THE VAMPIRE ; Nark De Melchias

THE VAMPIRE ; Nark De Melchias
X. Previously on: The Vampire nation war


__ADS_3

Suasana bangsa vampir sedang gentar dan dilanda ketakutan yang mulai membesar, penyerangan waktu lalu terjadi berulang kali. Aku pun memanggil para dewan bangsawan untuk melaksanakan rapat di sebuah ruangan di mana suasana sangat mencekam.


Butir-butir keringat mulai membuat garis pada bagian pelipis hingga dagu mereka mendengar bahwa bangsa bersayap putih yang menyerang.


"Apa anda akan diam saja, Yang Mulia?" seorang wanita bersurai pendek dengan manik yang menatapku dalam tatapan kosong.


Aku menopang dagu dengan kedua tangan yang saling bertautan itu diam tak menjawab. Tidak perlu seorang peramal untuk melihat siapa pemenang di akhir perang nanti. "Belum saatnya membuat keputusan, yang menyerang kita adalah bangsa bersayap putih. Bangsa yang mampu membunuh bangsa kita dengan mudah."


"Ketatkan penjagaan, jangan menyerang sampai aku memberi perintah." ujarku pergi meninggalkan ruang rapat.


Aku melamun sepanjang koridor dengan tatapan mata yang tak jarang melihat jendela di mana pemandangan bangsa vampir perlahan mulai hancur. Bulan merah yang menyinari malam ini sangatlah terang.


Apa ini akhir dari bangsa vampir? Pikirku, Seseorang mengejutkanku, ia adalah gadis yang kucintai. Seorang manusia dengan darah keturunan dewa, darah yang mampu membuat vampir menjadi manusia seutuhnya serta mampu menjadi alat pembunuh ketiga bangsa.


"Anda melamun, Yang Mulia." ujarnya dengan tatapan cemas mengarah padaku.


Tangannya yang menyentuh lengan atasku beralih mengeratkan genggamannya pada jari jemariku yang terlihat lebih besar dari jari jemarinya. "Apa hasil rapat tadi memuaskan?"


"Ethel," panggilku.


Gadis itu mendongak menatapku dengan keringat yang mulai tercipta di keningnya yang putih. "Jika terjadi perang antara bangsa vampir dan bangsa bersayap putih, maka pada saat itulah kau bawa adikmu dan pergi sejauh mungkin."


Gadis itu tersentak. "Anda bagaimana?"


"Apa yang terjadi jika Raja melarikan diri, Nona?" Aku tertawa keras dengan tangan yang mengusap kepalanya.


Tawaku terhenti dengan tatapan mataku yang menyendu melihat duniaku sendiri, jika memang benar ini adalah akhir bangsa vampir. Maka- "Kalau begitu aku akan selalu berada di sisi kau,"


"Manusia tidak akan bisa bertahan lama jika perang itu terjadi, Ethel."


Manusia adalah makhluk yang lemah dan rapuh, gadis sepertinya mudah hancur hanya dengan sebuah tombak runding yang menusuk tubuhnya. "Kau bilang bangsa bersayap putih tidak bisa membunuhku yang hanya manusia biasa, kau bisa memanfaatkan keberadaanku di sini, Nark."

__ADS_1


+


Getaran besar yang mampu membuat tanah bergetar itu membuat para vampir keluar dari kediaman mereka dan melihat sekumpulan pasukan dengan sinar putih yang menyelimuti tubuhnya datang dengan bergerombol.


"Sial, mereka mengibarkan bendera perang." gumamku.


"Dion, siapkan ksatria. Kita akan berperang sekarang." Titahku.


Aku keluar dari gerbang istana dan berdiri dengan tatapan tajam yang dilayangkan pada komandan pasukan sayap putih yang berada di sebrang. "Apa yang membuat kalian mengibarkan bendera perang pada bangsaku?" ujarku.


Mereka diam. Lalu berkata, "Petinggi memerintahkan kami untuk menghancurkan bangsa vampir, jika tidak mereka yang akan turun tangan untuk melakukannya."


Aku tersenyum lebar. "Katakan pada petinggi bangsamu, bahwa aku akan menghancurkan pasukan yang dikirim olehnya."


Aku melesat cepat dengan aura merah yang mengumpul di tangan kananku, sebuah suara dentuman keras terjadi. Beberapa pasukan terpental jauh dan terluka, tapi tidak mampu untuk membunuhnya.


