
Bab 24
Keesokkan harinya, Dygta sudah terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Sepanjang malam kota Devon di guyur dengan hujan badai yang melanda. Entah bagaimana pemukiman yang berada di pesisir pantai.
Dygta pun beranjak dari kamarnya, turun ke bawah untuk bergabung di meja makan. Ritual ini biasa dilakukan keluarga Peters untuk menjalin kekeluargaan dengan sarapan bersama.
Dygta duduk di bangku tepat bersebelahan Limin yang juga sudah berada sejak tadi di sana. Manner pun sudah terlihat dan bersiap untuk menikmati sarapannya. Nyonya Peters memang jarang terlihat di ruang makan bersama. Ia biasa menikmati sarapan di dalam kamar.
Tak ada terdengar suara celotehan dari bibir mereka terkecuali suara mengunyah dan dentingan piring, garpu dan pisau. Mereka semua terlihat menikmati sarapan pagi itu.
Limin pun menyudahi sarapannya, lalu berlalu pergi untuk kembali bekerja di ruang perpustakaan. Begitu juga dengan Manner.
Seolah-olah tidak ada yang terjadi kemarin malam. Apakah mereka tidak mengkhawatirkanku? Atau memang belum waktunya untuk menanyakan masalahku? Pikir Dygta.
Dygta pun tak ambil pusing dengan hal itu. Ia masuk ke ruang perpustakaan di mana di sana ternyata sudah ada Limin yang sedang duduk, menyibukkan jari-jari manisnya di atas mesin tik tua.. Ia menatap sekilas kepada gadis yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu untuk bergabung dengan dirinya. Ia menelisik wajah Dygta dengan sangat teliti. Dygta duduk tak jauh dari Limin karena dia sedang membaca sebuah buku di sana.
"Dari mana saja kau semalam?" tanya Limin tiba-tiba berdiri berdekatan dengan Dygta. Dygta mendongakkan kepalanya menatap Limin.
"Saya, saya terjebak oleh hujan," sahut Dygta balas memandangi Limin.
"Jaket siapa yang kau pakai? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau mengenakan jaket laki-laki?! Dan aku yakin itu milik Constan! Benar begitu?" tanyanya dengan sedikit nada kebencian yang muncul.
Dygta yang malas meladeni tingkah Limin, hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengiyakan.
Kuku Limin yang panjang mencengkram wajah Dygta, "Kau kucing kecil yang mengendap-endap masuk ke cottagenya... Dan itu Berjam-jam! Beraninya kau!"
Seakan suasana di luar sana menjadi gelap gulita menandakan akan datang badai siang ini. Dygta tak dapat menghindar lagi dari cengkraman jari jemarinya Limin.
"Kami hanya minum teh bersama, dan itu tidak menghabiskan berjam-jam, Limin. Kau tak perlu memandangiku dengan tatapan seperti itu!"
__ADS_1
"Aku sangat ingin membunuhmu! Mengapa kau berani menyelinap ke sana? Mengapa kau berani melakukan itu?" suaranya bergema keras di ruangan itu dan itu menembus keluar. Mendadak pintunya dibuka dan Manner berdiri di sana dengan tampang yang mengeraskan rahangnya.
"Ada apa Limin?" tanya Manner memandangi Limin, lalu memandangi Dygta. Kemudian bertanya lagi, "Darimana kau malam tadi, Dygta?"
"Kau mungkin harus menanyakan hal itu?" ucap Limin, matanya menyala-nyala. Dia seperti akan menerkam Dygta, tapi sayangnya Manner terlalu cepat datang dan memeganginya.
"Apa yang kau bicarakan?" tanyanya pada Limin.
"Dia yang berpura-pura manis, menyamar sebagai kucing lusuh yang kehilangan tuan dan perlu disayang, menghabiskan waktu dengan Constan. Dia menghabiskan waktu di cottage Constan sepanjang hari. Tanyai dia, terus tanyai dia!" jawab Limin berapi-api.
Manner mendengar perkataan Limin yang kasar, secara langsung dia menuduh Dygta yang bukan-bukan, ia tidak menyukai hal itu perkataan itu. "Aku kira itu tidak mungkin. Dygta jelaskan perlahan," mintanya kemudian memandang Dygta.
