The Sandwich Generation

The Sandwich Generation
Nyaris


__ADS_3

"Saa sebelum berangkat sekolah tadi Alin ngomong sama mamak kalau di sekolah nya akan diadakan study tour biaya nya 2,8 juta bisa dicicil 3 x.” Ujar mamak disuatu pagi saat kami tengah menyiangi sayuran dan ikan untuk makan kami hari ini.


Dadaku terasa sesak sekali rasanya ingin menjerit baru saja bisa bernafas lega melunasi utang rentenir yang kupinjam untuk membelikan tiket kak Yuni ,kini aku harus memikirkan mencari uang untuk biaya study tour Alin .


Lama aku terdiam tidak menanggapi ucapan mamak rupanya membuat mamak bertanya tanya kemudian mamak memanggil ku


“Saa jadi macam mana nak?.” Tanya mamak meminta jawaban.


“Memang diwajibkan ikut mak? kalau tidak di wajibkan ikut kenapa harus ikut? Alin harus tahu keadaan keluarga kita mak!.”


Sahut ku mendengar jawaban ku mamak pun terdiam cukup lama entah apa yang ada di dalam fikirannya .


“Nanti mamak tanya Alin di wajib kan atau tidak.” ujar mamak seraya menuangkan minyak ke dalam penggorengan.


Saat tengah membantu mamak memasak aku mendengar ponsel ku berdering.”


Mudah mudahan bukan bang Nasrul yang nelfon untuk menanyakan tentang tiketnya.” Doa ku dalam hati namun nomor baru yang tidak ada di kontak ku yang menelfon.


“Assalamualaikum.” Sapa ku terlebih dulu.


“ waalaikum salam ini kamu Lisa spg di xxx kan?.” Ujar suara diseberang sana aku berusaha mengingat ingat siapa orang ini.


“ Iya betul tapi ini siapa ya maaf.” Sahut sambil menanyakan si penelfon.


“ Masih ingat gak saya mas mas yang beli underware di tempat kamu.” Begitu dia menyebut kan cluenya aku segera ingat karena hanya ada satu lelaki yang pernah mampir di stand ku.


“ Ya Allah mas apa kabar ?.” Sapaku riang.


“ Alhamdullilah baik ,kamu apakabar bisa ketemu enggak?.” Tanya nya semula aku ragu untuk menerima tawarannya untuk bertemu mengingat aku tidak mengenalnya dengan baik, tapi aku tidak mau berburuk sangka akhirnya aku fikir tidak ada salah nya untuk menerima tawarannya.


“ Ok bisa , ketemu dimana ya?. “


“ Di mall tempat kamu bekerja saja.” Aku merasa lega karena si mas mengajak ku bertemu di tempat umum.


Setelah selesai membantu mamak aku bersiap siap untuk menemui si mas semoga tidak ada hal aneh atau niat buruk dari si mas yang baru aku kenal itu .


Karena niat ku pun tulus untuk berteman ,akhirnya kami bertemu di mall tempat ku bekerja.

__ADS_1


“Loh enggak bekerja?." Tanyanya melihatku tidak memakai seragam.


“Hari ini saya off” Jawab ku ternyata dia orang yang sangat menyenangkan dari cara dia bicara terlihat sangat sopan kami bicara banyak hal hingga tanpa sadar waktu beranjak malam.


“ Mas saya pulang dulu ya.” Pamit ku pada mas agung .


“Oh iya hati hati , ini untuk ongkos taxi mu.” ujarnya sambal menyodorkan tiga lembar uang seratus ribuan aku terkejut sekaligus heran melihat dia memberi aku uang yang nominal nya cukup besar.


“ Saya naik motor kok mas jadi tidak perlu “ Tolak ku atas pemberiannya.


“ Gak apa apa ambil saja karena saya yang mengajak kamu pergi.” Sahutnya sahutnya setengah memaksa agar aku menerima pemberiannya akhirnya ku terima pemberiannya meski dengan rasa sedikit rikuh .


“Makasih ya mas saya pergi dulu.” jar ku sambil menyalami nya dan bergegas menuju parkiran.


