
Pagi ini Anais sudah berpakaian rapih dengan sebuah koper dan tas besar di sampingnya. Ia duduk di balkon kamarnya sambil mendengarkan playlist favoritnya, memandang kosong halaman rumah yang ada di sebrang rumahnya.
Ini adalah hari terakhir Anais bisa memandang rumah itu sebelum ia pergi untuk waktu yang entah sampai kapan. Rumah yang setiap pagi tak pernah luput dari pandangannya.
Anais melirik jam tangannya yang menunjukkan jam 6.29 menit.
"Satu... Dua... Tiga".
Setelah hitungan ketiga Anais mengatakan kepalanya dan kembali menatap pintu rumah di sebrang lagi. Bersamaan dengan itu keluarlah seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitamnya yang pekat dan sorot mata yang tajam.
"Anak OSIS emang beda" gumam Anais sambil masih menatap pria itu.
"Woy Viini!" Panggil Anais, dan berhasil menghentikan langkah Viini yang kini menatap Anais. "Satpam sekolah aja belum bangun kali jam segini" ucapnya
Viini senyum, manis banget.
"Guekan otw ke rumah satpamnya buat bangunin"
"Idiot gaada kerjaan wkwk" tawa Anais yang dibalas tawa juga oleh Viini.
"Duluan ya, hari ini jangan telat lo yis".
Anais hanya mengangguk kecil pada Viini. Kemudian pria itu melanjutkan langkahnya menuju sekolah.
"Bye Vin. Gonna miss you Viini Jayendra idiot" gumam Anais.
Beberapa jam kemudian sebuah mobil Bentley Continental GT berwarna putih berhenti di depan rumah Anais.
Melihat itu Anais dengan semangat turun menemui sang pemilik mobil yang adalah tantenya, Sandara.
"Tanteeee" teriak Anais disertai senyum lebarnya sembari berlari kepelukan sang Tante.
"Ayiiiis!!"
"Tante udah dateng, masuk yu Tan". Ajak Zico yang baru saja keluar menyambut tantenya.
"Iya sayang, yaampun ponakan Tante udah pada gede semua ya". Sandara mengelus gantian kepala Anais dan Zico.
Mereka pun masuk kedalam rumah.
"Kok sepi, mama papa kalian mana?" Tanya Sandara yang tak kunjung melihat kedua sosok itu.
"Um, papa bilang pagi ini ada seminar dikantor jadi mereka berangkat dari subuh Tan" jawab Zico.
"Oooh" tanggap Sandara.
Anais yang bahkan tidak tau kalo kedua orang tuanya tidak ada dirumah memilih diam saja.
"Tapi mama titip salam buat Tante dan om Azriel, katanya nanti mereka bakal mampir kesana sambil jenguk Anais"
"Cih" decih Anais yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zico.
✨✨✨
Setelah hampir 4 jam berkendara akhirnya mobil Sandara berhenti didepan sebuah rumah besar.
"Anais ayo turun, kita udah sampe". Ajak Sandara kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah itu, diikuti Anais dibelakangnya.
"Mang Ucup, tolong bawain koper sama tas Anais di mobil ya".
Perintah Sandara pada amang ya bekerja dirumahnya ini.
"Iya non"
"Anais mau minum apa? Biar Tante buatin"
"Teh manis aja tante".
"Okay, kamu duduk dulu aja disitu ya".
Anais pun duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tengah yang luas ini. Matanya dengan serius mengelilingi seisi ruangan ini. Memperhatikan satu persatu lukisan dan benda benda unik yang ada disana.
Iya kagum, Anais mengakui selera seni pamannya.
Anwy, Sandara ini adalah adiknya papa Anais, sudah hampir 10 tahun menikah tapi Dara dan Azriel, suaminya masih belum di anugrahi anak. Makanya rumah besar ini terasa sepi.
