THE VAMPIRE ; Nark De Melchias

THE VAMPIRE ; Nark De Melchias
VII. A Nightmare


__ADS_3

"Yang Mulia."


Suara indah dan lembut yang mengusik indra pendengaran Isaac, laki-laki itu memerintahkan kakinya untuk berhenti.


Gadis dengan pakaian tidur yang tipis serta mantel tidur dan tangan kecil yang memegang wadah lilin. "Ethel, sedang apa kau di lorong yang gelap ini? Dengan pakaian seperti itu?"


"Maaf, Yang Mulia. Saya mencari adik saya, dia takut gelap."


"Tapi bukan berarti kamu ke ruang bawah tanah, Ethel. Di sana adalah tempat yang mengerikan, darah dimana-mana, kotor, dan sempit."


Isaac menarik lengan Ethel yang terlapisi mantel tidur, ia tersenyum dengan mata yang terpejam.


Namun, Ethel masih memandangi lorong yang gelap dan memiliki aroma darah yang ia rasakan.


Gadis itu membelakangi lorong ruang bawah tanah yang gelap dan sempit, ia mengikuti langkah Isaac.


Sejak kemarin, adiknya tidak ada di sisi nya. "Apa Yang Mulia tahu dimana adik saya?" Ethel bertanya dengan takut.


"Ya, tentu saja. Aku meminjamnya darimu untuk beberapa hari ke depan, dia sedang beristirahat di paviliun istana. Jangan cemas, paviliun itu tidak akan ada yang bisa melewati pintunya karena hanya orang tertentu saja yang bisa melewati pintu itu." 


Nark tersenyum dengan kedua mata yang terpejam. Manusia adalah makhluk naif dan baik hati, Ethel percaya dengan semua ucapan Raja dari bangsa yang membantai semua rakyat dan keluarganya. 


"Kalau begitu, untuk apa Yang Mulia meminjam adik saya? William belum memiliki bakat di usia nya yang ke 13 tahun." Ethel berusaha mencairkan suasana dingin di lorong istana yang gelap.


Sinar bulan melewati jendela dan menyinari mereka berdua yang berdiam diri akibat kaki jenjang Nark yang berhenti melangkah.


Genggaman erat itu terlepas dengan lirikan manik mata merah milik pria yang berusia ribuan tahun itu.


"Ethel, semakin kau tahu akan semakin menyakitkan. Lebih baik sampai sini saja kau mencari tahu, jika kau mencari tahu lebih lanjut, aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi padamu." ujar Nark dengan suara rendah. 


"Beristirahatlah malam ini, besok kita tidak tahu apa yang akan terjadi." 


+


Manik mata yang identik dengan warna langit malam itu memandangi langit malam yang hanya bisa dilihat dari sela saluran udara di penjara bawah tanah itu.

__ADS_1


Lantai yang kotor seolah tidak pernah dibersihkan serta beberapa binatang kecil melintasi punggung kakinya yang basah akan darahnya. 


Tatapan kosong yang memandangi langit malam disertai senyuman tipis, anak berusia tidak lebih dari 13 tahun itu tersenyum lelah.


Sesuatu menarik perhatian anak itu, suara dentingan nampan yang berbenturan dengan lantai dan jeruji besi penjara. 


Sebuah nampan berisikan daging bistik yang dihias dengan indah dan air, aroma makanan itu menggoda indra penciuman William yang terus melamun sejak tadi.


"Apa ini? Siapa kau?" William bertanya ketika menyentuh nampan berisikan makan malamnya. 


Seseorang itu tidak menjawabnya, di antara mereka hanya terdengar suara hembusan napas. "Makanlah. Gadis berjulukan 'Bintang Kekaisaran' itu akan cemas dengan keadaanmu jika ia bertemu denganmu esok hari." 


"Makhluk brengsek seperti kalian yang memperlakukan manusia layaknya budak darah lebih baik musnah sampai ke akar-akarnya kalau perlu tidak akan pernah bisa hidup kembali." William melemparkan nampan itu ke arah seseorang yang masih menekuk kedua lututnya. 


Pelayan itu diam menatap anak kecil seusia anak kandungnya dengan manik matanya yang merah menyala di dalam ruang bawah tanah yang minim pencahayaan. "Tidak apa jika kau membenci bangsa kami, Nak."


