The Sandwich Generation

The Sandwich Generation
Hinaan


__ADS_3

Mendengar keributan orang orang yang berada di sekitar berbondong bondong datang ketempat kejadian.


Seorang ibu membantu si perempuan itu berdiri dia mengibas kibas kan debu yang menempel pada bajunya.


“ Debu kau kibas kan berbuat dosa kau gak mikir dosa kau lebih kotor dari debu itu!.” Celetuk ku pada perempuan yang tampak tertunduk itu.


Celetukan ku rupanya membuat beberapa orang yang berkerumun itu tersenyum tiba tiba salah satu diantara mereka membalas celetukan ku.


“ Kalau dia mikir tidak akan berbuat dosa mbak”.


“ Dan kau laki laki tengik kita putus detik ini juga! .” Ujarku seraya kembali menendang motornya namun dia dengan sigap menahan sehingga motornya tidak roboh.


“Ok kalau itu mau mu kebetulan .” Sahut mas Jaka tidak mau kalah.


“ Udah …udah bubar ….bubar!.” Seru bapak penjaga parkir .


Aku segera Kembali warung mie ayam aku Melihat mie ayam ku sudah menjadi dingin dan mengembang, namun karena merasa tidak enak dengan pemilik warung aku tetap menyantap nya.


“Loch ini kan mbak mbak yang tadi melabrak pacarnya ya?.” Celetuk pengunjung yang duduk di sebelahku aku tersenyum tipis menanggapi celotehannya.


Namun aku sempat Melihat pemilik warung memberi kode pada bapak bapak yang duduk di sebelah ku untuk diam.


“Sabar ,mbak laki laki memang begitu makanya saya tidak suka laki laki hhehe.” Si bapak yang duduk di sebelah ku mencoba melawak.


“Apalah pak de ini jangan di dengar mbak stress dia.” Sahut pemilik warung merasa tidak enak.


" Tak apalah kak ." Selaku.


Setelah membayar pesanan ku aku segera beranjak keluar dari warung tenda itu.


Anehnya tidak ada rasa sakit setelah putus dari mas Jaka. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan rasa sakit yang aku terima sepanjang perjalanan hidup ku.


Aku tidak menceritakan apa yang terjadi pada ayah dan mamak bahwa aku sudah putus dari mas Jaka .


Karena pasti akan banyak sekali pertanyaan yang mereka lontarkan nantinya, lebih baik aku memendam nya sampai mereka tahu dengan sendirinya saat mas Jaka tidak lagi datang kerumah.


...****************...


Triiing triiing!


Terdengar notifikasi dari ponsel ku ,aku yang tengah sibuk membantu mamak mengerjakan pekerjaan rumah tidak segera memeriksa ponsel ku.

__ADS_1


Kembali terdengar notif pesan masuk yang bertubi tubi.


"Uuuh siapa sich pagi pagi begini tidak tahu orang sedang sibuk apa?!." Dengusku dalam hati aku segera menyambar ponsel ynag tergeletak diatas lemari piring.


Rupanya mas Jaka yang mengirimkan pesan sepagi ini.


" Kembalikan barang barang yang pernah aku kasih selama ini."


" Ini rincian barang apa saja yang pernah aku kasih dan harganya, siapa tahu kamu lupa ."


Aku nyaris tidak percaya melihat pesan yang mas Jaka kirim kan aku fikir mas Jaka orang yang tulus ternyata?.


Sampai Supplemen dan tas sekolah yang ia belikan untuk ayah dan adik adik ku pun tidak luput ia catat?! .


Astagfirullah! ,desis ku seraya mengelus dada, setelah tahu karakter asli mas Jaka yang baru kelihatan ketika sudah putus.


Aku segera membalas pesannya supaya dia tahu biarpun aku miskin aku juga punya harga diri.


"Ok coba ingat ingat lagi siapa tahu ada yang terlewat!."


" Sekalian hitung berapa kali kamu traktir aku makan baso dan lain lain, tapi aku tidak akan menghitung apa yang sudah aku berikan."


" Karena orang tuaku mendidik ku biar fakir harta tapi tidak fakir akhlak." Balas ku tak kalah pedas.


