The Trouble Maker

The Trouble Maker
chapter 8


__ADS_3

Tak terasa hari Senin datang juga. hari dimana Anais memulai kembali kehidupan sekolahnya di sekolah barunya.


untuk pertama kalinya Anais menginjakkan kaki di gerbang sekolah ini sebagai murid pindahan.


semalaman Anais berdoa dengan khusyuk. jarang jarang dia berdoa.


pintanya hanya satu, Anais mau semoga kehidupan di sekolah barunya ini berjalan lancar. ia ingin sekolah dengan benar kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tak membuat masalah apapun, seperti di sekolahnya yang lama.


Anais ingin membuktikan kepada kedua orangtua dan kakaknya, kalau dia bisa menjadi lebih baik tanpa didampingi mereka.


kaki Anais kini berhenti di depan sebuah kelas.


2-2 Perhotelan


ia menarik nafas panjang sebelum memasuki kelas barunya itu. dan kesan pertama ketika ia masuk adalah...


cewek semua nji*r.


iya, kelas ini didominasi perempuan. hanya ada segelintir murid laki-laki disini. dan kini semua anak dikelas itu menatap Anais bingung.


Anais berjalan lebih dalam kedalam kelas itu, dan mereka masih menatap Anais tanpa bertanya satu kata pun.


Anais melihat sekeliling, mencari meja yang masih kosong. tapi dia tidak tau, meja mana yang tak ada penghuninya.


"anak baru ya?".


akhirnya satu anak mendekati Anais, ia seorang siswa laki-laki. Anais melirik nametag di baju lelaki itu.


Muhammad Yohan.


"ah, iya". jawab Anais singkat.


ganteng juga slurr. batin Anais.


"duduk disini, ini meja kosong". ucap Yohan menunjukan meja pada Anais.


"thanks". Anais menghampiri meja itu dan duduk disana. tapi bukannya pergi, Yohan malah duduk di kursi yang ada didepan meja Anais.


Yohan tersenyum pada Anais, dan itu bikin Anais risih.


"namanya siapa?". tanya Yohan.


"Anais". jawab Anais cuek.


"oh, gue Yohan"


"iya udah tau".


Yohan tersenyum bangga, gak sangka dirinya se famous itu sampai anak baru aja tau nanya.


"yah padahal gue mau memperkenalkan diri dengan baik, tapi kayanya lu udah denger nama gue dari anak anak lain ya". ucapnya dengan penuh rasa bangga.


Anais menunjuk nametag Yohan yang ada di seragam lelaki itu. dan berhasil membuat Yohan cringe.


"lu pindahan dari sekolah mana?". tanya Yohan mengalihkan pembicaraan.


"gue kasih tau pun lu gabakal tau". jawab Anais ketus.


ups kelepasan.


"maksud gue, gue bukan dari sekolah daerah sini jadi lu gak akan tau". ucap Anais mengoreksi ucapan sebelumnya.


"oh gitu, berati lu dari luar kota ya?". tanya Yohan lagi dan Anais hanya mengangguk sebagai jawaban. "dari kota mana?"


sumpah Anais udah menahan dirinya sekuat mungkin. Yohan ini anaknya kepo banget, bawel banget pula. Anais paling gak suka di kepoin sama orang asing. kalo aja dia lupa sama janjinya sendiri, Yohan pasti udah abis di maki maki.


"yoyo gak boleh liat yang bening dah". ledek anak anak yang lain.


"anak orang takut Yo hari pertama udah di interogasi aje!"


"berisik kamu children". saut Yohan cuek. "dari kota mana?".


"sorry ya, privasi".


anak anak lain tertawa karna jawaban Anais pasti menohok seorang Yohan yang biasanya gak pernah di giniin sama perempuan.


"WOY YOYO MANA?!"


perhatian semua orang langsung teralihkan pada seorang murid lelaki yang berteriak di mulut pintu. dia nyari Yohan.


"apa sih sayang?!" jawab Yohan nampak kesal pada orang itu.

__ADS_1


"ngapain sih disini! ada guru go*lok". omel orang itu pada Yohan.


