The Sandwich Generation

The Sandwich Generation
Rejeki nomplok?!


__ADS_3

"Rif sini dek coba dulu sepatunya." Seru ku pada adik lelaki ku aku menyodorkan kotak sepatu baru padanya senyum tampak mengembang di wajah polos nya.


Dia tampak sangat gembira karena mendapat sepatu baru dengan tidak sabar dia membuka kotak nya dan langsung mencobanya dia mondar mandir di ruang tamu sambil matanya terus menatap kearah kakinya.


" Bagus kak, terimakasih." Ucapnya seraya melepas sepatunya dan memasukan kedalam kotak nya kembali.


" Iya sama sama, suka enggak ?." Goda ku


"Suka sekali kak" sahutnya sambil tersenyum riang.


" Belajar yang rajin ya dek."


dia mengangguk sambil membawa sepatu barunya keluar untuk di tunjukan pada ayah dan mamak.


" Apa itu Rif. " terdengar suara bertanya pada Arif tentang kotak yang di bawanya.


" Sepatu baru yah kakak baru beli, sepatu Arif yang lama sudah koyak bawahnya." Ujarnya.


Sifat adik ku yang satu ini sangat berbeda cenderung pendiam ,meski dia laki laki tidak seperti anak seusianya yang kadang tidak mau tahu keadaan semua keinginannya harus selalu di turuti .


Arif tidak seperti itu dia sepertinya faham dengan keadaan orang tuanya ,itu sebabnya dia menunggu hingga sepatunya benar benar tidak bisa di gunakan baru meminta yang baru.


" Mak sepatu baru." Ujar nya pada mamak yang baru datang dari pengajian rutin ibu ibu setiap sabtu sore.


" Oh iya nak?." Kak Lisa sudah balek rupanya?."


" Itu ada didalam."


Rasa lelah ku mendadak hilang saat aku melihat senyum yang terkembang di wajah adik ku saat menerima sepatu itu .


Tapi sekaligus ada rasa sedih yang mendera jika teringat pesan mamak yang meminta ku jangan dulu menikah sebelum adik adik ku tamat sekolah.


Sedangkan sekarang usia ku sudah menginjak 25 tahun aku harus kah aku mengorban kan kebahagiaan ku demi keluarga?.


"Cobalah bicara sama mamak mu sekalipun kita menikah kita akan tetap bantu mereka kok" Ujar mas jaka suatu hari.


Saat kami tengah menghabiskan waktu libur kami.


" Entah lah bang, mamak dan ayah takut kalau aku menikah aku kan fokus pada keluarga ku ."


" Tapi kan anak mereka kan bukan cuma kamu dek, kenapa kamu yang harus di korban kan."


Aku tidak menanggapi ucapan mas jaka karena air mata ku sudah mengalir deras dan membuat ku sedikit sesak nafas


" Ya udah sabar sambil terus meluluhkan hati mamak dan ayah, agar mengizinkan kita untuk menikah."

__ADS_1


Aku tersadar dari lamunan ku ketika Alin menepuk bahuku.


" Kak di panggil dari tadi diam saja."


" Eeerh apa Lin.." Tanya ku gugup.


" Gak ada... Udah mau maghrib jangan bengong nanti kemasukan."


" Iiish bikin kaget aja!." Yjar ku sedikit sewot


...****************...


Lagi lagi mas Agung mengirimkan pesan permintaan maaf tampaknya dia benar benar menyesal dengan peristiwa beberapa waktu silam.


" Iya ma sudah saya maafkan tolong jangan ganggu saya lagi." Balas ku singkat pada pesan yang ia kirimkan.


" Sa bisa kita bertemu?."


" Maaf mas tidak bisa." Aku segera memblokir nomor mas Agung agar dia tidak bisa mengirimkan pesan pada ku lagi .


Saat sedang merapikan barang yang berserakan karena di acak acak pengunjung satpam mall menghampiri ku.


"Mba tadi ada titipan dari mas mas" Ujar pak Tono seraya menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna coklat.


" Dari siapa pak?."


"Terima kasih ya pak."


" Sama sama mbak saya pergi dulu." Ujar Pak Tono sambil turun kelantai bawah.


Saat istirahat aku pergi ketoilet dan dan membuka isi amplop yang mas agung titipkan pada Tono.


