The Trouble Maker

The Trouble Maker
chapter 2


__ADS_3

Anais, sudah lebih dari 1 jam gadis itu berdiri didepan ruang guru bk. Menerima hukuman atas tindakan kekerasan yang dilakukannya pada teman sekelasnya.


Sang guru bk tak henti menghela nafas berat sambil terus menatap Anais kecewa.


Ia sudah tak tau lagi harus bagaimana bicara pada Anais. Karna ini bukan kali pertama Anais memukuli temanya, bahkan sudah tak bisa dihitung dengan jari.


Preman?


Ya, Anais mengakui julukan itu.


Gilanya lagi, dia suka disebut preman.


"Siang bu, saya Zico. Kakaknya Anais".


Anais yang tadinya hanya fokus menatap sepatunya, kini memalingkan pandangannya pada sang kakak yang baru saja datang.


Zico, menatap Anais tajam. Tak habis fikir adik perempuannya ini lagi lagi berulah.


"Oh kamu lagi yang dateng? Mama papanya mana?" Tanya sang guru pembimbing seraya mencatat identitas Zico.


"Mama papa saya masih ada urusan pekerjaan Bu, makanya saya yang wakilin". Jawab Zico.


Mendengar tuturan Zico, Anais malah berdecih sambil membuang muka.


"Urusan kerjaan apaan!? kerjaannya juga cuma ngomong sama robot idiot".


"Anais!" Bentak Zico sambil menatap Anais penuh amarah.


"Mas, hari ini Anais diijinkan pulang dulu. Besok jam 10 pagi tolong sampaikan pada mama atau papanya untuk datang ke sekolah. Karna perlu rapat dengan kepala sekolah untuk membicarakan masalah hari ini"


"Iya nanti saya sampaikan bu, terimakasih. maaf ngerepotin".


Sang guru hanya tersenyum kecil sebagai jawaban.


Zico menghampiri Anais. "Ambil tas sama barang barang lo cepetan. Gue tunggu dimobil". Perintahnya.


Tanpa menjawab lagi Anais berjalan meninggalkan tempat itu dengan santai menuju kelasnya.


Sesampainya dikelas, ruangan yang tadinya gaduh riuh itu sekejap menjadi sepi tak bersuara ketika Anais menginjakkan kakinya disana. Semua mata tertuju padanya, memandangnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Anais menghampiri mejanya dan memasukkan barang barangnya kedalam tas, kemudian memakainya dan kembali berjalan keluar kelas.

__ADS_1


"*Kayanya kali ini bakal dikeluarin"


"Baguslah jadi berkurang sampah di sekolah kita"


"Preman begitu kalo dikeluarin emang ada sekolah yang mau nampung*?"


Anais tidak tuli, dia mendengar semua bisikan itu dengan jelas. Tapi Anais coba menahan diri. Dia udah ga mood buat berantem dan memilih berjalan keluar kelas.


Tapi baru saja sampai di mulut pintu, langkah Anais terhenti karna ada dua orang yang menghalanginya.


Mereka adalah Somi dan Lucas. satu-satunya sahabat Anais disekolah ini.


"Ayiiiis!!!" Rengekan Somi sambil berhambur memeluk Anais kuat. Mencoba mencegah anak ini pergi.


"Yis, jangan pergiiii!!!". Lucas, ikut larut dalam pelukan itu.


"Aduh ***** sesek!!! Sana ah pergi! gue mau cabut, bukan mau mati" ucap Anais, tapi dia cuma diam tak bergerak. Enggan melepaskan pelukan hangat dari dua temannya ini.


"Gamau!!! Kalo lu pergi nanti yang bantuin gue kalo dilabrak kakel siapa???" Rengek Somi lagi.


Anais terkekeh kecil sambil mikir juga omongan Somi. tiba-tiba jadi teringat waktu pertama kali dia dan Somi berteman.


