The Sandwich Generation

The Sandwich Generation
Losmen


__ADS_3

Sepanjang perjalananan pak Margono bertanya banyak hal pada ku perihal keluarga ku, aku menjawab nya tanpa beban karena aku melihat pak Margono.


Orang nya sangat santun dan bijak tidak lama kami pun tiba di depan rumah ku ,aku melihat Mamak dan ayah duduk di depan lapak tempat ayah menjahit.


Melihat ada mobil yang berhenti di depan rumah mereka tampak heran,melihat aku turun dengan tangan yang di bebat perban , mamak langsung menghambur kearah ku sambil menangis . Mamak bilang mereka sangat cemas karena aku tidak ku tidak kunjung pulang.


" Ya Allah nak kamu kenapa" Ujar nya ,Pak Margono menyusul dan menjelaskan duduk perkaranya.


" Ibu tidak perlu kuatir semua biaya pengobatan saya tanggung dan selama mbaknya tidak masuk kerja saya ganti gajinya perhari." Ucap nya yang membuat aku cukup terkejut.


" Waduh pak tidak usah mengganti gaji saya bapak bertanggung jawab saja saya sudah bersyukur" Seloroh ku merasa tidak enak dengan kebaikan pak Margono.


" Tidak apa apa mbak saya ikhlas" Sahutnya lagi sambil menyunggingkan senyum .


Tidak lama pak Margono pamit pulang karena hari sudah beranjak malam.


Aku mengabari mas Jaka bahwa aku mengalami kecelakaan dia sangat panik


" Kok bisa macam mana ceritanya?."


Aku menceritakan kronologi kecelakaan yang aku alami.


" Makanya dek kalau lagi bawa kendaraan itu konsentrasi jangan meleng resiko di jalan kalau tidak di tabrak ya menabrak." Nasehat nya.


" Iya mas untung nya yang nabrak sangat baik." sahut ku.


Aku merintih kesakitan saat keesokan paginya bangun dari tidur aku kesulitan untuk menggerakan lengan kiri ku.


" Maaaaak." seru ku memanggil mamak dari dalam kamar mamak tergopoh gopoh menghampiri ku.


" Kenapa nak?." Tanya mamak ku melihat daster bagian bawahnya basah tampaknya tengah mencuci.


" Sakit mak. " Rengek ku seperti anak kecil


" Iya itu biasa anak mau apa? bentar ya mamak buatkan teh hangat."


Sahut mamak seraya melenggang keluar dari kamar.


Mamak tampak perhatian sekali saat aku terbaring tidak berdaya seperti ini, selama 25 tahun aku terlahir kedua ini baru kali ini aku merasakan kasih sayang seorang Ibu seutuhnya.


Apakah mesti menunggu aku terbaring tidak berdaya baru aku bisa merasakan kasih sayang orang tua? ujar ku dalam hati.

__ADS_1


Mamak kembali masuk kedalam kamar sambil membawa sepiring nasi lemak dan teh hangat dengan sabar mamak menyuapi ku.


" Udah mak udah kenyang."


Tolak ku saat mamak kembali hendak menyuapi ku.


" Nach sekali lagi biar , kan mau minum obat." Bujuknya


" Tuch motor mu sudah diantarnya sudah bagus lagi." Ujar mamak memberibtahu ku bahwa pak Margono sudah mengantarkan motor ku.


" Jam berapa mak bapak itu datang?. " Tanya ku


" Jam 9 tadi orang bengkel yang antar. " Sahut mamak.


...****************...


Akhirnya lengan ku sudah pulih seperti semula rasanya kangen sekali dengan suasana di tempat kerja. Meskipun penuh tekanan dari atasan tapi setidaknya aku bisa sejenak merefresh fikiran ku dari tekanan yang aku hadapi di dalam keluarga.


“Sudah sembuh kamu lisa?." Tanya Bu Hana yang menjadi musuh bebuyutan Emi saat kami berjumpa di depan escalator.


“ Alhamdullilah sudah bu,” Sahut ku sambil mengangguk Bu Hana tersenyum tipis kearah ku , kemudian kami bersama sama menaiki escalator menuju lantai tempat kami bekerja.


Di satu sisi aku sangat bersyukur bertemu dengan orang yang sangat baik hati seperti Pak Margono meskipun kecelakaan itu bukan murni kesalahannya .


