The Ring Finger

The Ring Finger
Bab 15


__ADS_3

Bab 15


Constan pergi meninggalkan Manner dan Dygta di meja mereka. Dia pergi menghampiri Limin yang penuh dengan orang-orang bejubel di sana. Manner yang melihat itu tersenyum kecil kepada Dygta.


"Apa kita akan pergi dari sini?"


Dygta seakan menganggukkan kepalanya dan mereka pun menghabiskan minuman yang ada di dalam gelas mereka, lalu beranjak pergi. Sampai di pintu, Manner merasa bimbang.


"Mungkin Constan dan Limin ingin menumpang mobilku." Manner menatap ke arah piano klasik dan dia nampak cekikikan. "Constan menggantikan Limin bermain piano. Ya Tuhan, sungguh lagu yang bagus untuk dia mainkan."


Dan suara orang bernyanyi ruh menerpa pintu tempat Manner dan Dygta berdiri saat ini.


...****************...


Ketika cahaya lampu Brinsham semakin redup dan samar di belakang mobil, Manner menyenandungkan lagu yang dimainkan oleh Constan saat di dalam bar.


"Constan itu sungguh manusia yang penuh dengan misteri!" mendadak Manner berkata dengan keras. Untung saja Dygta tidak terkejut mendengar suara Manner yang tiba-tiba.


"Kenapa dia bisa memainkan lagu itu? Apa mungkin dia berkhayal bahwa itu tadi adalah acara pernikahannya? Oh, itu tidak mungkin!" Manner tertawa mengejek, "Benar. Aku tidak memungkiri bahwa Limin adalah gadis yang cantik dan rupawan, tapi di dunia Constan geluti itu berlusin-lusin gadis semacam Limin. Mungkin ada yang lebih cantik dari dirinya. Dan itu hanya mainan bagi Constan. Dia tidak akan mungkin menikahi satu di antara mereka yang berprofesi sama seperti dirinya."


"Atau mungkin dia jatuh cinta kepada Limin," kata Dygta perlahan.

__ADS_1


"Cinta? Constan? Demi Tuhan! Ha Ha Ha ...., Jujur, ini pendapat pribadiku, bagaimanapun dia, dia bukan tipe lelaki untuk membuat wanita bahagia walaupun wanita itu dicintanya. Bukankah kau juga ketakutan terhadap dirinya?" Manner mendadak menambahkannya.


"Ketakutan? Kenapa aku harus ketakutan kepadanya?" kata Dygta agak gugup memandangi wajah Manner.


"Aku pikir, aku mengetahuinya," kata Manner merenungkan pernyataannya. "Aku kira, Constan secara tidak sadar mengingatkan kau dari seseorang yang membuat kau melarikan diri darinya. Aku yakin dia telah berbuat seperti itu untuk mempengaruhimu, sejak kau bertemu pertama kali di kediaman keluarga Peters dengan Constan." .


Mobil berhenti dan Dygta melihat undakan rumah kediaman keluarga Peters. Dygta teringat Constan menolongnya, ketika dia terjatuh diundakan itu dan barang bawaannya jatuh bertebaran di sana.


"Dia tahu pikiranku benar, kan, Dygta?" Manner memegangi tangan Dygta yang dingin seperti es batu. "Kenapa, kau merasa takut terhadapnya pada saat pertama kali kau berjumpa dengannya? Kenapa pula, kalau tidak, ketika itu kau mengatakan, sesuatu padanya membuat aku ketakutan? Bukankah jawabannya sudah jelas?"


Ya, pikir Dygta. Memang ia mengatakan dulu bahwa Constan menakutkan. Namun sekarang, sungguh membingungkan. Walaupun itu dulu, dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Namun, dia pikir ada sesuatu yang lepas dari pikirannya, dan hanya saja dia tetap tidak mengingat sesuatu dipikirannya.


"Manner," tangan Dygta yang dingin bergerak ke dalam pegangan tangan Manner dengan penuh kegelisahan. "Aku ingin tahu sesuatu. Aku ingin tahu ... bagaimana ayah dan ibu Constan meninggal?"


Dygta mendengar ada nada penuh misteri di dalam ucapan Manner, dan Dygta tahu bahwa Manner bertanya kepada dirinya sendiri, apa kemungkinan hubungannya tentang paman dan bibinya yang sudah meninggal itu dengan kejadian seorang gadis yang hilang ingatan di masa lampau. Manner duduk menyandarkan diri dan membayangkan sebuah tragedi dalam keluarga Peters.