Waktu itu Anais lagi di belakang sekolah, niatnya mau kabur lewat pagar belakang. tapi gak sengaja malah terlibat perkelahian antar Somi dan beberapa kakak kelas yang lagi ngelabrak Somi habis habisan karna terlalu dekat sama Lucas.


"Gamau bacot gue gak ada apa-apanya kalo gaada Lo!!".


"Tau nih yiss!! Ngapain sih cabut segala. Mana sih anak yg cari gara gara sama lu?". Lucas melepas pelukannya tiba-tiba dan masuk kedalam kelas Anais. "Woy anying mana yang macem macem sama queen gue hah!? Maju sini sparing ama gua *****!!" Teriak Lucas ga ada adab.


"bodoh ngapain sih hahaha" Anais jitak kepala belakang Lucas, bikin si jangkun yang banyak bacot ini berbalik dan meluk Anais dan Somi lagi.


✨ Besoknya ✨


"Anais!"


Lamunan Anais teralihkan ketika ia mendengar suara sang ayah memanggil. Ia pun segera menghampiri sang ayah.


"Iya pah?". Anais kaget begitu ia keluar kamar dan mendapati seluruh keluarganya ada disana, jarang-jarang soalnya pada ngumpul gini. "Kok pada ngumpul?" Tanyannya bingung sambil berjalan menghampiri, kemudian duduk di sebelah Zico.


"Besok kamu gausah ke sekolah lagi" ucap ayahnya pelan.


Anais menatap ayahnya bingung.

__ADS_1


Apa kali ini ia benar-benar dikeluarkan?


Tapikan dia tidak sepenuhnya salah!


"Tapi pah, Ana.."


"Papah tau, tadi temen kamu juga udah ngaku dia yang ngejek kamu duluan". Potong sang ayah.


"Terus?" Tanya Anais lagi sambil menatap ayahnya lekat, menunggunya kembali berucap.


Sang ayah menghela nafas. "Papah yang minta kamu untuk keluar dari sekolah itu. Kamu pindah ke sekolah lain aja"


"Kenapa?"


"Sekolah itu gak beres, temen temen kamu juga semuanya anak bandel semua. Papah gamau kamu.."


"Emangnya apa peduli Papah?" Anais menatap ayahnya dingin.


"Anais". Ucap sang Ibu sambil menatap Anais tajam. Memperingatinya untuk tak membuat ayahnya marah.


"Kenapa? Emang mama juga peduli? Toh kalian lebih perduli sama kerjaan kan?"


"Kalo ngomong dijaga! Lo disekolahin bukan buat jadi kaya gini" omel Zico.


Anais menangis, ia merasa tidak ada satupun dirumah ini yang mengerti dirinya.


Padahal, semua yang Anais lakukan hanya untuk mendapatkan perhatian. Bukannya dibuang begini.


"Lusa, Tante Dara kesini jemput kamu" ucap sang ayah seakan tak memperdulikan air mata Anais.


Seketika tangis Anais berhenti, ia menatap sang ayah tak percaya. Tante Dara? Bukannya dia tinggal diluar kota.


"Jadi, aku di usir?" Tanya Anais.


"Bukan diusir sayang, tapi kamu bakal tinggal sementara sama Tante Dara. Katanya disana sekolahnya bagus" jawab sang ibu sembari menjelaskan.


"Tetep aja, kalian gak mau aku ada disini. Mama gak perlu ngejelasin sok baik gitu, Anais udah tau"


"Dek!" Tegur Zico lagi.


"Udahlah, kakak juga bakal betah dirumahkan kalo aku gak ada?". Zico tak menjawab.

__ADS_1


Anais berdiri dan pergi menuju kamarnya. Hatinya semakin sakit ketika tak ada seorangpun yang mencoba menghentikan langkahnya. Bahkan mereka tak berkata apapun untuk menenangkannya.


👠THE TROUBLE MAKER👠


__ADS_2