The Trouble Maker

The Trouble Maker
chapter 5


__ADS_3

"Apasih kampung makan martabak pake nasi!! Gak lu tambahin kerupuk sekalian?"


"Ide bagus wkwk!! Som beliin gue kerupuk gece!". —Lucas.


"***** emang gue babu lu". —Somi.


"Buruan ah.. gak gue bagi sambelnya lu". —Lucas.


"Ah dasar!". —Somi.


"Gimana disana yis? Betah gak?". —Lucas.


"Baru juga sehari gue disini. Belum berasa betah atau enggaknya". Saut Anais.


Sekarang ini Anais lagi video call-an sama sobatnya. Padahal sekarang lagi jam belajar, tapi dua makhluk ini malah makan martabak telor di UKS.


"Jadi hari ini siapa yang sakit?" Tanya Anais.


"Gue"


"Sekarang mapel pak Suho kan? Ko bisa lolos?"


"Gue ngaku diare. Pak Suho kan ada trauma sama aroma semerbak kentut gue, makanya di bebasin haha". Ucap Lucas dengan bangganya.


"Bego haha"


"Siapa? Gue?"


"Pak Suho haha. Mau aja di begoin anak bego".


Somi dan Lucas ini sekelas. Mereka sering banget bolos berdua. Tiap hari alasannya beda beda. Kadang Somi yang ngaku sakit, terus Lucas ijin nemenin. Begitu sebaliknya.


"Gue kangen yis" ucap Somi yang tiba-tiba udah dateng lagi dengan dua kerupuk kulit di tangannya.


"Baru juga gue pergi kemarin"


"Tetep aja yis, disini hampa banget tanpa lu. Gue sampe gak nafsu makan". Sedetik kemudian Somi melahap martabaknya sekali gigit.


"Ga napsu ya?". Somi mengangguk. "Bodoh! Haha"


"Heh siapa tuh yang makan di UKS? Pura pura sakit ya?!". —?


Tiba-tiba ada suara orang lain yang datang. Lucas Somi langsung keliatan panik dan buru buru rapihin kotak nasi dan martabak mereka.


"A-anu kak temen saya lagi diare. Saya lagi nemenin dia makan". —Somi


"Iya nih.. aduh sakit banget aduuuh". —Lucas


"Dasar bocah bocah idiot akting lebay gitu mana bakal ada yang percaya sih". Anais gak kuat mau ketawa.


"Beneran? Lagi mojok kali lu berdua". —?


"Enggak!!" jawab Lucas Somi barengan.


Anais berhenti ketawa setelah denger suara orang itu lagi. nada suaranya berat, dan ngomongnya rada cadel.


"Yis, udah dulu ya. Ada ketos nih mergokin gue sama Lucas. Nanti kita VC lagi ya bep!" Bisik Somi sebelum akhirnya ia mematikan teleponnya.


Anais tersenyum kecil.


"Benerkan, itu dia. Kalo ada gue disana pasti seru yakan.. Vin"


Viini Jayendra. Tetangga, temen, ketos sekaligus musuh Anais disekolah.


Kenapa musuh?


Karna Viini ketua OSIS, dan Anais adalah golongan murid yang harus diberantas OSIS.


Tapi diluar sekolah Viini biasa aja kok, dia juga ramah sama Anais. Bahkan sampe bikin si keras ini baper.


Viini, meski malu ngakuinnya. Tapi Viini adalah cinta pertamanya Anais.


Walaupun jatuh cintanya gak etis. Jadi ceritanya waktu itu Viini baru aja resmi jadi ketua OSIS yang baru. Dan hari dimana pengangkatan OSIS, Anais malah berulah. Ribut sama adik kelas.


Dan jadilah Anais paisen pertamanya Viini. Tapi begonya Anais waktu itu malah sempet sempetnya terpesona sama Viini yang kelewat ramah, sampe Anais nekat nyari masalah terus supaya bisa dihukum dan ketemu Viini.


Konyolnya lagi Anais pernah sampe iseng ngebuntutin Viini cuma perkara mau tau aja rumahnya Viini dimana. Dan ternya Viini tinggal di sebrang rumahnya sendiri.

__ADS_1


Kemana aja Anais selama ini hah?!.


Tapi usut punya usut ternyata Viini emang belum lama pindah kesana. Baru sekitar 2 bulanan.


Dan sejak itu juga Anais jadi rajin bangun pagi untuk mantau Viini, ngeledek Viini sampai cowok itu senyum atau ketawa ngakak. Kalo Viini udah pergi ya Anais tidur lagi.


Cinta emang indah ya. Meski bikin bego.


✨✨✨


Anais guling guling gak jelas di kamarnya. Dia bete banget, gaada kerjaan. Om tantenya pergi kerja, Jennie sekolah dan Mino juga lagi kerja.


Mau nonton film tapi ga mood, Anais gak suka nonton sendirian.


Biasanya dia ditemenin Lucas Somi, atau kadang kalo lagi ada Zico dirumah dia nonton berdua, walau sebenernya Zico lebih fokus ke HP-nya.


Walaupun jarang keliatan akrab, tapi Anais dan Zico sama kok kaya kakak adik biasanya.


Cuma ya, Zico anaknya agak introvert dan pendiam. Kebalikannya Anais. Makanya mereka agak kurang akur.


Padahal waktu kecil mereka kemana mana berdua terus, bahkan Zico gak akan mau tidur sebelum Anais tidur di pangkuannya. Huh Abang idaman banget.


