
"BRUM.." Suara mobil dari luar rumah. Nia melihat keluar jendela. "Nia, ibu pulang." Kata ibunya dari bawah. Nia segera turun ke lantai bawah dan memeluk ibunya. Ibunya tersenyum mengelus elus rambut coklat Nia.
"Aku merindukan ibu." Kata Nia pelan. "Ibu juga merindukanmu, sudahlah, tidur yuk." Ajak ibunya melepas jaket dan mulai berjalan ke kamarnya. Nia takut untuk tidur, dia tidak mau mengalami kejadian seperti tadi.
Nia mengepalkan tangannya dan mulai merasa kesakitan.
"Au..!" Kata Nia melihat tangannya, Nia melihat masih ada serpihan serihan kristal yang menempel di tangannya. Nia takut mimpinya menjadi nyata, dia berlari ke kamar mandi dan segera merendam tangannya ke dalam air.
"CEESS.." Nia melihat serpihan kristal itu berasap dan larut bersama air.
Nia terkejut, sekarang dia tahu bahwa air adalah kelemahannya, Nia segera meninggalkan kamar mandi dan menuju kamarnya.
Nia merasakan ada sedikit panas di tangannya, Nia melihat cahaya biru di tangannya mulai menghilang secara perlahan. Nia panik, bagaimana kalau dia tidak bisa menggunakan kekuatannya lagi?
Nia meniup tangannya agar panas itu segera menghilang, tapi panasnya semakin besar. "Berhenti!" Kata suara itu. "Suara ini.. Itu adalah kau, kamu membantuku saat bertarung melawan mahkluk itu." Kata Nia mencari suara itu.
__ADS_1
"Betul, sekarang, carilah sesuatu yang dingin, dan tempelkan ke tanganmu." Suruh suara itu. "Baik." Jawab Nia sambil berlari menuju dapur. Nia ingat ibunya masih menyimpan es batu di kulkas. Nia membuka kulkas dan segera mengambil es batu itu, dia menempelkan ketangannya.
"Ehh? Kok tidak terasa dingin?" Tanya Nia. "Memang begitu, sekarang lepaskan es batu itu dan tunggu cahaya biru di tanganmu itu kembali seperti normal, kekuatanmu masih belum stabil sekarang. Dan mulai sekarang, jangan dekat dekat dengan air." Perintah suara itu.
"Tapi bagaimana caraku mandi?" Tanya Nia kebungungan. "Pakai gelang ini, di tangan kananmu, saat mandi, gelang ini akan membungkus tangan kananmu sehingga tidak ada air yang bisa masuk." Ucap suara itu lagi.
"Terima kasih telah membantuku selama ini." Kata Nia melihat gelang di tangannya. "Tidak apa apa, sekarang aku harus pergi." Kata suara itu perlahan lahan menghilang.
Nia berlari ke kamarnya dan membuka salah satu box dan mengambil buku journalnya, ia mulai meuliskan kejadian yang dialaminya baru baru ini.
Tulisnya dalam journal yang lama tak ia pakai itu. Journal itu adalah hadiah ulang tahun ke 10 dari ibunya. Nia menjaga journal itu baik baik, walaupun tidak tahu harus menuliskan apa.
Saat menulis, tiba tiba Nia teringat tugas wanita itu dan pengelihatannya. Dia menuliskan tugasnya dan pengelihatanya ke dalam journal.
"Wanita itu juga memberikan aku sebuah pengelihatan. Di sebuah tempat yang sangat panas, ada 2 orang pria berpakaian aneh memegang seorang anak laki laki berumur sekitar 12 sampai 13 tahun.
__ADS_1
Anak itu dibawa ke sebuah rumah kecil, dan kehadiran mereka sudah ditunggu oleh seseorang. Ada mahkluk yang sangat aneh, bersayap, tapi tidak jelas wajahnya. Mahkluk memarahi laki laki itu. Laki laki itu tampak kesal dan marah, tapi tak bisa berontak.
Tiba tiba mahkluk yang sangat besar itu mengucapkan kata kata yang tidak aku mengerti dan mulai membuat lingkaran sihir yang sangat besar. Dari lingkaran sihir itu keluar sebuah buku yang sangat terang hingga menyilaukan mata, tapi aku melihat sedikit dari bagian depan buku itu.
Buku itu memiliki warna emas dan ukiran ukiran pohon dan tumbuhan. Lalu wanita itu memberiku tugas, dia menyuruhku untuk menjaga buku itu agar tidak jatuh ke tangan yang salah, dan pergi menemui anak laki laki tadi. Lalu wanita itu menghilang entah kemana."
Tulis Nia dalam buku itu. Nia menambahkan sketsa mahkluk itu di buku journalnya. Nia mulai menggambar dengan serius apa yanh dilihatnya, walaupun Nia jago menggambar, tetap sudah menggambar mahkluk itu karena susah mengingat detilnya.
Keringat Nia bercucuran dan hampir menetes ke journalnya, sebentar lagi selesai, tapi Nia masih ada masalah dengan sayapnya. Nia tidaj bisa menggambar sayap sejak kecil, tidak tahu kenapa.
Nia menggambar sayap sebisanya. Sekitar 10 menit kemudian gambar itu jadi, Nia menggoyang goyangkan tangannya yang sakit karena tidak berhenti memegang pensil sedari tadi. Walaupun begitu, Nia puas melihat hasilnya.
Nia mengelap keringatnya dan mulai berjalan mengendap endap keluar kamar, dia melihat ibunya sudah tertidur pulas. "Bagus." Gumamnya. Nia berlari ke sofa ruang tamu dan tiduran disitu, sambil menonton tv. Ibunya membuka mata dan mulai ketakutan.
__ADS_1
"Dengan siapa anak ini berbicara?"