
Kehidupan yang tenang menemaniku hingga masa sekolah menengah. Aku berharap ketenangan ini menemaniku selamanya. Namun, semua impianku digagalkan oleh suatu peristiwa yang mengubah kehidupanku. Berawal dari sebuah mimpi hingga menjalankan tugas dari sesosok yang menyebut dirinya ‘Dewa’.
—Mimpi yang nyata
“Kakak, aku tidur duluan ya!”, teriakku di depan pintu kamar.
Yah, bagaimana tidak lelah, setelah mengerjakan tugas sekolah hingga sore ditambah kegiatan ekstrakulikuler.
“Ahh lelahnya..”, ucapku menjatuhkan diri ke kasur yang empuk.
Tak berselang lama,aku pun tertidur lelap. Aku merasa semua kelelahanku hilang dengan tidur ini.
Hingga tiba-tiba,aku terbangun kaget. Aku berada di ruang hampa. Tidak ada jalan keluar.
“Yang benar saja? Ini pasti cuma mimpi”, ucapku sembari mencari jalan keluar.
“Ini bukan mimpi,nak”, seseorang tidak dikenal menjawabku.
“Hah?! Siapa kau?!”, begitu melihatnya, aku pun sangat terkejut.
Bagaimana tidak terkejut, selain aku terjebak di dalam ruangan tanpa jalan keluar, aku bertemu dengan sosok misterius yang bercahaya.
“Halo,nak. Senang bertemu denganmu”, ucap sosok itu menunduk kepadaku.
“Si-siapa kau?! Dimana ini?! Kenapa aku ada di sini?! Apa yang-”
“Baiklah,aku akan menjelaskan kepadamu”,dengan santainya dia menenangkanku.
“Baiklah,nak.Aku tidak akan lama bersamamu.Yah kau juga harus kembali ke tubuhmu,kan?”,jelasnya
“A-apa? Tubuhku? Apa maksudmu?”,aku tidak mengerti apa maksud perkataannya.
“Yang sedang berbicara denganku saat ini adalah jiwamu,bukan tubuhmu.Dengan kata lain,aku memanggil jiwamu saat kau sedang tertidur”,dia menjelaskan.
“Jiwa? Itu artinya tubuhku masih tertidur? Tunggu-tunggu,aku sama sekali belum paham apa yang terjadi”,aku sangat kebingungan.
“Tentu,aku bisa melakukan apapun.Karena,aku dewa!”,dia berbicara dengan ekspresi sombong.
Setelah mengatakan itu,tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata.Aku tidak bisa melihat apapun,kecuali cahaya putih.Aku pun berteriak dengan maksud memanggilnya.
Beberapa saat setelah cahaya tersebut hilang,aku terbangun.Aku pun sangat lega karena yang kulihat tadi hanyalah mimpi.Aku pun beranjak dari tempat tidur untuk bersiap-siap ke sekolah.
—Kehidupan sekolah
Namaku Kanshizuintoroshi,namun karena terlalu panjang,keluarga dan teman-temanku memanggilku ‘Kazuto’.Aku sekolah di SMA Hanagawa,kelas 1 semester 2.Aku memilih SMA tersebut karena kakakku juga bersekolah di sana.
Kakakku bernama Amato,dia sudah kelas 3.Dia juga yang merupakan wakil ketua OSIS di SMA itu.
“Mau sampai kapan kau duduk di sana,hah?”,kakakku memanggilku
“Ah iya..Aku berangkat,bu”,setelah memakai sepatu,aku pun berangkat bersama kakakku.
Sepanjang perjalanan,aku tak henti-henti memikirkan mimpi semalam.Ntah itu nyata atau tidak.
“Dari tadi kau melamun terus,ada apa?”,tanya Kakakku.
“Ahh tidak kok..Aku cuma lupa ngesave video game semalam”,aku mencoba berbohong.
“Oh begitu..kalau kau punya masalah apapun,terutama pacar,kau bisa bilang padaku..akan kucarikan gadis yang sesuai untukmu..hahahah”,Amato menyemangatiku.
“Ahh i-iya,terima kasih”
Sesampainya di gerbang sekolah,terlihat teman sebangku ku,Hami,menungguku.
“Kazuto,kenapa kau selalu terlambat? Padahal kakakmu wakil ketua OSIS,loh”,Hami menepuk pundakku.
“Ahh tadi aku lupa menyalakan alarm,jadinya kesiangan”,jawabku.
“Ahh begitu rupanya..kak Mato,lain kali,kalau dia belum bangun,kau harus menyiramnya dengan air es..hahahah”,Hami sedikit bergurau.
