
Bab 23
Satu jam kemudian.
Cokelat panas yang tersedia di cawan telah lenyap diminum habis oleh Dygta Suasana dingin memang cocok untuk menikmati secangkir cokelat panas di depan perapian. Hujan di luar pun perlahan-lahan menghentikan aktivitasnya. Seketika itu juga, Constan mengantar Dygta kembali ke rumah kediaman Peters. Jalan yang diambil Constan yaitu melalui jalan besar kota Brinsham. Mereka hanya berjalan kaki secara beriringan.
Angin berlalu cukup kuat, sehingga membuat mantel yang dikenakan oleh dua orang berbeda jenis itu berkibar-kibar. Dingin menyergap tubuh Dygta, lalu ia mengetatkan mantelnya dengan tarikan kedua lengannya. Kerah mantel pun dinaikkan untuk menutupi leher mereka. Banker tak ingin tinggal berdiam di rumah sendirian. Ia pun mengikuti dua orang itu berjalan di belakang mereka.
Dalam perjalanan mereka menuju rumah kediaman Peters, Constan bertanya, "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Aku akan mengatakannya, dan kembali ke grup event yang di direksi oleh Downline. Aku tidak dapat melakukan apapun bahkan memilih untuk hidupku ke depan," sahut Dygta.
"Kau akan kembali untuk melakukan pementasan?" Dygta kesulitan untuk melihat ekspresi wajah Constan karena tidak adanya penerangan jalan. Cahaya di jalan itu hanya memiliki sinar temaram yang mampu menerangi sedikit jalan raya. Jalan yang basah, membuatnya sedikit menakutkan.
"Apa hanya itu satu-satunya cara yang terlintas dalam benakmu? Manner mungkin saja mempunyai rencana lain untukmu. Apa hal itu sudah kau pikirkan?" tanyanya lagi dengan senyum yang tersembunyi di balik gelapnya jalan.
"Belum. Aku belum memikirkannya." Dygta segera melengoskan pandangannya ke jalan raya yang kosong dan gelap. "Aku bukan gadis yang gila harta akan kekayaan dan menggunakan kesempatan untuk mengeruk hal itu untuk memperkaya diriku sendiri. Aku sadar diri akan hal itu," lanjutnya.
Constan mengembuskan napasnya. Semilir angin menerpa mereka yang berjalan berdua dan seekor anjing di belakangnya.
Wajah Dygta sudah memerah karena kedinginan, angin malam itu sungguh dingin walaupun hujan telah berhenti dengan sempurna.
"Maafkan aku," ucapnya tiba-tiba. Dia teringat akan hal yang tak masuk akal dibenaknya, ketika hujan melanda, Constan menariknya masuk ke dalam pelukannya. Namun, itu hanya sebentar saja, yang mampu membuat jantung Dygta berdegup dengan kencang. Dia pun memutuskan melarikan diri dari pelukan yang hanya sebentar itu. Dan lagi, Constan melihat dirinya yang menyalin dirinya dengan pakaian kering milik Constan, walaupun itu hanya berlampu temaram.
"Mengapa kau meminta maaf, apakah karena kau menghindariku dengan cara melarikan diri?"
"Tidak! Kau tahu apa yang dimaksudkan," sergah Dygta.
__ADS_1
Constan tertawa terbahak mendengar hal itu. "Aku tak mengerti kenapa kau memanggilku dengan panggilan "Tuan Peters"? Apa karena kau sungkan? Atau kau tak nyaman memanggilku dengan sebutan "Constan" saja?" tanyanya lagi.
Pipi Dygta memerah mendengar hal itu. Kenapa hanya nama panggilan saja bisa diperdebatkan sedemikian rumit? Menyebalkan. Dygta hanya diam saja tak menjawab apa yang dilontarkan Constan.
"Apakah aku harus mengecupmu lagi agar kau tidak memanggilku dengan panggilan Tuan?"
Dygta tetep membungkam mulutnya rapat-rapat dan Constan tertawa terbahak-bahak seketika. "Jangan cemas, aku tidak mengulangi perbuatanku saat di cottage-ku."
Mereka berhenti tepat di depan rumah kediaman Peters. Sebenarnya tidak berapa jauh letak rumah kediaman Peters dengan cottage Constan, mungkin sekitar delapan ratus meter.
