
Sementara itu bang Nasrul kembali menghubungiku untuk meminta kepastian kapan kiranya dia bisa memboyong keluarganya kekota ini , tentu saja merasa geram karena aku merasa semua beban di limpah kan pada ku.
Kenapa mereka tidak pernah berfikir bahwa aku hanyalah seorang karyawan sebuah pusat perbelanjaan di sebuah mall yang tentu saja hanya mengandalkan gaji, ditambah bonus penjualan itu pun jika aku bisa mencapai target yang sudah ditentukan.
Jika tidak ya hanya mendapat gaji pokok dan uang makan belum lagi jika terdapat kehilangan maka aku harus rela gaji ku di potong untuk mengganti kerugian perusahaan .
Lalu bagaimana mereka dengan entengnya menggantungkan segala sesuatunya di pundak ku?.
“Bang abang itu pernah berfikir tidak? dari mana adik mu ini bisa dapat uang?.” Ujar ku saat kami tengah berbincang melalui telfon
“ Ya kan abang minta tolong dek, sebagai saudara harus tolong menolong?.”
“ Sebagai saudara harus tolong menolong ya bang? Sekarang aku tanya dimana kalian saat aku harus membiayai Alin Arif dan Dita kenapa kalian tutup mata ?. "
“ Kenapa kalian tidak bertanya apakah butuh bantuan atau tidak? kenapaaaa!!!.”
Pekik ku di telefon karena sudah tidak sanggup menahan beban yang menghimpit ku.
“ Ya allah dek kalau pun tidak bisa ya tidak usah berteriak, sakit hati abang dek” Sahut bang Nasrul.
“ Karena aku sudah tidak tahan lagi bang kalian fikir aku ini punya percetakan uang? Aku ini kuli bang ”
Aku tidak sanggup lagi menahan air mata saat menumpah kan segala uneg uneg ku bang Nasrul tidak berkata kata lagi akhirnya telfon terputus begitu saja.
Malam nya ayah dana mamak mengintrogasi ku rupanya bang Nasrul mengadu pada Ayah dan mamak tentang percakapan tadi pagi
" Sa ayah mau bicara sama kamu." ujar ayah sambil menghisap rokok kreteknya bau asap memenuhi ruang tamu ynag hanya berukuran 2x3 meter itu.
Uhuuk.. uhuuk ..uhuuk! Aku terbatuk mencium asap sekaligus bau rokok ynag membuat nafas ku sesak itu.
" Aduh ayah kenapa sich masih juga merokok kan dokter sudah melarang, lagian yah yang lain juga terkena dampaknya nanti." Ujar ku sedikit jengkel karena melihat ayah yang tidak mengindahkan nasehat dokter untuk berhenti merokok.
" Kalau sudah takdir nya mati tanpa merokok juga bisa mati, " Selorohnya sambil terus mengepulkan asap dari mulut dan lubang hidung nya.
" Ya sudah Ayah mau bicara apa?." Tanya ku. sambil memencet tombol remote untuk mencari saluran televisi favorit ku.
" Tentang abang mu, tadi dia telfon ayah katanya kamu berteriak saat kalian bicara di telfon benar begitu?."
" Benar, Lisa sudah lelah yah kalian seakan tidak mengerti Lisa hanya kuli yah bukan pemilik percetakaan uang."
" Jadi tidak bisa dengan mudah memberikan apa yang kalian minta begitu saja." Lanjut ku.
__ADS_1
Mendengar ucapan ku Ayah mematikan puntung rokok ke dalam asbak dengan sedikit kasar.
" Jika saja tuhan adil tidak mungkin kehidupan kita seperti ini , tidak mungkin ayah mau jadi beban anak anak.
Kalau bukan anak siapa lagi yang menolong orang tua." Ucap ayah sambil kembali menyulut sebatang rokok lagi.
" Tidak baik menyalah kan Tuhan yah, rezeki, jodoh maut sudah ada porsinya." Sahut ku merasa tidak nyaman dengan ucapan ayah.
" Ayah tahu , tapi kenyataan nya seperti ini mau ngomong apa?."
