The Unifier

The Unifier
Bab 3


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, hari mulai malam. Hewan hewan pulang ke sarangnya masing masing, ada juga yang keluar mencari makan. Pikiranku sedang kacau dikamar, tidak percaya kejadian hari ini.


5 jam sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa kita pindah rumah? Rumah kita juga masih bagus." Tanya Nia bingung. "Ibu ingin pindah ke suatu tempat, ibu yakin kamu akan suka tinggal disana." Kata ibunya gembira. "Tapi apakah jauh dari sini? Kalau jauh, sekolahku bagaimana?" Tanya Nia tidak terima. "Tenang sayang, kamu juga akan pindah sekolah dekat rumah kita yang baru, ibu jamin kamu nggak akan telat lagi." Kata ibunya.


"TOK TOK TOK." Suara ketukan pintu. "Ah.. itu pasti mereka." Kata ibunya gembira. "Mereka siapa?" Tanyaku. "Orang yang akan mengangkat barang barang dirumah kita ke rumah yang baru." Jawab ibunya. "Ehh?! Kok datang sekarang?! Kata ibu besok kita pindah, tapi kenapa mereka datang sekarang?" Tanya Nia panik. "Hari ini kita pindah pindah barang dan mengurus sekolah, jadi besok tinggal pergi ke rumah baru kita." Jawab ibunya. "Bu, mulai diangkat dari mana?" Tanya salah satu dari mereka. "Mulai diangkat dari lantai atas saja. " Kata ibunya. "Lantai atas?! Tapi disitukan ada kamarku?!" Tanya Nia panik. "Benar sayang, barang dari atas itu paling sudah dibawa ke bawah jadi paling mudah dimulai dari atas dulu." Kata ibunya lagi. "Tapi disitu banyak barang barangku!" Teriak Nia sambil berlari ke kamarnya.

__ADS_1


Nia pergi ke kamar dengan lesu. Nia mulai membereskan kamarnya, dia menemukan hadiah kalung dari ibunya. "Aku sampai lupa tanya ke ibu, kalung seindah ini dapat dari mana." Gumam Nia. "Diapakai sajalah." Kata Nia dalam hatinya. Nia mengalungkan kalung itu di lehernya. "Wah.. Cocok sekali di leherku." Kata Nia. "Nia, toling bantu ibu masak!" Teriak ibunya dari bawah. "Aku segera turun!" Jawab Nia. Nia segera menuruni tangga. "Kok ngantuk ya?" Tanya Nia dalam hati sambil mulai mengusap mata. Pengelihatan Nia mulai kabur. Nia melihat ada wanita yang menaruh kalung di atas seorang bayi. "Semoga kamu selamat ya, Tresvania. " Kata wanita itu, lalu pandangan Nia mulai kabur lagi. Nia pusing dan jatuh ke lantai. "Nia, Nia! Kamu kenapa?" Tanya ibunya khawatir.


"Mmm.. Ehh? Ibu? Bukan kah ibu tadi di dapur?" Tanya Nia bingung. "Tadi ibu melihatmu jatuh ke lantai, ibu panik." Jelas ibunya. "Aku nggak papa, tapi tadi aku seperti melihat ada wanita memberikan sesuatu kepada bayi." Kata Nia. "Hah? Kamu pasti mimpi, cuci mukamu dan mulai bantu ibu di dapur." Suruh ibunya menuju dapur. "Tapi tadi aku jelas jelas nya..." Kata Nia dalam hati. Selama membantu ibunya, Nia kepikiran terus tentang apa yang dilihatnya tadi. "Kalung itu, aku seperti pernah melihatnya, bentuknya tidak asing, tapi lihat dimana?" Gumam Nia. "Nia, akhir akhir ini kamu jadi sering berbicara sendiri." Kata ibunya. "Ibu jadi khawatir, apa yang mengganggumu?" Tanya ibunya penasaran.

__ADS_1


"Ahh.. enggak kok, aku cuma kepikiran tentang rumah baru kita nanti." Kata Nia berbohong. "Jangan khawatir sayang, kamu akan menyukai rumah baru kita." Kata ibunya sambil tersenyum. "... Aku harus menyelidiki lebih dalam asal usul kalung ini." Kata Nia dalam hati. "Ibu, tiba tiba aku merasa tidak enak badan, aku ke kamar sebentar." Kata Nia berbohong sambil berlari ke kamar. "Apa kamu tidak apa apa? Apa perlu ibu panggilkan dokter?" Tanya ibunya khawatir. "Tidak usah bu, sebentar lagi pasti juga sembuh." Kata Nia terburu buru pergi ke kamar. "Ada yang aneh dengan anak ini.." Pikir ibunya dalam hati.


__ADS_2