The Un : Countless

The Un : Countless
Awal serangan


__ADS_3

-Realita


Guchala berbentuk sebuah gelas dengan gagangnya terbuat dari emas.Memang,dilihat dari sudut pandang manapun,itu terlihat seperti gelas.



Namun,Guchala yang sebenarnya adalah sebuah batu permata kecil berwarna biru yang berada di dalamnya.



Konon,batu itu merupakan salah satu serpihan inti pembentuk Planetonik.Jika serpihan lain sudah terkumpul,maka sebuah portal akan terbentuk dan memungkinkan player untuk pulang pergi ke bumi.



Di sisi lain,keadaan di bumi berjalan normal kembali.Semuanya beraktivitas seperti biasanya.Namun,tidak dengan kakakku,Amato.



Ia terlihat cemas melihatku sama sekali tidak keluar kamar selama 3 hari.Ia pun mencoba mengecek kembali kamarku.


“Kazu-”,membuka pintu kamar.



Betapa terkejutnya Amato,melihat kamarku menjadi sebuah ruangan hitam.Amato terduduk di depan pintu kamar.


“A-apa ini?!”



Namun,karena penasaran,ia pun memasuki kamar.



Setelah memasuki kamar,pintu kamar tiba-tiba tertutup dan terkunci dengan sendirinya.Kemudian,muncul sebuah cahaya.Amato pun mengikuti cahaya tersebut.



“Kazuto? Kenapa kau melamun?”,Akira menghampiriku.



“Ah..hm..tidak.Terkadang,duduk sambil menatap keluar jendela mengingatkanku pada kehidupan normalku di bumi”



“Ya,tentu saja”,Akira memberiku sup dan segelas susu.



“Akira,maaf aku tidak bisa melindungimu”



“Sudah…Lupakan saja..Sekarang,ayo makan dulu”



Malam hari,aku melakukan pertemuan dengan Uni untuk membahas artefak Guchala.



“Harus berapa serpihan untuk dapat membuka portal?”,tanyaku.



“Ntahlah..Bukan aku yang membuat batu itu..Tapi,N sudah mendapat informasi mengenai serpihan yang lainnya”



“Apa itu?! Beritahu aku?!”



“2 serpihan berada di sebelah utara,tepatnya di kastil Mah Joxy.Setahuku,kastil itu dijaga oleh salah satu dari 3 bawahan langsung Griy Sang Bintang”



“Griy Sang Bintang??”



“Ksatria yang bertarung seimbang dengan raja iblis.Ketiga bawahannya pun memiliki 40% dari kekuatannya”



“Lalu,bagaimana caraku menghadapinya?”



“Akan lebih mudah jika kau bertemu langsung dengan Griy.Para bawahannya sangat mempercayai Griy,sehingga mereka yakin bahwa setiap perkataannya mutlak”,jelas Uni.



“Jadi maksudmu,aku harus mencoba bernegosiasi dengannya?”



“Tepat sekali!”



“Apa kau mengetahui lokasinya?”



“Sayang sekali.Griy seperti hantu.Keberadaannya tak bisa diketahui dengan jelas”



Keesokan harinya.



“Akira! Bangun!”,aku menepuk pipinya.



“Hhm..”,Akira membuka matanya.



“Kita mendapat misi yang ekstrim”



“Eskrim?!”,Akira langsung terbangun.



“Bukan eskrim,ekstrim…Menjelajah dataran beku dan memperbaiki alat pemancar yang ada di sana”,jelasku.



Dataran beku dulunya merupakan sebuah kota yang memiliki teknologi maju.Namun,sebuah sihir misterius membuat suhu di kota itu turun drastis.Anehnya,menurut penyelidikan yang dilakukan sebelumnya,tidak ditemukan satu pun mayat manusia.



Tentu saja hal itu menjadi pertanyaan besar.Karena itu,sistem memberi kami misi untuk menyelidiki kota beku itu sekaligus memperbaiki alat pemancar sinyal untuk memudahkan komunikasi.



Bukan hanya itu saja,menurut kabar,kota itu selalu dipenuhi oleh pasukan zombi berzirah pada malam hari.Tidak diketahui dari mana asal para zombi berzirah tersebut.



“Kau sudah siap?”



“Tentu saja!”,Akira dengan semangatnya.