Aku tertawa keras hingga membuat pepohonan terpental. Bukan aku, tapi kini Isaac lah yang mengambil alih tubuhku. "Kalian terlalu meremehkanku, aku bahkan bisa membunuh kalian hanya dalam waktu yang singkat." seru Isaac.


"Yang Mulia!" Constantine berseru, ia lari mendekati Isaac yang sedang menggila dan menyerang tanpa ragu.


"Maaf terlambat, Yang Mulia. Kami siap berperang." Constantine memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya.


Pria itu menghembuskan napasnya dan menatap seorang gadis yang berdiri di samping Constantine dengan tatapan takut. "Sepertinya Nark sudah memperingatkanmu untuk pergi sejauh mungkin dengan adikmu, tapi kenapa kau masih di sini?" ujar Isaac.


Pria itu melirik gadis yang enggan menjawab itu dengan sekilas, lalu beralih menatap pasukan di mana itu adalah bangsa bersayap putih. "Pergilah, tempat ini berbahaya untuk manusia lemah sepertimu." titah Isaac.


"Tidak. Jika aku mati, maka itu sudah takdirku untuk mati." Sahut Ethel dengan tegas.


"Aku yang tidak menginginkanmu mati, sialan! Maka dari itu pergilah." Isaac berseru.


Ethel terdiam. "Apa kau Isaac? Sepertinya Nark sangat bergantungan denganmu."

__ADS_1


"Persetan dengan hal itu, perhatian saja kematian kalian yang akan mendatangi kalian sebentar lagi." Seru Isaac.


Pria itu melesat dengan cepat ke wilayah musuh berada dengan sendirian, tangannya terlapisi oleh aura merahnya yang menyelimuti tangan itu dengan sesuatu yang keras dan memiliki permukaan kasar dan tajam.


Tangan itu terus melayangkan kekuatan berupa sebuah cahaya merah pada komandan yang memimpin perang. "Bagaimana rasanya diserang dengan musuhmu, musuh yang paling kalian benci?"


"Biasa saja, kami tidak diciptakan dengan rasa benci. Kami hanya memiliki perasaan tidak suka terhadap kalian yang melanggar perintah-Nya."


"Kalau begitu bagaimana dengan peperangan sampai titik darah penghabisan?" Seru Isaac dengan menyerang secara membabi buta.


"Apa kalian akan diam di sana seperti anak yang berlindung di balik punggung orang tua nya? Serang." Isaac menyerukan perintah.


Dengan gerilya, bangsa vampir menyerang pasukan bangsa bersayap putih dengan liar dan buas. Ethel dan William diam di tempat dengan Dante di belakang mereka. "Yang Mulia sudah menyuruh kalian pergi sejauh mungkin dari sini, tapi kenapa tidak melakukannya?"


"Karena aku mencintainya." ujar Ethel melirih.


Air mata itu jatuh begitu ia mendongak menatap Isaac yang sedang menyerang dan membunuh pasukan bersayap putih itu dengan sadisnya, darah menempel di pakaian serta menodai wajah tampannya.


"Nona, Yang Mulia mungkin saja menjadikanmu alat pembunuh untuk mencapai tujuannya. Apa anda masih mencintainya?"


"Jika itu benar, maka aku akan tetap mencintainya. Karena akulah yang menyuruhnya untuk memanfaatkan keberadaanku."


Dante melihat suasana perang yang penuh dengan darah di mana-mana, gadis di depannya mendekap adiknya dengan erat. "Lihat, itulah orang yang anda cintai. Begitu jahat dan kejam." ujar Dante.


Ethel hanya mengukir senyuman dengan mata yang terpaku pada Isaac yang dengan gilanya menyerang komandan bersayap putih itu yang sudah kelelahan menahan serangannya.


Komandan itu mengambil langkah mundur untuk mengatur napasnya. "Kenapa kau mundur? Kau tidak lupa kan bahwa peperangan ini sampai titik darah penghabisan."


Ia tersenyum, tangannya bergerak ke atas udara di sertai sinar putih yang muncul di langit. "Kau kan hanya komandan pasukan, bagaimana bisa memiliki kekuatan seperti ini?" gumam Isaac yang sedang memandangi sesuatu yang jatuh dari langit.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2