"Karena ribuan tahun lalu, ada seorang iblis yang turun ke dunia kami dan memusnahkan sebagian besar bangsa vampir. Ucapan dan harapanmu sudah lama terwujudkan bahkan sebelum kau lahir ke dunia." Pelayan itu berujar, tangannya menggenggam erat jeruji besi dengan urat-urat tangan yang mulai terlihat jelas. 


Aura sekitar semakin membahayakan William. "Dan iblis itu adalah orang yang menghisap darahmu untuk kepentingannya sendiri, jika kau sudah tidak berguna lagi. Maka kau akan dibuang layaknya sampah oleh iblis itu, Nak." Senyuman terukir di wajah pelayan itu. 


Sebuah air mata kesengsaraan itu meluncur membasahi kedua pipi lembut William dengan mudah. 


Kehidupan mewah dan terhormat layaknya seorang pangeran, kini berubah menjadi seorang budak darah dari Raja vampir yang hanya mementingkan kepentingan dirinya.


"Mau sampai kau nangis darah, dunia tidak akan berbelas kasihan pada anak kecil seperti mu." 


Rasa senikmat daging bistik pun tidak terasakan oleh indra pengecapnya, dahulu saat sang Koki kerajaan memasak makanan daging bistik.


Ia pasti memakannya dengan lahap karena rasa nikmat dan lezatnya. 


Makanan malam ini hanya terasa rasa hambar dan asin akibat air mata yang jatuh. Bagaimana jika ini adalah makanan terakhirku? Pikir William. 


Makan malam itu tersisa banyak, William duduk bersandar di dinding dengan permukaan kasar yang dapat membuat punggung kecilnya itu terluka atau bahkan sakit dan pegal.


Ia duduk mendekap kedua kakinya dan menaruh kepalanya di antara kedua kakinya. 

__ADS_1


Rasanya pagi hari lebih cepat daripada malam hari yang terasa menyeramkan karena tinggal di ruang bawah tanah yang gelap.


Di pagi hari atau siang hari di mana matahari berada di puncak, Raja vampir itu pasti memintanya untuk memberikan darah miliknya. 


"Katanya darahku bahkan tidak lebih enak daripada darah binatang, tapi kenapa dia tetap meminumnya..."


"Kau yang dicari olehnya, dia tidak mungkin mau mengorbankan miliknya untuk dirinya."


Pintu penjara itu terbuka, memperlihatkan seorang pria dengan pakaian mewah dan sebuah kain bersih yang ia bawa.


"Ayo bersihkan tubuhmu, Yang Mulia tidak akan suka meminum darah manusia yang memiliki tubuh yang kotor." Pria dengan rambut ikal berujar. 


Dion mengangkat tubuh ringan William dan menggendongnya seperti menggendong anak panda yang baru saja beranjak besar.


"Hei, kalau keluar dari ruang bawah tanah nanti kakakku akan melihatku. Sesuai kontrak, aku tidak mau kakakku tahu tentang hal ini." 


"Kalau sampai kakakku tahu mengenai hal ini, kontrak ku dengan Rajamu itu batal."


Dion melangkah tanpa membuka suara, ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang memiliki arti yang tidak baik.


"Sejak diperlakukan spesial karena Nona Galiadne, Tuan Muda Galiadne ini semakin tidak sopan ya." Sarkas Dion. 


"Apa disiksa seperti binatang liar ini adalah perlakuan spesial yang kau bicarakan, Tuan Constantine?" Dagu William bertumpu pada pundak lebar Dion dan berbisik dengan nada yang kecil. 


Hening.


Kepala keluarga Constantine itu tidak bisa menyangkal betapa kejamnya siksaan yang diberikan oleh Nark, Raja para vampir.


"Siksaan yang kau rasakan hanya 1% dari yang kurasakan oleh Raja bengis sepertinya." 


"Yang Mulia Nark bukanlah seseorang dengan kepribadian yang kejam seperti saat ini, hanya saja sedang ada seseorang di dalam dirinya sehingga membuatnya menjadi kejam." 


Suasana dingin dan menusuk kulit, tirai jendela yang menutup dengan sendirinya serta lorong istana yang mulai menggelap. "Sepertinya kedua hewan peliharaanku sedang berbincang mengenai diriku." 


'Sial.'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2