“Tentu saja..haha..Omong-omong,kakakmu belum datang?”,Amato menanyai kakaknya Hami yang merupakan ketua OSIS.
“Yo kalian!”,dari kejauhan.
Sama sepertiku,Hami memiliki kakak perempuan yang sudah kelas 3 dan merupakan ketua OSIS.
“Woahh kak Hilma semakin hari semakin cantik saja”,aku terpesona dengan paras Hilma yang begitu cantik.
“Sama seperti kakaknya,adiknya juga nakal ya? Hahaha”,Hilma sedikit menyindirku.
“Bisa saja kau..ohh apa kau sudah membuat laporan yang kemarin?”,tanya kakakku.
“Tentu saja..aku akan memberikannya kepada kepala sekolah”,jawab Hilma.
Beberapa saat kemudian,kami berempat pun masuk ke kelas masing-masing dan beraktivitas seperti biasanya.
Di akhir jam pelajaran,aku tertidur sekejap.Aku pun bermimpi.
Betapa terkejutnya diriku,karena aku bermimpi sama seperti semalam,yaitu bertemu sesosok putih misterius.
“Hai,nak..Kita bertemu lagi”,dia menyambutku.
“Ka-kau lagi? Bagaimana bisa?!”,aku sangat terkejut melihatnya lagi.
“Yah bagaimana ya? Aku sih bisa mengendalikan jiwa seseorang”
“A-apa?!”,aku tidak percaya.
“Oke langsung saja ke intinya.Sepulang sekolah,lewatilah gang di pinggir supermarket yang biasa kau kunjungi.Ada seseorang yang butuh bantuanmu di sana”,setelah mengatakan itu,dia pun mengilang.
“Hah?! Tu-tunggu!!”,teriakku.
“Oy,kau melindur ya?”,Hami melempariku dengan bola kertas.
“Eh? Hah?”,aku sadar telah terbangun dari mimpi.
“Jangan-jangan kau mimpi ditinggalkan pacarmu..hahaha”
“Ahh itu..tidak kok”,wajahku memerah.
—Kejadian yang tidak masuk akal
Bel sekolah pun berbunyi.Aku pun bersiap untuk pulang.Aku penasaran dengan apa yang dia ‘sosok putih’ katakan dan mencoba mencari tahu.
“Kakak,aku pulang duluan ya!”,teriakku kepada kakakku yang berada di ruang guru.
“Gang di sebelah supermarket..hhm..ada!”,aku menemukan gang.
Aku pun menghampiri gang tersebut.Betapa terkejutnya diriku,saat mendekati gang yang sepi tersebut,terdengar suara wanita minta tolong.
“Tidak mungkin”,aku pun memasuki gang tersebut.
Di dalam gang,aku melihat segerombolan remaja meneriaki seorang wanita yang memanjat tangga sebuah rumah.
“Tolong!! Tolong aku!!”,teriak wanita tersebut.
Saking takutnya,aku tidak tahu harus berbuat apa.Namun,tiba-tiba..
"(Jentikkan jarimu,nak)"
“Suara ini!! Kau?!”,aku menyadari bahwa suara itu merupakan suara sesosok putih yang berbicara kepadaku.
"(Sudahlah,cepat jentikkan jarimu)"
Aku pun menjentikkan jariku.
Seketika,segerombolan remaja dan seorang wanita di depanku diam tak bergerak dan tak bersuara layaknya patung.
"(Sekarang,cepat selamatkan wanita itu)"
Aku pun memanjat tangga dan menggendong wanita tersebut.
“Sekarang harus kuapakan dia?”,tanyaku dengan penuh keheranan.
"(Bawa dia ke rumahmu)"
“Apa?! Kau bercanda?! Aku harus menggendong dia hingga ke rumahku?! Rumahku berjarak 1200 meter dari sini,loh!”
"(Tidak,cukup dengan menunjuknya)"
Tanpa pikir panjang,aku pun meletakkan wanita itu dan menunjuknya dengan telunjuk tangan kanan.
Sesuatu pun terjadi.Wanita itu terhisap oleh telunjukku.Sontak,aku pun sangat terkejut.
“Ti-tidak mungkin! TIDAK MUNGKIN!!”
"(Sudahlah,cepat pulang ke rumahmu,dan jangan lupa menjentikkan jarimu setelah keluar dari gang)"
Suara itu pun mengilang.Keluar dari gang,aku pun menjetikkan jariku untuk yang kedua kalinya.
Seketika,segerombolan remaja itu bergerak kembali dan mencari-cari wanita yang diincarnya.
Sambil terus menatapi telunjuk,aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah,aku disambut kakakku.