"Anais, kamu laper ga? Keluar yuk cari makan?" Ajak Dara setelah kembali dari dapur dengan membawa segelas teh manis ditangannya.
__ADS_1
"Um aku masih capek Tan".
Sandara langsung diam, dan itu membuat Anais merasa bersalah. Takut ucapnya terlalu ketus.
Tapi gimana dong, udah kebiasaan.
"Oh iya ya haha.. yaudah nanti sore aja deh kita perginya kamu istirahat dulu"
Anais langsung bernafas lega karena ternyata Dara gak marah.
"Kalo gitu tente pergi dulu yah sebentar, mau lapor ke pak rt, nanti kalau butuh apa apa bilang mang Ucup aja ya".
"Iya tan".
"Non, tas sama kopernya udah ada di kamar ya" ucap mang Ucup tiba tiba datang.
"Eh iya, makasih... Oiya, kamarnya sebelah mana ya?"
"Kamarnya dilantai 2 non, yang samping balkon"
"Oh, oke"
✨✨✨
Anais Side
"Kamu tinggal sama tante dara dulu ya sambil sekolah disana. Nanti kalo udah lulus papa jemput ya"
Jemput katanya? Cih emang dikira gue gak tau apa?!
Mereka titipin gue ke tante Dara karna mereka malu sama kelakuan gue.
Dasar! Kenapa sih gue punya orang tua kaya mereka?!
Sama sekali gak pernah ngerti perasaan anaknya.
Setiap hari ditinggal. Hidup satu atap tapi mau ketemu aja harus nunggu gue buat onar dulu. Udah gitu bukannya dikasih perhatian malah dicuekin.
Punya kakak juga kerjaannya tiap hari keluyuran kaya gelandang. Gak guna.
"Anais, kamu udah bangun belum?"
"U-udah tan"
Duh mager banget sih, tapi kalo nolak malah gak enak. Tante Dara udah 2 kali ngajak keluar.
"Iya, aku ganti baju dulu"
✨✨✨
Duh berisik banget. Kenapa tante gak bilang sih mau makan di tempat kaya gini. Rame banget, bau pula. Akh nyesel keluar ****.
"Yis, kok gak dimakan? Kamu gak suka bebek?" Tanya om Azriel.
"Eh suka ko om".
"Yaudah makan yang banyak ya, kamu kurus banget".
"Iya".
Boleh gak sih gue tuker aja jadi anaknya tante Dara sama om Azriel?
Mereka kenapa sih baik banget? Papa sama Mama aja gak pernah begini sama gue.
Orang sebaik mereka kenapa susah banget punya anak ya, padahal gue yakin banget kalo mereka punya anak pasti anaknya bakal disayang banget.
Duh sial, kok gue mau nangis lagi sih. Ah gak tau tempat banget sih masa nangis di warung makan yang rame gini.
"Yis kenapa? Pedes ya? Mau tambah minumnya?" Tanya tante Dara. Pasti dia liat waktu gue usap ingus.
"Enggak usah Tan, a-aku cuma ke-cabean aja. Aku ketoilet bentar ya"
Konyol banget alasan lo Anais!.
Bodo ah cabut ke WC aja.
Duh buset, toiletnya ngantri begini. Yang punya warung juga udah tau warungnya rame, kenapa cuma sediain 2 toilet doang deh?
Mana lembab banget, iyuuuh.
__ADS_1
Author Side
Setelah nunggu cukup lama, akhirnya pintu toilet yang Anais yakini adalah toilet perempuan pun terbuka. Anais langsung berbinar, akhirnya ia bisa masuk dan menangis sepuasnya.
Tapi, Anais langsung kicep dan mematung setelah liat siapa yang keluar dari toilet itu.
Seorang cowok bertubuh kekar nan tinggi, dan dengan tanpa berdosanya dia sendawa di depan muka Anais.
"eh maap kirain gaada orang" ucapnya santai kemudan melenggang pergi begitu saja.
