The Sandwich Generation

The Sandwich Generation
Traktir adik adik


__ADS_3

Benar saja saat aku memberi tahu nya bahwa aku di pindahkan Emi terkejut sekaligus merasa kehilangan.


" Tahu gitu aku kemarin masukin lamaran ketempat lain sa, aku males kalau harus sama anak baru, belum tentu sebaik kamu." Rengeknya seperti anak kecil.


" Mi jangan gitu ahh ,kamu itu baik pastinya nanti di pertemukan dengan orang baik juga." Ujar ku sedikit membesarkan hatinya.


" Apalagi harus ngadepin itu nenek sihir arrrrgh!." Iya terus aja merengek.


" Mi Bu Hana itu baik , pinter pinter kita ambil hati nya." Timpal ku lagi saat ia complain tentang supervisor kami Bu Hana.


"Ya lah ya lah, baik baik kamu di sana ya sa." Ujar Emi mengakhiri pembicaraan kami .


Karena di tempat baru aku datang lebih awal dari jam yang telah di tentukan, tidak ku sangka jika di tempat baru tidak seindah bayangan ku.


Senioritas masih kental sekali disini


" Rapiin tuch jangan bengong aja bisa kerja gak sich." Ujar salah satu karyawan yang aku lihat cukup berumur dengan gaya nya yang seperti bos . Meminta ku untuk merapikan barang yang sebelum nya di acak acak pengunjung.


Karena menyadari posisi ku sebagai anak baru aku mengerjakan nya tanpa membantah hal ini terus berlangsung hingga dua minggu aku disana.


Aku masuh mencoba menahan sabar hingga suatu hari kesabaran ku benar benar habis ketika lagi lagi karyawan yang sudah cukup berumur itu memerintah ku tanpa menyebut nama.


" Hah heh hah he! kau fikir aku tak punya nama?, jangan mentang mentang kau senior disini seenak kepala otak kau perintah orang!."


" Kita sama sama kuli disini jangan sengak kali tingkah kau macam betul aja!." Ujar ku sambil berkacak pinggang.


Merasa mendapat perlawanan dari yang lebih junior pegawai yang telah berumur itu tidak terima dan melangkah maju kearah ku tangannya sudah siap siap hendak menarik rambut ku.


Namun belum sempat dia melakukannya supervisor dan manager kami melihat perkelahian itu karena mendapat pengaduan dari rekan kerja yang lain.


"Hey apa apaan ini?! Kalian fikir ini arena perkelahian kalian berdua ikut kekantor sekarang!." Seru manager dan supervisor kami.


Dengan menahan malu karena menjadi tontonan aku dan Si Senior melangkah di belakang atasan kami sambil melayangkan pandangan sinis satu dengan yang lainnya.


Kami di introgasi mengapa kami berkelahi aku menjelas kan duduk perkaranya karena memang bukan aku yang memulai.


" Oouhh jadi begitu." Sahut pak Ardan manager kami sambil manggut manggut dia menatap tajam pada Sumini si karyawan senior itu.


" Sumini posisi kamu disini sebagai apa kalau boleh saya tahu?." Ujar pak Ardan lembut namun cukup menusuk.


Sumini hanya menunduk sambil memainkan jarinya dia tidak menjawab .


" Sumini!! dengar saya tidak?!." Bentak pak Ardan mulai hilang kesabaran.

__ADS_1


" Saya hanya karyawan biasa pak." Jawabnya terbata bata sambil tetap menunduk.


"Sudah tahu tahu sama sama karyawan kenapa bertingkah layaknya bos? Merasa hebat kamu?! ."


"Kita disini sama sama bawahan orang lain, Kuli kasar nya ! Sama sama cari makan jadi tidak usah bertingkah mengerti kamu!."


" Mengerti pak dan saya tidak akan mengulangi nya lagi." Sahut Sumini


Akhirnya kami saling berjabat tangan dan saling memaafkan satu dengan yang lainnya di saksikan oleh supervisor dan manager kami.


" Maafkan saya dek." Ujar Sumini lirih.


" Iya sama sama kak saya juga minta maaf." Sahut ku.