"Aduh Tuhan gabut banget gue!!"


Anais bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar. Nyamperin mang Ucup yang lagi duduk santai di belakang rumah.


"Mang Ucup lagi ngapain?" Tanya Anais.


"Eh non Anais udah bangun, anu saya lagi duduk aja non. Non Anais ada butuh apa? Biar saya siapin?"


"Enggak usah. Aku masuk dulu mang".


"Mangga"


"Hah? Mangga?" Tanya Anais bingung.


"Silahkan non maksudnya"


"Ooh, kirain mang Ucup nawarin mangga.. kalo ada saya mau hehe"


"Mang, aku aja yang manjat. Dimana pohonnya?"


✨✨✨


"Ini pohonnya?". Tanya Anais dan mendapat anggukan dari mang Ucup. "Kok, ditanamnya di depan rumah orang sih?"


"Bukan ditanam dirumah orang non, tapi emang ini pohon orang"


"Lah?! Ini mah namanya maling dong mang!!"


"Bukan dong non, kalo maling kan ngambil tanpa izin, kalo kita kan ngambilnya bilang non"


"Emang mang Ucup udah bilang sama yang punya pohon?" Tanya Anais dan mang Ucup malah ngegeleng. "Lah gimana sih??"


"Bilangnya nanti non kalo udah dipetik, kalo bilangnya sebelum dipetik nanti orang yang punyanya minta di petikin juga"


"Hahaha iya bener juga! Yaudah aku panjat ya".


"hati hati ya non"


"selaw mang"


Anais mulai memanjat pohon mangga itu. Karna banyak rantingnya jadi Anais gampang naiknya.


Gak sia-sia waktu kecil main sama Mino. Ada hasilnya juga didikan Mino ini.


"**** banyak banget daaah!!! Panen besar gue!!" Ucap Anais kegirangan sambil memetik buah mangga dihadapannya yang sudah matang.


Lagi asik asik metikin mangga, Anais ngedenger suara berisik di bawah. fikirnya mungkin itu suara mang Ucup sama yang punya pohon. Jadi Anais ignore aja dan lanjut metik mangga.


Sampai tiba-tiba pohonnya guncang. "elah angin dari mana dah ini kenceng amat". Anais megang erat-erat ranting pohon yang didudukinya.


Anais ulurin satu tangannya, coba ngeraih mangga yang ada di sana.


Tep!


Anais kaget sampai hampir ngelepasin pegangannya begitu tiba-tiba ada tangan yang ngeraih mangga itu.

__ADS_1


Anais melotot dan menatap orang itu.


"Siapa Lo? Setah pohon ini ya!?" Makinya. Orang itu malah ngakak.


"Iya, gue setan penunggu pohon ini. Mau apa lo?"


"Sinting! Balikin mangga gue!"


"Mangga Lo?"


"Iya, gue yang liat ini duluan. Balikin"


"Gue liat ini duluan tuh"


"Mana ada, Lo kan baru naik.. gue udah naik dari tadi"


"Gue udah liat mangga ini dari dia masih ******"


"Hah?!!!!"


"Chan turun!! Katanya sakit malah manjat pohon!! Kamu bohongin bunda ya?!"


"Iya Bun, ini mau turun".


Chandra, pria bertubuh agak gempal itu pun turun dari pohon. Meninggalkan Anais yang kini larut dalam kebingungan.


Anais masih kepikiran kata ******.


"Non udah non turun, nanti jatoh" panggil mang Ucup.


"Eh iya".


Anais mulai turun perlahan sambil memegang kaos bagian bawahnya yang penuh dengan mangga.


dia gak perduli dengan getah mangga yang memenuhi bajunya, yang penting dia bisa makan mangga.


begitu menginjakkan kaki di tanah, Anais langsung di hadapkan dengan pria bernama Chandra tadi dan ibunya.


"Bu kenalin ini namanya Anais, keponakannya non dara sama pak Azriel" ucap mang ucup pada Chandra dan ibunya.


"Eh kayanya kenal deh. kamu yang waktu kecil pernah tinggal disini ya?" Tanya ibunya Chandra.


"Iya betul bu". jawab Anais. ia sedikit bingung, ini ibunya Chandra kenal dia dari mana?


"Tuh kan bener.. Chan kamu inget gak? Dulu kamu kan pernah main sama dia sampe pulang berdarah darah.. duh kamu udah gede jadi makin cantik yah". ibunya Chandra mengelus lengan Anais.


Anais dibuat kaget lagi dengan ucapan ibunya Chandra.


Apa katanya? Dulu mereka pernah main bareng?


Sampe berdarah darah???


Main apaan *****??


padahal Anais aja baru tau nama anak ini Chandra. Ketemu pun rasanya baru beberapa menit lalu.


"Inget lah Bun". jawab Chandra sambil menatap Anais dengan senyum kecil.


Kini Anais menatap Chandra kaget.


Inget katanya?


Ayolah, ini curang kenapa cuma Anais yang lupa sama sekali.


"Gitu ya haha, saya kurang tau Bu.. dulukan belum kerja sama pak Azriel" ucap mang Ucup.


"Iya ya haha".


"Yaudah kalau gitu permisi dulu ya Bu, makasih mangganya" pamit mang Ucup.


"Permisi Bu". Pamit Anais.


"Iya, kapan kapan main kesini ya Anais".


Anais hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan ibunya Chandra itu.


sekilas ia melirik Chandra yang ternyata masih menatapnya dengan senyum miring menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2