The Ring Finger

The Ring Finger
Bab 25


__ADS_3

Bab 25


"Dan puncak kondisinya, biasanya datang untuk teringat kembali jika melakukan adegan yang menimbulkan kesulitan batin itu terulang kembali. Katakan Dygta, apakah Constan mencoba melakukan yang sama seperti yang kau ceritakan dengan Downline?"


"Manner, tak perlu kau bertanya terperinci seperti itu. Yang terpenting bahwa anak itu sekarang kembali pada pribadinya lagi. Tidak peduli apa yang menjadi penyebabnya," ucap Nenek beringsut di kursinya.


Nenek memandangi Dygta, "Apa rencanamu selanjutnya? Apakah kau akan kembali ke Torquay untuk mengikuti pentas Opera yang seperti kau lakukan sebelumnya?"


"Ya, Nyonya, saya akan kembali. Saya akan berangkat besok pagi, jika Nyonya tidak keberatan aku semalaman lagi menginap di sini." Dygta sangat berterima kasih dalam hati atas simpati yang diberikan oleh nenek, yang sudah mengisi kekurangan pada Manner dalam hal itu.


"Aku tidak pernah keberatan apapun kau berada di sini. Dan semua kejadian ini, tak mengubah apapun. Kau tak perlu pergi dari sini," ucap Nenek.


Hanya itu yang diucapkan oleh nenek. Gemuruh diluar sana terus saja menggelegar tak ada hentinya.


"Apakah maksudmu, aku datang ke Cottage Constan dan melakukan seperti apa yang kau bayangkan?" Dygta menghela napasnya panjang.


"Dygta!"


"Jangan memandangi aku seperti itu! Aku bukan lagi anak kecil, mengatakan sesuatu yang tidak sewajarnya atau mengelabui. Aku hanya menyatakan apa yang aku rasa ada dibenakmu saat ini. Itu saja."


Kemudian Dygta berlari melalui pintu ruang keluarga, lalu Manner ingin mengejarnya tapi neneknya dengan cepat memegangi lengan Manner. Guntur terus saja menderu-deru.


"Biarkan dia," kata Nenek. "Biarkan dia pergi untuk saat ini... jika kau mencintainya."

__ADS_1


Manner merasa frustasi. Dia meraba rambutnya yang pirang itu dengan kasar.


"Cinta? Apa itu cinta?" katanya sambil memandangi pintu yang dilalui Dygta untuk berlari keluar.


"Itu adalah kepercayaan kepada orang yang paling sedikit harus dipercayai," kata neneknya dengan lugas.


"Tetapi, nenek. Pandanglah menurut dengan caraku. Dia kehilangan ingatannya akibat seorang laki-laki yang berbuat seperti itu kepadanya... Dan dia kembali pulih ingatannya saat berada di cottage Constan. Kenapa seperti itu, ya Tuhan! Dia pergi kesana, yang selama ini kita tahu bahwa dia tidak cocok dengan sikap Constan untuk bersosialisasi, dan itu nampak jelas diantara mereka penuh dengan permusuhan dan kecurigaan," ucap Manner frustasi.


"Ada hal lain, Manner. Dia ingin mengetahui masalahnya," kata Nenek tampak memikirkan sesuatu. "Kau tahu, aku sudah tua renta, dan banyak memakan asam garam di belahan dunia ini. Namun aku tidak lupa bagaimana menjadi seorang gadis muda. Aku pernah muda, Manner."


"Gadis-gadis itu mirip seperti kucing. Mereka selalu ingin mengendus buket yang ingin dia ketahui pada orang lain, terutama jika buket itu dalam keadaan gelap, yang ada kemungkinan menyimpan sesuatu yang misterius. Mungkin, Dygta telah mengendus sesuatu dan terkena gigitan dari sesuatu yang ia endus. Kau paham maksud nenek?" jelas Nenek lagi.


Nenek melirik ke arah Limin dan lirikannya agak licik. "Aku kira kita dapat menyimpulkan bahwa Constan suka membujuk anak remaja...,"


"Apakah yang anda maksud bahwa Constan membujukku? tanya Limin bernada marah.


