The Sandwich Generation

The Sandwich Generation
Alin


__ADS_3

Karena lelah menangis akhirnya aku tertidur dengan sendirinya aku merasa seseorang menyelimuti tubuh ku aku mengintip ternyata Alin sedang menyelimuti tubuh ku.


Dia merapikan selimut hingga keujung kaki ku memastikan semua tubuh ku terselimuti sejurus kemudian dia merebahkan tubuhnya di samping ku.


Kembali aku melirik kearahnya dia rebah dengan posìsi terlentang tampak termenung memandangi langit langit kamar kami, entah apa yang ada di benak anak remaja yang baru duduk di bangku SMP itu,


Ada sedikit rasa bersalah karena malam tadi sempat aku memarahi nya dengan kata kata yang cukup pedas untuk di terima anak seusianya tapi di satu sisi memang dia harus belajar mengerti keadaan kami.


Tidak lama kemudian aku melihat butiran air mata meleleh dari sudut matanya rasa bersalah kian mendera hati ku melihat anak sekecil itu menangis dalam diam.


" Lin.. tidur besok sekolah kenapa nangis?, sudah jangan cemas kakak usahakan uang study tour mu itu." Ujar ku bangkit sambil beringsut mendekatinya.


Alin yang mengira aku sudah lelap tertidur tampak kaget dan segera mengusap air mata di kedua sudut matanya.


" Kakak belum tidur?." Tanya nya heran


" Sudah cuma kakak terbangun waktu kamu selimuti kakak tadi."


" Yaudah yuk tidur." Ajak ku sambil mengusap kepala nya.


" Kak tidak usah di paksakan Alin gak papa kok gak ikut." Ujarnya lirih.


Mendengar kalimatnya membuat hati ku terasa teriris kembali kuusap kepalanya sedih sekali aku melihat wajah polosnya itu , kenapa dia mesti terlahir di tengah tengah keluarga ini di tengah keluarga yang terhimpit secara ekonominya.


" Sssst udah gak usah di pikirin tugas kamu hanya sekolah yang rajin, supaya kelak bisa punya kehidupan yang lebih baik." Hibur ku.


" Kenapa ya kak kita miskin kenapa kita tidak seperti orang lain." Ujar nya airmatanya kembali berderai.


" Tidak boleh bicara seperti itu semua sudah di gariskan oleh Allah dek."


" Sesusah susahnya kita masih ada yang lebih susah, intinya bersyukur ngerti?." Imbuh ku dia mengangguk dan berusaha memejam kan matanya.


****************


Siang ini aku menemui bang Togar rentenir yang biasa meminjam kan duit khusus untuk anak anak pt dan karyawan mall seperti ku, untuk mengajukan pinjaman buat study tour adik ku.


" Bang seperti biasa aku butuh uang ." Ujar ku.


" Berapa kau butuh." Sahutnya.

__ADS_1


" 4 juta bang bisa."


" Besar kali untuk apa rupanya?."


" Adik ku bang ingin ikut study tour." Ujar ku lirih.


Kami sudah akrab karena seringnya aku mengajukan pinjaman uang padanya.


" Semangat lah kau sikit, siapa tahu kelak adik kau itu bisanya angkat derajat keluarga kau." Hiburnya.


" Iya bang ,Aamin makasih ya bang."


“ Diam diam kau ini khusus kau tidak pakai potongan karena aku pun pernah di posisisi kau. “ Ujar bang togar sambal menghitung uang yang hendak di serakan pada ku.


“ Terima kasih bang.”


Aku sedikit lega uang sudah ku kantongi kini adik ku setidaknya tidak perlu merasa minder dengan teman teman satu kelasnya.


Saat aku ingin menuju masuk kedalam tempat ku bekerja ponsel ku berdering mata ku terbelalak karena nomor yang menghubungi ku adalah nomor Mas Agung ,lelaki yang pernah membuat ku nginap di sel kantor polisi satu malam.