"Kita sudah sampai. Aku mengantar kau sampai di sini saja. Ku pastikan kau aman untuk melangkahkan kakimu kembali," ujar Constan.
"Terima kasih telah mengantarku."
"Kembali kasih, Dygta." Constan berbalik dan berjalan menjauh sambil memanggil Banker untuk mengikutinya pulang. Tak lupa Constan melambaikan tangannya ke arah Dygta saat Dygta masih melihati dirinya pergi berlalu.
Handle pintu tergerak, lalu kayu itu pun bergerak perlahan.
"Nona, silakan masuk. Seharian seperti inilah kondisi cuaca. Berhenti hanya sebentar saja," ucap David si kepala pelayan.
"Yah. Dingin sekali. Badai yang sebenarnya datang melanda," sahut Dygta sambil melihat sekelilingnya. Malam itu hanya pintu depan yang terbuka lebar, mengode dirinya segera masuk ke dalam.
"Benar. Badai angin yang benar-benar buruk akan terjadi dan memporak porandakan seluruh isi yang ada di daratan," kata David. "Untung saja kita berada di sini, di tanah yang tinggi. Sedangkan permukiman yang berada di pesisir pantai, tidak akan aman dengan datangnya badai seperti ini. Air laut pun dapat menerjang pagar-pagar pembatas untuk memasuki permukiman," lanjutnya lagi sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kemungkinan akan terjadi banjir di sana sebelum fajar menyapa," tambahnya lagi.
Dygta hanya memikirkan kejadian itu dan berdoa semoga tidak mengalami banjir walaupun akan terjadi banjir di daerah sana. Ia masuk lebih dalam ke dalam rumah itu. Memegangi erat tubuhnya menggigil.
__ADS_1
"Nona, Dokter datang tepat waktu, Nona," kata David teringat bahwa Manner telah kembali. "Dia tepat waktu saat kembali dari Plymouth dari dua puluh menit yang lalu. Jika anda ingin menemuinya, saya rasa dokter masih berada di ruang keluarga bersama dengan Nyonya Peters," suara David yang menekankan pada kata ingin menemuinya.
Dygta tak ingin menjawab perkataan dari David. Ia segera berlalu dari sana. Ia hanya ingin menuju kamarnya saat ini sebelum seisi rumah mendapati dirinya, yang terutama untuk Manner Peters. Banyak hal yang ingin diceritakan, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal penting maupun menceritakannya.
Dygta berlari menaiki tangga dengan cepat. Kalah cepat, baru saja anak tangga ke dua, pintu ruang keluarga dibuka. Terdengar langkah kaki yang perlahan keluar dan memunculkan tubuhnya di balik pintu yang terbuka itu. Pandangan matanya mendapati sosok tubuh yang masih berlari ke atas anak tangga.
"Dari mana saja kau baru menampakkan diri?"
Dygta yang dari tadi ingin melangkahkan kakinya ke anak tangga yang berikutnya, mengurungkan diri mendengar ocehan itu. Seketika dirinya menoleh ke arah sumber suara dan di dapatinya suara yang bergema itu adalah suara Limin. Limin yang terlihat memandangi Dygta dengan pandangan mata aneh dengan pakaian yang dikenakan oleh Dygta.
"Kau nampak berantakan! Dari mana saja kau? Tadi kau pun tak ikut makan malam bersama?!" komentarnya.
"Saya terjebak hujan," kata Dygta yang berdiri di atas tangga memandangi Limin dibawah.
Tangannya terkepal dalam saku jaket yang ia pakai. Dia berbalik dan kemudian melangkahkan kakinya.
"Saya akan mengganti pakaian ini. Tak masalah saya tidak ikut makan malam bersama," lanjutnya lagi. Dia tidak ingin mendengarkan apapun dari mulut gadis itu.
"Manner sudah kembali dari konferensinya. Apa kau sudah tahu?" teriak Limin.
"Iya. David sudah memberitahukan kepadaku."
Dygta sungguh beranjak dari sana. Membuka pintu kamarnya dan masuk.
"Padahal aku mau memberitahukannya bahwa Manner mencemaskan dirinya. Huft ...," gumam Limin menatap kepergian Dygta dari bawah tangga.
...****************...
__ADS_1
tbc