
Bab 10
“Kau tahu, dia datang sendiri menyeberangi lumpur yang ada di padang rumput rawa-rawa,” kata Constan memberitahu. “Dan dia lebih gentleman. Dia pandai membersihkan dirinya sendiri. Hei Banker! Kau harus mengucap selamat kepada nona ini. Kau sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya.”
Dia mundur tetapi Constan segera mendekat kepada hewan itu. “Dia tidak akan menggigitmu! Demi Tuhan, dia itu paling bersahabat di dunia ini, kau tahu itu.”
Dygta ingin berucap tetapi tidak ada satu pun yang dapat keluar dari tenggorokkannya itu. Dygta hanya merasa telah mengganggu waktu mereka.
“Banker, kemarilah. Kemari, ayo cepat! Kau tidak diinginkan di tempat ini, sayang,” kata Constan meraih Banker.
Banker seperti ragu melangkah dan matanya melirik Dygta. Constan menjadi tak sabar, “Kemari, cepat, kau, Ayo! Baiklah, di sini dan kau jangan nakal,” kata Constan memberitahu anjingnya peliharaannya itu. “Nona tidak menyukaimu, sayang,” tambahnya sambil mengelus kepala Banker.
Lagi-lagi Bankar memandangi Constan seakan-akan ingin mengatakan bahwa setiap orang menyukai dirinya. Constan mengkerutkan kedua alisnya saat mendapati pandangan Banker ke arah dirinya. Kalau saja Constan tidak ada di situ, Dygta pasti menyukainya. Ruangan itu memiliki perpaduan design kuno dan sekarang, dengan bentuk dan warna yang elegan. Dygta melihat sebuah lukisan di belakang Constan, dia menyadari kenapa dirinya selalu memiliki perasaan tidak enak saat duduk di ruang keluarga itu, karena terpampang wajah orang yang sudah meninggal di ruangan itu yang mirip dengan Constan. Pandangan mata dalam lukisan itu juga memandang mengejek dan tajam seperti mata Constan.
Mendadak Constan memegangi bahu Dygta sambil memutarnya dengan pelan.
“Mau ke mana kau? Kita belum sempat berbicara sedikit pun tadi, kau dan aku. Aku ingin tahu bagaimana kabarmu sekarang?”
“Baik. Saya baik, Tuan,” sahut Dygta sedikit gemetar.
“Apa Manner sudah melamar dirimu? Atau dia masih memikirkan bahwa kau masih milik orang lain?” ujar Constan mengejek.
__ADS_1
“Bagaimana anda bisa berkata seperti itu, Tuan?” rahang wajah Dygta mengeras seakan-akan ia ingin meluapkan amarah yang ada pada dirinya atas ucapan yang dilontarkan kepada dirinya dan tentang Dokter Manner Peters.
“Bagaimana anda dapat mengucapkan pertanyaan itu kepada orang sebaik Dr. Peters dengan kata-kata menghina seperti itu?” ucapnya lagi dengan napas yang masih tertahan.
“Ya mana tahu. Mungkin saja aku tidak suka kalau dia menjadi korban penipuan, disamping dia orangnya baik, kebetulan juga dia orang yang sangat kaya raya,” kata Constan sarkastik.
“Tetapi saya tidak menginginkan uangnya!” seru Dygta terengah-engah menahan napasnya yang masih menahan emosi. “Apa yang menyebabkan Tuan bersikap seperti sangat membenci saya sehingga harus mengucapkan kata hinaan seperti itu? Saya tidak akan menipu Dr. Peters. Dan saya tidak tahu bagaimana cara menjadi penipu!”
“Ha ha ha, apakah aku harus memasang wajah keheranan?”
“Saya tidak mengharapkan anda mengherankan hal semacam ini. Semuanya ini benar adanya. Dan biarkan saya pergi dari sini!” seru Dygta yang mencoba meronta dari pegangan Constan, tetapi lelaki itu terlalu kuat memegangi Dygta sehingga dirinya tidak dapat bertindak banyak. Dygta menggigit bibir bawahnya menahan sakit cengkraman Constan.
Merasa kalah tenaga Dygta pun berseru, “Anda sungguh sangat kejam! Anda pun memasang tanpa penyesalan seperti seorang diktator yang tak bersalah, seperti dalam lukisan itu!”
“Sudahlah, Limin. Jelas dia tidak menyadari apa yang baru saja dia ucapkan itu,” kata Constan menenangkan Limin. “Kau harus ingat bahwa dia mengidap amnesia,” sambung Constan yang tetap pandangannya di arahkan ke arah Dygta.
