
Tak berapa lama, ia meninggal di sebuah rumah sakit di Yarmouth sambil memegang tangan Dygta, memandangi anak perempuannya dan tersenyum bahagia untuk meninggalkannya saat itu. Betapa Dygta meraung kehilangan atas kematian ayahnya setelah kematian ibunya.
Pada saat itu Dygta berumur delapan belas tahun. Dia tidak tahu menahu selain memerankan naskah drama yang ada di pentas panggung. Dia tetap mengembangkan talenta yang dia miliki untuk lebih lugas memerankan perannya di atas panggung. Tetapi seiring berjalannya waktu, dirinya merasa memiliki banyak kontrak dan melakukan pekerjaan yang berdasarkan pementasan, tak sebanding dengan apa yang dihasilkannya. Upah yang diberikan pada saat itu sangat jauh berbeda dari apa yang dia bayangkan. Tak pernah bisa mencapai kesuksesan dan ketenaran yang ia harapkan.
Dygta tahu sekarang berkat naskah yang dibacanya di cottage Constan. Ingatannya kembali seketika secara ajaib. Dia mengingat runtutan yang telah ia lakukan di masa lalu. Dia mencoba keluar dari identitas dirinya yang sebenarnya karena ingin melupakan kepahitan yang begitu besar dalam dirinya. Saat itu dia sedang melangsungkan pementasan diri di panggung yang cukup besar, dan melarikan diri dari sana dengan menggunakan sendal kamar tidur yang merupakan atribut pementasan. Bibirnya yang lembut itu merasakan perih yang tak terkira dikarenakan lawan mainnya yang tergila-gila padanya, memasuki ruang rias secara paksa dan tidak tanggung untuk mengecup bibirnya, menuntaskan nafs* b*Rahi yang di alami pria itu. Jorge Downline! Sungguh kasar sekali sikap dirinya terhadap Dygta.
Dia pernah melakukan adegan itu di atas panggung saat pementasan berlangsung, dan itu hanya sekadar untuk melengkapi keseluruhan adegan romantis. Downline juga biasanya datang untuk mengajak makan malam bersama atau hanya sekadar mendiskusikan tentang naskah yang akan dibawa oleh mereka. Tetapi saat itu dia datang dengan tergesa-gesa, memasuki ruang rias dengan kasar, meraih tubuh Dygta dan mendekap dirinya dengan erat. Bahkan bibir tebalnya langsung **********. Tak ada yang bisa dilakukan Dygta waktu itu. Dia tak sempat mengelak ketika Downline datang.
Beberapa menit berlalu, ia pun mengingat apa yang diajarkan oleh ayahnya untuk membela diri saat terjadi kejadian darurat. Tak segan dirinya melayangkan satu kaki ke atas. Dan...
"Aww..."
Downline tersungkur kesakitan, lalu berguling-guling di lantai yang dingin. Dygta tanpa berpikir panjang, meninggalkan ruang rias itu dan pergi menjauh, sejauh mungkin.
Dygta menatap ke arah Constan yang juga menatap dirinya.
"Aku ingat siapa aku. Aku ingat jati diriku. Aku Blair Fulton, Aku melarikan diri dari grupku yang melakukan pementasan di Torquay. Aku melarikan diri entah ke mana. Sampai ketika ada bus yang melintasi kota itu, aku menyetop dan menaikinya. Seharusnya aku sudah meninggalkan grup pementasan itu sejak lama. Sejak meninggalnya ayahku. Tapi aku terlalu cinta dengan panggung dan pementasan. Aku menundanya. Dan tibalah saat itu, aku memutuskan untuk melarikan diri. Dan pada saat itu, aku hanya memiliki uang pas-pasan untuk menaiki bus. Aku tak tahu bus akan membawaku ke mana. Berakhir adanya pemeriksaan tiket bus, aku kehilangan tiketku dan aku diberhentikan, lalu aku turun di kota Brinsham. Aku hanya mengikuti instingku untuk berjalan, dan berjalan..." jelas Dygta.
Dygta menyugarkan rambutnya yang sedikit berantakan dengan jarinya. Wajahnya yang memucat dengan mata yang terlihat sangat muram. Constan memegang lengannya dan mendekat ke arah dirinya.
"Aku tidak berwenang untuk mengomentari tentang dirimu yang melarikan diri itu. Maaf tentang insiden itu."
__ADS_1
"Kau tidak mempercayaiku?" tanya Dygta dengan lirih.
