The Unifier

The Unifier
Bab 9


__ADS_3

Setelah mengangkat box box itu ke truk, ibunya membantu para pekerja itu mengangkat lemarinya yang berada di kamar Nia. Sementara Nia bersiap siap untuk mandi karena hari sudah sore, Nia tidak lupa memakai gelang yang diberikan oleh suara itu.


Setelah melepas bajunya, Nia menyalakan shower, Nia membilas rambutnya sampai basah. Nia merasa tidak nyaman dengan gelang yang diberikan suara itu, gelang itu hanya melingungi telapak tangannya sehingga hanya telapak tanggannya yang tidak basah.


Nia mengurungkan niatnya untuk melepas gelang itu mengingat kejadian kemarin, Nia tidak sabar untuk menunggu malam. Setelah berhasil memindahkan lemari ke truk, ibunya menyuruh Nia untuk bersiap siap.


Ibunya belum bisa menghilangkan pikiran negatif tentang Nia, perilaku Nia semakin berubah setiap hari, ibunya khawatir dengan Nia. Nia pun turun dengan semangat menuju dapur, saat ingin mengambil susu dari kulkas, Nia kaget kulkasnya sudah tidak ada.


Karena Nia terlalu semangat untuk nanti malam, Nia sampai lupa kalau Nia akan pindah rumah. Nia lupa memberitahukan ke suara itu kalau ia akan pindah nanti malam, Nia pun dengan malas berjalan kedalam mobil. Ibunya memperhatikan sifat Nia yang berubah drastis, ibunya penasaran apa yang dipikirkan Nia.


Nia mencari tempat duduk yang nyaman dan mengencangkan sabuknya. Sepanjang perjalanan, Nia melamun terus. Ibunya khawatir dan mulai membuka pembicaraan, "Nia, ada masalah apa?" Tanya ibunya.


"Ahh.. Tidak apa apa kok bu, hanya rindu ayah." Jawab Nia berbohong. Sebenarnya Nia memang tidak tahu ayahnya sejak kecil, tapi Nia sudah senang mempunyai ibu. Mendengar perkataan Nia, ibunya kaget dan khawatir memberi tahukan Nia yang sebenarnya.

__ADS_1


Ibunya tidak sanggup melihat Nia menangis bila mendengar kenyataannya, pembicaraan itu pun berakhir tanpa kata kata dari mulut ibunya. Setelah 15 menit, mobil yang sunyi itu berhenti di depan rumah tua nan megah.


Entah kenapa Nia mempunyai firasat buruk tentang rumah ini, Nia menepis firasat buruknya dan mulai membantu ibunya membersihkan rumah. Nia membersihkan ruangan yang akan menjadi kamarnya, sementara ibunya membersihkan ruang tamu.


Nia melihat ruangan itu, udaranya lembab dan banyak jamur di atasnya, Nia melihat bagian pojokan kamarnya, Nia melihat jamur yang berwarna hitam semakin merambat ke mana mana. Nia yang katakutan berjalan mundur sampai menyentuh dinding, perlahan lahan, keluar sesuatu dari jamur hitam itu.


Nia ingin teriak tapi suaranya tidak bisa keluar, ada tangan di belakangnya yang menutup mulut Nia. Nia menangis, dan berusaha melepaskan tangan yang menutupi mulutnya itu, saat Nia memegang tangan itu, badan Nia merinding merasakan tangan yang sedingin es itu.


Tangan itu tidak mau melepaskan kepala Nia, tangan itu menarik kepala ke dinding, membuatnya kesakitan. Tiba tiba, jamur hitam tadi sudah merambat ke dinding tempat Nia bersandar, perlahan lahan kepala Nia masuk ke dalam dinding yang dipenuhi jamur itu.


Walaupun Nia ketakutan, dia sebenarnya sangat berterima kasih kepada siapa pun itu yang membantunya. Nia melihat seorang anak laki laki seumuran Nia, laki laki itu menoleh, "Kamu tidak apa apa Nia?" Tanya laki laki itu.


"Haha, kamu itu lucu ya? Masih tanya aku siapa." Ucap laki laki itu tertawa. "Apa maksudmu?" Tanya Nia bingung. "Aku tunjukkan." Kata laki laki itu. Nia melihat laki laki itu mulai menghilang dan suara kembali muncul.

__ADS_1


"Masih tak kenal aku Nia?" Tanya suara itu. "Ehh? Suara, katanya kamu pergi sampai malam?" Tanya Nia lagi. "Yah... Aku bosan dengan teman teman ku yang dari tadi ngomongin hantu lain terus." Kata suara itu.


"Hantu lain?" Tanya Nia kebingungan. "Jangan jangan.." Nia segera menoleh dan laki laki tadi muncul lagi. "Kau adalah suara itu!" Seru Nia. "Iya, tapi jangan keras keras, nanti ibumu dengar." Kata laki laki itu lagi. "Kau adalah hantu..." Ucap Nia pelan.


"Iya, aku tahu kalau aku hantu." Ucap laki laki itu mulai kesal. Laki laki itu melihat Nia mendekatinya, "Apa yang kau lakukan?" Tanya laki laki itu bingung. "Aku ingin tahu kamu benar benar hantu atau bukan." Jawab Nia melempar sapu ke arahnya, "Broom? Really?" Tanyanya dalam aksen inggris.


"Kenapa kau berbicara bahasa inggris?" Tanya Nia menatap matanya yang berwarna biru. "Aku memang berasal dari London, keluargaku pergi ke Indonesia sekitar 1.039 tahun lalu karena nenekku yang tinggal di Indonesia sakit sakitan, ayahku menjaga nenekku sementara ibuku menginginkan pindah kesini karena pemandangannya bagus, ayahku menyanggupinya.." , "Tunggu.. 1.039 tahun lalu? Kamu sudah menjadi hantu selama 1.039 tahun?" Potong Nia.


"Iya.. Karena itu aku menolongmu saat itu, aku ingin punya teman." Jelas laki laki itu. "Tapi kau tadi baru saja pergi dengan teman temanmu.." Kata Nia bingung. "Yahh... aku sebenarnya tidak mempunyai teman karena semua hantu menganggapku aneh, mereka hanya memanfaatkanku saja karena kekuatanku besar." Jelas laki laki itu sedih.


Nia merasa bersalah karena membuat laki laki itu menceritakan segalanya, "Ohh ya, kau belum memperkenalkan diri.." Kata Nia mengubah topik pembicaraan. "Ahh.. Aku lupa, namaku adalah James Jeferson Heriot, kau bisa panggil aku James." Kata james mengulurkan tangannya ke Nia.


Nia menjabat tangan James dan Nia merasa merinding, "Tapi kau aneh.. Kenapa kau bisa melihat mahkluk astral?" Tanya James melayang mengelilingi Nia. "Mahkluk astral?" Nia kebingungan, "Artinya hantu." Jelas James mulai kesal. "Apakah kamu anak indigo?" Tanya James mulai serius.

__ADS_1


"Apa? Tentu saja bukan." Jawab Nia kesal karena James terus menanyakan pertanyaan pribadi. "Kenapa kau baru menunjukkan wujudmu sekarang? Padahal sudah beberapa hari kita berbicara. "Yah.. Aku memang tidak pernah berbicara ataupun berteman dengan perempuan, jadi aku gugup, aku takut kau menganggapku jelek." Kata James tersenyum.


"DEG DEG DEG DEG." Jantung Nia berdebar dengan keras. Perlahan lahan Nia mulai menyukainya. Wajah Nia memerah, membuat James bingung. Perasaan apa ini?


__ADS_2