The Ring Finger

The Ring Finger
Bab 30


__ADS_3

Bab 30


Dygta sudah berpakaian rapi untuk menunggu kedatangan Constan untuk pergi bersama ke London. Dia duduk di dekat jendela dengan kegelisahan, setiap kali melihat ke arah jam dinding kemudian ke pintu kamar hotel. Hampir jam sepuluh pagi, Constan akan segera datang, sehingga ia merasa was-was, ingin segara tahu dan sedikit pusing karena malam itu dia tidak sempat tidur dengan cukup di kamar hotel yang mewah dan makan malam seorang diri. Tak terelakkan tak dapat tidur karena diburu oleh banyangan perpisahan dengan Manner, sang Dokter. Ia masih terbayang akan dia berdiri di ambang pintu, mengenakan jas putih untuk bekerja di dalam laboratorium, memandangi David yang mengantarkan Dygta ke Bribsham untuk mengejar bus ke Torquay.


Ia menyadari bahwa ia sangat berat untuk meninggalkan keluarga Peters. Dengan seringnya ia melihat wajah muram yang ditampilkan oleh Manner. Tanner yang berdiri dipagar memandanginya dengan tatapan sedihnya, yang mengatakan pengharapan bahwa Manner akan menikah dengan Dygta kali ini. Tapi nyatanya itu tidak terjadi.


Manner pun telah menyiratkan hal tersebut ke dalam mata Dygta. Tak ingin memikirkan hal ini terus, tetapi hal ini selalu terpikirkan olehnya.


Limin tidak berada di kediaman keluarga Peters saat Dygta berangkat untuk meninggalkan kediaman itu. Setelah dibius, ia menyadari mengapa Limin tidak ada pada saat itu, karena tentunya Constan sudah mengajak Limin ke Cottage di pagi itu. Itulah sebabnya, Limin tidak berada di sana. Mungkin Constan menjelaskan maksud untuk menarik Dygta untuk ikut berperan dalam Strom My Heritage. Limin pun sangat senang mendengarkan hal itu.


Dygta tersenyum membayangkan Limin marah membating-banting barang, yang mengakibatkan lantai porselin yang indah cacat atau tergores. Limin mendeklarasikan bahwa Constan adalah haknya.


Sedang merenung demikian terdengar pintu ruang duduk di buka dan Constan memasuki ruangan itu. Banker mengikutinya dibelakang. Ketika hewan itu melihat Dygta, Banker segera berlari dengan gembira mengangkat kakinya ke bahu Dygta.


“Kau sudah menepati janjumu tidak akan melarikan diri,” ucap Constan.


“Tentu sebagian orang juga bersedia menepati janji, bagaimanapun itu,” jawab Dygta.

__ADS_1


“Ya, bagaimanapun itu sangat melegakan sekali.”


Mereka tertawa bersama dan berbicara sebentar. Dygta mengembalikan uang yang diberikan oleh Constan kala itu dengan segera, dan mengatakan bahwa ia masuh menemukan kopernya dan selain barang-barang, pakian yang sulit dia abagikan begitu saja untuk tidak diambil karena memiliki arti tersendiri secara khusus, juga buku harian peninggalan sang ibu yang ia anggap sangat berharga.


Constan menerima kembali tanpa komentar dan mereka segera meninggalkan kamar hotel tersebut.


Dygta dan Banker segera masuk ke dalam taksi dan Constan pun masuk ke dalam toko yang menjual beberapa candy. Mereka kemudian menuju ke stasiun kereta api.


“Constan...,”


“Hemm, apakah sekarang waktunya untuk memenuhi keinginan?” kata Constan.


“Agar ada yang kau makan saat di dalam kereta api,” sahut Constan simpel.


“Rupanya ada hubungannya kau ingin memberikan uang kepadaku agar kau terlihat baik di hadapanku?”


Constan hanya mengangkat bahunya, menanggapi.

__ADS_1


“Itu suatu impulsif yang sangat menyentuh hati,” kata Dygta.”Kau harus tahu bahwa impulsif banyak muncul dari keperluan untuk memuaskan tubuh atau hati nurani. Jika kau mengelus Banker. Kau lakukan itu karena menyenangkan saat menyentuhnya. Tetapi itu bukan mengurangi kesenangan Banker saat kau elus, namun kau lah yang merasa senang pertama kali.”


“Maksudnya?”


“Maksudnya karena kau merasa keliru dalam soal uang yang kau beri itu. Bagaimana pun uang itu sudah kau pergunakan sekarang, dan aku tambahkan bahwa itu merupakan pengeluaran yang sedikit boros. Tetapi ini kotak cokelat yang bagus, aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.” Dygta tersenyum sambil memeluk kotak cokelat itu.


Constan memandangi Dygta, memeluk kotak cokelat memberikan kepada Dygta.


“Terima kasih atas cokelatnya.”


“Terima kasih atas pelajaran agar merendahkan diri,” ucap Constan.


“Tetapi aku bukan bermaksud untuk mengguruimu,” seru Dygta. “Aku sendiri berbuat banyak kesalahan. Aku bukan orang yang pandai bergaul dan menjadi sosialisasi dalam pertemanan, itu sebabnya aku tidak banyak memiliki sahabat ketika aku bersama dengan Downline dalam grup itu. Aku tidak suka disebut sering ikut campur urusan orang lailn. Tak jarang orang selalu membicarakan aku yang sering berjalan seorang diri.”


Constan tertawa sambil mengamati bibir Dygta yang tanpa menggunakan pewarna bibir. Mereka melanjutkan obrolan di dalam taksi itu, bercanda gurau bersama dengan Banker juga.


...****************...

__ADS_1


tbc


__ADS_2