“Hey kau dari mana saja? Kenapa telujukmu?”,tanya Amato dengan rasa khawatir.
“Ah tidak kok..aku tadi mampir ke supermarket dan telunjukku terjepit pintu”,jawabku memasuki kamar.
—Kau tidak sendirian
Sesampainya di kamarku,aku mengeluarkan wanita yang tadi ku selamatkan.Dengan cara yang sama,yaitu menggunakan telunjuk.
Jariku memancarkan cahaya.Dan benar saja,dari jariku keluar butiran hitam seperti atom yang begitu banyak membentuk tubuh wanita itu.
“Uhuk..uhk..dimana aku??”,wanita itu siuman.
“Ahh itu..sebaiknya kau jangan banyak bergerak dulu”,aku menjawabnya dengan gugup.
Wanita itu pun terduduk diam sambil melihat sekeliling kamarku.
“Hhm..siapa kau?”,tanya wanita itu.
“Ahh aku-”,tiba-tiba aku jatuh pingsan tak berdaya.Dan kemudian terdengar suara‘nya’..
"(Jadi,cuma segini batasmu,ya)"
Aku pun tak sadarkan diri selama beberapa menit.Setelah terbangun,aku sudah berada di atas kasur.Wanita tadi terlihat memperhatikanku dari samping.
“Ah ma-maaf merepotkanmu..a-aku barusan-”
“Tidak apa-apa..Aku tahu,kau sama sepertiku”,ucapnya dengan tenang.
“Sa-sama se-sepertimu?? Aku?”,aku tidak mengerti yang dia bicarakan.
“Bertemu sesosok putih yang mengakui dirinya sebagai dewa,terdengar suara seperti telepati..kau juga seperti itu,kan?”,jelasnya.
“Bagaimana kau bisa tahu?”,tanyaku.
“Karena pikiran kita terhubung,kita sudah ditakdirkan bersama”,jawabnya dengan senyuman manis.
Aku pun tersipu malu tak berkutik.
“Oh iya,namamu siapa?”
“Aku sering dipanggil Akira,tapi nama lengkapku Ao Kirinamisora..terkadang,aku merasa tidak enak dipanggil Ao,padahal itu nama awalku..kalau namamu?”,dia terlihat begitu senang.
“Ah aku dipanggil Kazuto,tapi nama asliku Kanshizuintoroshi”,jelasku kepadanya.
“Woahh nama yang bagus..aku suka!”
“Ahh..ini..nama pemberian ayahku..sekarang,aku tidak tahu dimana ayahku berada”
Akira terlihat murung.
“Kenapa kau murung?”,tanyaku bangun dari tidur.
“Rumahku..”,jawabnya dengan suara pelan.
“Rumahmu? Oh dan tadi kenapa kau dikejar-kejar?”
“Mereka adalah berandalan yang meneror rumahku.Aku menyuruh orang tuaku untuk pergi duluan menggunakan mobil.Tapi,aku malah terjebak di kamar.Aku tidak bisa lari.Aku hanya bisa pasrah”,ucapnya dengan suara lirih.
“Lalu,bagaimana kau bisa keluar dari sana?”
“Aku mendengar suara yang memanduku.Aku pernah mendengar suara itu dalam mimpiku beberapa hari yang lalu.Dia berkata aku harus lari ke sebuah gang dan dia juga mengatakan akan ada seseorang yang akan menyelamatkanku..dan ternyata itu benar...orang yang menyelamatkanku adalah..laki-laki yang ada di depanku”,Akira bercerita.
Aku pun terbawa suasana dan meneteskan air mata.Aku sama sekali tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini atau takdir seperti ini.
Tiba-tiba,Akira menggenggam tanganku dan berkata
“Kazuto,terima kasih..ternyata benar,takdir menyatukan kita”
Akira mendekatkan wajahnya kepadaku seperti ingin menciumku.
Namun,tiba tiba
“Kazuto,keluarlah! Kau sedang apa sih?”,teriak kakakku dari depan pintu kamar.
Sontak,kami pun terkejut.
__ADS_1
“Siapa itu?”,Akira beranjak dari posisinya.
“Kakakku..sebaiknya kau cepat sembunyi!”,aku berbisik.
Akira pun bersembunyi di dalam selimutku.Amato pun memasuki kamarku
“Kenapa kau berselimut?”
“Ah tidak kok..cuma sedikit demam”
“Ohh begitu..sebaiknya makan malam dulu,Yuuta dan ibu sudah menunggu”,ucapnya meninggalkan kamar.
Begitu Amato pergi,Akira pun keluar.
“Ahh maaf..aku terlalu banyak bergerak…Loh? Kenapa wajahmu memerah?”,Akira mendekatkan wajahnya.
