
Bab 21
Constan mendengar ucapan itu dan agak terkejut. Dia mendongakkan wajahnya sebentar, tetapi nahas, dia lengah saat menuangkan kopinya sehingga tertumpah sebagian di meja.
"Apa yang kau ketahui tentang itu?" tanya Constan.
"Sebuah pentas seni Opera yang dimainkan sesuai dengan naskah. Aku tidak begitu menyukainya. Apalagi disaat adegan ke tiga yang menunjukkan sesuatu yang mustahil menurutku," jelas Dygta.
Suaranya makin menghilang, lalu menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Sikap aneh yang timbul dari Dygta, terkejut akan mengingat sesuatu tentang naskah itu. Dia mulai mengingat sesuatu dalam pikirannya. Tangan yang berada di mulutnya itu sudah ditarik kembali ke tempat semula.
"Aku bertengkar hebat dengan sutradara waktu itu. Aku memberikan janji kalau aku akan bertahan dalam grup ini untuk pementasan selanjutnya, tapi dia tidak menyetujuinya. Karena aku ingin kembali menjenguk ibuku,"
"Lanjutkan, Dygta, biar aku mendengar lebih lanjut. Kau bertengkar dengan sutradara, apakah dia memecatmu?" tanya Constan.
"Tidak! Dia tidak memecatku," kata-kata itu langsung lolos begitu saja dari bibir mungilnya, dan menjatuhkan lembar kertas naskah dengan tangan yang gemetar.
"Lalu apa yang dia lakukan?"
"Dia tidak melakukan apapun setelah itu. Oh, tidak. Dia melakukannya!"
Dengan masih mengingat-ingat apa yang telah dilakukan oleh sang sutradara kepada dirinya, Constan menggenggam lengan Dygta dengan kuat, tak ingin melepaskannya. Ditariknya tubuh Dygta ke dalam pelukan sang sutradara, membenamkan wajah imut itu ke tubuh sang sutradara.
Sesudah itu, dia melonggarkan sedikit pelukan itu dan mendekatkan bibirnya ke bibir Dygta. "Apa ini yang dilakukan oleh sutradara kepadamu?"
__ADS_1
Dan kini semuanya menjadi bayangan puzzle-puzzle yang membentuk sesuatu kepingan ingatan siapa dirinya sebenarnya.
Bibir Constan yang berdekatan dengan bibir milik Dygta, mengamatinya dan tak berapa lama, dikecupnya bibir merah muda nan kecil itu. Hanya beberapa detik. Lalu dia sendiri menjauhkan bibirnya dari milik Dygta.
Dygta terkejut beberapa saat untuk menyadari tindakan yang dilakukan oleh Constan terhadapnya. Ternyata selama ini dirinya salah mengira kalau Constan membencinya ternyata tidak. Dygta melepaskan pelukan Constan, menyugarkan lengan Constan yang memeluknya. Dia melompat mendorong Constan dengan kasar, dan berteriak.
"Ternyata Constan tak membenci diriku!" berteriak, lalu berlari ke arah pintu. "Aku yakin, aku yakin, kau bisa lebih baik dari Manner!"
Constan mencoba mengejar Dygta yang lari menuju pintu keluar. Tak disangka, kakinya tersandung bantalan kursi yang dipakai Dygta. Banker menambah kekalutan dalam suasana kacau yang ditimbulkan, lalu ikut menyalak-nyalak melompat ke arah dirinya.
"Kita tidak sedang main, Banker!" kata Constan beranjak dari sana dan menegakkan tubuhnya, memandang bantalan kursi.
Ketika Constan telah berhasil mencapai pintu keluar, dia melihat Dygta yang sudah hujan-hujanan. Sayangnya, Dygta mengalami insiden dirinya terjatuh terjerembab di sana. Hujan yang membahasi tubuhnya serta membuat jalanan licin sehingga dia tersungkur.
"Siapa kau sebenarnya?" Constan yang berada di belakang Dygta mulai memancing dirinya agar mengingat sesuatu yang baru saja dapat mengingat kejadian berkat naskah itu.
Tak dapat dipungkiri, rambut yang basah dapat menetes ke pipinya yang pucat.
"Aku? Aku rasa aku adalah seorang aktris remaja yang ikut dengan group pentas seni drama Opera yang sering berkeliling di mana pun kami mengadakan acara pentas seni."
