kau, yang berhasil melepaskan diri menggunakan kawat yang kubuat untuk membuka kunci.



“Hal ini kuketahui dari kronologis cerita Dean. Jadi semua yang diceritakan Dean dalam filenya adalah murni yang ia alami. Ia bahkan sama sekali tidak tau bahwa kaulah pelakunya Joe!! Dia hanya menceritakan terkait tusukan yang kalian lakukan di tangannya, dan bagaimana ia melarikan diri dengan kelalaian kalian menjatuhkan pisau. Ia bahkan baru menyadari paman dan bibinya sudah meninggal dari interogasi polisi.



“Kau sangat pintar mengarahkan seluruh barang bukti pada Dean ... dan membuatnya menjadi tersangka!



“Saat kita bertiga melarikan diri, Dean dengan polosnya menunjukkan luka di tangannya, menunjukkan pisaunya. Karena dia tidak tau apa-apa dengan semua ini! Saking kau terlalu takut ketahuan dengan topik saat di perapian. Juga karena anak buahmu cukup jauh dan terlalu lama datang. Kamu menahan pistol paman Jim, lalu menodong Dean agar ia tak sempat bicara!”



Eve tersenyum kecil dengan tatapan kosong. “Untungnya tembakanmu meleset.” Eve mengangkat wajahnya. “Kau sebenarnya sangat senang saat aku mengusulkan untuk berlari terpisah… Hal ini semakin membuatmu mudah untuk melanjutkan rencana kebohonganmu.”



Joe masih terdiam dengan menahan geram. 



“Kau menyuruh salah satu anak buahmu terus mengejarku, dan melukaiku, tapi tidak membunuhku. Kalian sudah terlibat terlalu jauh, terutama sejak meninggalnya paman Jim, sampai kalian berani membunuh seorang polisi, dan menyekapku kembali ....



“Kali ini kalian menutup mataku agar aku tak dapat melihat dengan jelas, kalian hanya menunjukkan sekilas ‘Joe’ padaku yang lagi-lagi memainkan peran sebagai korban. Dan mereka berpura-pura mengatakan Dean adalah pelakunya. Demi semakin meyakinkanku. Mereka mulai pura-pura menghajarmu saat mataku tertutup.



“Kau pintar sekali berakting Joe! Kau berteriak kesakitan seperti dipukuli dengan brutal, tapi aku tak melihat semua itu karena mataku ditutup. Dan saat mereka membawa aku ke sana menemuimu. Kau juga melukai hidungmu sebelumnya. Kau kembali merekayasanya! Menabrakkan wajahmu ke dinding, hingga hidungmu terluka sebelum aku tiba. Kau berpura-pura seolah kau habis dipukuli.



“yang terluka dari mu setelah semua yang ku dengar hanya hidungmu, kakimu yang tertembak, dan juga beberapa luka gores kecil. Hasil pemeriksaan yang kuminta dari Claire menunjukkan tidak ada luka lebam yang berarti. Aku memperhatikan foto di TKP saat kita diselamatkan, ada bekas darah yang terlihat ganjil di pinggir pintu, di situlah kau melukai dirimu.” jelas Eve membuat semua orang di sana menganga.



Detective Harrys, Claire, dr. Mike dan semua yang di situ begitu mengerti dengan penjelasan Eve. Mereka mengangguk dan menatap dengan serius.



Eve menyambungkan kejadian dengan sangat rapi, alur yang tepat seperti yang ia susun pada Crime Boardnya. Ia mengirimkan foto Crime board pada Detective Harrys saat selesai menjelaskan kalimat terakhirnya.



Detective Harrys langsung mengakui kebenaran dan bukti-bukti yang ada.



Joe tertawa singkat.


“HEH!! Kau memang gadis pintar ... BAIK!! BAIK!!! aku mengakuinya ... tapi KAU!!! APA YANG KAU DAN AYAHMU TELAH LAKUKAN PADA IBUKU, JAUH LEBIH KEJAM DARI SEMUA INI!!!”



Seketika keadaan kembali menegang. “KALIAN BERDUA TELAH MERENGGUT SATU-SATUNYA ORANG YANG AKU SAYANGI!!!” Teriakan Joe menggema di seluruh ruangan itu. Ia berancang untuk menyerang Eve, namun Polisi segera berlari menahan Joe dan menahan kedua tangannya serta memborgolnya.



Detective Harrys seketika tersentak kaget mendengar perkataan Joe.