“Bu-bukan apa-apa kok…kalau begitu,aku makan dulu..kau tunggu di sini ya..akan ku bawakan makanan untukmu”,aku beranjak dari tempat tidur.
“Ti-tidak usah..aku tidak lapar kok”,ucapnya,tetapi aku mendengar suara perutnya yang kelaparan.
“Tidak apa-apa..tunggu sebentar ya! Jangan keluar dari kamarku”,aku pun pergi keluar kamar dan menutup pintunya.
—Kehidupan baru
Tak terasa,pagi hari pun tiba.Sinar matahari masuk ke kamarku melalui ventilasi.Begitu terkejutnya aku,melihat Akira yang berada di sebelahku mengelus-elus dadaku.Aku mencoba menahan geli.
“Hhmm..ah selamat pagi,Kazuto”,ucapnya sembari menggeliat.
“Se-selamat pagi,Akira”
“Hhm? Kenapa wajahmu memerah?”,tanya Akira.
“To-tolong hentikan itu”
Dengan sengaja,Akira malah mengelus-elus dadaku.Aku pun memegang tangannya dan segera bangun.
“Sebentar lagi sekolah..sebaiknya kau siap-siap”,aku beranjak dari tempat tidur.
“Anu..aku..tidak..melanjutkan sekolah..setelah lulus SMP,aku mulai takut dunia luar”,jelasnya tertunduk malu.
“Tch..aneh..Baiklah,kau boleh ikut ke sekolahku”
“Benarkah?”,Akira terlihat gembira.
“Benar….Baiklah,aku mandi dulu..kau tunggu-”
Akira tiba-tiba menggenggam erat tanganku.
“Kemana pun kau pergi,aku ikut!”,dengan penuh percaya diri.
“Eh tapi..aku mau mandi loh,lalu ke sekolah”,jelasku.
Setelah berbicara demikian,genggaman Akira malah semakin kuat.Aku pun tak punya pilihan lain
“Serius kau mau ikut aku mandi?”,tanyaku dengan suara pelan.
“Tentu saja! Tidak masalah”,jawabnya.
Akira pun ikut mandi bersamaku.Selesai mandi,aku berniat meminjam baju kepada adik perempuanku,Yuuta,yang masih kelas 3 SMP.
“Kau tunggu disini,ya..(Sial,tubuhnya begitu menggoda)”,aku memandangi Akira yang hanya berbalut handuk.
“Hmm? Kazuto?”,Akira keheranan melihatku terus menatapi tubuhnya.
“Ahh tidak kok”,aku pun pergi menuju kamar adikku.
“Yuuta,kau di dalam?”,teriakku di depan pintu kamarnya.
Pintu kamar pun terbuka.
“Apa kau punya pakaian yang sudah tak terpakai?”,tanyaku.
“Tentu sa-”,Yuuta terlihat kaget dan menunjuk ke arah belakangku.
“Kau kenap-”,alangkah terkejutnya aku,melihat Akira sudah berdiri di dekatku.
Dengan penuh malu,Yuuta langsung berpaling dan menutup pintu kamar.
“Tunggu! Aku bisa jelaskan”,aku sangat panik sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Kakak mesum!!”,teriak Yuuta.
“Ahh tidak”
Tak berselang lama,terlihat Amato keluar dari kamarnya dan menoleh ke arahku.
“Ti-tidak,kak..ini tidak seperti yang kau bayangkan”,aku sangat panik.
Amato pun menghampiriku dan memperhatikan Akira beberapa saat.
“Kau memilih laki-laki yang tepat,wahai gadis”,Amato menepuk pundak Akira.
“Kakak,kau..tidak terkejut?”,aku merasa lega melihat Amato biasa-biasa saja.
“Yahh buat apa aku terkejut?Melihat adik sendiri sudah menemukan pasangannya..malahan aku senang”,Amato dengan wajah gembira.
“Kakak..”
Setelah kejadian ,aku pun segera bersiap dan segera berangkat ke sekolah.Berjalan bersama kakakku dan Akira,aku merasa kehidupanku telah berubah 180 derajat.
—Tantangan baru
Setelah 2 minggu beraktivitas bersama Akira,aku memutuskan untuk membeli video game agar kita berdua bisa bermain bersama.
[Bel sekolah berbunyi]
“Hahh lelahnya..”,aku sembari meregangkan kedua tangan.
Pada saat itu,terlintas di benakku untuk membeli video game.
“Akira,kau bisa main game kan?”,tanyaku.
“Hhm..game? Bisa!”,jawabnya dengan penuh semangat.
