
Bab 29
"Kau tidak akan melarikan diri, kan? Kita sudah sepakat melakukan persetujuan ini," ucap Constan.
"Aku hanya mengkhawatirkan satu hal," sahut Dygta sebelum mereka sampai di depan pintu kediaman Peters.
"Apa itu?" tanya Constan terlihat bimbang menatap Dygta yang berdiri di depannya.
"Itu... itu tentang Limin," jawab Dygta kebingungan sendiri dengan apa yang ingin dia sampaikan. "Apakah dia tidak akan merasa keberatan terhadap semuanya ini? Dia sangat tidak menyukaiku. Dan ...," ucapan Dygta terputus.
"Dan apa?" Constan menatap penasaran terhadap Dygta.
Dygta menunduk memandangi tanah. Dia berpikir, apabila Limin mengetahui tentang persetujuan mereka, ia akan marah besar dengan Dygta. Dia membisu lama. Kemudian Constan memegang bahu Dygta.
"Apakah Limin semalam marah melihatmu mengenakan jaket itu?"
"Ya."
"Kau pasti sangat letih menghadapi orang seperti dirinya. Memarahimu dengan permasalahan yang tidak jelas."
Dygta memandangi Constan agak tertegun, dan Constan hanya tersenyum dengan itu. "Kau jangan cemas tentang Limin. Aku akan berbicara dengannya Sekarang lebih baik kau masuk dan sarapan lah."
Mereka berjalan bersama sampai depan rumah. Constan pun berkeinginan menemui neneknya. Ketika Dygta ingin memasuki ruang makan, tangannya menjadi gemetaran melihat Manner yang berada di sana sambil membaca koran. Limin masih tak terlihat. Keadaan dan sikap Manner yang biasa dia tunjukkan, hanya saja kali ini tidak dengan senyuman hangat.
"Kau baru pulang?" kata Manner dengan menatap rambut Dygta yang berantakan terkena angin.
“Ya,” jawab Dygta gugup sambil mengambil roti yang ada di meja lalu mengolesinya dengan mentega.
“Aku kira kau habis bersama dengan Constan.”
__ADS_1
“Ya, kau benar.”
“Apakah aku boleh mengetahui apa yang terjadi?” tanyanya dengan tenang yang terpancar di raut wajahnya. “Selama kau dirumahku, kau menjadi tanggung jawabku, bukan?”
“Tidak ada terjadi apa pun, Manner. Constan berpikir aku dapat memperoleh peran dalam dramanya yang baru, itu sebabnya ia menemuiku pagi ini. Ia menanyakan kepadaku apakah aku menyetujinya pergi menemui sutradara nya di London.”
“Dan kau akan pergi ke sana?”
“Ya, aku menyetujuinya.”
“Oh, begitu.” Manner memegangi sendok dan ia meletakkan di meja. “Kau biasanya tidak senang dengan kehadiran Constan, dan kau juga selalu memasang wajah ketakutan karenan dia. Apakah ia tidak lahi menakutkan bagimu, Dygta?”
“Aku memang ketakutan terhadap dirinya, tapi itu saat aku menderita amnesia. Aku ketakutan kepada siapapun yang ada hubungannya dengan panggung sandiwara, pentas drama, kau tahu itu, Manner,” jelasnya.
“Apakah seperti itu?” Manner menatapnya dengan wajah yang muram. “Namun, Constan bukan hanya bersangkutan dengan itu saja. Ia adalah anak seseorang dengan sengaja mencari kematian dengan menenggelamkan diri, karena ia terlalu lemah untuk menghadapi hidup, karena nia tidak dapat membuat isterinya bahagia, sehingga istrerinya berbicara akan meninggalkannya. Mungkin dia bukan bermaksud agar isterinya mati juga, dan bayangan itu meliputi diri Constan yang membuat dia selalu muram. Sikap batinnya yang menjadi sangat sulit di duga. Laki-laki yang sangat sulit dipercaya karena ia memang sungguh tidak dapat dipercaya.” Ucapan Manner yang mengingatkan Dygta siapa Constan dan sikap yang dimiliki lelaki itu. Dia berharap Dygta mengingat betapa tidak baiknya Constan.
Dygta menatap Manner dengan tatapan aneh dan terkejut seakan dirinya baru saja dimarahi oleh ayahnya.
Manner segera bangkit dan mendekati Dygta. “Aku ingin mengatakan ini kepadamu selama, Dygta. Kau tahu, aku di Plymouth banyak berbicara dengan Max. Dan itu sangat menarik perhatian. Ia memiliki klinik di Toronto, Kanada, dan dia memiliki metode yang ia pakai di sana sama dengan metode yang aku pakai. Max mengundangku pergi ke sana beberapa waktu lalu. Mungkin saja aku akan pergi ke sana, bagaimana kalau kau ikut denganku?”
