The Sandwich Generation

The Sandwich Generation
Jadi madu?.


__ADS_3

Setelah mentraktir kami malam itu Pak Margono begitu intens menghubungi ku.


Jujur saja hal ini membuat aku sedikit tidak merasa nyaman, terlebih lagi usia nya jauh diatas ku meski dari segi penampilan tidak terlihat kuno tapi tetap saja terlihat jika beliau sudah berumur.


Dengan terang terangan beliau mengatakan


bahwa beliau sedang mencari istri ke dua,saat aku bertanya apa alasan beliau ingin poligami beliau menjawab bahwa istrinya sedang sakit.


Sehingga tidak bisa lagi menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani kebutuhan Pak Margono sebagai lelaki yang masih tinggi nafsu nya.


Pak Margono sendiri begitu terbuka bercerita tentang anak anaknya anak sulung nya sesusia dengan ku dan kini sedang kuliah di luar kota , sedang kan dua lainnya masih duduk di bangku SMA.


Dengan lugas Pak Margono bertanya pada ku apakah sekiranya aku bersedia jika aku dijadikan sebagai istri ke duanya.


Untung saja aku tidak jatuh pingsan saat mendengar pertanyaan nya , jujur aku tidak siap untuk menjadi seorang madu.


Aku punya mimpi untuk menikah dengan orang yang mencintai aku, bukan karena merasa iba tapi memang di dasarkan cinta yang tumbuh dari hati nya.


Sedangkan yang aku lihat Pak Margono meminta ku menjadi istri sirinya karena merasa iba dan terdesak kebutuhan nya sebagai seorang lelaki.


“ Mbak jika mbak bersedia , setidak nya saya bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarga mbak."


"Maaf bukan bermaksud merendahkan mbak tidak ingin melihat ibu dan bapak nya bahagia di usia senjanya?.”


Sejenak aku terdiam mendengar ucapannya yang jujur saja sedikit menyinggung perasaan ku seolah olah kedua orang tuaku terlihat begitu menderita dengan keadaan kami.


Apakah keadaan kami terlihat begitu menyedihkan di mata orang lain? Ujarku dalam hati.


Toch selama ini meskipun kami hidup pas pasan bahkan kadang kami menjadi kan rempeyek mamak yang tidak laku sebagai lauk kami makan.


Tapi kami masih bisa tersenyum dan bersandau gurau satu dengan yang lainnya tidak pernah menjadi kan keterbatasan kami sebagai sebuah ratapan.


“ Maaf pak saya belum bisa memberikan jawabannya sekarang ,karena ini bukan menyangkut tentang saya saja."


"Ada adik adik saya yang masih menjadi tanggung jawab saya.” Jawab ku dengan hati hati karena tidak mau menyinggung perasaan nya.


“Ouuh ndak apa apa, saya tidak terburu buru kok mbak.” Sahutnya.

__ADS_1


Aku di landa dilema sejak pertemuan dengan Pak Margono di sore itu .


Aku tahu dan yakin beliau bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kami ,mengingat beliau adalah seorang pengusaha cathering yang sukses dikota ku.


Tapi harus kah aku menerima tawarannya demi kehidupan yang lebih mapan? bukan kah ini namanya menjual cinta?.


Saat kami tengah menonton sinetron di ruang tamu diam diam aku mencuri pandang kearah mamak dan adik adik ku Dita serta Arif.


Seandainya aku menjadi istri Pak Margono kalian tidak perlu menunggu hanya untuk sekedar makan seafood .


Jika aku menjadi Pak Margono ayah dan mamak tidak perlu lagi memeras keringat demi mengepul nya asap dapur.


Begitu banyak kata jika yang terus berseliweran di dalam benak ku, jika ini jika itu, besok nya aku curhat dengan Emi sahabat sekaligus rekan kerja ku.


“Mi kalau ada yang menawarkan kehidupan yang lebih baik pada kamu, kira kira kamu mau tidak? dengan syarat kamu dijadikan istri keduanya.”


“ Untuk kehidupan lebih baik aku mau, tapi untuk jadi istri kedua aku tidak bisa membayang kan, emang kenapa kamu tiba tiba nanya gitu?.”


Aku hanya menggelengkan kepala sambil pura pura sibuk merapikan barang display, Emi menghampiri ku dan memegang bahu ku.


