The Unifier

The Unifier
Bab 6


__ADS_3

"Tolong kau ambil buku itu, jangan sampai jatuh ke tangan orang bersalah, dan yang terakhir.." Kata wanita itu terpotong. "BRUK." Wanita itu jatuh, "Nyonya!" Kata Nia berusaha membantu wanita itu berdiri. "Celaka... Waktuku tidak banyak.. Permintaanku yang terakhir.. Kamu harus menemui anak laki laki yang tadi kamu lihat.." Kata wanita itu.


Nia melihat wanita itu retak menjadi kecil dan menghilang perlahan menyampur dengan angin. Entah kenapa Nia sangat sedih melihat wanita itu menghilang, tiba tiba, ada awan gelap yang mengelilingi kaki Nia. Nia mulai panik dan berjalan tak menentu arah.


Nia berjalan mundur kebelakang dan merasa menabrak sesuatu. Jantung Nia berdetak tak karuan, dia takut sekali. Warna langit berubah menjadi merah, awan awan di sekeliling Nia menghitam perlahan lahan. Sosok dibelakang Nia terbang ke atas dan tersenyum menyeringai.


Nia ketakutan melihat senyumnya. Mahkluk itu menggerakkan tangannya dan muncul benang benang yang mengelilingi Nia. Nia kaget dan berhenti bergerak karena benang itu sangat tajam. Bergerak sedikit dan tangan Nia berdarah, Mahkluk itu tertawa cekikikan melihat Nia ketakutan.


Nia yang tak bisa bergerak memohon agar diselamatkan. Mahkluk itu tertawa melihat Nia. Nia memejamkan matanya dan berusaha fokus mengeluarkan kristal dari tangannya. "Ayolah.. Kenapa tidak mau keluar?" Tanya Nia panik. Dari kejauhan Nia melihat sesuatu yang bersinar melesat ke arah Nia.


"CRAS!" Nia melihat sebuah tombak melaju dengan kecepatan tinggi memutuskan semua benang yang ada di sekeliling Nia, tombak itu melesat ke arah mahkluk tadi. "Jras!" Tombak itu mengenai tangan mahkluk itu, mahkluk itu jatuh ke bawah. "Sial! Aku kurang cepat!" Kata mahkluk itu berusaha melarikan diri.

__ADS_1


Tombak itu berbalik dan melesat ke mahkluk itu. "Tombak sialan!" Kata mahkluk itu. Mahkluk itu dengan sigap membuat lingkaran sihir dan menghilang entah kemana. Tombak itu jatuh ke bawah setelah mahkluk itu menghilang. Nia mendekati tombak itu, "Wah, cantik sekali tombak ini.." Gumam Nia mengambil tombak itu.


Nia kaget dan jatuh ke lantai, Nia mendengar sebuah suara. "Nak, tolong jangan kau pegang tombak itu.." Kata suara itu. Nia kaget dan berdiri, "Duduklah dulu, tenagamu belum pulih.." Kata suara itu lagi. "Terima kasih karena sudah perhatian kepadaku, tapi dimanakah kamu? Tunjukkan dirimu." Kata Nia mulai tegas.


"Wah.. Tegas sekali, aku suka anak yang tegas." Kata suara itu lagi. Nia melihat ada seorang laki laki berjalan mendekatinya. "Siapa kamu?" Tanya Nia mulai waspada. "Tidak perlu waspada begitu, aku tidak akan menyakitimu, kecuali kamu melawan." Kata mahkluk itu lagi.


"Perkenalkan, namaku Raffares." Kata laki laki itu. "Apa yang kau mau dariku?" Tanya Nia ketakutan berjalan mundur. "Mudah saja, aku ingin kau menjabat tanganku." Kata Raffares mengulurkan tanggannya. "Tidak.. Mau kau apakan tanganku? Mahkluk apa kamu?" Tanya Nia berjalan mundur.


"Pergi sana!" Teriak Nia mengeluarkan serbuan kristal. "SRING, CRAK!" Raffares mengeluarkan sabit berwarna putih dan menebas semua kristal hingga pecah menjadi kecil. "Kristalku.." Kata Nia ketakutan melihat Raffares.


"Merepotkan sekali mahkluk sepertimu, tidak bisa menyerang, tapi jago berlindung." Kata Raffares mulai kesal. "Apa maksudmu? Aku ini hanya manusia!" Kata Nia dari dalam kubah. "Ternyata kau belum menyadarinya ya? Kamu adalah masalah terbesar bagi dimensiku, kamu harusnya sudah terbunuh bertahun tahun yang lalu!" Seru Raffares mengayunkan sabit nya.

__ADS_1


"Kau seharusnya tak pernah ada!" Ucap Raffares mengintimidasi. "Apa maksudnya itu?" Gumam Nia. Kubah itu perlahan menghilang. "Jangan biarkan dia merasuki pikiranmu.." Kata suara itu.


"Siapa itu?" Guamm Nia menoleh noleh ke sekitar. "Lawan dia.." Kata suara itu lagi.


"Tapi aku tidak bisa melawan." Kata Nia menimpali suara itu. "Gunakan kekuatanmu.." Kata suara itu lagi. "Tapi aku belum bisa mengendalikannya dengan benar." Kata Nia mencari cari asal suara itu.


"Bicara dengan siapa kau?! Lawanmu itu disini!" Seru Raffares kesal. Tanpa pikir panjang, Nia mengeluarkan kristal yang sangat besar ke arah Raffares. Raffares kaget dan tak sempat menghindar ke atas, kristal itu mengenai sayapnya.


"Ahh!! Sayapku!" Teriaknya kesakitan jatuh ke bawah. "SRING." Raffares mengekuarkan lingkaran berwarna hitam melayang. "Xoloith, bawa aku pergi dari sini!" Kata Raffares. "Siap!" Kata suara dari lingkaran itu.


Perlahan Raffares diselimuti awan merah dan menghilang seperti kabut.

__ADS_1


Nia melihat awan awan di sekelilingnya berubah menjadi putih lagi. Nia merasa seperti ada angin yang menghisapnya dari belakang. Nia terhisap dan bangun dengan keadaan tersengal sengal.


"Hah.. Hah.. Apa itu tadi..?" Tanya Nia tersengal sengal. Nia merasa itu hanya mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata? Nia memegang dadanya dan bisa merasakan bahwa jantungnya berdetak kencang. Dia melihat kalung nya di meja dan segera memakainya. "Aku tidak boleh melepaskan kalung ini." Kata Nia kepada dirinya sendiri.


__ADS_2