Dataran beku berjarak 5km arah utara.Aku pun berencana pergi ke kastil Mah Joxy,namun,jaraknya belum diketahui.Sehingga,Uni menyarankanku untuk mengumpulkan informasi.



Seperempat perjalanan telah kami tempuh.Telah banyak rintangan yang dilalui.



“Aku..tidak..kuat..lagi”,Akira tersungkur.



“Akira,sudah kubilang kau tak perlu memaksakan diri”,ucapku membangunkannya.



Aku pun menyandarkannya ke sebuah batu.



“Sudahlah..ayo kau makan ini dulu?”,aku memberinya sebuah pil.



“Obat perangsang?”



“Tidak.Obat itu akan memberimu banyak tenaga dalam waktu 1 jam.Jadi,kau harus menggunakannya untuk-”



“Bermain bersamamu?”



“Bukan!”,aku mencubit pipinya.



“Aww…maaf”,dia mengelus pipinya.



Setelah memakan pil itu,dia terlihat bugar kembali.Pil itu memang dibuat oleh sihir penyembuhan,namun efeknya tidak bertahan lama.Walaupun begitu,pil itu sangat bermanfaat untuk menghemat waktu.



Hari semakin panas.Matahari perlahan-lahan naik ke atas kami.Setelah perjalan ±3 jam,kami pun melihat sebuah gunung es yang menjulang tinggi.



“Operator bilang, di dekat dataran es ada sebuah gunung tinggi..Mungkin itu gunungnya”



Sesampainya di wilayah es,suhu berubah drastis.Sinar matahari tidak sampai ke sini karena terhalang awan yang sangat tebal.Angin dingin berhembus kencang.



“Akira! Sebaiknya kau pakai mantra penghangat!”



Akira memegang erat tanganku.Kami menerjang angin badai yang begitu dahsyat.



“Bertahanlah! Aku melihat sebuah cahaya!”,teriakku.



Aku melihat sebuah cahaya seperti cahaya lampu di kejauhan.Kami berusaha untuk mencapai cahaya tersebut.



Ternyata,cahaya tersebut berasal dari sebuah gubuk.Kami pun beristirahat di situ.



“(Aneh..Kenapa ada gubuk di tempat seperti ini?)”



“Kazuto…aku..kedinginan..”,Akira terlihat menggigil.



Aku pun memeluknya.



“Hangat..”



“Kau pakai ini”,aku mengeluarkan sebuah mantel dari ranselku.



“Tidak..pelukanmu lebih hangat daripada mantel itu”,ucapnya.



“Ka-kau ini..aku harus membuat api unggun,loh”,dia pun melepaskan pelukannya.



Selesai membuat api unggun,kami mengisi tenaga.



“Oy..jangan terlalu banyak makannya!”



Akira terlihat menghabiskan beberapa daging dengan lahapnya.



“Baiklah..tujuan kita sudah di depan”



Kota es sudah terlihat di depan mata.Kami pun menghampirinya.



Walaupun terkena badai,bangunan di kota itu terlihat utuh dan kokoh.Namun,aku tidak melihat siapapun di kota itu.


“HALO!!”,aku meneriaki sebuah bangunan.



“Ternyata benar..tidak ada siapapun di sini”,ucap Akira.



Kami pun menelusuri kota itu.



Tiba-tiba,anak panah menancap di kaki Akira.


“Aaahh!”,ia pun terjatuh.



“Siapa itu?!”,aku tidak melihat siapapun di sekitar.



Dari arah belakang,anak panah kedua mengenai tanganku.


“Sial!”



Di saat seperti itu,cuaca tiba-tiba berubah menjadi badai petir.Aku mendekap Akira untuk melindunginya.



Lalu,aku mendengar suara langkah kaki yang sangat banyak,layaknya sebuah pasukan.


“Suara ini? Sudah kuduga”



Tidak salah lagi,suara itu berasal dari pasukan zombi berzirah yang selalu ada di kota itu.



Dari kejauhan,terlihat mata merah menyala dari barisan zombi.



“Baiklah,aku harus melawannya sendiri!”



Akira menarik bajuku.



“Aku akan bertarung bersamamu!”



