
"AHH..!" Teriakku. "BRUK!" Aku jatuh dari sebuah lubang dan mendarat dengan sakit sekali. "Aduh... Sakit sekali.." Keluhku. Aku melihat seorang pria dan seorang wanita. "Sayang, kita namai mereka siapa ya?" Tanya wanita itu. "Bagaimana jika kita namai Akiranya?" Kata pria itu. "Wah bagus sekali, sekarang aku akan menamainya Tresvania." Kata wanita itu.
Aku berjalan mendekat ke kasur bayi itu, aku melihat 2 bayi mungil yang berambut biru tua dan biru muda. "Wah.. Warna rambutnya bagus sekali." Gumam Nia. Aku melihat wanita itu mengambil salah satu bayi dan menggendongnya. "Anak ini lucu sekali ya, Mamon." Kata wanita itu sambil tersenyum. "Mamon?" Tanya Nia dalam hati.
Aku melihat pria itu berjalan mendekati si wanita. "Semoga waktu anak anak kita besar nanti, mereka bisa tumbuh dengan baik." Kata pria itu memeluk si wanita. "Anak anak kita? Mereka suami istri?" Tanya Nia penasaran. Tiba tiba Nia mendengar suara, "Nia, Nia!" Suara itu menggelegar.
"Aku rasa aku kenal suara ini.." Kata Nia dalam hati. Tiba tiba aku terangkat ke atas dan pandanganku menjadi kabur. "Nia, Nia!" Teriak suara itu lagi. "Mm... Loh.. Ibu?" Tanya Nia bingung. "Badanmu dingin sekali, apa perlu ibu bawa ke dokter?" Tanya ibunya khawatir. "Nggak usah bu, nanti juga akan membaik." Kata Nia menenangkan ibunya.
__ADS_1
"Baiklah, nanti kalau memparah bilang ibu saja, ibu akan membuatkan sup." Kata ibunya meninggalkan kamar Nia. ".... Daripada merasa kedinginan, aku merasa kepanasan.." Kata Nia pelan. Nia bangun dan berjalan ke halaman belakang rumah. "... Tadi... Mimpi apa itu? Nama itu, aku pernah mendengarnya, tapi dimana?" Tanya Nia banyak pikiran. "Nia, disini kau rupanya, ayo dimaka supnya, nanti dingin." Kata ibunya membawakan Nia sup hangat.
"... Ibu, ibu dapat kalung ini darimana?" Tanya Nia tiba tiba. "Ehh? Kenapa tiba tiba tanya begitu? Kau tidak suka kalungnya?" Tanya ibunya. "Bukan begitu, aku menyukainya, aku hanya ingin tahu ibu dapat kalung ini darimana?" Tanya Nia lagi. "Yah.. Ibu dapat dari penjual di Bandung beberapa minggu lalu saat ibu dinas." Ucap ibunya bohong. "... Aku pergi ke kamar mandi dulu." Kata Nia pergi meninggalkan ibunya. "Anak itu kenapa ya?" Ibunya keningungan.
"Nia..Apa yang mengubahmu seperti ini? Padahal kau adalah anak yang ceria, sampai.." Kata ibunya Terpotong.
"Wah.. Besok hari minggu, kau mau kemana sayang?" Tanya ibunya gembira. "Aku mau ke pantai!" Seru Nia senang. "Baiklah, kamu bantu ibu membereskan baju ya." Kata ibunya. "Baik bu." Nia senang. "Sayang, tolong ambilkan baju disana." Suruh ibunya.
__ADS_1
Nia berjalan ke arah lemari mengambil pakaian yang dimaksud ibunya. Nia menunjukkan baju itu ke ibunya. "Wah, bagus! Bayi ibu sudah besar ya, bisa mengerti perintah." Puji ibunya. Nia malu menutupi mukanya. "Aww.. Imut sekali.." Kata ibunya memperhatikan tingkah Nia.
"Nia malu!" Teriak Nia berlari ke seluruh ruangan. "BRUK!" Nia menabrak lemari dan sebuah box jatuh. "Hue...!" Tangis Nia. "Aduh sayang, jangan lari lari dong." Kata ibunya menggendong Nia ke kasur. Nia mulai tenang. "Hm? Box apa ini?" Tanya ibunya mengingat ingat.
"Box ini kan box tempat dia tidur dulu.." Kata ibunya mengingat ingat kejadian 7 tahun lalu. "Tidak terasa sudah 7 tahun berlalu." Katanya berdiri. Ibunya mengembalikan box itu ke atas lemari. "KLINTING." Suara sesuatu jatuh ke lantai. "Wah, indah sekali kalung ini." Kata ibunya memandangi kalung itu. Ibunya melihat sebuah tulisan kecil samar samar. "Vania?" Tanya ibunya penasaran. Tiba tiba saja ibunya ingat kalau bayinya tidak punya nama. "Bagaimama kalau namanya Vania Floresta?" Pikir ibunya. "Sayang, kau setuju kalau namu Vania Floresta?" Tanya ibunya. "Nama? Setuju!" Ucap Nia.
Kembali ke sekarang ( present day )
__ADS_1
"Aku harus mencari tahu lebih lanjut tentang kalung ini." Kata Nia dalam hatinya. Nia memutar mutar kalungnya dan menemukan tulisan yang sangat kecil dan samar samar. "Anakku." Kata tulisan itu. Nia melihat warna merah pada kalungnya berkurang sampai tinggal sedikit. "Ehh.. Warnanya berubah?" Tanya Nia agak kaget.