
Belum sempat ku balas pesan bang Nasrul yang tempo hari dia kirim kan dia menunggu jawaban apakah bisa mengusahakan tiket dan sedikit bekal dalam perjalan nya ke kota kami.
Alasan pertama belum ku balas pesannya adalah karena aku giliran sift pagi, alasan ke dua adalah aku masih belum punya pandangan kira kira dari mana aku bisa memperoleh uang yang dia perlukan.
Tidak mau memberi harapan palsu yang membuat ku tak kunjung memberikan jawaban pada bang Nasrul .
Lagi pula di kota ini untuk mendapat pekerjaan tidak lah semudah membalik kan telapak tangan terlebih lagi jika hanya mengandalkan ijazah Sekolah menengah atas.
Tanpa di tunjang dengan keahlian lain terlebih lagi tidak ada koneksi orang dalam jangan harap cepat mendapat pekerjaan. terdengar sarkas tapi aku mengalaminya sendiri.
Jaman sekarang pengaruh orang dalam dan uang pelicin sangat menentukan di terima atau tidaknya kita di perusahan tempat kita memasukan lamaran kerja , miris memang tapi inilah faktanya di lapangan saat kita mencari kerja sekarang ini.
Meski tidak sedikit yang bisa lolos di terima bekerja tanpa ada nya campur tangan orang dalam dan uang pelicin mungkin nasib mereka yang bagus atau memang punya skill yang lain di samping ijazah sekolah formal.
"Macam mana dek kenapa belum di jawab yang abang bilang tempo hari?." Tanya bang Nasrul saat dia menelfon ku.
" Bang fikir matang matang kalau mau datang ke Kota ini, disini pun banyak pengangguran."
" Kalau tidak di coba manalah tahu, siapa tahu nasib abang bagus di sana." Kilah nya.
"Coba lah abang hubungi bang Johan jangan lah selalu aku yang kalian andalkan." Ujar ku
" Hutang ku pada rentenir untuk membeli tiket kak Yuni saja belum lunas bang."
" Tolong usahakan ya dek tolong lah abang mu ini."
"Aku gak bisa janji bang tolong lah abang juga mengerti, semua mengandalkan aku." Tutup ku mengakhiri percakapan kami hari ini.
"Mak bang Nasrul sudah memberi tahu mamak dan ayah belum kalau dia berencana cari pekerjaan disini?." Tanya ku pada mamak saat kami tengah berada di dapur.
"Sudah nak ayah yang menyuruh abang mu bicara sama kamu." Jawab mamak.
Helaan nafas ku terasa berat ,rasanya ingin menangis dan berteriak sekuat mungkin untuk melepaskan segala beban yang terpendam di hati.
Mengapa harus aku yang selalu mencari jalan keluar segala permasalahan di keluarga ini? Aku hanyalah seoarang anak perempuan yang belum genap berusia 25 tahun tapi harus menanggung beban seberat ini.
" Ya Allah sanggupkah aku?" Tanya ku dalam hati.
__ADS_1
Aku membantu mamak menjemur pakaian yang telah selesai di cuci tapi fikiran ku melayang kemana mana.
Tanpa terasa bulir airmata menggenang di pelupuk mataku ayah yang berjalan dari arah warung terkejut melihat mata ku berkaca kaca.
" kenapa sa kok kamu menangis?." Tanya ayah.
" Gak ada yah ,tadi kesabet baju yang Lisa kibaskan." Sahut ku berbohong.
" Oouhh." Timpal ayah seraya masuk menuju lapak tempatnya menjahit.
Ingin sekali aku bercerita pada ayah mengadukan segala keluh kesah ku tapi apa daya keadaan memaksa ku untuk menguat kan diri ku sendiri .
Aku harus sadar bahwa aku bukan lah anak perempuan seperti di cerita novel novel yang pernah ku baca dimana anak perempuan mendapat limpahan kasih sayang terutama dari ayah nya.