Seketika pendengarnya menangkap pertanyaan itu, dia langsung tertawa terbahak dengan penuh ejekan.
"Apakah kau menyuruhku untuk mempercayai setiap cerita orang yang hilang ingatan dan mempercayai dirimu yang menghilang dari pekerjaannya?" kata Constan. "Tanpa ada orang yang dapat aku tanyai kebenarannya?"
Dygta hanya menatap Constan dengan intens. Tak salah, jika Constan tak mempercayainya.
"Bagaimana dengan direktur mu?" Tentu saja dia akan mencari dirimu sebagai anggotanya. Karena dia mencomot sembarang orang, lalu melatihnya secara sukarela, dan menjadikannya seseorang yang dapat memerankan peran di dalam suatu drama pementasan Opera. Dan itu tidak mudah untuk melatih agar berhasil, butuh berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan."
"Kau salah! Dia tidak akan pernah mencari diriku. Dan kami bertengkar," Dygta mengusap rambut dan matanya yang basah dan memandangi Constan sekilas. "Aku rasa dia sudah memberitahukan kepada grup kawananku di sana, mengatakan bahwa aku keluar dari grup pentas mereka. Aku yakin merekapun percaya akan hal itu. Karena mereka tahu aku tidak bahagia bekerja dengan Downline."
"Aku tidak pernah ikut ke penginapan yang mereka sewa. Aku menyewa sendiri untuk diriku sendiri, karena aku tidak mau dekat dengan Downline," sahutnya dengan nada suara yang lirih namun masih terdengar ditelinga Constan.
"Aku menyewa di satu penginapan yang menurutku, pemiliknya melakukan aktivitas illegal di rumahnya. Ya, malam itu, tak sengaja aku mendengar sebuah truk yang berhenti di situ. Dalam kondisi seperti itu, pemiliknya tidak ingin melaporkan terkaitnya hilangnya diriku, karena pemiliknya mungkin saja takut akan razia yang dilakukan oleh kepolisian. Maka dari itu, mereka tidak panik ketika aku tidak pulang atau bahkan aku hilang," ujarnya lagi menjelaskan.
"Apa kau berharap aku akan percaya bahwa kau seorang diri tinggal di tempat seperti itu?" tanya Constan dengan pandangan tak percaya.
Dygta segera mengambil napas perlahan dan menghembuskannya keluar. Pandangannya sedikit muram.
"Kau tahu, setelah ayahku meninggal, aku selalu seorang diri. Aku lebih percaya pemilik penginapan itu daripada direkturku sendiri. Bagaimanapun itu, ketika kau sudah terjun ke dalam kehidupan yang penuh dengan sandiwara, kau harus memiliki sikap yang selalu waspada. Ayahku selalu mengingatkanku akan hal itu, walaupun ayah sering tidak waspada. Sampai akhirnya ayahku meninggal."
__ADS_1
Tak terdengar sepatah katapun keluar dari masing-masing mulut mereka. Hening.
"Sepertinya ceritamu ini dapat dipercaya," kata Constan beberapa saat kemudian.
"Dapat dipercaya? Bukankah kebenaran selalu dapat dipercaya?" kata Dygta dengan sinis.
Dygta membuang pandangannya ke arah tungku api. Menghangatkan dirinya di sana. Masih terbayang akan kejadian-kejadian yang lalu yang dia lupakan sejenak. Suasana di luar terus saja diguyur dengan hujan deras. Hujan tidak lebih dingin dari kata-kata Constan, atau malam tidak lebih muram dari pada pandangan Cosntan.
Samar-samar Constan tersenyum yang mirip sekali dengan Adam Peters. Dilihatnya Dygta yang gemetaran.
"Hei, hentikan tubuh gemetarmu itu! Aku bukan direktur tempat kau bekerja. Kau tidak perlu takut aku akan memakan bibirmu dengan kasar. Tak akan terjadi dengan apa yang telah ku perbuat dibawah tadi," ucap Constan tegas.
"Pakailah baju ini, untuk menghangatkan tubuhmu. Kau tidak akan bisa pulang ke kediaman Peters kalau kau hanya memakai baju satu lapisan saja," suruhnya lagi.
Seketika Dygta. berpikir, "Pulang ke kediaman Peters? Tetapi Rumah itu bukan rumahku. Aku tidak memiliki rumah di dunia ini!"
...****************...
tbc
"
__ADS_1