“Baiklah..aku akan membeli video game sekarang”
Saat di gerbang sekolah,tiba-tiba aku mendengar suara‘nya’
"(Lihatlah ke dalam tong sampah)"
“Akira,kau mendengarnya?”
“Ya,aku mendengarnya”,ternyata Akira pun mendengar suara itu.
“Kotak? Kotak apa ini?”
"(Bawa kotak itu ke rumahmu)"
Dengan rasa penasaran,aku pun memasukkan kotak itu ke dalam tas dan membawanya pulang.
Sesampainya di rumah,aku mengeluarkan kotak itu dari dalam tas.
"(Sekarang,bukalah)"
Aku pun membuka kotak itu.Setelah dibuka,aku melihat sebuah kaset.
“Hm? Kaset apa ini?”,sembari mengacungkannya.
"(Sekarang,lihatlah ke luar jendela)"
Sesuai dengan suruhannya,aku pun membuka jendela dan melihat ke arah langit.
“A-apa itu?”
Betapa terkejutnya aku,melihat benda yang sangat besar dan bahkan lebih besar dari bumi.
"(Itu adalah Planetonik.Benda luar angkasa yang terus mencari mangsa kesana-kemari)"
Akira terlihat ketakutan dan memeluk tanganku.
“Lalu,apa hubungannya dengan kaset ini?”,tanyaku.
"(Game)"
“Game? Jadi-”
"(Benar.Planet itu sendiri adalah game.Dimana kau harus menyelesaikan semua level untuk menghentikannya)"
“Menghentikannya?”
"(Planet itu menghisap energi kehidupan dari benda yang didekatinya selama kurun waktu 3 tahun.Bila kau tidak bisa menaklukannya dalam 3 tahun,planetmu akan terhisap dan kehidupan akan musnah)"
“Tunggu-tunggu,aku sama sekali belum mengerti yang kau bicarakan”,aku sangat kebingungan.
"(Planetonik adalah sebuah planet game.Tidak semua orang bisa melihat planet itu secara langsung.Hanya orang yang telah melihat atau menyentuh kasetnya yang bisa melihatnya,salah satunya adalah kau,nak,bersama wanitamu itu)"
Aku pun terdiam mendengar penjelasan itu.
“Itu artinya..jika kita tidak segera menaklukan planet itu,dunia ini akan…hancur?”
"(Benar sekali.Nah sekarang,tunggu apa lagi? Cepatlah masuk dan bergabung dengan yang lain)"
“Masuk? Ke kaset ini?”
“(Kaset itu adalah portal untuk menuju ke sana)”
“Bagaimana cara menggunakannya?”,sembari mengacungkan kaset itu.
"(Cukup mudah.Hanya dengan menempelkannya ke televisi lalu menekan kedua sisinya)"
Aku pun mendekati televisi di kamarku.Lalu menempelkan kaset tersebut.Aku dan Akira menekan kedua sisi secara bersamaan.
“Akira,kau siap?”
“Aku selalu siap!”,Akira memeluk erat.
“Baiklah,ayo selamatkan dunia!”
Setelah menekan kaset tersebut,tiba-tiba kaset itu masuk ke dalam televisi dan kami pun ikut tersedot ke dalam televisi.
Televisi pun bergetar,semua benda elektronik menyala.Dari luar rumah,terlihat berkas cahaya terpancar dari antena rumahku menuju ke Planetonik di angkasa.
Beberapa saat kemudian,kami telah berada di sebuah ruangan yang penuh dengan monitor.
“Dimana ini?”
Tiba-tiba,sebuah monitor menyala
(Selamat datang di Planetronik)
“Siapa kau?”
(Aku adalah sistem.Tugasku adalah memandu player yang datang ke sini)
“Nah,beritahu aku! Apa yang harus ku lakukan”
(Mudah saja.Kau hanya harus membunuh pemimpin di Planetonik ini,yaitu pencipta game ini.Begitu kau membunuhnya,semua ini akan berakhir)
“Itu saja? Jadi,tugasku hanya membunuh saja?”
(Tidak semudah itu.Tidak hanya kalian saja player di game ini,melainkan dari seluruh negara.Kau harus bertanding dengan mereka semua.Hidup atau mati.Tetapi,jika kau mati disini,kau tidak akan pernah kembali lagi ke planet asalmu)
Aku pun terdiam sejenak dan Akira terlihat murung.
“Tenang saja! Aku hanya harus membunuhnya kan? Aku akan berusaha”,aku menyemangati Akira.
(Misi kalian adalah mengekplorasi planet ini.Menjelajahi setiap gunung,gua,lembah,dan lainnya)
“Lalu,bagaimana cara kita menaikkan level dan meningkatkan persenjataan?”
