The Sandwich Generation

The Sandwich Generation
Sepatu baru untuk Arif


__ADS_3

Kami pulang dengan riang karena penjualan hari ini lumayan ramai.


“ Besok off mau kemana kamu Sa?.” Tanya Emi sesaat kami sebelum kami berpisah diparkiran khusus karyawan.


“ Paling dirumah Mi setrikaan ku segunung .“ Sahut ku.


“ Gak jalan jalan sama ayang?.”


" Gak lah Mi dia kan kerja dan Offnya gk sama dengan ku."


" Oh ya katanya mau cerita tadi kenapa manyun melulu dari tadi."


Aku menceritakan soal mas Agung yang kembali menghubungi ku setelah sekian lama menghilang.


" Hati hati kamu apalagi sudah tahu jejak dia yang tidak bagus."


"Itulah Mi aku kesal dia nelfon berkali kali tapi kasihan juga ."


" Iya tapi tetap hati hati kalau kamu kenapa kenapa gimana sama keluarga mu ." Nasehat Emi bijak akhirnya kami berpisah di parkiran karena hari sudah larut.


Sesampainya dirumah aku mencari Alin tapi tidak ku temui anak itu masih ada sedikit rasa menyesal pada nya.


“Alin mana Dit?.” tanya ku pada Dita adik perempuan ku di bawahnya Alin yang tengah menonton sinetron kesukaan kami.


“Entah Dita pun baru balek ngaji kak.” Sahut nya tidak lama kemudian terdengar ketukan dari arah pintu.


“ Dit buka pintu siapa itu .“ Teriak ku dari arah kamar rupanya Alin yang mengetuk pintu wajah nya terlihat lesu.


“ Dari mana kamu kok malam malam masih keluyuran.” Selidik ku


“Aku ikut kak Nurul menyetrika di rumah langganan nya.” Jawabnya seraya melenggang ke belakang mengambil air minum


“ Kamu ngawani aja apa kamu ikut ngerjain?.” Lanjut ku.


“Aku dikasih kerjaan jadi mulai hari ini aku sudah kerja cuci dan setrika di rumah ibu kenalan kak Nurul kak.” Sahutnya.


Ada rasa haru yang menyeruak di dada ku rupanya diam diam Alin mendengar apa yang aku saran kan, dia menemui anak tetangga kami yang memang aku cukup salut dengan kemandiriannya itu.


“ Berapa kamu dapat dari Lin.”


“ 500 ribu kak karena tahu aku seorang pelajar ibu itu merasa kasihan .“


“ Alhamdullilah simpan uang nya bisa buat tambahan uang saku study tour nanti. “


“Iya kak.”

__ADS_1


Aku kembali masuk kedalam kamar dan mengambil uang yang aku pimjam dari bang Togar hari.


" Nach bayar lah uang study tour mu itu." Ujar ku sambil menyerahkan uang yang masih terikat karet gelang itu.


“ Kakak dapat dari mana uang ini kan Alin udah bilang tidak usah dipaksakan , aku kasihan sama kakak.”


“ Udah gak usah di fikirkan yang penting kamu bisa ikut bersenang senang dengan teman mu.” Ujar ku sambil tersenyum kearahnya.


“Makasih ya kak, nanti kalau aku sudah besar dan sukses aku bawa kakak jalan jalan kemana saja.”


Aku merangkul adik ku air mata Kembali mengalir tanpa bisa di cegah mendengar ucapan polos adik ku ada niat tulus dari hatinya untuk membahagiakan kakak nya.


“ Aamiin insya allah dek.. simpan baik baik uang itu” dia menganguk dan memasukan uang kedalam tas nya.


Pagi hari nya aku melihat mamak tidak seperti biasanya wajah nya tampak sedih saat memandang kearah ku, mungkin gara gara aku tidak menerima uang yang dia bongkar dari celengan itu malam itu.


Melihat nya seperti ini aku pun tidak mau banyak terlibat pembicaraan dengannya agar mamak mengerti seharusnya aku yang marah bukan dia.