Sedangkan aku? Jangan kan limpahan kasih sayang sekedar untuk berbagi cerita tentang beban ku saja tidak ada kesempatan.
" Kuat Lisa kuat.. Lisa kamu anak yang kuat kamu anak yang tegar, tidak boleh menyerah." Mata kata ini aku ucapkan dalam hati berulang ulang kali untuk menyemangati diri ku sendiri.
Bang Nasrul kembali menelfon ku untuk menanyakan apakah bisa aku mengusahakan uang tiket dan bekal untuknya datang ke kota ini
Masalah uang tiket dan bekal masih bisa aku runding kan dengan bang Johan, ayah dan mamak jika memungkin kan.
Yang jadi pertanyaan ku adalah akan tinggal dimana mereka nantinya? Apakah tinggal bersama kami? Tinggal bersama bang Johan?
siapa yang akan menopang kehidupan mereka nanti seandainya bang Nasrul tidak kunjung mendapat pekerjaan?
" Bang udah hubungi bang Johan belum?."
" Sudah tapi dia hanya bisa membantu bekal kami selama di perjalanan, tinggal uang tiket nya ini macam mana dek?."
" Nanti lah, bang aku berunding dengan ayah dan mamak." Pungkas ku
Malam harinya aku berbincang bincang dengan mamak dan ayah membahas rencana kepindahan bang Nasrul ke Kota ini.
" Jadi mamak sama ayah setuju kalau bang Nasrul pindah ke kota ini?."
" Ya mau macam mana lagi nak kalau disana mereka tidak bisa bertahan hidup ya mau tidak mau ya harus kesini."
__ADS_1
" Makan tidak makan kita kumpul" sahut mamak dan ayah.
Makan tidak makan kita kumpul? Kenapa tidak kalian ucapkan 18 tahun yang lalu saat usia ku baru 6 tahun?.
Kalian tega berpisah dengan anak kandung kalian sendiri yang masih sangat belia tapi tidak tega terhadap anak kalian yang lain yang sudah sangat dewasa sangat tidak adil! ujar batinku seperti tersayat perih.
Bagaimana pun aku sadar bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan ku adalah sudah menjadi ketetapan Allah, harus terjadi hanya saja kadang aku merasa bahwa ini terlalu berat untuk aku jalani.
Hari ini aku menjaga stand sendiri karena Emi sedang off tiba tiba datang pengunjung pria yang yang menghampiri stand ku.
" Ya pak ada yang bisa saya bantu?." tanyaku karena mas mas itu melambaikan tangan ke arahku.
" Boleh kenalan gak?." Aku mengerutkan kening mendengar ucapan mas mas yang baru datang itu.
"Maaf mas saya sedang bekerja nanti kena sp jika mengobrol." ujarku memberi pengertian
" Aku akan beli biar kamu tidak di marahi atasan mu."
" Serius mas?." Tanyaku seakan tidak yakin dengan ucapannya.
" Serius kamu pilih aja ukuran kamu nanti aku bayar dan barang nya buat kamu." lanjutnya lagi.
Agak ragu aku memilih barang karena memang brand tempat aku bekerja khusus menjual pakaian dalam sedang kan si mas tadi menyuruh ku untuk memilih beberapa untuk ku.
Kalau boleh aku memilih mending di kasih mentahannnya saja, tapi tidak mungkin aku berkata begitu pada si mas mas yang baru aku temui.
Akhirnya aku memilih set pakaian dalam dan membuatkan nota
"Ini mas nota nya silahkan bayar ke kassa 3." ujar ku mempersilahkan si mas untuk membayar.
Tidak lama si mas nya membawa kantung belanjaan nya dan memberikannya pada ku
"Ini buat kakaknya yang manis,"
" Terima kasih."
Sebelum pergi mas nya meminta nomor ponsel ku dengan alasan sebagai teman karena dia baru tiba di kota ini.
__ADS_1