The Ring Finger

The Ring Finger
Bab 28


__ADS_3

Bab 28


“Apa kau mau datang ke London dan bertemu dengan sutradara, Fenton atau tidak?” tanya Constan lagi.


"Apa aku... aku harus memutusnya sekarang?" Tergambar jelas raut wajah Dygta yang bimbang dan ragu.


"Tentu saja! Kau harus mendapatkan keputusan sebelum kau benar-benar pergi meninggalkan kediaman keluarga Peters. Kau akan pergi, bukan?"


"Benar. Aku akan pergi meninggalkan kediaman Peters. Aku akan kembali ke Torquay mengambil barang-barangku di penginapan itu," ucap Dygta yakin.


"Aku punya firasat kalau kau akan kembali dan sebelum itu kau pasti bercerita kepada Manner bahwa kau sehabis berkunjung dari cottage-ku."


Tak dapat dipungkiri kali ini wajah Dygta terlihat memerah. "Aku tidak bisa mengelak, sebab aku mengenakan jaketmu dan Limin dengan cepat mengenalinya. Bagaimanapun aku harus mengakui datang dan pergi dari kediaman itu," Dygta menatap ke arah atas menghindari agar wajahnya tidak terlalu nampak bahwa sudah memerah.


"Aku ingat bahwa aku telah memberimu kecupan di bibirmu," kata Constan tersenyum. "Jujur saja aku tidak bermaksud seperti itu. Aku mengajakmu ke Cottage-ku bukan untuk tujuan itu, sungguh tidak berdasar apabila Manner menganggapmu seperti itu."

__ADS_1


"By the way, mengapa kau bisa memar seperti itu?" tanya Constan.


"Memar?" Dygta seakan meraba pipinya. "Oh, kemarin aku terjatuh ditangga. Kau kira aku kenapa?" tanya Dygta lagi. "Kau kira Manner menampar pipiku setelah tahu aku pulang dari cottage-mu?"


"Aku tidak tahu. Itu terlintas saja dipikiran ku, meskipun hal yang tidak mungkin terjadi." Constan tersenyum menampilkan wajahnya yang tegas. "Terserah padamu, Dygta. Aku tidak akan memaksakan atau dapat memastikan kau akan diterima di dalam grupku. Tapi di sana ada peluang, kalau kau mau mencobanya," ucapnya lagi.


"Ayahku selalu ingin aku mencoba-coba. Sewaktu dia masih muda, dia sungguh penuh dengan ambisi. Tetapi ambisinya seketika mati mengikuti ibu," sahut Dygta.


Beberapa saat berlalu, obrolan yang tidak penting mengalir begitu saja.


"Baiklah. Aku akan datang menemui sutradaramu," ucap Dygta tiba-tiba. "Dan terima kasih kau sudah meminta aku mencobanya untuk menemuinya."


"Sekarang lebih baik kita kembali ke kediaman Peters. Jam berapa kiranya kau akan berangkat?"


"Sebaiknya pagi ini aku segera berangkat." Mereka berjalan kembali ke kediaman Peters. Matahari pun sudah mulai menyeruak keluar dari persembunyiannya. "Aku bisa naik bus. Kau tak perlu khawatirkan itu."

__ADS_1


"Bagaimana dengan ongkos? Kau memilikinya?" tanya Constan.


"Tak perlu khawatir. Terima kasih."


Saat mendengar ucapan itu, hati Constan tetap tergerak untuk memberikan Dygta uang. Ia merogoh dompetnya yang berada di kantong celana belakang, dan mengambil beberapa lembar uang untuk diserahkan kepada Dygta.


"Nah, ambil ini. Anggap saja ini adalah gajih pertamamu." Constan memasukkan langsung ke dalam jaket Dygta. "Kau jangan menginap lagi di penginapan itu. Kau bisa mencari hotel untuk kau beristirahat di Tagara Hotel. Aku yakin mau menyukainya. Aku akan menjemputmu di sana besok pagi. Kita bersama akan ke London. Setuju?"


"Tetapi aku tidak memerlukan uang ini, Constan." ucap Dygta menolak. Constan tertawa mendengar panggilan dari Dygta. "Ambil kembali uangmu. Aku memiliki uang. Aku akan mengambilnya dari tabunganku. Buku tabunganku berada di dalam koper."


"Dygta, tak kah kau berpikir bahwa kopermu sudah tidak ada? Kau mengatakan bahwa pemilik penginapan itu sedikit nakal," sahut Constan agar dia tidak menerima uang kembali.


"Harus berada di sana! Semua pakaian berada di dalam sana! Untuk buku tabunganku, tidak akan berharga untuk orang lain," jelasnya agak marah.


"Sudahlah. Terima saja uang dariku," sahut Constan tak ingin mendengar alasan yang lebih panjang lagi dari penolakan Dygta.

__ADS_1


...****************...


tbc


__ADS_2