“Tapi kau-”



“Tidak apa-apa”



“Hm..baiklah”



Kami pun menghadapi pasukan zombi tersebut.Aku menggunakan tameng dan pedang,sedangkan Akira menggunakan sihir peledak.



Sekian lama kami bertarung dengan mereka,tetap saja tidak ada habisnya.



“Akira! Ke tempat tinggi!”



Kami pun berlindung di tempat tinggi.Namun,beberapa zombi berhasil mengikuti kami.



Hingga akhirnya kami pergi ke atap sebuah bangunan.


“Tahan pintunya!”



Beberapa zombi mencoba mendobrak pintu.Kami pun menahan pintunya.



“Akira,cepat menjauh!”



Karena sudah tidak kuat lagi,kami pun menjauhi pintu itu.Terlihat beberapa zombi berzirah keluar dari sana.



“Percuma saja kalian lari”,ucap seseorang dari belakang barisan zombi.



“Jangan mendekat!”



“Santai saja,nak.Kami tidak akan menyakiti kalian.Tetapi,kami akan langsung membunuh..”



Kemungkinan,dia adalah pemimpin para zombi berzirah tersebut.Dia perlahan-lahan terus mendekati kami.



“Matilah!”



Saat dia mengacungkan pedangnya,kabut tebal menerpa.



“Ada apa ini?!”,ucap pemimpin zombi itu.



Tiba-tiba,muncul seseorang dari kabut tebal tersebut.Penampilannya seperti ksatria suci dengan membawa sebuah tombak yang berkilau.



Tanpa basa-basi,orang itu membantai semua zombi yang ada di sana,termasuk pemimpinnya.



Aku pun sangat terkejut melihatnya.



Lalu,orang itu menghampiri kami.



“Kalian tidak apa-apa?”,wajahnya bercahaya.



“Ahh..iya”



Kemudian,orang itu memberiku sebuah kantung.Seketika,dia pun menghilang.



“A-apa yang terjadi?”



“Ntahlah..yang penting kita selamat”



Aku tidak langsung membuka kantung tadi,karena misi belum selesai,yaitu memperbaiki alat pemancar.



Alat pemancar tersebut berada di sebuah gedung.Kami pun memasuki gedungnya.



Setelah sekian lantai kami jelajahi,kami menemukan sebuah antena kecil di atas sebuah kotak hitam.



“Kotak ini…berasa tidak asing”,ucapku mengambilnya.



“Tentu saja.Semua bermula dari kotak ini”



Kami pun membersihkan dan memperbaiki antena tersebut.Setelah itu,antena menyala dan mengeluarkan suara bising.



Seketika,cuaca yang awalnya badai petir,menjadi cerah.



“Apa-apaan ini?”,aku melihat keluar.



Suasana di kota itu menjadi ramai.Orang-orang beraktivitas seperti biasanya.



“Aku tidak mengerti..sama sekali tidak mengerti!”,ucap Akira terkejut.



“(Nah,sekarang bangunlah,nak!)”,Uni berbisik kepadaku.



Betapa terkejutnya aku,terbangun di kamarku.


“Apa yang-”



“(Yang terjadi tadi hanyalah kejadian yang dialami oleh sebagian jiwamu)”



“Sebagian jiwa? Itu artinya cuma mimpi?!”



“(Tidak..coba keluarkan isi sakumu)”



Aku mengeluarkan sesuatu dalam sakuku.Dan ternyata,ada kantung yang diberikan ksatria suci tadi.Aku pun membukanya.


“I-ini?!”,isinya ternyata 2 buah serpihan Guchala.


__ADS_1


Itu artinya,3 serpihan telah didapatkan.



“Apa maksudnya ini?!”



Karena kelelahan,aku pun tidur.Kemudian,aku bermimpi bertemu dengan seorang wanita berambut pendek.Dia mengampiriku.


“Aku ambil ya?”,ucapnya tersenyum lebar.



Aku tidak tahu apa maksudnya.Saat mencoba menyentuhnya,wanita itu menghilang dari pandanganku.



“(Apa ini? Apa yang terjadi padaku?)”,ucap Amato dalam kegelapan.



Amato mengambang di ruang hampa.Tidak ada jalan keluar dari situ.Tiba-tiba,dia melihat seorang wanita mendekatinya.