(Itu mudah.Kalian hanya perlu membunuh monster untuk menaikkan level.Namun,setiap monster memiliki nilai yang berbeda.Yang terendah adalah level 1 dan yang tertinggi adalah level 100.Begitu pula dengan koin.Kalian bisa mendapatkannya setelah membunuh monster.Kalian bisa mengaktifkan menu dengan cara menekan tombol yang ada di dekat telingamu)
Aku pun meraba telingaku dan menemukan sebuah tombol.Setelah menekanya,muncul sebuah layar dari mataku.
“Woahh begini cara kerjanya ya”
(Untuk kekuatan,kalian bisa memilihnya dari sekarang)
Sistem tersebut memunculkan hologram berupa beberapa ‘Role’ untuk dimainkan.
(Kalian bebas memilih.Tapi,setiap Role pasti berbeda cara penggunaan,fungsi,dampak,dan efek samping,dan bahkan menguras energi dan mana )
Hologram tersebut menunjukan Role Petarung,Pembunuh,Ahli sihir,Pendukung,Penghancur,Tank,Penembak,Pengendali,dan Pengintai.Aku sempat bingung memilih
“Akira,sebaiknya kau main aman saja”
“Baiklah,aku akan menjadi Pendukung dan Ahli sihir”
(Baiklah,sudah ditentukan.Dan kau?)
“Semuanya!”
__ADS_1
“Ehh?!”,Akira terlihat kaget.
(Kau yakin? Energi dan Mana mu akan cepat terkuras)
“Ya,aku yakin!”
(Baiklah,sudah ditentukan)
Setelah itu,tangan kiriku dan Akira bercahaya.Kemudian,setelah cahaya itu hilang,terlihat gelang terpasang di tangan kiri kami.
(Itu adalah 'Limiter' kalian.Warna biru menunjukkan kekuatan awal kalian dan merah menunjukkan kekuatan yang besar)
“Apa yang akan terjadi jika Limiternya hancur?”,aku sembari melihat-lihat gelang tersebut.
(Terutama kau,tubuhmu akan terkoyak jika Limitermu hancur.Tapi,Limiter itu tidak dapat dihancurkan oleh player lain)
“Hmm baiklah...aku mengerti”
(Semua informasi telah kusampaikan.Sekarang kalian bisa langsung pergi ke kamp.Kalian bisa menginap di sana)
Seketika,monitor sistem itu mati.Itu artinya,kita sudah mendapatkan informasi darinya.
“Baiklah,ayo menuju ke kamp!”
Kami pun pergi dari ruangan itu dan mencari kamp para player.
—Permainan dimulai!
Setelah berjalan cukup lama,kami pun melihat sebuah bangunan besar.
“Apa benar ini kamp nya?”
Kami pun menghampiri bangunan itu.Terlihat banyak sekali player.Kami pun memasukinya dan menuju meja penjaga kamp itu.
“Hey kalian berdua!! Mau pesan kamar?”,penjaga itu terlihat sangat baik.
“Hhm,3 malam berapa koin?”,tanyaku.
“Cuma 50 koin.Itu kamar yang cocok bagi yang membawa pasangannya”,sembari mendekatkan wajahnya kepadaku.
“A-apa maksudmu?!”,aku mengambil sebuah kantung koin yang ada di sakuku.Memang sudah seharusnya,player baru dibekali beberapa koin dari sistem.
“Ini,50 koin”,aku meletakkan 5 buah koin yang masing-masing bernilai 10.
Koin itu pun diterima olehnya dan digantikan oleh sebuah kunci.
“Ini.Lantai 2 nomor 11”
Aku pun mengambil kunci itu dan menuju ke kamar yang dituju.
Sesampainya di kamar,aku meletakkan barang-barang perbekalan di atas meja.Aku dibekali sebuah pisau,3 buah ramuan,sebuah ketapel,buku kecil,sekantung koin dan sebuah cincin.
“Akira,coba perlihatkan barang-”
Akira tenyata sudah terlelap tidur.Sepertinya dia sangat kelelahan.
“Hm dasar”,aku pun ikut berbaring.
Tak lama kemudian,aku pun tertidur.
Dalam tidurku,aku bermimpi berada di dataran hijau sang sangat luas.
“Apa ini mimpi?”
Tiba-tiba muncul seseorang di sebelahku
“Ya benar,ini mimpi.Bagaimana,nak? Kau menikmatinya?”
Aku pun menoleh ke arahnya.Dan ternyata,dia adalah sosok itu.
“Kau lagi? Apa yang kau lakukan di sini?!”,aku terkejut.