Ketika Constan mengucapkan hal itu, Limin gelisah dan menjentikkan jarinya pada sandaran tangan di kursi. “Manner juga mengatakan seperti, Constan. Kau pun jangan melupakan hal itu.” Ada nada protes yang terdengar dari bibir Limin.
“Maksudku, dia seorang dokter. Biarkan saja gadis itu berbuat sesukanya di sini. Apa kau tidak ingat pesan dari Manner, kalau saja dia tahu kau menyiksanya, dia akan marah sekali kepadamu dan melarangmu ke rumah ini lagi. Sungguh sebeharga itukah Dygta baginya?” Nadanya meninggi satu oktaf.
“Aku tidak akan ambil pusing. Selepas aku boleh atau tidaknya datang ke rumah ini lagi,” bantah Constan.
__ADS_1
Constan merasakan bahwa Dygta gemetaran dan ia pun segera menatap Dygta. “Jadi kau menganggap aku sebagai pelaku kekerasan terhadap dirimu yang sama dilakukan oleh para diktator, Dygta? Aku akan memberitahumu bahwa aku keturunan orang Spanyol, dan ibuku merupakan seorang penari terkenal kala itu. Sekarang kau sudah mengetahuinya, bukan?” jelasnya lagi.
Wajah Dygta memerah mendengar kata-kata satier yang diucapkan oleh Constan. Benar-benar bermulut cabe jalapeno. Dia tidak tahu sama sekali tentang Ibu Constan, karena Turner tidak menceritakan tentang ibunya, hanya ayahnya saja. Ketika itu ayahnya Constan membawa seorang wanita yang merupakan istrinya. Pada saat itu terjadilah kehebohan yang sangat luar biasa di rumah Peters. Wanita itu sangat cantik dan menakjubkan bagi orang yang melihatnya, tapi sayang wanita itu tidak dapat beradaptasi dengan baik terhadap seluruh keluarga Peters. Ia selalu mengeluh dan tidak suka tinggal di pedesaan. Tak lama mereka pun kembali ke kota.
“Ya. Saya mengetahuinya, Tuan. Tuan Turner yang menceritakannya kepada saya. Tetapi saya tak berhak untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang terjadi pada waktu itu, karena itu merupakan privasi keluarga yang tidak boleh orang sembarangan tahu,” sahut Dygta.
Mata hijau hazel milik Dygta mengamati Constan yang terlihat jelas di dalam pandangan Constan terpancar kehampaan yang ia rasakan. Ia seperti memasang proteksi untuk dirinya sendiri untuk mengisolasi diri dari dunia luar.
“Apakah saya boleh pergi sekarang?” tanya Dygta.
“Sama sekali boleh. Silakan kau pergi,” sahut Constan, lalu dia melepaskan cengkramannya dan berputar menuju tungku perapian. Dia mencampakkan puntung rokoknya ke dalam api. Dygta pergi dari ruangan itu dan menutup keras pintu itu.
“Kau adalah musuh yang sangat ditakuti, Constan,” Limin memandangi lukisan yang ada di sana. Lukisan itu seorang Jonathan Zoffany yang sangat mirip dengan Constan. Sekilas memang terlihat seperti wajah Constan.
Constan melihat pandangan Limin, “Mungkin karena aku memiliki darah Spanyol walaupun sedikit. Darah Spanyol, kau tahu, sudah ada sebelum ayahku datang membawa wanita Spanyol, si Penari itu. Beberapa orang dari keluarga Peters menjadi perwira angkatan laut keluarga Drake, dan salah seorang membawa wanita sebagai sanderaannya dari serangan yang sudah dilakukan di kota Cadiz dan itu dijadikan istrinya. Kau tahu, itu nenek Adam Peters,” kata Constan menjelaskan dan sambil menunjuk ke dalam lukisan itu. “Nenek itu adalah seorang marquez, yaitu seorang bangsawan Spanyol. Rupanya daya tariknya menurun untuk beberapa keturunannya.”
“Tetapi aku tidak berharap kepadamu, Constan,” kata Limin lagi sambil menebarkan jari-jemarinya berkutek berwarna merah, bibirnya yang merah penuh mencoba menggoda Constan. Constan pun menarik diri Limin untuk segera berdiri dari kursinya dan Limin sekarang sudah berada dipelukan Constan.
...****************...
*Banker nama hewan peliharaan yang ditemukan oleh Constan. Hewan ini adalah hewan penurut, yaitu seekor anjing.
__ADS_1
tbc