Saat ingin menyentuh Amato,wanita itu terpenggal dan kepalanya terlempar lalu ditangkap oleh Amato.Kemudian,wanita itu berbicara.


“Lupakan…”



Kepala itu pun menghilang menjadi butiran debu.Begitu pula dengan tubuhnya.



Amato terlihat kebingungan dengan hal itu.Ia pun berteriak.Setelah itu,ia mendengar suara telepon.


“Dimana?!”,Amato terbangun dari tidurnya dengan terkejut.



Ia melihat handphone nya menyala tanda ada panggilan masuk.Ia pun mengangkatnya.


“Halo?”



“(Amato,bagaimana kabar adikmu?)”



“Ouh..ternyata Hilma.Ntahlah,aku belum menemukannya”,ucapnya menghampiri kamar Kazuto.



“(Bagaimana kondisinya sebelum menghilang?)”



“Dia terlihat baik-baik saja”,membuka pintu kamar.



“Dia bersama seorang-”,Amato terkejut melihat Kazuto sedang tertidur bersama Akira.



Ia pun menjatuhkan handphone nya.


“(Amato? Amato?!)”


   Ia segera menghampiri Kazuto dan memeluknya.


“Huwahh!! Apa itu?!”,Kazuto terbangun.



“Itu adalah kehidupanmu di bumi”,terlihat Uni sedang duduk di dekat jendela.



“A-apa maksudmu?”



“Kloningan mu”



Aku pun terdiam.



“Semua player disini memilikinya”



“Untuk menipu mereka?”,Kazuto mengepalkan tangannya.



“Demi kebaikan kalian”



“SIALAN KAU!!”,Uni pun menghilang.



Karena aku berteriak,Akira pun terbangun.


“Kazuto?”



“A-akira..maaf”



Akira menarik tanganku.



Di saat itu,aku tiba-tiba teringat akan Akira yang terpenggal olehku.Aku pun menangis dan memeluk Akira.



“E-ehh? Kazuto??”,wajahnya terlihat memerah.



“Akira..a-aku…aku!”



Akira mengelus-elus punggungku dan menenangkanku.


“Sudah..masih ada waktu untuk tidur..ayo”


—Kejujuran


Beberapa hari kemudian,kami ditugaskan di kamp selatan.Kamp itu berjarak sekitar 21km.Tentu saja perjalanan yang sangat panjang.



Kami dipindahkan karena misi di kamp ini tidak ada yang berlevel tinggi,sedangkan levelku sudah 93.



Dikabarkan bahwa kamp selatan adalah yang terdekat dengan kastil raja iblis.Kastil itu hanya terhalang pegunungan yang besar dari kamp itu.



Kami berkemas kemudian memulai perjalanan panjang.Jika diperkirakan,kami akan sampai dalam 5 hari atau paling lama satu minggu.Tentu saja tergantung medan yang dilalui.



“Kau yakin tidak keberatan?”,tanya Akira.



“Tentu saja tidak”,jawabku menggendong ransel.



Perjalanan dimulai pagi hari.Kami dibekali beberapa ramuan oleh operator.



Setelah 2 jam perjalanan,rintangan ekstrim banyak terlewati,kami pun beristirahat di sebuah hutan.


“Kakiku…”,Akira mengelus-elus kakinya.



“Akira,kau tunggu di sini”,ucapku menurunkan ransel.



“Tu-tunggu!”



“Kau ini…aku kebelet,tau”



“Hhe..maaf”



Aku pergi ke semak belukar.Sebenarnya,tujuanku adalah untuk menemui Uni.


“Bagaimana keadaannya?”,bisikku.



“Tenang saja…10km kedepan tidak akan ada gangguan”,Uni bersandar di sebuah pohon.



“Uni..apakah aku bisa memiliki beberapa kekuatanmu sekarang?”



“Hoo..kau..Apakah tubuhmu kuat menahannya sekarang?”



“Ntahlah..Tapi,aku memerlukan kekuatan untuk melindungi Akira!”



“Hm..begitu ya?”,Uni mendekatiku.



“Aku tidak peduli walaupun terluka berat,yang terpenting-”



“Baiklah,aku mengerti”,Uni menepuk pundakku.



Ia mengeluarkan cahaya dari tangannya.