“Ikut denganmu?” tanya Dygta tertegun dengan ajakannya. “Kanada? Tetapi, Manner....”
“Ya, kenapa tidak? Kita dapat mengubah perjalanan itu sebagai jalan-jalan berdua,” kata Manner memegangi tangan Dygta dengan hangat. Ini sangat aneh. Selepas semalam, ia melihat Manner yang berubah akan sikapnya. Sekarang dirinya pun kembali ke sikap yang lembut terhadap dirinya.
“Tidak!” Dygta menyentak tangannya dengan kasar untuk melepaskan diri. “Tidak semudah itu! Hal itu tidak benar! Apakah kau tidak melihat pagi ini, aku.. aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku sangat cemas dan Constan datang. Parahnya aku sudah berjanji pergi ke London dengannya.”
“Constan. Dia sangat sulit ditebak. Bagaimana aku dapat menjelaskan tentangnya agar kau paham maksudku,...”
“Kau sudah mencoba menjelaskan tentang dirinya,” kata Dygta. “Dan kau sudah bicara tentangnya. Bahkan Nenekmu juga sudah menceritakan tentangnya. Aku hanya tahu dan mengerti bahwa dia pagi ini berbicara kepadaku dengan lembut. Ia membuat segala sesuatunya menjadi bukan tanpa harapan dengan memintaku pergi ke London dengannya. Bertemu dengan sutradaranya. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, Manner.”
__ADS_1
“Baiklah!” kata Manner berbalik sambil mengambil pipa tembakau dan memasukkannya ke dalam mulutnya. “Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan. Itu adalah keputusanmu untuk kehidupanmu ke depan. Aku tidak memaksakan diri kepadamu.” Manner berjalan menuju ke pintu. Ia berbalik sebelum berlalu dari sana, “Bagaimana dengan Limin, apakah dia sudah tahu maksud Constan?”
“Limin? Dia akan memberiitahukannya nanti.”
“Mungkin Limin tidak akan terlalu senang mendengarnya nanti,” Manner mengangkat kedua bahunya.
“Tentu saja tidak. Aku sudah memberitahukannya bahwa Limin tidak akan senang untuk mendengarnya.”
“Lalu? Lalu apa yang akan kau lakukan seandainya itu semua gagal?” Manner memandangi lekat mata Dygta.
“Aku..., aku tidak memikirnya. Bagaimana pun aku pikir tidak akan seperti itu. Aku kira apapun orang berpikir tentang Constan, ia tidak akan menghentikan kemauannya.” Dygta tersenyum samar kemudian segera menambahkan, “Mereka tak akan menghalanginya, kan?”
Manner tetap bersikeras. “Limin mungkin akan melakukannya. Dia benra-benar cantik, dan Constan adalah lelaki normal yang dapat dengan mudah merubah hatinya.”
“Aku hanya khawatir kau akan mengalami amnesiamu lagi. Aku hanya takut hal itu terjadi pada dirimu. Jika kau menghadapi situasi itu lagi, bagaimana dengan mental yang mencengkammu seperti kejadian sebelumnya.”
“Tetapi aku tidak bisa mengecewakan Constan, Manner!” ucap Dygta lagi. “Dia akan sangat kecewa.”
“Tidak akan mungkin! Sejak kapan Constan dapat merasakan kekecewaan? Dia itu kebal dengan hal-hal yang dapat menyakiti hatinya. Dia semakin hari semakin dingin dengan sikap dinginnya. Bahkan dia tidak menangis ketika nenek memberitahukan kepadanya bahwa orang tuanya meninggal. Aku tahu, sebab aku bersama dengannya waktu itu. Aku satu-satunya yang menangisi ibunya!”
“Tidak, Manner, orang yang dapat menangis itu beruntung,” Dygta menggelengkan kepalanya.
“Iya, kau benar sekali!” Manner menatap mata Dygta dalam. “Apakah aku harus menangis karena tidak dapat mengajakmu ke Kanada bersamaku? Apakah hal itu akan membuat perasaanku besok lebih baik?”
Sebelum Dygta menjawab Manner sudah membuka pintu dan meninggalkan tempat itu dengan membanting pintu dengan keras. Dygta lama duduk tercenung sambil memandangi pintu yang dibanting dengan keras. Mungkin harapannya Manner datang kembali , tetapi itu tidak terjadi.
...****************...
tbc
__ADS_1