Anais melotot, bisa bisanya orang asing kaya gitu mancing emosinya.
"berenti lo cowok cabul"
Pria tadi berhenti dan membalikan badanya menghadap Anais yang sedang menatapnya tajam.
"apa? Cowok cabul? Siapa? Gue?" tanya pria itu sambil menunjuk dirinya sendiri.
"menurut lo!?"
"apa sih gak jelas" orang itu bodo amatin ucapan Anais dan pergi lagi.
"gue bilang berenti ya cabul!". Anais semakin kesal dan naik darah. Ia lepas kendali dan tanpa sadar berteriak sangat keras. Membuat toilet itu kini menjadi pusat perhatian. Orang-orang mulai berkerumun melihat apa yang sedang terjadi disana.
Pria itu berhenti berjalan, ia memutar bola matanya kesal dan kembali membalikan badan. Ia berjalan beberapa langkah menghadap Anais. Membuat gadis itu dengan sendirinya mundur seiring langkah pria itu yang semakin mendekat.
"coba ngomong lagi!"
"c-cabul! Gak tau malu" ucap Anais dengan nada suara yang semakin rendah. Takut dengan tatapan tajam yang dimiliki pria ini.
"cabul? Dimana cabulnya? Apa ada undang-undang yang nyebut sendawa didepan perempuan itu tindakan pelecehan seksual? Kenap lo sebut gue cabul? Apa gue gerepe lo? Nggak kan?!". Oceh pria itu panjang lebar sambil liatin Anais dari ujung kepala sampe kaki.
Anais diam.
***** bacot juga mulut nih cowok. Anais bermonolog.
"l-lo masuk toilet perempuan"
"toilet perempuan apanya sih ngaco! Orang kampung ya?!" saut pria itu sambil menatap remeh Anais.
"anj-..."
"Jun, ngapain sih? Dimana mana bikin keribuatan aja deh lo"
Untung aja ada yang datang, jadi makian Anais terpotong. Kalo nggak bisa panjang nih urusan.
Pria yang baru datang tadi langsung ngeliat Anais gak enak.
"eh mba, maaf ya temen saya kalo dilepas emang suka buat gara gara, mohon maafin aja ya kelakuannya kad-"
"apaan sih Za! gak tau apa apa juga ngapain minta maaf sama cewek aneh begini. Cabut aja yo lah! Jadi ga mood makan gue" June, pria itu pun meninggalkan toilet begitu saja.
"mba maaf ya sekali lagi". Ezra, teman June itu kemudian pergi meninggalkan Anais dan menyusul June.
"apasih aneh banget! Bikin emosi aja! Ah jadi gak mood nangis kan gue bangst bgt"
Akhirnya Anais mengurungkan niatnya untuk ketoilet dan memilih kembali menghampiri om dan tantenya.
Dara yang melihat raut wajah kesal Anais pun penasaran.
"kenapa? Ko balik balik cemberut gitu?" tanya Dara.
"hem? Gapapa tan. Cuma kesel aja" jawab Anais seadanya.
"kesel kenapa?"
"itu tadi ada orang ngajakin berantem. Bikin kesel" jawab Anais lagi.
"loh? Yang mana orangnya? Dia apain kamu?" kali ini Azriel yang bicara. Berani beraninya ada yang macam macam sama ponakannya.
"kayanya udah pergi om. Tapi aku gak di apa apin ko. Tadi cuma adu mulut aja"
"gara garanya?"
"dia masuk toilet perempuan, yaudah aku tegur. Eh dia malah nyolot"
"heh? Toilet perempuan?" Azriel malah dibuat bingung. "yang, emang toilet disini udah dipisah ya?". Tanya Azriel pada Dara.
__ADS_1
"gak tuh, duh Anais sayang kayanya kamu salah faham ahaha.. toilet disini campur sayang"
"hah? Tante bercanda ya!?"