
BAB 7
“Yah, kau sudah memiliki reputasi yang agak meragukan. Bukan begitu, Constan?” Limin mengatakan itu sekenanya dengan harapan ia mendapat perhatian jauh lebih besar dari Constan, bahkan Limin mengharapkan lebih dari hanya kekaguman saja.
Sebenarnya Limin meragukan Constan, apakah lelaki itu bisa setia dan bersikap lembut? Tapi dengan begitu, tak mengapa bagi Limin yang terpenting ia menginginkan Constan untuk bersama dirinya.
“Apa kau sungguh-sungguh akan tinggal di cottage itu? Temanmu hanya burung hantu dan di sana belum ada saluran air,” tanyanya tak yakin.
“Burung hantu? Gertak saja dengan ranting yang diinjak, dan soal air, aku akan menadah air hujan pada waktu malam dan saat hujan turun,” Constan tertawa mendengar pernyataan Limin terhadap cottage nya. “Dan tentu saja aku akan tinggal di sana.”
“Siapa yang akan mengurusmu? Apakah Nyonya Woods akan bersedia datang ke tempat itu?” tanya Limin lagi.
“Tidak, Limin. Aku tidak akan mengajak Woodsy untuk datang kemari. Aku akan masak memasak sendiri. Kau tenang saja. Kalaupun itu tak bisa kulakukan, tentu saja aku akan mencari pelayan untuk memasakkanku dan membantu membersihkan seluruh cottage-ku,” jelas Constan.
“Aku berniat menjadikan tempat itu sebagai tempat mediasiku untuk memenangkan diri,” lanjutnya lagi.
Limin menatap jari-jarinya, lalu menatap ke arah cangkir yang berisi teh hangat itu. “Kenapa kau tidak tinggal di sini saja, di keluarga Peters? Aku sungguh tidak paham dengan pemikiranmu, Constan.”
“Hehe, kau tidak perlu memahaminya. Karena pikiranku berbeda. Kau tahu, suatu keluarga dan kerabat itu lebih baik tinggal dalam rumah terpisah, apalagi mereka memang jarang untuk bertemu. Dan apakah kau tahu bahwa aku sebenarnya termasuk orang yang suka penyendiri?” sahut Constan.
__ADS_1
“Apakah benar begitu?” mata Limin langsung menatap Constan dengan mengejek. “Kau salah seorng idola masyarakat di London yang terkenal dan kau tahu hal itu. Kau juga menyukai masyarakat yang suka melontarkan pujian bagi dirimu. Ku rasa itu termasuk bentuk cinta yang kau rasakan pada dirimu sendiri, Cons,” lanjutnya lagi. Limin mengubah pandangannya ke arah depan.
Constan memalingkan wajahnya ke hadapan Limin dan mendekati dirinya. Ia membungkuk dan memegangi wajah Limin.
“Kau tahu? Itu tidak benar. Aku sangat mencintai anjingku!” Sesudah Constan berkata seperti itu ia langsung melepaskan tangannya yang menyentuh wajah Limin dan berbalik masuk ke dalam rumah.
Liburan akhir pekan yang tenang. Constan meninggalkan kediaman Peters pada Sabtu pagi untuk menuju ke cottagenya. Dia pergi ke cottagenya untuk mengatur semua perabotan rumah yang ia datangkan dari London. Ketika itu Dygta turun untuk sarapan pagi, dia tidak lagi melihat Constan. Dygta pun meneruskan kegiatannya setelah selesai sarapan pagi untuk pergi ke perpustakaan dan membaca buku di sana.
Sekitar jam sebelas.
Ketika David, kepala pelayan rumah tangga, membawakan kopi untuknya. Ia berhenti sebentar agar Nyonya Peters masuk terlebih dahulu. Tampak Dygta duduk di kursi sedang membaca dengan khusyuk buku sebuah cerita legenda. Dygta terkejut di kala seperti orang ketahuan mencolong melihat Nenek muncul bersama asisten rumah tangganya yang sedang memegang sebuah nampan berisikan secangkir kopi. David pun segera melangkah dan meletakkan nampan kopi di dekat Dygta.
Dygtra mengarahkan tangannya untuk mengambil cangkir kopi yang masih panas dan aroma khas kopi yang menggoda. Dia pun segera mencicipinya dan menawari kopi kepada Nyonya Peters. Nyonya Peters hanya memandangi Dygta saja.