Aku mengerjakan tugas ku membersihkan rumah dan menyeterika baju sedangkan mamak memasak di dapur.


“Saa .“ Seru mamak dari dapur


“ Apaa mak ."aku menyahut dari ruang tamu karena aku sedang menyetrika.


“Sini dulu, “ Ujar nya lagi


“Kenapa mak?.” Tanyaku


“ Ini uang untuk tambahan study tour Alin” ujarnya sanmbil meneluarkan uang dari saku dasternya.


“Mamak bilang ini untuk tambahan bang Nasrul beli tiket.” Celetuk ku.


Mamak menjelas kan pada ku ia berubah pikiran dan sudah bicara pada bang Nasrul untuk jangan dulu datang kekota ini.


Karena tadi pagi saat membeli sayur di warung mamak mendengar ibu Ibu kompleks bicara banyak PHK di mana mana.


“ Itulah mak kalau bang Nasrul datang kesini macam mana? Belum tentu langsung dapat pekerjaan kan malah jadi beban fikiran.” Ujarku.


“ Iya nak justru karena tadi dengar ibu ibu lah mamak akhirnya berubah fikiran.”


“Jadi ini untuk tambahan uang study tour Alin mak? Mamak mengangguk dan kembali meneruskan pekerjaan nya memasak.


Ponsel ku berdering mas jaka mengirimkan pesan


" Dek besok mas Off ,adek shift apa? "tulis mas jaka dalam pesan yang dikirimkan nya.

__ADS_1


" Pagi ,mas hari ini adek Off." Balas ku.


"Oalah kenapa gak kasih tahu mas kan mas bisa tukar Off dengan teman kalau gitu."


" Maaf mas hehe."


Karena pekerjaan jarang sekali ada kesempatan untuk berduaan dengan ma jaka membuat hubungan kami jadi sedikit merenggang.


" Saa.. Ada yang mau jual mesin obras murah ayah bisa pinjam uang mu dulu?." Tanya ayah saat aku tengah menonton televisi.


" Belum gajian yah , seandainya pun sudah gajian uang nya sudah habis terbagi bagi." Sahut ku


" Oouh ya sudah tak apa, maksud ayah mumpung ada yang jual murah" lanjut ayah sambil duduk di dekat pintu dan menyalakan rokok.


Aku melirik sekilas kearah ayah yang tengah asyik menghisap rokoknya tubuh nya kian ringkih dan keriput semakin banyak menghiasi wajahnya.


Ada rasa bangga di hatiku setidaknya ayah masih mau berusaha memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga meski hasil yang di dapat tidak sebanding dengan tenaga yang di keluarkan.


"Memangnya berapa mau di jual yah?." Tanyaku


" Entah ayah pun belum tanya harganya tadi cuma dengar dia berniat jual murah."


" Ouuh."


" Iya tapi kalau tidak ada ya tak payah di paksakan sa." Lanjut ayah sesaat sebelum beranjak menuju lapak menjahitnya.


...****************...


" Kak sepatu Arif berlubang jadi kalau hujan air masuk ke dalam." Ujar adik ku yang duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar seraya . menunjukan sepatunya yang berlubang di bagian tungkai nya.


Aku memeriksa kondisi sepatunya aku tersentak kaget sepatunya memang sudah berlubang cukup besar karena solnya menipis.


" Kenapa baru sekarang Arif bilang sama kakak?" tanyaku merasa prihatin.


" Arif takut kakak marah makanya diam saja." Jawabnya polos.


" Nanti kalau kaki Arif terkena beling atau paku bagaimana?." Tanya ku sambil mengusap kepalanya.


"Ya sudah nanti kakak carikan yang baru sekarang terpaksa pakai ini dulu." Ujarku


" Iya kak".


" Ya sudah ayo naik panggil kak dita nanti kesiangan." Seruku aku segera mengantarkan adik adik ku ke sekolah mereka sekalian aku berangkat kerja.


"Belajar yang rajin ya." Ujar ku pada Arif dan Dita saat mereka turun dari boncengan

__ADS_1


Mereka menyalami ku dan segera berbaur dengan teman temannya.


__ADS_2