“Ambillah,dan tempelkan ke dadamu”



Aku mengambil cahaya itu dan menempelkannya ke dadaku.Seketika,tubuhku bergetar,mata dan mulutku mengeluarkan cahaya.



“Perjalananmu dimulai sekarang,nak”



“Apakah Akira tidak mengetahui pertemuan ini?”



“Tentu saja tidak.Karena kau menggunakan 'Undetected',salah satu kekuatanku”,ia pun menghilang.



Aku bergegas kembali ke Akira.



“Kau lama sekali!”,ia terlihat duduk di atas batu.



“Maaf”



“Sudah..ayo lanjutkan perjalanan!”



Kami pun melanjutkan perjalanan.




“Lihat! Kedai makan!”,Akira bergegas menghampirinya.



“Akira,tunggu!”



Kami pun menghampiri kedai itu dan memesan makanan.



“Wah wah..ternyata petualang ya”,ucap pedagang itu.



“Benar,kami adalah petualang”,jawabku.



“Baiklah..kalian mau pesan apa?”



“Daging panggang dan roti lapis!”,ucap Akira.



“Baiklah..tunggu sebentar”



“(Benar juga..Kenapa player disebut petualang? Apakah ada petualang yang asli di sini?)”



“Nah,silahkan!”



Kami pun menghabiskan makanan tersebut.



Selesai makan,kami melanjutkan perjalanan.Jarak yang telah dilalui sekitar 3km.Perjalanan menjadi lama karena medan yang sulit dan Akira mudah kelelahan.



“Kau ini..ini sudah yang ke-5 kalinya kau berhenti”



“Maafkan aku.Tapi,kakiku gemetaran dan juga lututku sakit”



“Kalau begitu,kau masuk saja ke dalam jariku”,aku mengacungkan jari.



“Lagi?! Tidak mau! Asal kau tahu,di dalam sana sangat gelap dan tidak ada siapapun”



“Jadi,cepatlah jalan! Atau kau kumasukan paksa!”



“Ka-kazuto..kau mesum”,Akira memerah.



“A-apa?!”



Sore hari pun tiba.Kami sampai di sebuah pantai dan memutuskan untuk beristirahat di sana.



“Buat tendanya!”,aku menurunkan ransel.



Akira mendirikan tenda,sedangkan aku mengumpulkan ranting untuk api unggun.



“Malam yang indah,kan?”,Akira duduk di mulut tenda.



“Ya,tentu”,aku sedang memanggang daging.



Dari raut wajahnya,Akira terlihat sedang membayangkan suasana romantis di pantai layaknya pasangan yang sedang berbulan madu.



“Tidak,Akira.Aku tidak akan melakukannya!”



“Hee ketahuan”



“(Tapi Uni..apa benar tidak akan ada gangguan? Aku memiliki firasat buruk)”



Setelah makan,kami pun tidur bersama.



Pagi hari,Akira membangunkanku.Kami pun segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan.



“Yang benar saja…”



Di depan kami hanya ada lautan yang sangat luas.Sedangkan itu adalah arah selatan.


“Apa kita harus memutar?”,tanya Akira.



“Tidak.Memutar hanya akan menambah beban dan rintangan”



Kemudian,Uni berbisik


“(Gunakanlah Undrowned,lalu lewatilah laut itu)”



Aku pun menurutinya dan merapalkan Undrowned di dalam hati.



“Akira,maaf”,aku menggendongnya.



“E-ehh..a-anu..”,wajahnya memerah.



Aku pun menapaki laut tersebut.Dan benar saja,aku tidak tenggelam,bahkan sepatuku tidak basah sedikitpun.



Akira terlihat takjub akan hal itu.



“Akira,pegangan yang erat!”,aku mulai berlari.



Beberapa lama,kami pun sampai di pulau seberang.


“Baiklah,ayo!”,aku menurunkan Akira.



Kami pun melanjutkan perjalanan.Jarak yang sudah kami lalui sekitar 5km.Itu artinya,jarak yang tersisa adalah 16km.Memang perjalanan kami masih panjang.



Siang hari,kami melihat beberapa rumah di tengah hutan lalu menghampirinya.



“Oy,kalian!”,seseorang muncul dari semak mengagetkan kami.



“Walah..ternyata ada petualang lewat”,pria tua itu terlihat membawa busur panah.