"waduh!. eh Anais gue ke kelas dulu ya, nanti istirahat kita ngobrol lagi". Yohan berdiri dan hendak menghampiri temannya. "WOY BAE BAE LO SEMUA SAMA ANAIS!!" teriaknya sebelum ia pergi.


bikin malu anj*ir.


"banyak gaya, ternyata bukan kelasnya". ucap Anais pelan.


"iya, ini bukan kelasnya. dia kakak kelas". ucap seseorang yang tiba tiba duduk di meja belakang Anais.


Anais menoleh dan langsung kaget bukan main ketika melihat ternyata orang itu adalah Chandra. tanpa sadar Anais membuka mulutnya lebar.


"jangan sok kaget gitu dong. awas itu laler masuk". ledek Chandra.


"Lo ngapain disini?!" tanya Anais dengan nada agak keras, membuat beberapa anak menatap ke arahnya dan Chandra.


"ya sekolah lah, masa macul". jawab Chandra santai.


"aish!! kenapa lu harus sekolah disini sih!!"


✨✨✨


bel istirahat sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu dan kelas ini sudah hampir kosong. tapi, Anais masih duduk dengan rapih di mejanya sambil menyalin catatan.


gara-gara Chandra, Anais jadi gak fokus belajar dan akhirnya tertinggal. padahal sih Chandranya gak ngapa ngapain, Anaisnya aja yang berlebihan.


seandainya aja ada Lucas dan Somi disini, Anais pasti sudah di ketawain habis habisan. karna biasanya di sekolah lamannya jangankan diam dikelas buat nyatat, kadang bel istirahat belum bunyi Anais udah ada di kantin aja.


"yis, kantin dulu yuk". ajak Rose, teman sebangku Anais.


"duluan aja". saut Anais tanpa melirik Rose sedikit pun.


"yaudah, gue nunggu dikantin ya sama Jennie Jisu".


"okay".


Rose pun berjalan keluar kelas, meninggalkan Anais yang kini masih sibuk mencatat sendirian.


suatu keberuntungan banget Anais bisa dapat teman sebangku Rose yang adalah sahabat Jennie. jadi dia bisa dapat bantuan untuk lebih mudah bersosialisasi di kelas ini.



Anais berjalan menghampiri sebuah meja yang diisi 4 perempuan, mereka adalah Jennie, Jisu, Rose dan satu orang lagi yang Anais gak kenal.


"anak rajin dateng juga.. duduk sini makan dulu". Jennie menarik Anais untuk duduk di sebelahnya. "oiya, yis kenalin nih yang ini lu belum kenal kan?".


"Anais". Anais memperkenalkan dirinya pada teman Jennie yang belum ia kenal itu.


"Lisa".



lagi asik asik makan mie sambil ngerumpi, tiba-tiba Jinan dan Chandra datang dan duduk pas disebelah meja Anais.


"gibah aja lo ciwi ciwi". ucap Jinan.


Anais ngelirik Jinan, teringat pertengkaran mereka beberapa hari lalu. tapi Anais ignore aja dan lanjut makan.


"bedua aja kaya homo". ledek Lisa.


"yeh lidi lidian". bales Chandra.


"eh, btw Hanbin mana? dari pagi gue gak ada liat dia waktu upacara". tanya Jennie yang penasaran, karna tak melihat sosok Hanbin dari pagi.


biasanya Hanbin tiap hari Senin udah keliling ke setiap kelas buat razia. tapi hari ini batang hidungnya pun gak muncul sedikit pun.


"gatau, gue juga belum liat dari pagi". saut Jinan. lelaki itu kini melirik Anais. "eh anak baru, gimana hari pertamanya?" tanyanya.


Anais pura pura gak denger dan tetap melanjutkan makannya. Rose yang duduk disebelahnya menyikut Anais, memberi kode.


"apaan?" tanya Anais pada Rose. sebenernya Anais males banget berurusan sama Chandara dan Jinan.


"ituloh ditanya Jinan". ucap Rose.


