
Bab 31
Tak terasa mobil taksi sampai di halaman stasiun kereta api. Constan memegangi Banker.
“Tak ada pilihan kau harus naik dalam kurungan,” katanya. “Namun, kau harus menjaga sikap, ya.”
Kereta api meluncur menerjang derasnya hujan bagaikan serdadu. Dygta segera mengambil sebuah buku untuk dibaca. Namun karena malamnya tak dapat tidur matanya terkantuk-kantuk, dan pada akhirnya dia tertidur.
Ia terbangun beberapa jam kemudian ketika Constan membangunkannya membawakan teh panas dan roti berisikan sosis.
Dygta sedikit menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang lumayan lelah disebabkan dengan tertidur. Yah, sangat berbeda tertidur di atas kasur yang tidak bergerak.
“Berapa lama aku tertidur?”
“Dua jam penuh, kau nampak sangat lelah, dan sekarang matamu nampak lebih segar dan bercahaya setelah tertidur. Ini, minumlah tehnya dan aku tidak tahu, apakah kau menyukai sosis atau tidak. Ku harap kau suka dengan itu. Aku beli roti waktu kereta api berhenti di Exeter.”
“Kebetulan sekali, aku haus sekali. Terima kasih,” ucap Dygta.
__ADS_1
“Kita sudah mendekati kota tujuan kita. Semoga saja Banker baik-baik saja.”
“Mungkin sekarang dia tertidur dan bermimpi menghadapi banyak tulang.”
“Dygta, ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu,” kata Constan.
Dygta lalu memandangi raut wajah Constan.
“Aku sudah memikirkannya, Dygta. Saat aku memandangi kau saat terlelap, tentang pertemuan dengan Sutradara. Kau tidak perlu pergi jika memang tidak benar-benar menginginkannya. Kau jangan merasa terpaksa. Itu yang ingin kusampaikan kepadamu. Aku tahu ini perjuangan yang akan menjadi idaman banyak wanita muda, tidak peduli bagaimana perasaan pribadinya, tetapi jika bekerja bersamaku itu benar-benar sangat ... kau tau itu. Kau bisa saja katakan terus terang kepadaku.”
Dygta mengalihkan pandangannya ke arah lantai kereta dan tidak tahu mengapa mendadak seperti Constan berkata seperti itu. Ia sudah menganggap baik-baik sejak ia menaiki kereta api untuk menghadapi apa yang akan ia hadapi itu.
“Mengapa?” mata Constan terlihat mengkilat, menahan amarah. “Apakah kau benar-benar ingin tahu alasannya mengapa?”
“Tentu,” sahut Dygta nampak kebingungan.
“Kau memanggil-manggil nama Maneer saat kau terlelap, itulah sebabnya. Dan aku bukan orang yang bodohh atau sebagainya selama dalam perjalanan. Seharusnya kemarin aku tidak mencampuri urusanmu, bukan? Aku seharusnya tidak mengganggumu. Tetapi aku tetap saja ingin mengganggumu, bahkan hubunganmu dengan Manner. Dan kau terasa bagiku tepat untuk berperan dalam Strom My Heritage itu suatu bencana dan keterpaksaan. Apa yang akan kita perbuat sekarang?”
__ADS_1
“Pergi ke London,” jawab Dygta dengan tenang.
“Kau masih mau tetap ke sana?”
“Ya,” kata Dygta singkat dan tersenyum singkat. “Kita sudah hampir sampai. Kau tidak dapat membalikkan kereta api atau jarum jam berputar kembali, meskipun dagumu nampak sangat terlihat ingin adu otot.”
“Kita dapat kembali,” kata Constan kasar. “Kau hanya cukup mengatakannya saja dan berterus terang akan hal itu. Aku ingin bertemu dengan sutradara itu, Fenton, hanya saja kau yang terlihat bimbang,” ucap Constan.
“Aku ingin pergi dan bertemu dengan Fenton,” ucap Dygta menyahuti.
“Kalau seperti itu, kita akan melanjutkan perjalanan ini,” kata Constan tersenyum dan segera menyalakan rokok di bibirnya, dan mengembuskan asapnya perlahan-lahan. Constan memegangi tangan Dygta dan menekannya dan Dygta tidak merasa pegangan itu seperti orang yang sedang berpacaran. Dygta tidak menanyakan kenapa Constan bersikap seperti itu dan menerimanya saja tanpa kata.
Ketika sampai London, cuaca masih tidak bersahabat, dan hujan masih mengguyur kota tersebut. Mereka menuju ke rumah Constan terlebih dahulu. Lain sekali bangunannya dengan kediaman Peters di Devon yang bersuasana kuno klasik, justru rumah Constan bergaya klasik namun modern dan menarik. Ia seperti ingin dibawa ke suasana pentas ke dalam rumahnya, menjadi suasana yang nyaman di sekitarnya pada waktu tidur dan makan, mandi, berpakaian, bekerja dan bermain. Rumah yang terletak di bukit Hampstead.
“Nah, Dygta, apakah kau menyukai rumahku?” tanyanya sambil mengambil kunci untuk membukanya.
“Ya,” sahut Dygta berterus terang bahkan terdengar lugas dan ia pun memasuki lobby rumah itu.
__ADS_1
...****************...
tbc