“Maaf,apakah kalian tinggal di tengah hutan begini?”,tanyaku.



“Tentu.Kami adalah kelompok pemburu binatang buas”



“Binatang buas?”



“Benar,lalu kami menjualnya ke pasar di dekat sini”



“Begitu..”



Pria tua itu pun mengajak kami ke rumahnya.



Terlihat,beberapa orang melambaikan tangannya dari depan rumahnya masing-masing.



“Begini...apakah kami,para petualang,sangat berarti bagi kalian?”,tanyaku.



“Petualang adalah penyelamat.Pepatah itu sudah tertanam sejak lama di dalam hati mereka”



Kami pun sampai di rumah pria tua itu.Kemudian,beliau mengajak kami duduk.



“Apa maksudmu penyelamat?”



“10 tahun lalu,terjadi serangan monster besar-besaran.Mereka menghancurkan apapun yang dilihatnya.Kemudian,mereka mengepung tempat ini.Kami para pemburu telah berusaha untuk melawannya.Namun itu sia-sia ”



“Lalu,bagaimana kalian bisa selamat?”



“Kami melihat ribuan anak panah menghujani mereka.Anehnya,tidak ada satu anak panah pun yang mengenai rumah kami.Kemudian,seorang wanita menghampiri kami dan memberikan sebuah gelang yang menyala.Kami pun menjadikannya sebagai jimat pelindung”



“Ge-gelang?!”,Kazuto terlihat kaget.



“Mulai dari situlah,kami yakin kalau petualang adalah penyelamat”,jelasnya.


__ADS_1


“Hhm..begitu ya..Omong-omong,kau melihat wajah petualang di waktu itu?”,tanya Akira.



“Aku tidak melihatnya,identitasnya misterius.Tapi,ketika melihat wajah kalian,aku teringat wajah di waktu itu”



Kazuto melamun membayangkan ceritanya.



“Nah,kalian tunggu sebentar!..aku akan membawakan makanan”,masuk ke dalam.



“Kazuto,kau kenapa?”



“Seketika..aku teringat..sesuatu..”



Tiba-tiba,sesuatu terlintas di pikiranku.Anak panah yang menyala,suara tawa yang menyeramkan,dan wanita yang terpenggal.



Kazuto pun menepuk kepalanya.


“Sial!”



Sore hari,kami masih di sana.Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pada malam hari.



Ada sebuah air terjun di dekat desa itu.Aku pun menenangkan diri di sana.



“Kazuto!”,Akira dari kejauhan.



“Akira?!”,aku menoleh ke belakang.



Akira terlihat membawa keranjang makanan.


“Aku membawakanmu makanan dari kakek”,ia meletakkan keranjangnya.



“Huhh..padahal kau tak perlu repot-repot membawanya kemari”



Kami pun makan bersama.



Pemandangan di tempat itu sangat memanjakan mata.Mulai dari air terjun,sungai yang mengalir,padang rumput,hingga langit yang cerah.



Di kejauhan,aku melihat seseorang di tengah padang rumput.Dia terlihat samar.



“Kazuto? Ada apa?”,tanya Akira.



“Ahh tidak kok”,orang itu menghilang.



Setelah menghabiskan makanan dan bersantai di sana,kami pun kembali ke rumah si kakek atau pria tua tadi.



“Kek,apakah kami boleh beristirahat sebentar?”,tanyaku.



“Tentu saja,nak”,ia pun mengantarkan kami ke sebuah kamar.



“Kalian boleh menggunakan kamar ini”



Dalam tidur,aku bermimpi sedang di kamarku.Aku terbangun dan pergi keluar kamar.Kemudian,aku mendengar suara jeritan perempuan.Aku pun bergegas menghampirinya.



Begitu terkejutnya aku,melihat adikku,Yuuta,tergeletak tak berdaya di tengah rumah.Lalu,dari ruangan gelap,muncul seseorang bermata merah menyala.



Tiba-tiba,aku berada tepat di depan kamar Yuuta.Aku mendengar suara dari dalam kamar.


“Tidaak! Hentikan!!”



Aku pun membuka pintu kamar itu.Setelah membuka pintu,aku melihat seseorang sedang membawa kepala manusia.Orang itu melihatku.



