The Ring Finger

The Ring Finger
Bab 26


__ADS_3

Bab 26


"Bagaimana?" tanya Nenek Constan yang memandanginya dengan intens. "Apakah dia melakukan hal itu padamu?"


Dygta terdiam sejenak, menarik napasnya dalam-dalam. “Ia mencium*ku,” kata Dygta mendesah.


“Bagaimana bisa terjadi? Apakah kau mau menceritakan awal mula terjadinya?”


Dygta menganggukkan kepalanya dan segera meneceritakan kejadian seperti yang sudah dialaminya. Kata demi kata meluncur begitu saja keluar dari bibir mungilnya. Dia merasa memuntahkan segala isi hati itu akan meringankan dadanya saat ini.


Dia menceritakan sejak meninggalkan rumah. Tertidur dibawah pohon Rowan, dan Constan membangunkan dirinya. Dan seterusnya sampai ia mendadak teringat dirinya karena tindakan Constan.


“Anak itu memang kurang ajar* jika terlintas sesuatu dibenaknya. Hal itu memang tak dapat dibantah.”


Nenek menambahkan, “Dia mencemaskan aku, Dygta. Dia mencemaskan aku. Dia tidak tahu benar dengan kehidupannya sendiri. Sementara diriku, semakin hari semakin tua dan makin merasa letih dari hari ke hari. Semakin mendekati pintu terakhir yang harus ku lalui. Aku sudah melalui banyak pintu untuk sampai ke titik ini, banyak sinar matahari yang sudah menerpa wajahku, tetapi juga banyak pula bayang-bayang. Kukira kau sudah mulai mempelajari dan mengetahuinya.”


Dygta memandangi wanita renta itu, “Hidup bisa kita katakan sebagai gunung juga, kurasa. Kita mendaki dan terpeleset dan menemukan sejengkal tanah dan bisa membiarkan orang lain jatuh. Hal itu terasa sangat mengerikan!” Nenek Peters mengangguk membenarkan perkataan Dygta. Ia teringat rasa ketidakpastian pada masa mudanya sendiri. Ia mengalami hal itu, terpeleset dan menemukan kembali tempat berpijak, kemudian bisa berpijak pada kehidupan dengan harta dan posisi yang di dapat, meskipun terasa sempit juga.


“Apakah kau benar-benar bermaksud untuk meninggalkan kami besok?” tanya Nenek.


“Ya, aku tidak dapat terus menerus tinggal di rumah kalian tanpa tujuan, tanpa pekerjaan. Aku harus berbuat sesuatu.”


“Bagaimana soal uang?” tanya Nenek. “Kau memerlukan uang untuk ongkos perjalanan ke Torquay, dan kau memerlukan uang untuk hidup sampai kau memperoleh pekerjaan.”


“Aku memiliki uang ongkos,” kata Dygta cepat. “Manner telah memberikan uang saku kepadaku, dan ini akan berlebih untuk ongkos perjalanan ke Torquay. Tentunya aku akan mengembalikannya dengan secepat mungkin yang aku mampu.”

__ADS_1


“Kalau dia menyetujui apa yang kau katakan itu,” sahut Nenek dengan datar. “Dia itu anak yang baik, tetapi sungguh semalam nampak sekali terlihat jelas dengan kelakuannya yang buruk, karena didorong dengan rasa cemburu. Selalu harus memaafkan laki-laki jika ia cemburu, Dygta, karena sebenarnya dia memiliki perasaan terhadapmu.”


“Sudah tentu aku akan memaafkannya,” Pipi Dygta memerah seketika. “Dia selamanya akan berbuat baik kepadaku, dan itu untukku. Aku akan membalas budinya dengan pergi ke cottage Constan. Hari ini, saat ia sedang pergi ke Plymouth. Tentu itu berkesan untukku yang menunggu kesempatan saat dia tidak ada di rumah dan dirinya tak menjadi halangan bagiku.”


Dygta memandangi tangannya sambil menunduk. Kemudian dia takupkan di atas lututnya.


“Orang baik hati, memiliki kekerasan dalam diri yang dapat menimbulkan luka hati yang lebih hebat dibandingkan sikap keras yang dilakukan orang yang bisa bersikap sinis.”


“Apakah yang kau maksud orang seperti Constan?” tanya Nenek.


“Ya. Maksudku orang seperti Constan. Orang yang tidak gampang merasa kecewa. Tak ada kebaikan yang dimilikinya, bukan?”ucap Dygta dengan nada gemetar. “Orang selalu demikian berbeda-beda dan sulit untuk dipahami.”


