
Bab 32
Dygta mengagumi rumah indah itu. Melihat Dygta seperti itu, Constan tersenyum dan menganggap bahwa Dygta merupakan anak kecil yang senang sekali dengan nuansa rumah baru yang mewah dan sangat luas.
Lantai yang dimiliki rumah itu berwarna hitam putih, seperti dalam dongeng Yunani, namun bersuasana meriah dan mewah juga. Dygta menyadari bahwa tampilan rumah itu pun juga sekaligus memiliki ruang perpustakaan juga.
Rak buku yang berbentuk khusus sampai mencapai langit-langit yang dipenuhi dengan buku-buku. Rak itu pun di dekorasi sedemikian rupa, dikombinasikan dengan akuarium dan berbagai hiasan yang bernuansa klasik, juga terdapat berbagai tokoh penulis maupun drama terkenal dalam bentuk patung ataupun gambar. Berbagai benda antik juga banyak yang bernilai untuk disimpan dalam museum.
Terdengar Constan berseru. “Vody, di mana kau? Apa kau tahu kami sudah sampai di sini?”
“Oh, kau! Pergilah dulu. Kau tidak sabaran sekali! Apakah perutmu sudah berteriak bagaikan naga yang kelaparan?” gumam suara berat di bagian dapur. Kemudian muncul seorang wanita gemuk berambut yang memutih sambil mengusap tangannya pada apronnya.
Vody merupakan wanita keturunan Irlandia seperti ibunya Dygta. Mendadak Dygta bertindak kekanak-kanakan gembira menyelimuti dirinya dan ia tersenyum lebar kepada Nyonya Vody itu.
__ADS_1
Vody nampak mengamati penuh rasa tersentak karena melihat kaki kecil dengan mantel lusuh, memakai penutup kepala yang akan terjatuh. Constan biasanya membawa wanita yang selalu berpenampilan wah dan selalu mengenakan parfum mahal seperti chanel, tidak seperti Dygta sekarang.
“Dygta, inilah Nyonya Vody,” kata Constan mengenalkan. “Ia selalu mengomel seperti wanita tua pada umumnya tetapi kalau memasak seperti bidadari. Enak sekali. Aku mempertahankanya karena masakannya.”
“Siapa yang berbicara sembarangan seperti itu?” sahut Vody sambil memandangi Constan dari atas sampai ke bawah. “Segala sesuatu memenuhi dirimu itu, hei Constan.”
“Vody, apakah tidak ada kata mesra untuk menyambutku yang sudah beberapa minggu ini pergi dari rumah ini?” tanya Constan terkekeh kecil sambul menjentikkan cerutunya pada asbak yang tersedia di sana.
“Ya, kau sudah mengatakan apa yang terjadi pada Banker. Ia kehilangan satu matanya, kan? Kasian sekali dia. Aku tahu kedatangan Banker itu bersama anak lelaki manis ini,” Vody bersikap seperti akan berkelahi . “Nah, apa yang terjadi Constan? Mengapa kau tidak menjaga dia dengan baik sampai ia kehilangan satu matanya seperti itu?”
“Aku berhak marah setelah bertahun-tahun aku memasak dan membersihkan rumah untukmu, dan melayani gadis-gadis sahabatmu, sekaligus menjadi tukang menjaga telepon. Selalu harus menjawab kau pergi. Padahal kau duduk di rumah sambil menggoyangkan kakimu.” dengan kata terakhir, ia mengepalkan tinjunya sehingga membuat Dygta sungguh meningat ibunya ketika ia marah kepada ayahnya. Dygta pun tak sengaja mengulum tawanya saat melihat tingkah laku mereka berdua.
“Jadi apa yang terjadi terhadap Banker?”
__ADS_1
“Ia menabrak duri sampai menancap ke dalam matanya, Vody!” jelas Constan.
“Nona Blair mendapati Banker. Ketika itu ia menjadi tamu saudara sepupuku, berjalan-jalan dan menemukan Banker dan langsung membopongnya pulang sehingga kami dapat segera membawanya ke dokter hewan sebelum terkena infeksi. Memang sayang kehilangan sebuah matanya, tetapi kalau saja kami terlambat bisa kehilangan semuanya.”
“Syukurlah,” kata Vody memandangi Dygta dan ia mulai ingin tahu siapa gadis itu.
“Nona Bliar datang ke London akan melakukan percobaan untuk ikut memegang peran dalam adegan drama yang juga aku mainkan, Vody. Dan dia adalah seorang aktris,” jelas Constan.
“Oh begitukah? Aku tidak menduganya,” katanya sambil lebih mengamati Dygta.
“Dan itu suatu kehormatan,” sahut Constan.
...****************...
__ADS_1
tbc