Karena takut,aku pun kembali ke kamarku.Di sana,aku diam di pojokan.Kemudian,dari arah jendela,terlihat cahaya biru yang amat terang.



Namun,aku tidak sempat menghampirinya,karena dibangunkan oleh Akira.


“Kazuto! Bangun!”



Ternyata,hari sudah gelap.Kami pun segera bersiap.



“Terima kasih,kek!”,ucapku di depan pintu.



“Tidak apa-apa,nak.Omong-omong,kalian yakin tidak akan menunggu pagi hari saja?”



“Kami sudah terbiasa di gelap malam seperti ini kok”,jawab Akira.



Kami pun berangkat meninggalkan desa kecil itu.


“Akira,nyalakan obor!”,bisikku.



Beberapa saat kemudian,kami telah keluar dari hutan itu.



Gelap bukanlah sebuah alasan untuk takut.Tapi,ketakutan yang sebenarnya adalah musuh.Karena musuhlah,kegelapan itu ada.



2 jam kemudian,kami pun beristirahat di tepi danau yang tenang.Aku pun duduk sembari memandangi langit malam.



“Malam ini bulannya tidak terlihat,ya?”,Akira ikut duduk di sebelahku.



“Ya.Aku tidak melihatnya.Tetapi,aku memiliki bulan yang menerangi diriku”



“Hhm? Dimana?”



“Tepat di sebelahku”



Akira kaget.


“Bo-bodoh! Kazuto bodoh!”,mencubit tangan Kazuto.



“Sudahlah hentikan”,aku memegang tangannya yang sedang mencubit.



“Jujur saja.Aku ingin segera membahagiakanmu”



Akira tertunduk dengan wajah memerah.



“Ayo lanjut!”,Akira menarik tanganku.


—Kejutan dari pihak lain


Sudah 9km kami lalui.Kebanyakan yang kami lewati adalah hutan belantara yang gelap.



“Kazuto…aku ngantuk…”,Akira terlihat lemas.



“Tunggulah sampai di luar hutan”



“Tapi,hutan ini-”



“Sst!”,aku merasakan hawa seseorang.



“Hahaha”,tawa seseorang.



Aku melihat sekitar,namun tidak ada siapapun.


“Tunjukkan dirimu!”



Tiba-tiba,tubuh Akira seperti sedang diikat.


“Kazuto…aku tidak bisa bergerak!”



“Sial!”



Lalu,muncul seseorang dari atas pohon dan langsung menendangku.Aku pun terjatuh.



Aku mencoba berdiri.Terlihat,dia sudah mengacungkan pedang dan melesat ke arahku.


“Sial!”



Aku terpenggal.Kepalaku terhempas.


“Kazuto!!!”,teriak Akira.



“(Undo)”,dalam hatiku.



Seketika,kepalaku kembali seperti semula.Dan orang itu berada di hadapanku lagi.


“A-apa?! Mustahil!”,ucapnya.



Cahaya biru muncul di sepatuku.Aku pun menghentakkannya ke tanah.Cahaya itu terus menjalar hingga mengenainya.



“Aku tidak bisa bergerak”



Aku mendekatinya perlahan-lahan.Kemudian,menyentuh dahinya.Tanganku menyala.Orang itu pun terhisap ke dalam tanganku.



Akira pun terbebas dan langsung terduduk.



Tiba-tiba,dari kejauhan,muncul seorang wanita tinggi.


“Menarik.Sangat menarik!”



Kazuto mengeluarkan orang yang telah dihisapnya lalu dilemparkan kepada wanita itu.



“Nona..maafkan aku-”



“Berisik kau,tidak berguna!”,wanita itu menginjak kakinya.



“Mengambil mainan saja kau tidak bisa”



“Ma-maafkan aku..aku akan-”



Tanpa ampun,wanita itu menendang kepalanya.



“Siapa kau?!”,tanya Kazuto.



“Aku kesini untuk mengambil mainan itu”,menunjuk Akira.



“Mainan?”



“Benar! Aku ingin memainkan wanita itu sepuasnya.Dengan tubuhnya yang begitu indah,mungkin suaranya juga indah!”,ia berekspresi layaknya orang mesum.



“Jangan sentuh dia!”,teriakku.



Aku memunculkan cahaya seperti tadi dari dalam tanah.Namun,wanita itu menghindar dengan cepat.