“Jadi apa hubungannya hal ini denganmu dan ayahmu Eve?? Sejak kapan kau menyadari Joe adalah pelakunya??” tanya Detective Harrys penasaran sambil mengernyitkan dahinya serius.



“Sejak aku membaca kembali File milik Joe Dec. Kau ingat? Kau menyuruh Claire menelusuri status dan latar belakang sosial antara Dean dan kami. Kau melewatkan kisah antara aku dan Joe, kematian ibunya … tanggal kematian ibunya ....” Eve menarik napasnya. “Adalah tanggal hari ulang tahunku,” lanjut ucap Eve dengan wajah sendu.



“Jadiii???” dr. Mike tiba-tiba maju perlahan dan berucap. “Orang yang seharusnya aku operasi saat itu adalah ibumu Joe?” tanya Dr. Mike sambil terus melangkah perlahan ke depan.



“YAAAA!!!!!!!!!!! DASAR KAU DOKTER BAJ1NGAN!!!! KAU TAK PANTAS DISEBUT SEORANG DOKTER!!! KAU MENINGGALKAN PASIENMU HANYA UNTUK ULANG TAHUN ANAK EGOISMU INI!!!!!” teriak Joe sambil di borgol dan kedua tangannya di tahan oleh polisi. Urat lehernya bahkan keluar karena Emosi.



Eve mulai menangis mendengar perkataan Joe yang sangat menyayat hatinya itu. Hal itulah yang membuatnya berteriak dan menangis saat menyimpulkan kasus ini. Alasan Joe melakukan semua ini adalah karena DIRINYA, karena dirinya yang saat itu meminta ayahnya berjanji tidak bertugas dan tidak menerima pasien di hari ulang tahunnya.



“Tapi aku. A-akuuu … aku sudah mengirimkan dokter pengganti saat itu ... tapi ...,” ucap dr. Mike terbata-bata.



“YAH!!!! DAN DIA BUKAN DOKTER SEBAIK DIRIMU!!! DIA BAHKAN DATANG TERLAMBAT SAAT OPERASI!!! SEANDAINYA SAJA KAU YANG MELAKUKAN OPERASI ITU! MUNGKIN SAJA IBUKU SAAT INI MASIH HIDUP!!! DAN AKU TIDAK MELAKUKAN HAL SEPERTI INI PADA KALIAN!!! HIDUPKU TIDAK AKAN SEHANCUR INI!!!” teriak Joe kembali membuat Eve tersentak-sentak dalam tangisnya.



Dr. Mike semakin maju perlahan sambil menangkupkan ke dua tangannya di depan dada.


“Maafkan aku Joe … aku sungguh minta maaf ….” 




“APA GUNANYA MINTA MAAF BRENGS3K??!! IBUKU SUDAH TIDAK ADA!!! AKAN KUBUAT KALIAN SEMUA MERASAKAN BAGAIMANA RASANYA KEHILANGAN ORANG YANG SATU-SATUNYA KALIAN SAYANGI!!! AAAAAAaaaaAAAAAAaaaaaaAAAAAAAAAAAAAAaaaAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Joe berteriak keras sambil menangis, air matanya membasahi bajunya. 



Setelah energinya habis. Suara Joe mulai melemah. Tatapannya kosong. “Aku hanya ingin menang dari Dean kali ini ... selama ini aku tidak pernah menang darinya. Dia memiliki kehidupan yang sempurna. Orang tuanya sangat menyayanginya. Ayahnya bahkan tidak pernah memukulinya seperti yang aku alami.…” Joe menangis dengan suara pelan dan semakin terisak.



“Aku ingin kau merasakannya Eve!! Bagaimana jika sahabat dan satu-satunya orang yang kau sayangi masuk penjara!!! Bagaimana rasanya terpisah darinya, aku akan membuatnya menderita seperti yang aku rasakan!!! Keluarga kalian bahkan begitu dekat dan tak memedulikan aku yang hidup sendiri dengan ayah yang beng1s. Kalian sangat bahagia dan aku tidak …,” ucap Joe kembali sambil menangis tersedu-sedu.



Ia tersenyum pelan dalam tangisannya. “Suatu saat aku juga akan membunuh ayahmu Eve! Akan kubunuh semua orang yang kalian berdua sayangi! Kalian akan merasakan penderitaan yang sama dengan ku alami!!! Aaaarrrggghhhh!!!!” Joe menggeram dalam tangisnya.