Aku reject karena aku tidak mendapat masalah seperti dulu trauma belum hilang dari ingatan ku bagaimana aku di jemput polisi meski peristiwa itu sudah lama terjadi .


“Hallooo.!!” Ujar ku judes.


“ Assalamualaikum Lisa masih marah ya dengan saya?.” Sapa mas Agung dengan suara lembut


“ Kenapa, mau bikin saya dalam masalah lagi?!.” Bentak ku.


“ Ya Allah sa jangan suudzon dulu, semua manusia bisa berubah.”Mas Agung masih bicara dengan suara lembut dan sabar.


Mas Agung menjelaskan Kenapa dia menghubungi ku lagi setelah dulu menyebabkan masalah buat ku.


Aku yang masih trauma belum sepenuhnya percaya pada kata katanya , mas Agung Kembali meyakinkan kan ku bahwa benar benar sudah berubah tapi aku tetap pada pendirian ku.


“ Ya Allah apa perlu saya video call di dalam kantor polisi bahwa saya benar benar sudah bebas dari masalah?.”


“ Terserah bukan urusan saya !.” Sahut ku masih dengan perasaan kesal .


Segera ku akhiri panggilannya rasa kesal atas perbuatannya dulu masih menggunung di hati ku, tidak mungkin aku begitu saja memaafkan orang yang pernah menyebabkan masalah padaku.

__ADS_1


Di depan escalator aku berpapasan dengan Emi rekan kerja ku dia menjepit bibir ku dengan kelima jarinya sambal cengengesan.


“ Ya elah itu bibir nanti jatuh tuch bu.” ledeknya . karena melihat muka yang masam dan bibir yang cemberut.


“ Hhahah kesel gw hari ini.” tak urung tingkah Emi membuat ku terkekeh dia merangkul kan tangannya ke pundak ku kami segera menuju tempat kami bekerja


.


“ Kenapa ? cerita dong biar gak manyun melulu.” tanya nya.


“ Nanti Mi gw ceritain .“ sahut ku.


“Ok”.


Hari ini mall sangat ramai karena menjelang akhir tahun dan banyak pengunjung yang mampir ke stand kami lumayan banyak item yang terjual. Baik oleh ku maupun Emi kami tersenyum gembira melihat banyak nya item yang terjual.


“Alhamdullilah ya Mi penjualan hari ini.” cCeletuk ku saat kami tengah menikmati bekal kami.


“ Ho’oh moga moga kita bisa capai target bulan ini .“ sahutnya.


“Aamiin.” kami buru buru mencuci tempat bekal kami dan segera kembali ke stand.


Waktu makan siang masih tersisa 20 menit lagi iseng iseng aku membuka ponsel ku ada banyak pesan yang masuk melalui whatsapp.


mas Agung belum menyerah dia mengirim kan pesan karena tadi aku masih kesal saat bicara di telefon.


“ Lisa saya tahu saya pernah menyebabkan kamu dalam masalah beberapa waktu yang lalu tapi saya sekarang menyesal saya ingin meminta maaf dan menebus kesalahan saya.”


“ Saya maklum jika kamu tidak bisa memaafkan tapi setidaknya saya sudah berusaha untuk minta maaf masalah kamu tidak memaafkan itu hak kamu.”


Degh !aku merasa tertampar dengan pesan yang mas Agung kirim kan aku merasa menjadi manusia yang sombong .


Aku juga banyak melalukan banyak kesalahan tapi Kenapa aku tidak bisa memaafkan kesalahan mas Agung?.


Air mataku merebak dan menetes membasahi pipi ku aku merasa malu dan bersalah pada mas Agung dia sudah merendahkan hati meminta maaf tapi aku mengeraskan hati.


Aku kembali menyimpan ponsel ku di loker dan berjalan menuju stand Emi rupanya memperhatikan ku wajah ku hari ini yang tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa sa? nggak seperti biasanya cerita sini." ujar nya sambil merengkuh bahu ku.

__ADS_1


__ADS_2