Dia kembali kembali membalas pesan ku.


" Yakin? Tak payah lah aku sebut semua lebih baik kau pakai uang itu buat keluarga kau yang selalu merongrong kau!, nasib baik aku tak nikah dengan kau.. teruk!! Hahhaaa."


Mataku nanar membaca isi pesan balasan tak urung membuat mata ku memanas .


Aku merasakan bulir bulir air mataku sudah menggenang di pelupuk mata ku.


Baru kali ini aku merasakan sakit , orang yang aku sangka baik budi pekertinya ternyata pintar ber kamu flase, ternyata seperti inilah pandangan nya terhadap keluarga ku?.


Tes!


Buliran air mataku tanpa kuasa ku cegah jatuh menetes di layar ponsel ku .


Dan genangan ari mata di pelupuk mataku membuat pandangan ku sedikit buram saat hendak membalas pesan nya kembali.


" Terima kasih atas semua hinaan nya , hinaan mu membuat aku sadar siapa aku di mata mu selama ini."

__ADS_1


" Kirim kan rekening mu biar ku kirim segera, buat sewa losmen."


Aku segera menonaktifkan ponsel ku dan meneruskan pekerjaan ku yang tertunda.


Saat aku hendak mengangkat cucian keluar untuk di jemur mamak memanggil ku.


" Sa.. Taruh dulu ember itu disana." perintah mamak.


" Kenapa mak mumpung ada panas biar lekas kering."


Jawabku sambil menghindar bertatap mata dengan mamak aku tidak ingin dia tahu mata ku yang memerah.


" Tengok mamak dulu nak." Ujar mamak lagi kali ini aku tidak bisa menghindar mamak terkesiap melihat mata ku yang memerah.


" Kenapa nak ada masalah di kerjaan?." Tanyanya aku menggeleng kan kepala dan kembali mengangkat ember itu namun mamak bergerak cepat merebut ember itu dan meletakannya .


"Cerita sama mamak nak ada apa? ". Ujar mamak sambil menatap ku lekat lekat. Tak urung hal itu membuat ku tak kuasa menahan tangis .


Mamak membimbing ku ke dalam kamar dan menutup pintu nya.


" Ada apa nak cerita lah sama mamak mu ini." Ulang mamak sambil menyeka air mata ku dengan ujung daster yang di kenakannya .


" Mas ..Jaka." Ujar ku tersendat karena tertahan tangis.


" Kenapa Jaka nak?, betekak kalian rupanya? tak apa lah wajar namanya orang pacaran memang macam itu." Sahut mamak yang mengira kami hanya bertengkar biasa saja.


" Kami sudah putus mak." Sahut ku mamak tampak terkejut mendengar jawaban ku dan bertanya penyebab putus nya hubungan kami.


Aku tidak bisa lagi menutupi masalah ini dari mamak. Ku cerikan awal mula masalahnya termasuk isi pesan mas Jaka yang mengungkit ungkit pemberiannya.


Mamak ikut meneteskan airmata sama sekali tidak menyangka mas Jaks ternyata seperti itu.


"Ya sudah lah nak, tunggu sekejab." Mamak keluar dari kamar sesaat kemudia dia menyerah kan gulungan uang ketangan ku.


" Ini hasil mamak jualan peyek dan kue yang mamak simpan kembalikan lah sama dia."


" Kita memang miskin nak tapi jangan biarkan orang lain hina kita teruk sangat." Ujarnya seraya mengusap bahuku.


Aku semakin terisak isak mendengar perkataan mamak .


" Sudahlah tak payah nangis, nanti ayah mu tahu ." Ujarnya bangkit dari duduknya dan beranjak keluar kamar.

__ADS_1


Aku melihat gulungan uang yang mamak berikan. Hati ku terasa tersayat sayat melihat wanita yang melahirkan ku itu turut merasakan sakit karena hinaan yang mas Jaka ucap kan.


" Suatu hari nanti kamu akan lihat mas, semoga aku bisa merubah nasib keluarga ku." Ujar ku lirih sambil meremas uang yang mamak berikan.


__ADS_2