Eve sesenggukan menahan tangisnya. “Maafkan aku Joe! Aku benar-benar minta maaf! Ini semua salahku ... tapi kumohon jangan salahkan ayahku!” ucap Eve. “Ayahku tidak bersalah atas semua yang terjadi padamu. Akulah yang memintanya … aku sungguh-sungguh minta maaf Joe!! Akan kulakukan apapun untuk menebus semua ini Joe.”



Joe mengangkat wajahnya, ia hanya menatap mata Eve … tatapannya begitu dingin dan sendu, menusuk sampai ke sanubari Eve yang terkoyak-koyak ... Ia tak dapat berkata apa-apa lagi.



Joe perlahan ditarik dan dibawa oleh polisi yang menawannya. Dengan jalan yang terbata, tatapan Eve mengikuti Joe yang melewatinya. Eve menatap punggungnya yang semakin menjauh dan hilang di luar pintu.



Eve menarik napasnya dalam-dalam dan terjongkok. Ia meraung dalam tangis, tak tahan lagi menahan sakit di hatinya..



Dr. Mike maju perlahan, ikut berjongkok memeluk Eve dan mengusapkan punggungnya.



“Ini bukan salahmu Eve! Semuanya sudah takdir yang diatur Tuhan. Kita akan lebih bijak menjalani kehidupan ini. Ayah juga bersalah tak pernah menemani dirimu dan menyibukkan diri ayah sendiri bahkan pada saat hari off dan istirahat ayah mengambil semua jatah dan jadwal teman-teman dokter ayah. Semua karena ayah pengecut dan takut melihat wajahmu yang selalu mengingatkan ayah pada ibumu ... ayah juga salah dalam hal ini nak ... ayah sangat menyayangimu, Eve!”



Mendengar perkataan dr. Mike. Eve segera balas memeluk ayahnya, nuansa haru seketika melingkupi ruangan itu.



Tanpa sadar Detective Harrys dan Claire ikut mengusap air mata yang jatuh di pipi mereka.



. . . . . . .


. . . . . . .


. . . . . .


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =



Saat keadaan sudah tenang. Eve berjalan ke teras Rumah sakit. Ia menatap keluar melihat mobil polisi yang membawa Joe pergi.



. . . . . . 



Detective Harrys mendekatinya dari belakang.



“Aku masih punya pertanyaan untukmu Eve.” ucap Detective Harrys sambil menyerahkan segelas air putih begitu Eve berpaling.



“Apa itu Dec?” tanya Eve sambil menyambut gelas dari tangan detective Harrys.



“Mengapa ia harus membunuh bibi Jean dan paman Jim? Dan mengapa bisa begitu kebetulan saat bibi Jean kembali ke kota itu?”



Eve tersenyum simpul. “Kau bisa menginterogasinya lebih lanjut Dec. Tapi menurut analisaku dari semua data yang kubaca, Sebenarnya saat itu Bibi Jean hanya berada di saat yang tidak tepat. Aku memintamu dan Claire menyelidiki semua tentang Joe dan mendapati ia adalah Bandar Narkoba terbesar. Ia datang ke sini untuk bisnisnya dan kebetulan tempat mereka melakukan segala transaksi adalah di kota itu. Kota itu kosong, siapa yang akan memergoki mereka? Jadwal patrol polisi pun sudah tercatat. Orang-orang Joe tak sengaja terlihat oleh bibi Jean. Mengetahui rahasia itu, mereka tidak mungkin membiarkan bibi Jean lolos begitu saja dan melaporkan kegiatan terlarang mereka kepada pihak kepolisian. Mereka melaporkan hal itu pada Joe dan kebetulan Dean pun meminta tolong untuk hal yang sama. Kemudian ia memanfaatkan segala situasi ini. Menyusun rencananya sedemikian rupa, sekaligus membalaskan dendamnya pada kami.” jelas Eve mengakhirinya dengan tegukan air putih dari gelas yang di genggamnya.



“Ya ... latar belakangnya ternyata sangat buruk, aku baru menyadarinya saat membaca ulang filenya, selama ini kami focus mencari latar belakang Dean, dan hubungan antara Dean dan kamu, Juga Hubungan Dean dan Joe ... Kami melewatkan hubunganmu dan Joe yang ternyata membawa pada ini semua.