“Jadi macam mana sa orang yang nabrak engkau tu?.” Tanya Emi saat kami tengah berada diparkiran untuk pulang.


”Alhamdullilah Mi orang nya sangat baik.”


“ Alhamdullilah kalau gitu sa.”


Hari ini sangat gembira karena sudah menerima gaji plus bonus penjualan yang cukup lumayan.


Aku berinisiatif untuk membeli cincin hitung hitung sebagi tabungan suatu waktu aku butuh dana mendesak aku bisa menjualnya lagi.


Aku segera mengarahkan motor menuju sebuah toko mas ,yang tidak jauh dari dari mall tempat ku bekerja .Aku memarkirkan motor dan segera masuk kedalam toko ku pilih satu cincin dan segera membayarnya.


Aku tak henti hentinya mengucap syukur atas rejeki yang aku terima hari ini .Saat hendak membayar parkir mataku tertuju pada motor yang tidak asing bagiku ,sedang terpakir di depan sebuah losmen yang terletak di samping toko mas yang baru saja aku datangi.


Aku berjalan menghampiri kearah dimana motor itu terparkir untuk mneyakinkan bahwa aku tidak salah lihat.


Deghhh!

__ADS_1


Jantungku berdegup lebih kencang saat aku melihat nomor plat dan stiker yang ada di motor itu tidak salah lagi ini motor nya mas Jaka! gumam ku .


Tidak mau gegabah apalagi suudzon pada lelaki yang sudah begitu baik terhadap ku dan juga keluarga ku ,aku bertanya pada tukang parkir yang berjaga disana.


Aku menghampiri si bapak penjaga parkir yang tengah berteduh di kursi plastik depan toko mas yang tadi aku datangi.


‘’Permisi maaf pak mau tumpang tanya bapak ingat tidak siapa yang bawa motor biru itu?.” Ujar ku sambil mneunjuk kearah motor mas Jaka.


Bapak penjaga parkir melongokan kepalanya kearah yang aku tunjuk.


" Kenapa mbak ? itu motornya mbak?."


" Itu motor teman saya .” Ujarku sedikit berbohong.


“ Kalau tidak salah sich mas mas tinggi kurus kulit nya hitam manis paling sebentar lagi keluar mbak kan ini sistemnya perjam hotelnya.” Terangnya.


Darah ku terasa mendidih mendengar bapak penjaga parkir menjelaskan ciri ciri nya yang mana itu adalah ciri ciri fisik mas Jaka.


Jadi hari ini dia off dan tidak memberi tahu? aku memberikan uang 20 ribu pada tukang parkir dan memintanya tidak usah memberi kembalian.


“ Pak ini untuk semua terimakasih ya pak, nanti kalau dia keluar bapak jangan bilang ada yang nanya ya pak.” Ujar ku mewanti wanti.


Aku pergi ke seberang dimana disana berderet warung warung yang menjajakan makanan, segera aku memesan semangkuk mie ayam dan es teh sambil mengintai mas Jaka.


Benar saja apa yang di katakan bapak penjaga parkir . Belum juga pesananan ku selesai di buat aku melihat mas Jaka keluar dari losmen bersama seorang perempuan, dia mengandeng tangan perempuan itu dengan mesra .


Aku yang tidak mau kehilangan kesempatan segera bangkit dari bangku dan berpesan pada penjual mie ayam untuk menaruh pesanan ku di meja karena aku ada urusan sebentar.


Setengah berlari aku menghampiri kearah mas Jaka yang tengah memasang kan helm pada perempuan itu.


PLOK PLOK PLOK !


Aku tepuk tangan sontak mas Jaka menoleh kearah ku dan terkejut bukan main melihat memergokinya keluar dari losmen dengan perempuan lain dia tampak salah tingkah.


“ Hebat jadi ini kerja mas di belakang ku? gak nyangka ya.” Ujar ku sambil tersenyum sinis.


“Dek tunggu dulu mas bisa jelasin semua.” Ujar nya seraya berusaha turun dari motor nya .


PLAAAK …PLAAAK!


Aku menamparnya dengan kalap Sementara si perempuan tampak ketakutan .

__ADS_1


Sekuat tenaga aku menendang motor itu hingga roboh.


Perempuan yang berdiri di samping mas Jaka, tentu saja ikut terjatuh dan tertimpa motor karena tendangan ku.


__ADS_2