Aku terbelelalak mengetahui isi amplop coklat yang mas Agung titipkan berisi pecahan sebanyak 2 juta rupiah ,dalam pecahan seratus ribu segera ku masukan kembali uang itu kedalam amplop dan menaruh di saku rok ku.


Aku berjalan kearah loker untuk mengambil ponsel ku aku mencari membuka nomor mas Agung dari daftar blokir.


" Mas apa maskudnya ini? ." Tulis ku.


" Tidak apa apa anggap saja sebagai permintaan maafku, sesungguhnya aku salut dengan perjalan hidup mu." Balasnya.


Ya aku menceritakan pada mas Agung cerita hidup ku saat kami bertemu beberapa waktu lalu, meski baru kenal tapi aku merasa nyaman bercerita dan berkeluh kesah tentang hidup ku padanya beberapa waktu silam.


" Tapi mas ini berlebihan."


" Tenang saja itu uang halal kok. " Balasnya lagi.

__ADS_1


Aku merasa tidak enak setelah membaca balasan terakhir mas Agung seolah olah ia tahu bahwa aku meragukan asal muasal uang yang ia berikan pada ku.


Aku hendak mengucapkan terimkasih tapi pesan ku hanya centang satu hingga kau kembali kerumah tak kunjung centang dua.


Aku belum berani menggunakan uang yang mas Agung berikan uang itu aku simpan di tempat yang aman, apalagi Emi sahabat ku mewanti wanti agar aku berhati hati pada mas Agung.


Lusa Adik ku akan berangkat study tour ke pulau bangka belitung hari dia sudah mulai sibuk mempersiapkan baju dan juga bekal yang akan dia bawa nantinya.


" Kak Tolong antar ke minimarket untuk beli beberapa snack ya."


" Tulis aja Lin apa yang mau kamu beli, nanti kakak beli di supermarket dekat kakak bekerja." ujar ku.


" Ouuh ya sudah lah." dia mengambil buku dan pulpen dan mulai mencatat barang barang apa yang dia mau beli.


" Ini kak yang mau di beli." serunya menyerahkan secarik kertas yang berisi list barang barang yang hendak dia beli.


"Dan ini uangnya Alin sudah dapat gaji , kakak boleh ambil apa yang kakak mau Alin yang bayar." ujarnya polos.


Hatiku tersentuh dengan kepolosannya dia tampak gembira mendapat gaji pertamanya hasil kerja menyeterika selama ini.


" Makasih beneran nich kakak di traktir?." Ujar ku sambil tersenyum.


" Iya kak beli yang kakak mau" Sahutnya lagi aku mengambil uang yang Alin sodorkan aku dapat melihat ketulusan hatinya dari cara dia memandangku.


" Ayah mamak Alin pergi dulu ya." Pamit Alin pada Ayah dan mamak pagi ini dia berangkat ke bangka belitung dalam rangka study tour dari sekolahnya.


" Lin ayok cepat nanti tertinggal rombongan." seru ku yang menunggu diatas motor.


" Bentar kak pakai sepatu."


Setibanya di sekolah sudah berjubel para peserta tour dan orang tua maupun kerabat yang mengantar putra putri mereka.


Alin turun dari motor dan menyalami ku.


"Pergi dulu ya kak." Ujarnya


" Iya hati hati, jangan sampai terpisah dari rombongan ." Ujar ku mewanti wanti.


Dia mengangguk dan bergegas menuju pelataran sekolah.


Para peserta tour memasuki bus sesuai kelompoknya.


Alin melambaikan tangan dari dalam bus yang mulai merangkak meninggalkan pelataran sekolah.


Tiba tiba aku merasakan firasat yang kurang enak aku memnadangi busa yang alin tumpangi hingga tidak terlihat lagi.

__ADS_1


Sikap Alin yang tidak seperti biasanya menimbulkan rasa khawatir di hatiku, baik Alin maupun Arif sifat mereka cenderung pendiam dan sedikit pemalu tapi hari ini dia sangat ceria dan ekspresif sekali.


Masih terlihat jelas saat dia melambaikan tangan dari dalam bus yang ia tumpangi ekspresi wajahnya seolah berkata inilah perjumpaan terakhir kami.


__ADS_2