Dan dia membayangkan tragedi itu untuk Dygta.


"Itu suatu kecelakaan yang seharusnya tidak perlu terjadi, Dygta. Ketika itu ada badai datang mengancam, dan ketika ayah Constan bersikeras untuk berangkat berlayar, dua kelasinya ternyata menolak untuk menaiki kapal itu dengan tegas menyatakan bahwa akan ada badai hari ini. Dan berkata bahwa dia akan bunuh diri apabila ingin berangkat. Tetapi ayah Constan tidak mempedulikannya. Dia melayarkan kapal yacht itu. Kau tahu apa yang terjadi? Kapal Yacht itu terbanting pada karang dan terbalik. Dia dan Carmelina tenggelam bersama kapal itu. Tapi dengan keberuntungan bagaikan keajaiban, mereka benar-benar lolos dalam kecelakaan itu. Awak kapal yang mengikuti mereka dapat menyelamatkan mereka. Dari semua itu, mereka berpikir dan berhipotesis bahwa Stephen Peters benar-benar kehilangan akal sehatnya saat itu. Mereka menyatakan bahwa Stephen Peters dengan isterinya bertengkar dan itu sering terjadi antara mereka di beberapa jam sebelum Stephen Peters memutuskan untuk berlayar menggunakan yacht itu." Manner berhenti sejenak, dan ia mengakhiri kisahnya dengan nada yang sungguh dalam.


"Keempat orang itu semuanya sependapat, meskipun keluarga Peters sering bertengkar, tapi tidak pernah terdengar bahwa Carmelina mengancam akan meninggalkan suaminya. "Aku tidak bisa seperti ini, aku tidak bisa hidup denganmu lagi, dengan kelakuanmu yang seperti itu!" kata Carmelina kepada Stephen Peters. "Kau telah membuatkan ku neraka! Lebih baik aku mati!"

__ADS_1


"Dan dia?" bisik Dygta. "Apa yang dia katakan sebagai jawabannya?"


Manner beringsut dan Dygta merasakan pegangan tangan Manner mengerat, "Apa yang dikatakan Stephen? Yah, menurut empat orang yang masih hidup dan menjadi saksi, bahwa Stephen menyetujuinya, kalau Carmelina lebih baik mati!"


Dygta membayangkan Carmelina mati sebagai ngengat mati, yang dihancurkan tanpa dapat menolaknya bahkan menghindar.


"Kisah musibah itu aku rasa aku pernah membacanya di suatu surat kabar," kata Dygta.


"Hal itu bisa jadi, Stephen Peters juga terkenal sebagai playboy, dan Carmelina juga terkenal sebagai penari sebelum dia melangsungkan pernikahan. Carmelina sangat cantik dan rupawan. Aku melihatnya di sini beberapa kali di kediaman Peters. Dia seperti bunga yang tumbuh di iklim tropis, berkulit eksotis. Aku saat itu berusia dua belas tahun dan sulit sekali membayangkan wanita yang begitu cantik dan bergaya, serta lincah, dan tahu-tahu mati. Seperti mainan yang mendadak rusak dan pecah. Atau mawar di jalan yang mendadak terlindas oleh mobil." Manner menghela napasnya panjang. "Aku hanya berharap, Limin menyadari apa yang dia perbuat, karena aku mencemaskan bahwa dalam keluarga Peters ini, sejarah kapan saja akan dapat terulang seperti kasusnya Stephen Peters."


...****************...


Hari itu hari Rabu. Besok Manner akan pergi ke kota Plymouth untuk sehari. Dia ada acara konferensi di bidang medis. Manner pun sangat ingin bertemu dengan Max Yentas, seorang ahli Osteopath dari Kanada. Nyonya Peters semalam memberitahukan bahwa Manner diminta bicara mengenai penyakit rematik.


Dygta duduk di atas tembok teras dan dia tampak sangat fresh dalam balutan baju yang dia kenakan dengan cahaya warna-warni di waktu senja.


Terdengar suara langkah sepatu high heels, dan Limin menghampiri Dygta yang sedang duduk di sana.


Dia mengomel bahwa ruangan perpustakaan sangat gelap dan tak ada penerangan sama sekali di sana untuk bekerja, berharap Manner menyetujui usul Dygta untuk mengganti cahaya lampu yang lebih terang daripada yang sekarang.


...****************...

__ADS_1


tbc


__ADS_2