“Tentu,aku ada dimana-mana.Dan yang terpenting,apa kau menikmatinya?”,dia pun duduk lalu menoleh ke arahku.
“Menikmati? Menikmati apa?”,aku agak ketakutan.
“Wanita yang kuberikan padamu.Apa kau menikmatinya?”,dia mendekatkan wajah putihnya kepadaku.
“Wanita? Ma-maksudmu Akira?”
“Benar! Jika kau ingin menikmatinya,kau harus bangun sekarang juga”,dia memegang pundakku.
Sontak aku pun ketakutan dan berkeringat dingin.
“A-apa maksudmu?!”
“Kau harus bangun! Bangun! Bangun! BANGUN!!”
Kemudian suaranya terdengar samar.
“Bangun! Kazuto,bangun!”,Akira menggoyang-goyang tubuhku.
Aku pun terbangun dari mimpi.
“A-ada apa?”,aku terduduk.
“Sebentar lagi perburuan akan dimulai.Sebaiknya kita harus bersiap”
Aku pun segera bersiap untuk mengikuti perburuan.Di luar,terlihat banyak player yang telah siap.
Dalam informasi,dikabarkan ada beberapa monster yang memiliki nilai sangat tinggi.Tentu saja para player akan saling berebut bahkan saling membunuh untuk memburu monster tersebut.
Aku pun melihat peta.Tempat tujuan berada di sebuah lembah.
“Akira,sebaiknya kita jalan memutar saja melalui danau ini”,aku sembari menunjuk area danau.
“Hhm kenapa?”,tanya Akira.
“Datang awal ke lembah sama saja dengan bunuh diri.Mungkin ada beberapa player hebat di dalam rombongan kita”,jelasku.
Akira pun setuju.
Tak lama kemudian,sistem berbicara
(Tujuan kalian ada di lembah gunung Are.Tugas kalian adalah menghancurkan sarang monster yang ada di sana.Perjalanan kalian akan menempuh jarak 2 kilometer.Bawalah perbekalan secukup mungkin)
Para player pun bersorak dan memulai perjalanan.Tetapi,kita berdua memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan.
Dari kejauhan,terlihat 2 orang mengawasi Kazuto dan Akira.Selama perjalanan menuju ke danau,2 orang itu terus membuntuti mereka.
“Kau merasakan sesuatu?”,Akira terhenti dan menoleh ke belakang.
“Hhm..aku juga merasakan hawa kehadiran seseorang di belakang kita”,aku pun melihat sekeliling.
“Lanjutkan saja..di tepi danau ada sebuah pohon yang menjulang tinggi..kita bisa memantau situasi dari atas”
Kami pun melanjutkan perjalanan.Sesampainya di tepi danau,kami pun beristirahat di bawah pohon.
“Hahh lelahnya…”,Akira membaringkan dirinya di rerumputan.
"[Ini aneh.Dari awal perjalanan,aku merasakan hawa seseorang mengikutiku.Tapi,setiap kali aku berhenti,hawa itu menghilang.Ternyata benar,ada satu orang atau bahkan dua orang membuntutiku]"
“Kazuto,kenapa kau melamun?”,tanya Akira.
“Ah tidak kok..aku hanya kelaparan”,aku pun duduk dan mengeluarkan makanan.
Setelah kenyang,aku bersandar di bawah pohon.Merasakan angin sepoy-sepoy yang mengelus-elus wajahku.Melihat Akira yang sudah tertidur di pahaku,aku pun ikut tertidur.
Dalam mimpi,aku bertemu lagi dengan sosok putih.Dia duduk di sebelahku.Dia memberitahuku agar selalu berhati-hati selama perjalanan.
"(Kebenaran selalu didampingi kejaharan.Kemenangan selalu didampingi kekalahan.Kebahagiaan selalu didampingi kesedihan)", ucapnya.
“Apa maksudmu?”,tanyaku.
"(Disaat kau ada di dalam kebenaran,selalu ada kejahatan yang mengikutimu.Berhati-hatilah,nak.Pasti akan selalu ada musuh di sekitarmu)", dia menjauh kemudian menghilang.
Aku pun terbangun dan melihat Akira yang sudah bersandar di sebelahku.
“Akira,mari kita lanjutkan perjalanan”
“Pintar sekali kau,ya”,ucap seseorang dari arah hutan.
“Siapa?!”
“Kurasa tidak perlu perkenalan”,ucapnya sembari mengacungkan pedang.
“Kazuto..”,Akira terlihat ketakutan.
Aku pun menyesuaikan mode menjadi petarung.Gelangku mengeluarkan cahaya.Setelah cahaya menghilang,muncul sebilah pedang di genggamanku.