" Nak kalian kan kak beradik cobalah tolong menolong diantara kalian." Ujar mamak nimbrung pembicaraan kami.
"Mak bukan aku tidak mau bantu tapi untuk membayar uang study tour Alin saja belum ada pandangangan dari mana dan bagaimana mendapat kan uang nya." Sergah ku.
Mamak dan ayah terdiam mendengar perkataan ku barusan .
Tiba tiba terdengar orang mengucapkan salam dari luar
" Assalamualaikum."
" Waalaikum salam." Sahut ayah sambil beranjak keluar menemui orang yang mengucapkan salam tadi.
tidak lama ayah masuk kembali kedalam rumah untuk berpamitan pada mamak.
" kemana?."
" Ada undangan kenduri di blok A. "sahut ayah
setelah ayah pergi aku kembali meneruskan percakapan kami.
" Lin.. Sini panggil ku." Pada Alin adik perempuan ku yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP
Alin beringsut mendekat pada ku .
" Kamu di wajibkan ikut study tour itu?." Tanya ku
" Tidak di wajibkan kak , tapi masa cuma Alin yang tidak ikut." Jawabnya murung.
Aku menjadi kasihan melihat nya seperti itu aku bisa membayangkan jika berada di posisinya.
" Memang kapan rencana kalian perginya dan kemana?."
__ADS_1
" Ke bangka belitung kak pertengahan desember ini."
" Kan masih ada waktu 4 bulan lagi kami berusaha cari tambahan, kakak usahakan cari kan ongkos untuk mu." Ujar ku.
"Adik mu kan masih smp mau kerja apa nak. " timpal mamak.
"Loh kita punya dua tangan dua kaki pergunakan jangan mengeluh."
" Lihat Nurul anak bu Elda, dia pun tidak jauh dengan mu hanya berbeda 2 tahun dia tidak malu membantu mamak nya , mengambil cucian atau menyeterika di tempat orang." .
" Uang nya dia gunakan untuk membayar spp nya dan sebagian di berikan pada mamaknya contoh itu." Imbuh ku.
" Satu hal lagi dia itu cantik tapi dia tidak gengsi dengan wajah cantiknya."
Alin tampak tidak senang karena merasa di banding bandingkan dengan anak tetangga kami.
" Ya aku tahu kak tapi tidak perli kakak bandingkan seperti itu juga!." Sahutnya sambil menyambar remote di dekat ku.
"Heh! Kamu itu belajar sadar diri kalau di nasehati ya terima."
Aku merasa geram dengan reaksinya setelah mendengar Ucapakan tadi.
" Sudah sudah tidak enak di dengar tetangga bergaduh sudah malam ."Lerai mamak.
Sementara ayah sudah dari tadi keluar karena ada tetangga yang mengajaknya kenduri di rumah tempat orang meninggal.
Sejurus kemudian mamak masuk kedalam kamarnya dam kembali keluar dengan membawa 1 buah kaleng biskuit yang di lubangi tengahnya
Awalnya aku tidak menyangka bahwa itu adalah celengan.
Mamak mencungkil kaleng itu begitu terbuka nampak beberapa pecahan uang yang mamak kumpulkan dari hasil menjual rempeyek dan kue yang ia titipkan di warung.
Dengan semangat mamak mulai menghitung uang itu yang berhasil ia di sisihkan selama ini
"Ada 760 ribu nak, anak tambahilah untuk ongkos abang mu."
Masalah Alin saja belum ada solusi mamak malah justru memikirkan supaya bang Nasrul bisa datang ke kota ini.
Bukannya merasa senang karena beban ku berkurang tapi aku merasa sakit hati bagaimana tidak untuk anak yang lain mamak rela membongkar celengannya yang dia susah payah kumpulkan tapi tidak mau tahu dari mana aku bisa mendapat kan uang .
Aku tidak menyambut uang yang mamak sodorkan tapi aku memilih bangkit dari posisi ku dan beranjak masuk kamar.
__ADS_1
Aku melengos masuk kamar dan menghambur ke kasur, tangis ku tumpah diatas kasur usang ini ya allah sampai kapan ketidak adilan ini aku terima ratap ku.