“Sa jawab , kamu tidak mungkin nanya tanpa alasan.”


Emi menganggukan kepalanya sambil tersenyum kearah ku.


Aku menjelaskan pada nya bahwa aku di tawari untuk menjadi istri kedua Pak Margono laki laki setengah baya yang mentraktir kami malam itu.


“ Serius kamu? tapi coba di fikir ulang apa kamu siap berbagi suami? apa kamu siap untuk tidak cemburu saat dia pulang kerumah istri tuanya?.”


Emi melontarkan banyak sekali pertanyaan yang membuat nyali ku justru semakin ciut, aku meresapi apa yang Emi tuturkan siapkah aku dengan semua itu sanggup kah aku membayangkan suami ku bermesraan dengan istri sah nya?.


“ Coba kamu sholat tahajjud dan istikharah untuk minta petunjuk sa.”


“Aku tidak bisa menyarankan menerima atau menolak karena yang menjalani itu kamu nantinya.”Selorohnya.


Aku mengangguk mengiyakan anjurannya , selang dua minggu kemudian Pak Margono Kembali menghubungi ku untuk menanyakan jawaban ku.


Karena setelah mengikuti anjuran Emi sholat tahajjud dan istikharah hati ku mantap untuk menolak tawaran Pak Margono tapi aku takut ia akan tersinggung dan menganggap ku sebagai orang yang tidak tahu diri.

__ADS_1


“ Saya mohon maaf yang sebesar besarnya , saya takut bapak kecewa nantinya jadi jawaban saya tidak.” Ujarku sama kami terhubung melalui panggilan telfon.


“Ooouh ya sudah tidak apa apa mbak , tapi silaturahmi yang sudah terjalin jangan sampai terputus ya.” Sahut nya seraya mengakhiri percakapan kami siang itu.


Aku merasa sangat lega biarlah aku melewatkan kesempatan ini yang penting aku tidak tertekan secara bathin.


Seandainya aku menerima tawarannya menjadi istri keduanya ematah apa yang akan terjadi , aku tidak tahu apakah aku sanggup nantinya.


Aku akan berusaha membahagiakan mereka dengan jalan ku sendiri ujar ku dalam hati.


“ Lisa nanti sebelum pulang kamu kekantor ya.” Ujar Bu Hana .


Aku dan Emi saling berpandangan dan menerka nerka kira kira kenapa aku di minta kekantor sedangkan aku tidak merasa berbuat salah.


“ Aduh mi aku kok jadi merasa tidak enak ya? kira kira ada apa.”Keluh ku pada Emi.


“Datang aja dulu biar jelas dari pada sibuk nebak nebak terus ketakutan.” Saran Emi.


Dengan perasaan was was aku melangkah menuju kantor


TOK..TOK.. TOK.!


“Masuk!.” Sahut seorang perempuan dari dalam ruangan kantor.


Di dalam bu Mariana manager kami menyambut dengan tersenyum ramah.


“Maaf ibu memanggil saya?.” Tanyaku dengan sedikit tegang.


Bu Mariana Kembali menyunggingkan senyum ramah yang membuat ku sedikit lega ia menjelas kan bahwa pihak management telah mempertimbangkan untuk memindahkan ku ke Mall yang lebih besar dilihat dari kinerja dan masa kerja ku.


Aku tidak bisa menutupi rasa girangku karena di pindahkan ke mall yang lebih besar tentunya pengunjung pun lebih ramai.


“Betul bu? Saya di pindahkan kesana?.” Tanya ku dengan senyum sumringah.


Bu Mariana hanya mengangguk kan kepala sambil kembali tersenyum melihat reaksi ku yang kegirangan.


Setelah mengucapkan terimakasih dan menerima seragam baru aku pamit pulang pada Bu Mariana sepanjang perjalanan pulang hati ku sangat gembira sambil bersenandung kecil aku mengendarai motor menuju rumah.

__ADS_1


Di satu sisi aku merasa senang akhirnya aku bekerja dengan suasana baru, karena sejujur nya aku sudah cukup jenuh dengan tempat kerja yang lama ,tapi disi lain aku merasa berat berpisah dengan Emi sahabat kental ku.


__ADS_2