
Bab 27
Dygta terbangun ketika cahaya kelabu di pagi hari yang menembus jendela masuk. Saat ia terbangun seperti suasana yang tidak biasa di pagi hari yang dia rasakan. Seperti ada sesuatu yang menimpa jendela. Dygta segera saja melompat dari tempat tidurnya menuju ke arah jendela. Gorden yang masih terasa lembab akibat hujan semalam.
“Kau!” kata Dygta keheranan memandangi ke bawah dan menyaksikan wajah Constan yang terlihat muram.
Kemudian Constan tersenyum sekilas. Ia memberikan sebuah isyarat agar Dygta membuka jendelanya lebih lebar lagi. Dygta sedikit gemetar untuk membuka jendela itu.
“Apa kau melempar batu kerikil ke arah jendela?”
“Ya, cepatlah ganti pakaian. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu.”
Dygta pun terbelalak memandanginya tanpa kata-kata, karena heran dia sudah berada di sana sepagi itu. Dia tampak gelisah dan tak sabar lagi. Dygta mendadak marah karena keberanian Constan datang ke tempatnya dengan cara yang sembunyi-sembunyi.
“Aku tidak ingin berbicara denganmu.” Dygta teringat betapa kejadian semalam sepulang dia dari cottage Constan. “Kita sudah mengucapkan selamat berpisah semalam. Dan kau sebaiknya pergi.”
“Dygta, jangan tutupi jendelamu.”
“Pergi dari sini!”
“Kau wanita terkutuk! Aku akan menawarkan pekerjaan untukmu!”
“Pekerjaan?” Dygta masih memegangi daun jendela sedikit tertegun kebingungan.
“Apa maksudmu? Pekerjaan macam apa yang kau bicarakan ini?”
“Kita tidak dapat membicarakannya seperti ini,” ucap Constan. “Memberikan isyarat seperti kencan Romeo dan Juliet. Jangan sampai kau membangunkan seluruh penghuni rumah kalau seperti ini.”
“Romeo tidak melenguh seperti kau.”
“Bisa jadi dia melenguh-lenguh juga. Apa kau pernah menjadi Julietnya Romeo?” sahut Constan. “Sekarang, segeralah berganti pakaianmu dan turunlah kemari. Sekali lagi aku menawarkan pekerjaan kepadamu. Jika kau tertarik.”
Dygta teringat semalam perpisahan yang sepertinya unutk selama-lamanya, sehingga kemunculannya sekarang membingungkannya, apalagi menawarkan pekerjaan! Dygta memandangi mata Constan yang nampak berseri dengan penuh tawa. Kalau pun ia menginginkan mendapat pekerjaan dari siapapun dan seperti apapun, namun ia meragukan tawaran Constan.
__ADS_1
“Baiklah. Aku akan turun.” Akhirnya Dygta menyetujuinya.
Sepuluh menit kemudian Dygta sudah berada di halaman bawah. Cahaya pagi yang makin memancarkan cahayanya untuk menerangi bumi. Terdengar juga jalak bersahutan dan suara sapu menyapu halaman dekat kandang kuda.
Terdengar juga orang yang berbicara di sana. Constan dengan segera menoleh ke arah tempat suara itu dengan sikap tak sabar.
“Hi,” sapa Dygta.
“Lama juga wanita berganti pakaian dan ternyata hanya dengan pakaian paling sederhana sekalipun,” ucap Constan mengomentari.
“Kau pikir aku hanya mengganti pakaianku? Aku harus membasuh muka juga.”
“Kalau kau mandi, mungkin saja harus menunggu sepanjang hari,” sahut Constan sarkas.
“Kenyataannya aku tidak mandi.”
“Apa? Tidak mandi?” kata Constan mengamati wajah Dygta dan melihat memar bekas jatuh semalam. “Siapa yang memukulmu?” tanyanya memegangi bahu Dygta. “Matamu biru memar.”
“Jangan di sini. Tidak! Ayo...,” Constan memegangi tangan Dygta dan meanriknya menuju taman.
“Apakah badai menimbulkan banyak kerusakan?” tanya Dygta. “Semalam David mengatakan bahwa badai hebat menimbulkan banjir, dan orang dapat melihat dinding pantai di Beinsham pecah akibat itu.”
“Apakah kau mencemaskan aku?” tanya Constan yang tiba-tiba tampak menahan tawa. Dygta menyentak lengannya agar terlepas dari pegangan Constan.
“Pekerjaan apa yang kau sebutkan itu?”
“Memerankan menjadi anakku dalam Strom My Heritage.”
