
"Siapa itu Anyaelo?" Tanya Almae. Tiba tiba dia jadi ingat tentang perkataan ayahnya,
Flasback ( 6 tahun lalu )
"Semua laki laki di keluarga kita nama pangilannya dimulai dari huruf A. Seperti kakakmu, Armaes, adikmu Armast, kamu, Almae, dan ayah, Ayrman. Itu adalah tradisi keluarga kita turun temurun." Ucap ayahnya. "Bagaimana dengan kakek?" Tanya Almae.
"Yang itu ayah tidak tahu, tapi yang pasti panggil kakekmu Aelo saja." Ucap ayahnya sambil tersenyum. "Baiklah, bagaimana dengan nenek?" Tanya Almae lagi. "Nama nenek adalah Misuris, kalau nama ibu siapa?" Tanya ayahnya. "Miares!" Jawab Almae senang.
__ADS_1
Sekarang ( present day )
"Benarkah, kakek?" Tanya Almae pada dirinya sendiri. Tiba tiba Almae beranjak dan pergi ke kamarnya, dia menyalakan komputernya dan browsing di internet. "Bunga kelinci melengkung." Carinya, tapi hasilnya mengecewakan, tidak ditemukan hasil pencarian.
Almae mencoba mencari benda lain yang ada di buku itu, tetap saja hasilnya sama semua. Saat melihat halaman terakhir buku itu, Almae melihat sebuah kalung berwarna merah dan gambar portal, "Portal Anainaya." Bacanya, dia berusaha membaca keterangan di bawahnya. "Aku bisa membuatnya!" Seru Almae bahagia.
Dia mulai berkemas, mengambil beberapa makanan, baju, dan buku itu. Tapi sebelum berangkat, dia meninggalkan pesan ( berbohong ) ke orang tuanya bahwa dia pergi ke perkemahan musim panas. Kemudian dia mengajak Limao yang masih di toko buku untuk berburu bahan bahan untuk membuat portal.
__ADS_1
"Tapi untungnya semua bahannya ada di Indonesia kan?" Tanya Almae sambil tersenyum. "Betul sih..." Jawab Limao lagi. "Baiklah.. Ayo kita coba cari di hutan dekat sini, pasti ketemu." Lata Limao bangkit dari kursinya. Almae dan Limao pergi ke belakang sekolah dan mulai menuruni bukit terjal, "Hati hati Al!" Seru Limao memegangi tangan Almae yang terperosot.
"Lim, lepaskan tanganku!" Seru Almae. "Kau gila ya? Tidak mungkin aku melepaskanmu!" Seru Limao memegang tangan Almae erat erat. "Percayalah padaku!" Seru Almae sambil membuka kakinya dengan posisi mendarat.
Tiba tiba Limao melepaskan Almae dan Almae menuruni bukit sambil berlari, Almae melompat dan Limao menutup matanya, saat membuka matanya, Almae berhasil menuruni bukit dengan selamat. Limao mulai melepaskan pegangannya dan terporosot menuruni bukit, kakinya dan tangannya tergores terkena bebatuan, tapi dia berhasil sampai ke bawah.
"Yaampun Lim, syukurlah kau selamat. Tanganmu dan kakimu tergores gores batu tadi." Kata Almae. Almae segera mengambil obat oles dari tasnya dan mengoleskannya ke tangan dan kaki Limao. Limao hanya bisa menutup mata menahan perih karena obat oles itu, Limao melihat ke depan dan melihat hutan yang hijau dan lebat, Limao segera berdiri dan berlari ke dalam hutan.
__ADS_1
"Woy, Limao! Belum selesai!" Teriak Almae mengikuti Limao. Almae berhenti dan khawatir saat melihat Limao menyebrangi jembatan dari pohon yang sudah tumbang, padahal akan sakit sekali jika jatuh. Ingin sekali Almae berteriak kapadanya untuk berhati hati, tapi Almae takut mengganggu konsentrasinya.
Limao menoleh dan melihat Almae dari ketinggian, "Almae!" Teriaknya. "Limao, nanti jatuh!" Teriak Almae tidak kalah keras. Saat Limao melihat ke bawah, dia kehilangan keseimbangan. "Limao, awas!" , "Ahh..!!"