The Unifier

The Unifier
Bab 11


__ADS_3

"KUKURUYUK!!" Suara ayam berkokok, Nia menoleh ke jam dindingnya menunjukkan pukul 05.00 pagi. Perlahan lahan Nia menutup matanya dan, "Nia, bangun! Jam 5!" Seru James yang melayang layang. Nia tetap tidur, berusaha menutupi telinganya dengan bantal.


"Nia, nanti telat sekolah loh.." Ucap James lagi. Nia yang tiba tiba bangun mengagetkan James, dia berjalan ke arah James dengan wajah pucat dan mata merah. "A.. Nia.. Kau tidak apa apa?" Tanya James ketakutan.


Nia berhenti di depan James, dia melotot, "Siapa suruh semalaman ngajak aku ngobrol terus?! Kan jadinya aku nggak bisa tidur!" Seru Nia tiba tiba. "Maaf ya.. Dulu aku selalu bisa tidur di kondisi apa pun.." Kata James menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Nia meghembuskan napas panjang, dia berjalan seperti zombie ke kamar mandi.


Kemarin malam


Nia membantu ibunya mengangkat kasur setelah kamarnya benar benar bersih, James juga ikut membantu, walaupun tidak benar benar mengangkat. "James, kamu itu bantu nggak sih? Kok kelihatannya tanganmu nembus kasur aja." Bisik Nia pelan, "Enak saja, aku ini membantu, coba tanya ibumu kasur ini berat atau tidak." Ucap James kesal.


"Ibu, menurut ibu kasur ini berat tidak?" Tanya Nia tiba tiba. "Tidak sayang, padahal kasur ini berat sekali sewaktu ibu pertama membelinya dulu. Mungkin karena ibu banyak mondar mandir dan makan sayur ibu jadi kuat.." Ucap ibunya tertawa kecil. Nia dan James merasa agak kesal mendengar ucapan ibunya Nia.

__ADS_1


"Kan betulkan kata ku." Kata James bangga. "Iya iya.." Timpal Nia kesal. Karena rumah baru Nia tidak memiliki tangga, pemindahan kasur menjadi lebih cepat di luar dugaan. "Baiklah.. Dorong!" Perintah ibunya mendorong kasur Nia, "Dorong sekali lagi!" Ucap ibunya.


Ternyata benar kata James, tanpa bantuannya, kasur ini jadi lebih berat. "Bagus, kau suka posisinya sayang?" Tanya ibunya mengelap keringat. "Suka bu." Jawab Nia memandangi kamarnya, Nia suka kamar barunya. Kamar berlapis cat putih, dan ada jendela yang besar di pinggir kasur, meja belajar di sudut kamar dan lemari pakaian untuk menyimpan seragamnya.


Walau pun rumahnya terbukti aman dari gangguan ( Kata James ), Nia tetap suka bermain di kamarnya. Ibunya sampai bingung Nia tidak keluar kamar berjam jam, ibunya sendirian menonton tv di ruang tamu, dia merindukan kebersamaan dengan Nia, bercanda dan tertawa bersama sama. Sementara itu, Nia sedang menulis journalnya di kamar.


"Apa yang kau tulis?" Tanya James melayang layang. "Tidak ada apa apa." Jawab Nia fokus menulis. "Ayolah.. Setidaknya bagi aku sedikit info.." Pinta James memelas. "Baiklah.. Apa nama mahkluk yang bisa melayang dan menyebalkan?" Canda Nia.


"..., tidak lucu.." Geram James sebal, dia memikirkan cara untuk membalas. "Hahaha.." Nia tertawa puas. Tiba tiba kamar Nia menjadi sunyi, Nia merasa aneh dengan kamarnya, tetapi perasaan itu tidak dihiraukannya, dia kembali menulis.


James masuk kembali dan melayang layang seperti biasanya, dia berudaha membuka pembicaraan, tapi Nia tidak merespon. "Nia.. Maaf ya soal kejadian tadi.." Kata James sadar kesalahannya dimana. Nia tetap fokus menulis, Nia meliriknya sebentar lalu segera berdiri dan menuju kasur.

__ADS_1


Nia mengambil bantal dan melemparkannya ke James, "Au!" Seru James. James tidak mau kalah, dia menyentuh bantal Nia dan tiba tiba bantal Nia mengeluarkan bayangan, James memukulkannya ke Nia dan Nia merinding sampai ke tulang. "Hhii.. Dingin sekali!" Kata Nia memegangi tangannya.


James melihat tangan Nia memerah, "Nia, tanganmu!" Seru James. "Warna merah lagi?!" Seru Nia berlari ke kamar mandi dan memasukan tangannya ke air. "Ehh? Tidak terjadi apa apa?" Tanya Nia mengeluarkan tangannya dari air, Nia berjalan menuju kamarnya sambil melihati tangannya terus.


Ketika sampai di kamar, Nia melihat James sangat khawatir, "Ahh, Nia, bagaimana tanganmu?" Tanya James mendekati Nia. "Baik baik saja, tapi rasanya agak sedikit aneh.." Jawab Nia, "Aneh kenapa?" Tanya James memegang tangan Nia dan, "Brak!" Tangan Nia mengeluarkan cahaya merah yang mengenai James dan James menghantam tembok.


"Yaampun, James kau tidak apa apa?" Tanya Nia mendekati James. James melihat Nia mendekatinya dan dia berjalan mundur, "Mundur Nia, jangan mendekati aku!" Seru James.


"Kenapa?" Tanya Nia berhenti, "Akan sangat berbahaya jika aku menyentuhmu sekarang, jika cahaya merah di tanganmu itu belum hilang, jangan mendekati siapa pun, terutama manusia. Jangan menyentuhnya." Perintah James. Nia menggangguk sedih, sekarang dia harus menghindari semua mahkluk yang ada di dekatnya.


"CEKLEK.." Suara pintu terbuka, James segera menghilang. "Sayang, bicara dengan siapa kau?" Tanya ibunya yang tiba tiba mendekati Nia. "Aku.. Aku.." Jawab Nia terbata bata sambil mundur perlahan. "Aku bicara dengan diriku sendiri.." Jawab Nia berbohong, Nia melihat raut muka ibunya semakin curiga. "Sayang, beri tahu ibu dong kalau terjadi masalah." Kata ibunya sambil menyentuh tangan Nia dan, "BRUAK!! CRASHH!!" Ibunya terpental sampai menghantam tembok dengan keras dan kaca jendelanya pecah terkena cahaya merah yang semakin menguat itu. "Ibu!" Teriak Nia histeris. "Nia ada apa?" Tanya James yang mendengar teriakan Nia. "Ibu.. Ibu.." Jawab Nia terbata bata sambil menangis. "Gawat.." Kata James dalam hati.

__ADS_1


Maaf ya lama nggak up, author barusan selesai PAS. jangan lupa like dan vote ya..!😉


...Ohh ya, untuk bab selanjutnya tidak ada hubungannya dengan cerita ini...


__ADS_2