Dygta terdiam. Tertegun dan memandangi Constan dengan tatapan yang lama, “Jangan bercanda!”
“Kau pikir aku bercanda? Tawaran ini sungguh-sungguh. Aku ingin mengatakan itu semalam, hanya saja aku baru kepikiran sekarang dan itu sudah kupikirkan benar-benar.”
“Karena semalam kau sibuk memikirkan aku seorang penipu kecil yang ulung!” seru Dygta. “Jangan ganggu aku, aku akan kembali dimana aku bekerja dulu.”
__ADS_1
“Kau tidak akan pernah kembali ke sana. Kau sendiri tahu akan hal itu..,” tangan Constan merai lengan Dygta dan mendekatkannya. “Kau itu seorang gadis kecil yang tolol*. Apakah kau kira aku tidak tahu persoalan pementasan yang sering diselenggarakan oleh pementas seni sepertimu yang selalu berpindah-pindah tempat? Apa kau kira aku tidak tahu pentas yang papannya yang tidak sebagus panggung di East End?” Constan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menggoncang-goncangkan tubuh Dygta sampai rambutnya pun ikut terayun-ayun, sedangkan kalung yang bermata kuda laut itupun berkilap-kilap, silau. “Aku katakan kepadamu agar kau tidak kembali ke pekerjaanmu yang dulu itu. Kau dengar?”
Dygta merasakan takut. Constan merasakan hal yang sama melalui tangan Dygta yang dia pegang. “Sekarang, katakan sesuatu,” ucapnya lagi.
“Aku tidak memiliki pengalaman untuk main di East En!” gumam Dygta.
“Aku tidak pernah menganggap diri seseorang yang akan dapat menembus memasuki panggung East End. Aku tidak pernah dapat melakukan peran dengan baik, kecuali kalau aku menaruh simpati kepada tokoh yang aku perankan dan wajahku pun bukan tergolong yang sangat menarik.”
“Aku tahu kau bukan berwajah yang cantik luar biasa, namun aku bukan memilih pemeran yang seperti itu. Dan kalau pun kau tak memiliki pengalaman, East End tidak membuat sutradara berprasangka buruk jika dia menerima mu. Ada yang lain?” bantah Constan.
“Aku..,” Dygta melengos. “Aku rasa kita tidak dapat bekerja sama,” kata Dygta kemudian.
“Mengapa tidak?”
“Mengapa tidak?! Apakah kau lupa semalam kau seperti mengusirku sebagai penipu? Apakah kau tidak pernah menyesali jika melukai hari seseorang?” Dygta kembali menatap Constan dengan tajam.
“Apa kau pikir aku akan melukai orang lain, jika aku dapat menyesalinya?” sahut Constan dengan perlahan.
“Sungguh pembicaraan yang tidak berguna!” seru Dygta.
“Katakan saja, aku tidak ingin membuang waktu menyesali sesuatu yang aku tidak dapat mengelak melakukannya.”
“Kau dapat berkata, aku menyesal atau meminta maaf,” kata Dygta menyahuti dengan wajah yang sedikit pucat karena menjaga harga dirinya apa yang dia anggap benar pada dirinya. Kalau saja hatinya perih sejak awal prtanyaan Constan itu. “Kenapa kau sejak pertama tidak mau mempercayaiku? Mengapa pula kau bersikap seolah-olah tidak menyukai diriku?”
Dygta menahan napas, sedangkan Constan mendesah pelan. Dygta merasa harus merasakannya juga. Dia merasa tidak harus mempercayai, kalau saja dia merasa tidak menyukai dirinya. Dygta menyibakkan rambutnya ke belakang yang menutupi matanya.
“Semalam kau cukup baik saat di cottage. Saat minum teh bersama. Mengapa kau tidak seperti itu lagi?”
“Aku sendiri benar-benar tidak tahu!” sahut Constan sambil memegangi dagu Dygta. “Mari kita segera memutuskan soal pekerjaanmu. Peran untuk drama itu. Kau memerlukan pekerjaan dan sutradara akan memerlukan dirimu, seorang aktris yang justru dengan harapan memiliki wajah aneh seperti dirimu. Saat aku sampai di cottage ku lagi, aku berpikir bahwa kau akan akan kebasahan, lalu mengenakan bajuku. Aku menyadari bahwa kaulah yang kami perlukan untuk ikut serta berperan dalam drama itu. Bagaimana pendapatmu?” Pandangan Constan seperti mencari-cari persetujuan di dalam wajah Dygta. “Apa kau mau datang ke London dan bertemu dengan sutradara, Fenton atau tidak?”
...****************...
tbc
__ADS_1