Dygta menganggukkan memastikan. Dirinya telah menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya dan dari mana dia berasal. Tapi dia merasa itu adalah sebuah awal mimpi buruk yang akan di deritanya, bukan suatu kelegaan hati yang dia rasakan. Dia tidak berharap bahwa ingatannya lain daripada itu.
Dia menyadari bahwa dirinya memang seorang aktris yang selalu memiliki jadwal pentas keliling, sampai ayahnya meninggal delapan bulan yang lalu, dia pun masih menjadi aktris yang selalu berpindah tempat pentas.
__ADS_1
Dia teringat semuanya. Seketika dia mendongak, menatap wajah Constan yang tersenyum muram terpancar di raut wajahnya.
"Sekarang kau akan mengatakan bahwa kau mendapatkan semua tentang ingatanmu secara ajaib?" tanya Constan mengejek.
"Jangan katakan hal itu kepadaku, karena aku bukan orang yang sama seperti kau mengatakan hal yang sama beberapa waktu lalu," lanjutnya lagi.
Dygta hanya dapat berdiam diri dengan apa yang terlontar dari bibir Constan. Dia tidak dapat menjawab sepatah katapun.
Bahkan air mata pun tak dapat mengeluarkan airnya dari matanya.
"Kecantikan akan terbentuk dengan adanya waktu, waktu yang bergerak terlalu cepat. bagaikan Widuri yang diterbangkan oleh angin," kata Ayahnya. "Kau tahu, saat kau mencoba memegang kecantikan yang ada dalam dirimu dengan tanganmu untuk selamanya, itu akan hilang menyebar seperti kau menggenggam pasir saat kau menyadarinya."
Ayah Dygta waktu itu membicarakan tentang ibunya, Irish. Irish memercayai ayahnya sebagai aktor dan seorang laki-laki. Irish tabah menghadapi ayahnya dengan sikap keras kepala yang dimiliki oleh ayahnya untuk tetap hidup dalam kehidupan yang pantas di saat itu. Sebagai anak muda, Edward melihat ada harapan sebagai seorang aktor, yang terpancar di kedua matanya, memiliki daya tarik yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tetapi tidak mudah bagi dirinya untuk memasuki dunia itu pada saat itu di London. Meskipun Edward mencoba berkali-kali dengan harapan yang begitu menyala-nyala dalam dirinya untuk menembus agar ia lolos dan bisa memeragakan suatu adegan di atas panggung, namun sialnya dia selalu mendapatkan halangan dalam usahanya. Dan Edward merasa semakin sulit ketika Irish meninggal karena tidak ada yang terus memberikan semangat untuk dirinya. Dan akhirnya semangat nya patah. Dirinya merasa gagal untuk menjadi aktor papan atas. Dia hanyalah seorang aktor biasa yang tak akan mampu untuk menginjakkan kakinya di panggung East London. Panggung yang sangat terkenal untuk aktor atau aktris papan atas.
Tetapi berbeda dengan Dygta. Dia memiliki harapan untuk mencapai hal itu. Edward selalu mendorong dan mendukung dirinya dengan sepenuh jiwa.
Dengan kerja keras, keuletan yang ia miliki, dan menyisihkan uangnya, Dygta dapat memasuki akademi seni peran di London, Royal Academy. Edward berharap Dygta dapat memberikan kesan yang special kepada para manajer East London. Dia berharap keberhasilan anak perempuannya sedikit banyak akan menjadi pelipur lara bagi dirinya yang selama ini kandas. Dan itu merupakan salah satu dorongan atas kematian ibunya, Irish. Dia berharap akan keluar dari lingkaran kemiskinan yang terus menerus menimpa diri dan keluarganya.
Edward sungguh merasa kehilangan ketika dirinya ditinggalkan oleh mediang Irish, sehingga dirinya terserang penyakit radang selaput dada yang mematikan, dia tidak lagi mempunyai semangat untuk melawan penyakit itu. Tak berapa lama, ia meninggal di sebuah rumah sakit di Yarmouth sambil memegang tangan Dygta, memandangi anak perempuannya dan tersenyum bahagia untuk meninggalkannya saat itu. Betapa Dygta meraung kehilangan atas kematian ayahnya setelah kematian ibunya.
...****************...
tbc
__ADS_1