“Ya. Sulit dipahami ketika kita masih muda,” kata Nenek menyetujui hal itu. Nada suaranya yang terdengar mengandung kasih sayang. Dygta merasa berterima kasih dalam hati karena ia memiliki pengertian terhadap hal itu.


“Dengarkan ini baik-baik. Aku bukan membujukmu agar kau tidak pergi besok, tetapi jangan pergi meninggalkan kami, bukan untuk sekarang pada saat kita sudah menjadi dekat seperti ini. Jangan membiarkan rasa harga dirimu sebagai anak muda digerogoti,” kata Nenek lagi sambil tersenyum, “dan membuatmu jauh. Manner menghendaki kau kembali. Ia akan berharap kau menganggap keluarga Peters sebagai rumahmu yang kedua.”


“Jarak yang jauh itu dapat mengaburkan pandangan, namun juga dapat menjernihkan pikiran, dan juga menjernihkan hati. Sekarang berikan tanganmu dan bukalah, aku ingin memberikan hadiah kepadamu sebagai perpisahan.”


Dygta membelalakkan matanya, lalu menarik tangannya kembali. “Tidak, aku...,”


“Ini hanyalah barang yang tidak berharga. Ini dari masa mudaku waktu aku masih penuh dengan ketidakpastian,” ucap Nenek. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kalung dan di sana sudah terdapat buah kalung yang berbentuk kuda laut yang gemerlap. “Bagus, kan?”


“Ya, bagus. Tetapi..,”


“Diamlah. Biarkan aku memakaikan ini untukmu,” ucap Nenek langsung mengenakannya pada leher Dygta. Tangan wanita itu agak gemetaran. “Kuda laut yang malang. Ia harus di dada seorang gadis muda yang hangat, karena ia sudah terlalu lama dalam kotak yang pengap dan dingin. Nah, mata kuda laut itu sekarang mulai bersinar, berkilauan. Apakah kau menyukainya?”

__ADS_1


“Aku... aku tidak dapat berkata-kata lagi. Dan aku tidak dapat menolaknya selain untuk menerima pemberianmu,” sahut Dygta. “Sungguh, ini terlalu baik untuk anda memberikan hadiah ini kepadaku,” lanjut Dygta sambil memandangi kuda laut itu.


“Tentu ini sangat besar nilai atau pun harganya, Nyonya!” Dygta memandangi wajah wanita yang ada dihadapannya.


“Berharga? Benarkah? Seorang laki-laki muda memperoleh ini dari hadiah yang dimasukkan ke dalam lotere gula-gula dan diberikan kepadaku untuk imbalan sebuah kissing.” Tentu saja Nenek tidak mengucapkan kata-kata seperti itu, karena itu hanya dalam pikiran Dygta saja.


Nenek pun berucap, “Dygta, apa yang kau pikirkan benar. Bahwa kau memang tepat benar melangkah meninggalkan kami. Kau sungguh terlalu muda dalam menjalani kehidupan di dunia ini seorang diri.”


“Aku tidak tahu pasti. Aku seorang diri pada delapan bulan terakhir ini. Namun aku sekarang sudah memiliki jimat. Paling tidak aku akan menyimpannya terus dengan baik, kalau pun ini tidak bernilai tinggi saat dijual. Simpan kuda laut itu dan jangan banyak memperdebatkan hal yang tidak penting,” lanjut Nenek. “Itu pemberian seorang laki-laki muda yang bertahun-tahun lalu. Ia pergi berperang dan tak pernah bertemu lagi denganku. Aku berikan itu kepadamu agar kau memiliki kemauan dan ketabahan sebagai kualitas yang memberikan ini kepadaku. Dan kuharap kau berhati-hati, Dygta.”


“Nyonya...,”


“Apa, manis?”


“Terima kasih atas segala kebaikan hati anda.”


Nenek bangkit menuju pintu dan berpaling memandangi Dygta. “Tahukah kau sebenarnya siapa yang kau cari itu, Dygta? Apakah kau tahu dirimu sendiri?”


Kemudian dengan penuh senyuman Nenek meninggalkan kamar itu. Ia membawa lampu melalui jalan sempit sambil mengucapkan sesuatu.


“Selamat beristirahat, Dygta.”


Dan semuanya menjadi terasa sunyi, hening sesudah ia pergi.


...****************...

__ADS_1


tbc


__ADS_2