"ngapain sih nanya nanya, emang lo yang punya sekolah?". tanya Anais ketus.


Jinan hanya tersenyum kecut.


tak lama kemudian terdengar suara gaduh, suaranya semakin dekat di telinga Anais. sampai akhirnya sosok Yohan datang dengan heboh dan duduk di sebelah Chandra.


"anj*ir cuy tadi gue liat Hanbin lagi di tembak cewek!!" serunya membuat seisi kantin langsung menatapnya.

__ADS_1


"berisik bego bikin malu!". omel Chandra.


"yeh ini big news banget cuy!!". seru Yohan lagi.


"siapa yang nembak???". tanya Jennie penasaran. Lisa, Rose dan Jisu yang juga penasaran langsung ikut nimbrung.


sedangkan Anais yang sama sekali gak tertarik sama gosip ini tetap melanjutkan makannya. pengen buru-buru habisin dan balik ke kelas.


"Lo semua pasti gak bakal nyangka!!"


"buru kasih tauu". ucap Jisu gemas.


"yang nembak.... si Irene!!"


"anj*rit?!! Irene si ketos?!". ucap hampir seisi kantin kaget.


iya, mereka nguping.


"gue udah tebak si Irene pasti naksir sama waketos nya sendiri!!!" seru Jisu heboh.


"terus gimana? diterima gak?!". tanya Lisa.


"gue gak tau, tadi gue cabut duluan sih takut ketauan". ucap Yohan.


tak lama kemudian datang satu orang lagi, Anais memperhatikan orang itu. dia berpakaian sangat rapih, kemeja dimasukan dan pakai almamater jurusan yang sama dengan Anais. berbeda dengan anak anak lain yang pakaiannya udah amburadul.


itukan temennya Yohan yang tadi pagi. anak rajin banget dah pake seragam lengkap gitu. gumam Anais.


"woy! yoyo anying gua ditinggalin!! hampir aja ketangkep sama si Hanbin!". teriaknya gak ada adab sambil melempar tasnya ke atas meja. detik kemudian ia buka almamaternya dan mengeluarkan kemejanya.


dia adalah Bobby Cameron.


Tuhan tarik kata-kataku. gumam Anais lagi.


"Bob, gimana? si Hanbin terima gak?!" tanya Yohan antusias.


"mana gua tau ****". jawab Bobby kesal.


Bobby ngelirik Anais, mereka sempat bertemu mata. kemudia Bobby mendekati Anais.


Anais kaget dan langsung terlonjak ketika Bobby tiba-tiba menundukkan wajahnya sangat dekat dengan Anais.


"eh anak baru yang tadi pagi, halo gua Bobby". ucapnya tiba-tiba.


Jennie menarik kerah belakang Bobby, membuatnya sedikit menjauh dari Anais.


"jangan macem macem sama sepupu gue ya boba!". ancam Jennie.


"galak amat sih Jen, dia aja diem aja tuh.. ya gak cewek?".


Anais hanya bercih. suasananya mulai gak nyaman buat Anais, terlalu ramai. terlalu banyak orang asing.


"gue kekelas duluan ya".


Anais berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan kantin tanpa menunggu jawaban dari teman temannya.


"lu sih bob ngomongnya kedeketan, dia pasti keracunan deh tuh". canda Jinan.


"anying!!".


✨✨


Anais mampir ke toilet, buat touch up make up.


secuek cueknya Anais, dia tetap seorang perempuan yang merhatiin banget penampilannya.


pas keluar dari toilet, Anais gak sengaja mergokin murid yang lagi ngerokok di pojokan.


dilihat dari punggungnya, Anais kayak kenal.


kayanya ini si June dah, cabut ajalah daripada kena apes.


"Anais!".


baru saja Anais mau pergi, eh namanya terpanggil. Anais tau banget, ini suara Ezra.


Ezra kampret.


Anais nengok, dan benar saja kedua orang itu adalah June dan Ezra. Anais senyum kaku pada Ezra.


diliriknya June tersenyum miring. seketika perasaan Anais jadi gak enak.

__ADS_1


__ADS_2