" Ya sudah kembali ketempat kalian masing masing saya tidak mau ada keributan lagi mengerti!."


Beberapa rekan kerja menghampiri ku


" Tak payah layan dia memang seperti itu sama semua anak baru."


" Tidak bisa kak kita sama sama di gaji disini macam betul saja si nenek peot itu." Dengus ku karena masih sedikit kesal dengan tingkah nya.


Beberapa rekan kerja ku tampak menutup mulut menahan tawa mendengar gerutuan ku.


Aku bersyukur meskipun sempat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari senior ku tapi di tempat ini penjualan ku cenderung stabil.


Saat memeriksa ponsel baru menyadari ada pesan yang belum terbaca dari Emi.


" Macam sana disana penjulan ramai?" Tanya Emi.


" Alhamdullilah mi maaf baru balas semoga kamu disana juga ramai ya." Balas ku


" Tak apa sa disini sama aja kamu tahulah, macam mana? enak disana."


Aku menceritakan apa yang ku alami selama dua minggu pertama aku di sini.


" Ya allah sabar.. ya sa" .


Malam hari nya sepulang kerja, aku merasakan tubuh ku terasa sangat lelah padahal ritme kerja nya pun sama dengan tempat yang lama, akhirnya aku memutuskan untuk tidur lebih awal.


Baru saja hendak masuk ke kamar ketika Arif menghampiri ku tapi dia tampak ragu ragu


" Kenapa dek?." Tanyaku

__ADS_1


" Kak di suruh membeli crayon sama karton buat besok." Ujar nya takut takut


Ku elus kepalanya sambil tersenyum kearah nya.


" Kalau untuk keperluan sekolah tak payah takut takut cakap saja."


" Ya sudah kakak ganti baju dulu, nanti kakak antar ke mini market bawah. Ia mengangguk dan tersenyum lega karena awalnya mengira aku akan memarahinya.


Tidak terasa sudah satu bulan aku bekerja di tempat ynag baru dan hari ini adalah saatnya menerima gajian.


Aku sedikit terkejut demgan pendapatan ynag aku terima sedikit lebih besar dari tempat kerja yang lama.


Segera teringat dengan janji ku pada adik adik ku untuk membawa mereka makan seafood beberaoa bukan yang lalu.


Sepulang nya dari temapt kerja aku bergehas memcari ke dua adik ku, namaun tidak ku temukan mereka di rumah.


" Dita sama Arif kemana mak." Tanya ku pada mamak yang tengah membatu ayah meprmak baju langganan.


" Main paling, kenapa rupanya cari mereka tumben." Ujar mamak sambil meletakan kain yang ia pegang.


" Aku sudah janji nak bawa mereka makan seafood kebetulan hari ini ada rezeki lebih." Sahut ku.


" Alhamdullilah, biar mamak cari kalau macam itu." ujar mamak seraya mengenakan kerudung nya dan beranjak keluar menyusul adik adik ku di tempat mereka biasa main.


" Mau kemana kalian sa?". Ayah ikut nimbrung .


" Ajak Arif dan Dita makan seafood yah Lisa udah janji."


" Maak.. makan seafood? Ada uang rupanya engkau sa." Sahut ayah sambil tertawa kecil.


" Ayah ini lah , berapa lah budak budak ini


sanggup makan tak nyampai pun 500 ribu kebetulan ada rezeki lebih ." seloroh ku .


" Ya lah kalau macam itu jangan hambur sangat." Ayah mewanti wanti.


Dari kejauhan aku melihat adik adik ku tampak gembira mungkin mamak sudah memberi tahu mereka kalau aku akan membawa mereka makan seafood seperti yang pernah aku janjikan.


"Benar kak kita mau makan seafood dekat tempat kerja kakak?". Tanya Dita semangat.


" Tak lah kita makan yang dekat rumah kita saja kan yang penting seafood." Sergah ku.


Tidak lama mereka pun sudah siap dengan baju yang pantas , mereka tak sabar ingin segera pergi.

__ADS_1


" Mak, Yah kami pergi dulu." Pamit ku pada mamak dan ayah .


" Ya hati hati kalian ya." seru mamak dari dalam lapak tempat ayah menjahit.


__ADS_2