“Lambat”,ia sudah berada di sampingku.



Aku langsung mengeluarkan pedang dari gelangku.Namun,ia menendangku dan membuatku terpental.



Kemudian,wanita itu menghampiri Akira.Akira tidak bisa berkutik sedikitpun.Wajahnya dipegang.


“Ohh manisnya!”



“Menjauh!”,aku melesat ke arahnya.



Namun,tetap saja ia bisa menghindarinya.



“Akira,kau tidak apa-apa?”



Ia mengangguk.



Lalu,wanita itu mengeluarkan duri di sepatunya.Sepertinya,menendang adalah kemampuannya.



Sekejap mata,sepatu itu telah berada di depan wajahku.Aku menghindar sebisa mungkin.Namun,pipiku tergores olehnya.



“Bagaimana,nak?”



Ia terus menerus melancarkan tendangan bertubi-tubi ke arahku.Aku pun mengaktifkan mode tank dan mengeluarkan tameng besar dari gelangku.



Wanita itu mendadak tersungkur ke tanah.Ternyata,Kazuto menendangnya dari belakang.


“Apa yang-”,ia menghindari tendangan keduaku.



Dengan kecepatannya,mereka beradu satu sama lain layaknya 2 petir yang bertabrakan.



Namun,di pandangan Kazuto,wanita itu lebih lambat darinya.Wanita itu,lain hanya seperti sedang berjalan menurut Kazuto.



“(Unstoppable)”,dalam hatinya.



Dalam sekejap,ia melancarkan ratusan tendangan ke wanita itu.


“Kurang ajar!”,mengeluarkan perisai sihir.



Namun,sihirnya digagalkan oleh Akira dengan mantranya.


“Apa?!”



“Atlas!!”,teriak Kazuto.



Kazuto menginjak wanita itu tepat dari atas kepalanya.Ledakan pun tercipta.Terlihat,sebuah lubang sedalam 20 meter.



Wanita itu tidak bergerak lagi dengan tubuhnya yang berada dalam tanah.


“Kau sudah kalah!”,ucap Kazuto.



“Beraninya…mendaratkan kakimu di kepalaku!”



Wanita itu menghilang begitu saja.


“A-apa?!”



Lalu terdengar dari atas teriakan Akira.Aku bergegas menghampirinya.



“Akira! Kau tidak apa-apa!”



“Kazuto..aku…aku..”,ia mulai menangis sembari memegangi celananya yang basah.



Aku pun langsung memeluknya.


“Maafkan aku,Akira..Maafkan aku!”,mengelus rambutnya.



Kemudian,aku pun mendirikan sebuah tenda di sana.Akira terlihat kelelahan,sehingga langsung tertidur pulas.Setelah menyelimutinya,aku mencium keningnya.



Aku tidak tidur karena harus mengawasi sekitar.



“Aku tidak bisa mendeteksi wanita itu.Maaf,nak”,Uni menghampiriku dari dalam hutan.



“Tidak.Ini salahku tidak bisa melindungi Akira”



“Yang jelas,pihak musuh sudah mengawasi kalian”,Uni menyalakan api.



Kazuto terlihat sangat kesal kepada wanita yang menyerangnya tadi.Mungkin akan tiba waktunya untuk balas dendam.



Pagi hari tiba.Akira keluar dari tenda.



“Oh bangun juga kau”,aku sedang memanggang ikan.



“Kazuto..tadi kau berbicara dengan siapa?”



“Ahh tidak.Aku hanya..berbicara dengan diri sendiri kok”



“Begitu ya..maaf aku tidak bisa menemanimu semalaman”



“Ahh itu..tidak masalah!”



“Loh..celanaku?”,Akira melihat celananya.



“Aku sudah menggantinya”



Wajah Akira memerah.


“A-apa?!”



“Sudahlah..cepat kau makan dulu”



Setelah makan dan berkemas,kami melanjutkan perjalanan.Jarak yang tersisa adalah 11km.



Walaupun banyak gangguan,kami tetap menguatkan tekad.Karena,kamp selatan berada di level yang berbeda dibandingkan kamp kemarin.

__ADS_1



Mungkin saja,kami mendapat petunjuk untuk menemukan serpihan Guchala yang lainnya.


__ADS_2