“Tersangka itu memang sudah lama kami incar Eve. Dan kali ini kami juga menemukan Bandar dan otak dibalik semua bisnis kotor ini. ‘JOE’! Sepertinya Joe banyak memberi mereka uang dan apa pun yang mereka butuhkan selama ini! Joe selalu membantu mereka dalam kesusahan sehingga membuat mereka sangat Loyal terhadapnya! Mereka mau melakukan apa saja, bahkan bersedia untuk membunuh dan bersaksi dusta tentang Dean." jelas detective Harrys melengkapi kalimat Eve.




“Kehidupan Joe sangat berat Dec.. ayahnya seorang pemabuk dan pengangguran yang hanya bisa memukulinya dan ibunya. Ibunya berusaha membesarkan Joe seorang diri Dec. Joe hanya punya ibunya ....” Eve menunduk lesu, wajahnya terlihat menyesal. “Seandainya saja aku menyadari hal ini dari dulu, dan sedikit lebih peduli padanya....” Eve mendengkus sambil tersenyum. “heh..! Joe ... Joe ... dia terlihat sangat normal di kesehariannya. Sejak kecil ia pandai berakting menyembunyikan masalah yang dihadapinya. Ia menyembunyikan luka lebam padahal itu adalah pukulan dari ayahnya. Ia sering mengarangnya dengan mengatakan kalau ia terjatuh atau terkena bola. Harusnya saat itu aku lebih menyadarinya dan tidak cuek dengan keadaan sekelilingku. Harusnya aku bisa memecahkan teka-tekinya dari dulu. Sangat mudah untuk mengidentifikasi apa yang terjadi, namun aku hanya memilih untuk larut dalam masalahku.” Eve terdiam dan membalikkan badannya. Menopang tubuhnya di atas siku yang di sandarkan pada pagar teras rumah sakit. “Seandainya sejak dulu ... Aku bisa lebih peduli untuk mencari dan mengisi ‘The Missing Piece’ di hati Joe ....”



Eve menghembuskan napas panjang lalu tersenyum ....



“Semua itu sudah berlalu Eve ... Sekarang hiduplah lebih baik! Bantulah lebih banyak orang lewat talenta yang kau miliki ini. Kantorku juga siap menerima Detective Swasta sehebat dirimu,” ucap Detective Harrys tersenyum pada Eve.



Tanpa menjawab, Eve kembali membalikkan badannya dan tersenyum manis menatap Detective Harrys. Sebagian rambutnya tertiup angin. Detective Harrys menggoyangkan sedikit gelas di tangannya.



“Jadi ... Apa yang akan kau lakukan sekarang Eve?” tanya Detective Harrys.



Eve menjawab dengan perlahan dan begitu tenang. “Tentu saja aku akan ...” Eve menjeda kalimatnya dengan senyuman ringan. “menjemput DEAN! Sahabat terbaikku! Dan juga pintuku untuk menuju dunia teka-teki agar dapat membantu banyak orang lain di sana.” 



Eve tersenyum sambil memikul jacket di punggungnya. Ia berjalan melewati detective Harrys.



Melihat hal itu, detective Harrys membalikkan badannya. Tersenyum menatap punggung Eve yang menjauh dan berkata,



“Heh! THE PUZZLE GIRL!”



. . . . . . . 


. . . . . . .


. . . . . . .



= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


= = = THE END = = =


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


= = = = = TAMAT = = = = =


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐ ⭐


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =



Author: Hallo teman-teman readers kesayangan. Terima Kasih telah mengikuti story “THE PUZZLE GIRL” sampai akhir. 


Kalau kalian suka cerita ini dan ingin mengapresiasi.


Mohon bintangnya disumbangkan ke story “SCARE or LOVE” ya ... :D



Soalnya di sini gak lanjut kompetisi Star Rank. Jadi mohon bantuan teman-teman.



Akhir kata: I LOVE YOU ALL.


💜 💜 💜 💜 💜 💜 💜 💜 💜 💜


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


FYI: The Puzzle Girl punya lanjutan dalam bentuk Serial loh, judulnya “THE PUZZLE GIRL *Serial”. 


Alias kasus-kasus yang langsung tamat dalam beberapa Chapter.


Buat teman-teman yang merasa berat ditinggalin Eve dan mau tau kisah selanjutnya tentang perjalanan Eve dan Dean,


Langsung saja follow dan DM ke Instagram: @Puzzle_Girl_Novel


Aku, Eve, juga Dean nunggu kamu di sana. :*


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

__ADS_1


__ADS_2