
Permukaan yang kasar dan terasa kotor itu membuat gadis manusia itu terpaksa membuat matanya.
Ia terkejut dengan dirinya yang berada di dalam jeruji besi dengan beberapa tahanan lainnya.
Apa aku membuat kesalahan yang melanggar peraturan? Pikirnya.
"Kakak?" Suara tidak asing dan suara yang selalu mengisi kekosongan harinya.
William de Galiadne, adik bungsunya yang berhasil selamat dengannya. "Liam!"
Ethel mendekap erat adiknya, adiknya nampak kurus seolah tak diberi makanan. "Kenapa kau berada disini?" Bisik Ethel.
"Pria yang menggendong ku menaruhku di tempat ini, kata mereka tempat ini adalah peternakan manusia."
Tubuh Sang kakak terdiam membeku. Adiknya tinggal di tempat yang menakutkan, sedangkan dirinya tinggal di tempat yang nyaman dan aman.
"Sejak kapan kau disini, Liam!"
"Hari dimana kita dibawa oleh mereka, para iblis bagi manusia."
Lagi-lagi air mata itu jatuh bebas membasahi kedua pipi Ethel, William adalah adik yang seharusnya ia lindungi sejak kematian Rael.
"Sudahi acara ramah tamahmu, manusia." Seorang Vampir yang berpenampilan bandit itu memukul jeruji besi membuat kejut semua manusia di dalamnya.
'Apa-apaan ini, dimana Constantine?'
Perasaan getar dan takut, hanya itu yang menyelimuti tubuh Ethel.
Vampir itu membuka jeruji besi dan menarik lengan Ethel. Seorang gadis yang sangat menonjol dibandingkan manusia lainnya.
Jika memberontak, maka sebuah pukulan ataupun tendangan akan melayang dan mendarat di tubuh mereka.
Tak jarang ada bekas luka atau lebam di tubuh mereka. "Aroma mu sangat lezat, apa kau keturunan penyihir, hei manusia?"
"Tidak tidak! Aku manusia biasa, bukan keturunan penyihir. Darahku sangat tidak enak!"
Para vampir rendahan itu mengukir senyuman miring, didekatkan kedua taring yang pria itu keluarkan.
Dan di tancapkannya ke leher mulus Ethel.
Sebuah simbol berwarna merah menyala dan membuat vampir rendahan itu kesakitan dan merintih, tubuh Ethel di lemparkan begitu saja dan terjatuh.
"Berani sekali vampir mutan seperti kalian menempatkan taring kalian kepada gadisku." Suara berat yang membuat tubuh mereka membeku dengan butir-butir keringat yang keluar.
Sang Raja para Vampir, Nark de Melchias atau saat ini dikenal dengan nama Isaac de Ledger.
__ADS_1
"Ba—Yang Mulia!"
Para vampir mutan itu berlutut dengan rasa ketakutan yang menyelimuti nya.
"Kenapa kau ada di sini? Dimana Constantine?" Isaac menggeram.
Namun, Ethel terlalu takut untuk mengeluarkan suaranya.
Seorang vampir yang baru saja ingin menghisap darahnya, kini berlutut pada seorang Raja Vampir yang menyelamatkannya.
"Brengsek, beraninya membuat gadisku ketakutan. Inilah sebabnya aku memusnahkan dunia Vampir ribuan tahun lalu."
"Mohon jangan bunuh kami, Basilius!"
"Sesalilah perbuatan kalian di dalam Neraka. Alam para setan dan manusia."
Tanah bergetar hebat, mengeluarkan sejumlah besar aura berwarna merah darah yang membuat para Vampir itu menjerit kesakitan.
✤
"Bagus, Constantine. Seperti inilah seorang anjing pada Tuannya." Isaac mengusap kepala Dion yang sedang di pasung dengan rantai di sebuah ruangan bernuansa putih.
Ruangan dengan udara dingin dan tidak ada apapun di dalamnya, ruangan itu disebut dengan nama 'Ruang penghakiman' bagi para pendosa.
Tubuh pria bangsawan Vampir itu dipenuhi darah dari luka gores ataupun cambuk yang tercipta.
Meski Vampir bisa beregenerasi, namun faktanya rasa sakit itu akan tetap ada. "Tapi Constantine, rencanamu itu ada yang sedikit tidak kusukai."
Manik merah itu menyala, menyiksa Dion dengan memangsa jantungnya. "Beraninya kau menaruh kepalamu pada pangkuan Ethel."
"Aku tahu bahwa aku tidak mencintainya, tapi gadis itu adalah milikku."
"Sampai dunia hancur sekalipun, dia akan tetap menjadi milikku."
'Gila.'
'Mau sampai kapan aku mengikuti perintah Iblis ini.'
Dion membatin dengan darah yang terus mengalir keluar dari luka yang tercipta di tubuhnya.
Cambukan pada tubuh Dion berhenti, sebuah ketukan pintu terdengar meski hanya tiga kali.
"Yang Mulia, Nona Galiadne mencari Anda." ujar pelayan.
Tubuh serta tangan Isaac ternodai oleh darah Dion, ia berjalan meninggalkan Dion di ruangan yang dingin.
__ADS_1
"Sapu tangan. Aku tidak ingin tubuh Ethel ternodai oleh darah si brengsek itu."
Pelayan itu dengan cepat memberikan sapu tangan putih dengan pola yang indah.
Sapu tangan putih itu dalam sekejap dipenuhi oleh darah Dion.
"Ethel belum tahu tentang diriku, maka dari itu panggil aku dengan sebutan 'Yang Mulia Raja.' jangan Basilius ataupun Isaac."
Pelayan itu mengangguk.
Pintu besar ruang tidur Ethel terbuka, seorang gadis yang ditemani oleh adiknya itu sedang menyelimuti tubuhnya menggunakan selimut.
Sehingga membuat dirinya terlihat seperti seekor tikus yang sedang takut.
"Nark!" seru Ethel.
William berdiri memasang wajah waspada.
Kakaknya, berlari dan mendekap Raja itu dengan air mata yang jatuh. "Tidak apa, di sini kau aman. Tidak akan ada vampir lain yang berani masuk tanpa seizin ku."
"Sebelumnya..terima kasih telah menyelamatkan Saya, Yang.. Mulia." William bersuara.
Tubuh adiknya itu berubah secara menyeluruh, kurus kering seolah tak diberi makan.
'Siapa bocah ini?'
"Tentu saja."
William bergerak mendekati Sang kakak yang masih dalam dekapan Isaac.
Aroma lezat menggoda indra penciuman Isaac. "Apa para manusia selezat ini?" gumamnya.
"Maaf?" William bertanya.
"Tidak."
"Maaf, Yang Mulia. Saya ada permintaan jika Anda mengizinkan."
Anak itu meneguk air liurnya terlebih dahulu sebelum berbicara. "Apa Saya bisa tinggal di sini bersama dengan Kakak Saya?"
Senyuman lebar diukir oleh Isaac, ia mendapatkan sebuah hadiah yang amat besar dari Tuhan.
"Tentu. Tapi ada syarat yang harus kau jalankan selama kau tinggal di sini. Itu terserah seberapa lama kau tinggal di sini."
"Saya akan menjalankan syarat itu."
__ADS_1
Bersambung...