” Ya sudah kamu hati hati ya.” Ujar nya sambil tersenyum.


Sepanjang perjalananan pulang aku masih diliputi pertanyaan mengapa dia begitu baik dia apakah dia tulus ada maksud tertentu? Setibanya dirumah saat sedang memarkirkan motor tiba tiba ponsel ku berdering ada panggilan dari nomor ysng tidak kukenal.


“selamat malam dengan saudari Lisa?.” Ujar suara laki laki yang menelfon ku.


“Iya betul maaf darimana ini.” sahut ku


“Tapi ada apa ini pak? " Tanya ku tidak mengerti, aku sama sekali berfikir bahwa mas agung adalah buronan polisi karena terkait sindikat pengedaran narkoba .


Baru saja aku mematikan sambungan telfon dari ujung gang muncul mobil patroli rupanya aku sudah diikuti sejak dari parkiran tadi.


“Jangan bergerak, jangan bergerak. "Ucap anggota polisi yang mendatangi rumah ku .


Ayah dan mamak mematung tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi , tangis mamak baru pecah Ketika aku di paksa masuk kedalam mobil patroli.


Selama di kantor polisi aku diintrogasi selama tiga jam dibawah tekanan untuk mengaku bahwa aku terlibat dalam sindikat jaringan pengedar narkoba .


Aku tentu saja menolak keras ponsel ku di periksa disitu polisi membaca semua pesan pesan di ponsel ku.


Aku juga diperiksa urine tapi hasil nya negative polisi yang memeriksa ponsel ku tiba tiba memandang iba kearah ku


“Jadi kamu baru mengenal saudara Agung?.” tanya nya.

__ADS_1


“Betul pak baru 2x bertemu yang pertama karena dia membeli barang di stand saya bekerja sebagai spg.”


“Dimana kamu bekerja dan barang apa yang saudara Agung beli?.”


“Maaf pak underware perempuan.” Jawab ku petugas yang mengintrogasi ku bersama dua orang teman nya menahan senyum mendengar jawaban ku.


aku menyebut kan salah satu mall tempat ku bekerja dan brand yang merekrut ku kemudian dua orang polisi itu berbisik bisik sambal memandang kearah ku.


“ Lain kali kamu jangan terlalu polos tidak semua orang itu berniat baik.” Ujar petugas yang mengintrogasi ku aku hanya diam menunduk.


“Ya sudah karena tidak cukup bukti kamu boleh pulang atau mau menunggu pagi juga boleh. “ Ujar nya sambil menunjuk sel yang berisi tahanan Wanita .


Kulirik arloji ku baru jam 2 dini hari bagaimana aku pulang?


Ujar ku dalam hati akhirnya aku bergabung dengan tahanan Wanita sambal menunggu pagi menjelang.


Begitu terdengar adzan subuh aku meminta izin pada petugas untuk pulang.


“Pak saya izin untuk pulang.” petugas hanya menganggukan kepala aku berjalan cukup jauh dari kantor polisi itu untuk mencari ojek tapi tidak ku temukan satu pun yang melintas .


Akhirnya ku telfon ayah untuk menjemputku


“Assalamualaikum ,ayah tolong jemput.”


“ Waalaikum salam kamu dimana?.” Setelah menunggu lima belas menit ayah muncul yang di susul bang johan aku menangis di pelukan ayah.


“Ayaaah.” Seruku sambal menghambur ke pelukannya ayah memeluk ku dengan erat sambil terisak isak.


“ Macam mana ceritanya sa kok bisa?” Tanya ayah.


“ Nanti dirumah Lisa ceritakan yah.”kami beriringan menuju rumah.


Setibanya dirumah mamak menyambut ku dengan tangisan.


“ Anak macam mana bisa seperti itu nak? Tanya mamak di sela tangis nya


“ Panjang mak ceritanya” sahut ku.

__ADS_1


Sementara itu nomor Mas Agung sudah tidak bisa di hubungi mungkin dia sudah ditangkap.


__ADS_2