"Oh, sayang," panggil nenek sambil menatap ke arah Limin dengan mata seperti sebuah batu akik yang juga dimiliki Constan, "Hanya kau seorang yang senang diperlakukan seperti itu. Tapi, kenapa dengan tatapanmu yang seolah ingin memukulku? Padahal di masa remajaku dahulu, kami semua menyembunyikan sesuatu itu untuk diri sendiri, untuk direnungkan kembali, lalu dihadapi sebagaimana mestinya."


"Ak...aku... tidak tahu kapan aku memiliki maksud seperti itu," kata Limin yang memerah wajahnya karena malu. "Demi Tuhan, apakah hanya karena aku pergi ke Cottage Constan?"


"Kenapa? Apa kau beranggapan bahwa Dygta memiliki daya tarik lebih terhadap Constan dengan tuduhan yang kau layangkan?" tanya Nenek mendengar tuduhan Limin terhadap Constan.


"Aku di sini bukan untuk mendengar hal semacam ini," ucap Limin memutar balikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Bukan itu, Limin! Aku sungguh terhina saat mau menanggap cucuku melakukan tindakan rendahan itu untuk menarik keuntungan dari seorang gadis muda. Aku harus menganggapnya, karena kau telah mengakui mencintai Constan. Kau mengatakan bahwa kau memahami dia. Constan memang anak yang badung, tetapi dia tidak pernah sebejat apa yang kau pikirkan!" Nyonya Peters sungguh muak dengan kelakuan Limin sehingga ia mengucapkan itu dengan terengah-engah.


Sekarang tampak letih Nyonya Peters mengumpulkan hasil rajutannya. Ia berjalan perlahan-lahan dan meninggalkan ruangan itu dengan keangkuhan yang ia miliki.


Guruh makin jarang, kilat pun sesekali mengkilat menembus memasuki kamar Dygta. Hujan pun kehilangan kesengitan yang semula dan mulai mereda. Dygta mendengar terpaan air deras mengguyur sampai hanya rintik air kecil yang terdengar dan keredaan hujan juga meredakan hatinya, namun ia tak dapat bersantai juga. Kejadian sehari itu, dan rasa kehabisan tenaga yang membuat dirinya gelisah, bukan karena dia ingin tidur.


Dygta ingin pergi sejenak untuk dapat membuang segala bayangan tentang itu. Sekarang pun ia sudah mengingat siapa dirinya sendiri. Ingatan itu belum membuatnya senang atau merasa nyaman, karena ia tidak memiliki tempat atau seseorang untuk dirinya kembali. Mau tak mau, dia harus kembali di mana teman-temannya berada. Tak ada yang lain.


Pertama-tama, ia harus kembali ke Torquay, ke penginapan di mana barang-barangnya masih berada di sana dengan harapan ia akan mengambil koper dan hartanya yang tidak seberapa. Buku tabungan yang ia miliki berada di dalam koper itu. Mungkin hanya tersisa sedikit di dalam sana. Bagi Dygta itu melebihi dari cukup dan sangat berarti untuk kelangsungan hidupnya ke depan.


Tiba-tiba Dygta terperanjat kaget mendapati pintu kamarnya dibuka dengan perlahan. "Ini aku, Dygta," ucap Nenek Peters masuk ke dalam kamar itu. Napas wanita renta itu terdengar berat dan aneh. Ia menuju ke kursi dekat tempat tidur Dygta. Ia masih terengah-engah.


"Aku kira kau belum tidur. Apakah Manner mengganggu pikiranmu ?" tanyanya pelan.


"Dia biasanya menelaah terlebih dahulu. Ia tak akan mudah mempercayai hasutan Limin tentang Constan dan aku," ucap Dygta terus tenang walaupun ada kebingungan di dalamnya.


"Apa itu hanya hasutan saja?" tanyanya lagi dengan nada datar.


Wajah Dygta memerah. Ia memegangi lututnya erat-erat dan teringat pelukan Constan dan kecupa*n yang kasar dengan pancaran wajah muram, diliputi dengan sensasi yang menakutkan, sehingga bumi terasa seperti terbelah. Manner sudah pernah memperingatkan dirinya akan hal itu. Dan benar, itu yang dirasakan Dygta saat dia berada dalam pelukan Constan.


"Bagaimana?" tanya Nenek Constan yang memandanginya dengan intens. "Apakah dia melakukan hal itu padamu?"


...****************...

__ADS_1


tbc


__ADS_2