
Ruangan yang memiliki suasana mencekam itu membuat orang menjadi berkeringat dingin karena aura yang di keluarkan oleh Raja dari bangsa vampir. "Tentu anda, Basillius." ujar Dante sembari tersenyum kecil.
Manik mata merah itu beralih menatap seorang gadis yang duduk di tepi ranjang yang cukup besar dengan mata yang menatap cemas pada seorang anak laki-laki yang terbaring dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
"Isaac yang menyiksanya, bukan aku. Dia terobsesi pada darah yang dimiliki oleh gadis manusia itu."
Sebuah jari yang memiliki kuku yang cukup tajam itu menusuk permukaan kulit Nark dan menggoresnya hingga mengeluarkan darah.
"Aku tahu kau melakukan hal ini karena menginginkan darah yang dimiliki gadis manusia itu, Nark. Tidak biasanya Isaac mengambil alih tubuhmu dengan mudahnya."
Tangan besar itu mencengkram wajah Dante, membungkam mulut pria itu dan berbisik, "Jaga ucapanmu di hadapan gadis itu, sampai dia tahu apa tujuanku. Kau akan kubunuh sampai-sampai jasadmu tidak akan dikenali oleh siapapun bahkan anakmu sekalipun."
Suara dentuman keras mengalihkan perhatian dia orang yang sedang beradu argumen. Gadis yang memiliki raut wajah cemas itu beralih menjadi takut dan berkeringat dingin.
"Apa yang kau bawa ketika datang ke sini?" Seru Nark kesal.
Ia meninggalkan ruangan dengan orang-orang yang memandangnya pergi dengan amarah yang memuncak.
Dari jendela, ia bisa melihat seberapa parah wilayah yang dirusak oleh sesuatu yang misterius itu.
Tanah yang retak, pepohonan yang hancur serta binatang yang mati. Semua menyingkir begitu Raja datang.
Manik merah itu menyala dengan dahi yang mengerut aneh, semua dentuman keras dan tanah yang retak hanya dikarenakan seorang anak kecil.
"Apa ini ulahnya?" Nark bertanya.
"Sepertinya, Yang Mulia." ujar seorang vampir dengan tubuh yang membungkuk sebagai tanda hormat.
Sebuah sinar putih mulai keluar dari tubuh anak kecil yang terbaring tak sadarkan diri. Ia menyamakan tingginya dengan tubuh kecil dan tak berdaya itu.
Tangannya hendak menyentuh tubuhnya, namun sinar putih itu membuat tangan kanannya retak dan hancur.
Semua yang menyaksikan hal tersebut pun terkejut, seorang Raja yang terkenal kuat di bangsa nya terkena serangan dari anak kecil yang bahkan tidak tahu bagaimana cara mengendalikan kekuatan.
__ADS_1
"Apa ini?" Nark bergumam.
Hanya satu makhluk yang mampu membuat tubuh vampir dan iblis retak menjadi kepingan kecil, makhluk bersayap putih. Bangsa Malaikat, hanya mereka yang mampu.
"Apa anak ini seorang malaikat?" Ujar Nark.
"Yang Mulia!" Constantine berseru begitu melihat Rajanya terluka dengan tangan yang perlahan menghilang menjadi serpihan kecil dan terbang terbawa arus angin.
Constantine menatap tajam seorang anak yang tak sadarkan diri, hendak melakukan pembalasan atas apa yang terjadi pada Rajanya. "Jangan menyentuh anak itu, dia bisa mmembunu kita dengan mudah."
Manik merahnya terpejam, ia tersenyum menahan rasa sakit yang menjalar perlahan. "Aku benci mengatakan ini tapi satu-satunya yang bisa menyentuh anak itu hanya manusia. Panggil Ethel." ujar Nark.
+
Gadis itu berlari dengan napas yang terputus-putus serta keringat yang mengalir menambah kesan cantik pada wajahnya.
"Nark." lirihnya begitu melihat pria yang terduduk bersandar di sebuah batu besar.
Dante datang mengobati luka yang perlahan menjalar naik hingga perpotongan antara lengan bawah dan lengan atas.
"Angkuh sekali sikapnya, padahal hanya seorang manusia." sahut seorang vampir.
Mereka saling menyahuti ucapan satu sama lain sampai sesuatu yang tajam menusuk dada mereka. "Dia adalah orangku, tahu diri jika kalian ingin menghinanya." Nark menggeram.
"Apa yang membuatmu memanggilku?" ujar Ethel dengan tangan yang bergetar.
Nark tahu jika gadis di hadapannya ini takut dengan sekumpulan vampir yang jauh berada di depannya.
"Anak kecil yang terbaring lemah di sana—" Nark bangkit mendekati anak kecil itu.
Perlahan sinar putih yang menyelimuti tubuh anak itu menghilang dengan tubuh yang perlahan berubah menjadi serpihan kecil.
"Apa-apaan ini?"
__ADS_1
Perasaan yang mengganjal seolah sesuatu sedang mengintainya. "Yang Mulia, tangan anda..." Ethel menyentuh tangannya yang hancur lebur.
Peristiwa aneh dan misterius yang menyerang bangsa vampir, perasaan yang mengganjal. "Constantine, aku akan mendatangi para petinggi." ujar Nark.
Dante mengusap keringatnya yang menetes jatuh dari keningnya. Ia sudah mengerahkan seluruh tenaga, namun tak membuahkan hasil yang memuaskan.
Tangan Nark tidak beregenerasi seperti biasanya, kekuatan bangsa bersayap putih tidak bisa dianggap mudah.
Bahkan hanya sentuhan kecil saja mampu menghalangi regenerasi bangsa vampir. "Aku tahu cara mengatasinya, Ethel bisa kau ikut denganku?" ujar Nark.
Suasana malam yang dingin dengan tangan yang menariknya dengan lembut di jalanan yang sepi dan hanya ada suara angin berhembus.
"Kau bilang kau akan mendatangi para petinggi, apa tidak bahaya dengan kondisimu saat ini?"
Langkah itu berhenti.
Pria itu membalikkan tubuhnya menghadap pada gadis yang ia cintai karena parasnya yang cantik dan memanjakan mata serta nafsu makannya.
"Kau lah obatnya, lebih tepatnya darahmu." ujar Nark.
Nark menarik lengan Ethel mendekati mulutnya yang mulai menunjukkan taring tajamnya. "Bisakah?" gumam Nark.
Rasa geli yang diciptakan akibat pergerakan mulut Nark yang bersentuhan dengan permukaan kulit Ethel.
"Kau akan mati jika tidak melakukannya."
Rasa sakit dan terbakar itu menjalar ke seluruh tubuh Nark, luka akibat sinar putih itu mulai beregenerasi secara perlahan.
Hisapan itu berhenti dikala tangannya tumbuh, luka yang berada di lengan Ethel dikecup hingga hilang tak berbekas.
"Aku tidak tahu apa aku bisa selamat begitu mendatangi para petinggi atau tidak, tapi hanya mereka yang tahu tentang hal ini."
"Katakanlah pada Constantine untuk selalu berada di istana. Hanya dia dan Dante lah yang mampu menggantikanku disaat aku tidak ada."
__ADS_1
Sebuah portal terbuka, namun sebuah tangan menahannya agar tidak masuk ke dalam portal dan mendatangi dunia di mana para petinggi ketiga bangsa berada. "Kau ragu-ragu. Jika ragu tidak usah pergi." ujar Ethel.
Bersambung...