Terdengar nada tegas yang keluar dari kata-kata Manner, Dygta menjadi gugup luar biasa dan mau tak mau dia mematuhi perkataan itu. Tak disangka Nyonya Peters mendengarkan hal itu. Dia pun menyuruh mereka berkumpul di ruang keluarga perapian.
"Aku melihat dia menyelinap masuk ke rumah mirip seperti maling," kata Limin langsung. "Dia kemarin menghabiskan waktunya di cottage Constan, dan kau akan tahu dia selalu mencari celah untuk keluar dari kediaman ini saat kau tidak ada di rumah."
"Itu benar," ucap Dygta.
"Dan apa yang terjadi?" tanya Manner.
Dygta menahan napas mendengar pertanyaan itu, lalu ia menatap wajah Manner yang tampak marah. Ini pertama kalinya dirinya melihat Manner marah seperti itu, dan kalau dia tersenyum itu sangat mirip dengan Constan.
"Kami minum teh bersama. Dia sangat ramah," ucap Dygta perlahan.
"Ramah? Constan? Aku tidak bisa mempercayai itu. Kau tidak cocok dengan dirinya," sahut Manner tajam.
"Mungkin karena kami terlalu banyak berbincang mengenai drama pentas."
"Ya Tuhan, apa yang kau ketahui soal drama pentas?"
__ADS_1
Hal itu membuat tenggorokan Dygta tercekat, mengingat kejadian yang lalu. Dygta mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Berusaha tenang untuk menjawab.
"Aku tahu soal itu sedikit, Manner," kata Dygta. "Paling tidak tentang drama pementasan. Aku ingin memberitahukan bahwa dari sanalah ingatanku muncul kembali. Aku ingat kembali bahwa aku selama ini menghidupi diriku dengan dunia pentas drama."
Penjelasan itu bagaikan bom yang meledak. Seakan meledakkan seluruh kota London saat ini. Saking terkejutnya, Limin berdesis. Sampai kayu di perapian berbunyi dan menyalakan api kembali. Kursi nenek bergerak, berderit maju mendekat, matanya mengintip dibalik kaca matanya.
"Kau seorang aktris?" kata Manner dengan nada keras.
"Iya," sahut Dygta. Dia teringat kembali jati dirinya karena Constan. Jujur saja Manner tidak menyukai ucapan itu.
"Begitukah? Baiklah. Kalau begitu, kau harus menceritakan semua itu kepada kami semua," lanjut Manner menuntut penjelasan.
Tangan Dygta gemetar, ia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel yang dia kenakan siang ini. Sikap dirinya sungguh siaga untuk menghadapi serangan dari musuh. Dygta pun mulai menceritakan segalanya.
"Jadi bekas cincin yang ada dijarimu itu, cincin saat kau melakukan pementasan sebuah drama?" tanya Manner.
"Ya, Manner." Dygta mengenang kembali ketika dia datang ke ruangan itu, Manner memperlakukan dirinya dengan baik dan penuh dengan prihatin.
"Kami anggap saja, bahwa. . . siapa? Downline? Berpikir atau ingin menganggap bahwa kau meninggalkan grup pementasan drama, karena kejadian di ruang rias itu, sehingga dia tidak merasa perlu untuk melaporkan atas hilangnya dirimu kepada pihak polisi?"
"Ya, semacam itulah," sahut Dygta yang menggigit bibirnya. "Dua tidak ingin anggota grup yang lainnya tahu akan hal itu, terutama bahwa aku menolak keinginan dia. Aku rasa, saat aku tidak muncul, dia segera mengatakan kepada yang lain bahwa aku sudah keluar dari grup itu."
Manner merenung kemudian berkata, "Tentu saja, kau akan mengingat kembali segalanya hanya saja sangat ironis sekali hal itu terjadi di cottage Constan. Maksudku karena sikap dia seperti itu terhadap amnesia mu."
Manner mengamati Dygta yang mendadak menjadi ingin tahu ada apa di antara mereka berdua. "Dan puncak kondisinya, biasanya datang untuk teringat kembali jika melakukan adegan yang menimbulkan kesulitan batin itu terulang kembali. Katakan Dygta, apakah Constan mencoba melakukan yang sama seperti yang kau ceritakan dengan Downline?"
...****************...
tbc
__ADS_1