“Hoo menarik”,ucapnya melesat ke arahku.
Aku pun menghindar secepat mungkin.Namun,tangan kananku terkena tebasannya dan mengeluarkan darah.
Pertarungan tak bisa dihindari.Suara pedang beradu memenuhi telinga.
Sementara itu,Amato memasuki kamarku.
“Oy Kazuto! Waktunya makan!”
Amato terkejut tidak melihat siapapun di kamarku.Hanya ada sebuah televisi yang menunjukkan video game.
Sesaat,Amato memperhatikan televisi tersebut.Karena di televisi tersebut,menampilkan peran yang kami mainkan di Planetonik.
“Kazuto? Tidak,tidak mungkin.Jika tidak ada di kamarnya,palingan mereka sedang asyik berduaan di suatu tempat”
Amato pun meninggalkan kamarku.
—Kehancuran
Setelah pertarungan adu pedang yang sengit.Mereka berdua pun menjauh dan diam sejenak.
"(Sial dia kuat sekali.Orang yang satunya hanya diam tidak ikut bertarung.Apa dia sama seperti Akira?)"
Salah satu dari 2 orang itu hanya diam di dekat semak.Dia terlihat tidak membawa perlengkapan apapun.
Di sisi lain,para player lainnya telah sampai di lembah gunung Are dan sedang melakukan pembersihan.
Monster di sana sangat banyak dan terus bermunculan dari dalam gua.
Tiba-tiba,gunung Are bergerak dan mengeluarkan suara auman yang sangat keras.Sebagian dari 100 player di lembah tidak sadarkan diri.Sebagian lainnya mencoba menyelamatkan dirinya.
Dari kejauhan,kami pun mendengar suara auman tersebut dengan sangat jelas.
“Suara apa itu?”
“Maaf,bung.Sepertinya tujuan kita sama untuk saat ini”,2 orang itu melesat ke arah sumber suara.
“Akira,ayo”
Kami berdua pun menuju ke sana.
Tiba-tiba,tanah bergetar,burung-burung berhamburan,pohon-pohon tumbang.Gunung Are yang memiliki tinggi sekitar 1200 meter terlihat bergerak.
“Getaran apa ini?!”
Dan benar saja,gunung tersebut merupakan monster raksasa.Makhluk itu terlihat melangkahkan kakinya dan membuat player yang ada di sana berhamburan.
Monster itu terlihat sangat besar dan sangat tinggi.Dia menuju ke sebuah kota kecil yang berjarak 1km dari sana.
Beberapa player mencoba melawannya.Namun,usahanya sia-sia.
Aku pun mengganti mode ku menjadi penembak.
“Akira,beri aku mana”
Akira pun memberiku mana.
Ketapel muncul di genggamanku.Aku pun menembakkan sebuah bola api ke udara.Di udara,bola api itu terbelah menjadi sangat banyak.
“Luncurkan!”,teriakku.
Dengan perintahku,bola api melesat menuju monster raksasa tersebut. Menghujani tubuhnya layaknya hujan bom,monster itu tergoyahkan dan terjatuh.
Karena kehabisan mana dan tenaga,aku jatuh tak sadarkan diri.
“Kazuto! Kazuto!”,Akira menangkapku.
Monster raksasa tersebut terbangun kembali dan mengeluarkan cairan asam dari tubuhnya. Seketika membunuh banyak player yang ada di bawahnya.
(Kupinjam tubuhmu,nak)
Tiba-tiba,Kazuto terbangun dengan kedua matanya bercahaya.Akira pun terkejut akan hal itu.Akira melihat limiter milik Kazuto.
“Warna biru? Apa maksudnya?”
Seketika muncul sayap dari bagian punggung Kazuto.Ia pun melesat dengan sangat cepat ke monster raksasa. Layaknya sebuah roket,Kazuto menabrakkan tubuhnya.Monster itu pun terjatuh dan mengeluarkan suara.
Tidak cukup dengan itu,Kazuto mengeluarkan pedang.Dan menebas monster tersebut. Alhasil,monster itu terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Untuk tebasan terakhir, Kazuto terbang dengan tingginya tepat di atas monster itu. Pedangnya mengeluarkan cahaya biru.Ia pun mengayunkan pedangnya.Bak sebuah laser,tebasannya membelah si monster dan menciptakan angin yang sangat dahsyat.Dampaknya sekitar radius 1km.
__ADS_1
Setelah membunuh monster itu, Kazuto menghampiri Akira,menggendongnya dan membawanya melesat menuju ke kamp.Sesampainya di kamp,Kazuto pun jatuh pingsan.