“Saya tidak minum kopi,” ucap Nyonya Peters datar. “Karena saya tak mungkin minum kopi pahit tanpa gula dan cream. Aku pengidap diabetes,” jelasnya lagi.
“Benarkah?” tanya Dygta penuh simpati kepada orang tua dihadapannya. Seketika itu Dygta teringat akan perkataan Manner bahwa neneknya harus diet dari berbagai makanan.
“Yah, jangan cemaskan hal itu dalam hatimu,” katanya lagi dengan nada yang datar. “Diabetes itu merupakan suatu keluhan yang nyaman dijalani, karena ada dokter di dalam rumah ini. Nah, segera habiskan kopimu dan kita akan pergi ke kebun. Kau akan kelihatan lebih sehat dengan keluar dari ruangan ini. Agar wajahmu tidak terlihat pucat juga. Kepucatan yang ada di wajahmu akan berkurang apabila kau keluar dari ruangan yang gelap nan kuno ini.”
__ADS_1
“Baik. Saya akan senang sekali mengetahui kita akan pergi ke kebun,” kata Dygta cepat dengan sumringah yang terpancar di raut wajahnya.
Pepohonan yang tinggi dan kuncup-kuncup bunga tampak dari jendela perpustakaan di mana mereka berada saat ini, tetapi dia tidak ingin pergi ke kebun seorang diri. Dia takut kalau-kalau melanggar atau mengganggu sesuatu yang tidak diharapkan, meskipun Manner selalu mengatakan dia boleh ke mana saja di rumah itu atau pun berjalan-jalan di kebun. Dygta tahu bahwa Manner-lah yang berkuasa di rumah itu, namun para pelayannya membuat perasaan Dygta tidak enak, karena selalu saja memandanginya dengan penuh pertanyaan.
“Apa kau sudah terbiasa bersama kami sekarang, Dygta?” tanya Nenek. Nenek berdiri dekat dengan meja Manner dan melihat sapu tangan berbahan sutera untuk mengusap tinta lalu berkomentar kepada Dygta.
“Coba lihatlah ini!” seru Nenek Peters. “Apa yang akan kau lakukan terhadap laki-laki itu? Aku tahu dia tidak usah menghitung uangnya, tapi tidak perlu selalu mengusap tinta dengan sapu tangan berbahan sutera. Atau menggunakan mangkuk Burslem sebagai asbak!”
Dygta kaget juga melihat apa yang ditunjukkan oleh wanita tua itu, dan pada mangkuk biru tampak ada puntung rokok yang berbekas lipstik Limin.
“Sejak kanak-kanak ia selalu seperti ini,” lanjut Nenek kepada Dygta dan membuang abu serta puntung rokok ke tempat sampah dan kemudian ia segera membersihkan dengan sapu tangan berbahan sutera yang sudah kotor, bekas mengelap tinta.
“Ia tidak pernah memiliki apresiasi dalam keluarga Peters terhadap benda-benda bagus. Aku cemas apa yang akan terjadi pada benda-benda di sini kalau aku tidak ada lagi sehingga tiada lagi orang yang bisa mengawasinya. Sungguh sayang bahwa Constan bukan anak laki-lakiku yang lebih tua, sebab Peters meninggalkan harta benda sebagus ini. Akan lebih aman di tangan dia. Ia sungguh menghargai arti sebuah porselen atau benda yang bagus seperti gelas misalnya. Manner tidak tahu kalau untuk menyajikan makanan itu menggunakan mangkuk tempat makan hewannya, atau minum dengan gelas yang khusus untuk berkumur-kumur. Aku membayangkan segala benda indah di keluarga Peters akan dikorbankan Manner untuk penelitiannya kepada ilmu pengetahuannya. Ia sanggup melakukan hal semacam itu.”
Nenek menghela napas dalam-dalam, dan mengembalikan mangkuk Burslem itu ke tempatnya semula. “Aku sudah lama tinggal di keluarga Peters ini. Sudah bertahun-tahun lamanya, gadis kecil,” katanya lagi kepada Dygta. “Aku datang kemari sebagai pengantin baru yang masih berumur tujuh belas tahun, dan tumbuh dalam rumah ini lebih dari enam puluh lima tahun.”
...****************...
tbc
__ADS_1